Masih tentang kurang responsifnya mahasiswa

Dalam posting terdahulu saya mempermasalahkan kurang responsifnya mahasiswa di kelas saya. Ternyata ini tidak terjadi di kelas saya atau departemen saya saja, akan tetapi sudah mewabah ke seluruh kampus. Ada seorang dosen di Departemen Planologi yang mengatakan sebagai berikut:

Saya tanya “ada yang tidak mengerti?”, tidak ada yang menjawab atau mengacungkan tangan. Kemudian saya tanya “ada yang mengerti?”, juga tidak ada yang mengacungkan tangan. Jadi sebetulnya mengerti atau tidak?

Ada dosen lain yang mengatakan bahwa ketika dia masuk ke kelas, dia dihadapkan dengan pandangan mata yang kosong. Menerawang. Dia berpendapat bahwa sekarang mahasiswa inginnya serba instan.

Lepas dari itu semua, ternyata masalahnya lebih dalam lagi karena tidak sekedar di kelas saya saja. Berarti ini masalah yang lebih besar! Aduh!

Mengenai soal slides power point, sebetulnya saya tidak menyukainya karena slides tersebut seringkali gagal menjadi alat bantu. (Ada banyak sudah yang membahas hal ini. Saya memiliki beberapa URL yang membahas soal ini.) Dengan kata lain, sebaiknya mungkin tidak menggunakan slide lagi.

Tapi, ada atau tidak ada slide power point, tetap perkuliahan hanya membuat mahasiswa mendengar dan melihat. Ini tidak cukup! Saya ambil kutipan dar A. S. Neil:

I hear and I forget;
I see and I remember;
I do and I understand

Jadi, saya berharap bahwa mahasiswa lebih banyak “DO”. Melakukan. Mengerjakan tugas. Praktek. Khususnya dalam kuliah pemrograman, tentunya harus banyak DO-nya karena kalau tidak, hanya menjadi teori semata. Padahal aspek skill juga tidak kalah pentingnya.

Praktek. Ini juga ternyata masalah karena institusi sehebat ITB pun tidak memiliki fasilitas yang cukup untuk programming. Di dalam kelas saya saja ada sekitar 65 orang. Padahal ini kelas paralel – 4 kelas. Jadi total kebutuhan komputer – hanya untuk kelas programming saya saja – sudah mencapai 260 komputer!

Nah, lagi-lagi ini menjadi keluhan mahasiswa Indonesia. Mahasiswa kita terlalu cengeng, kalau saya bandingkan dengan mahasiswa di India dan China. Mereka (mahasiswa di India dan China) lebih miskin lagi dan fasilitas lebih tidak memadai. Tapi, toh mereka tetap menjadi world class juga dengan jumlah yang tidak sedikit. Artinya kekurangan fasilitas ini tidak membuat mereka gagal. Bahkan kekurangan ini lebih memacu mereka.

Saya masih ingat ketika belajar komputer saya harus membeli majalah bekas di jalan Cikapundung (di Bandung). Di sana banyak dijual majalah bekas yang halaman depannya sudah digunting. Sekarang, di toko buku sudah banyak majalah dan buku yang membahas masalah komputer. Kemudahan ini mungkin malah membuat mahasiswa menjadi lebih manja lagi?

Saya melihat bahwa mahasiswa kita kurang memiliki “sense of urgency”. Tidak ada dorongan yang kuat. No passion. Mereka masih tidak melihat adanya ancaman dari lulusan sekolah lain, khususnya lulusan dari luar negeri. Mereka tidak tahu bahwa India menghasilkan 70 ribu lulusan yang terkait dengan IT setiap tahunnya. Ya benar, 70000! Lulusan ITB yang terkait dengan IT mungkin hanya 300-an setiap tahunnya. Dibutuhkan 200 ITB hanya untuk menghasilkan jumlah yang sama. Kita belum bicara mengenai kualitas.

Sense of urgency ini perlu ditumbuhkan. Mahasiswa harus tahu bahwa pekerjaan mereka bisa diambil oleh lulusan India! Serius! Beberapa waktu yang lalu saya mendengar dari seorang kawan yang mengatakan bahwa dia bisa mendapatkan seorang lulusan perguruan tinggi di India yang mau dibayar Rp 700 ribu sebagai programmer di Indonesia. Mana ada lulusan kita yang mau dibayar segitu? Lebih jauh lagi, kualitas lulusan India yang murah tersebut seringkali lebih bagus. Perusahaan akan memilih orang India daripada orang setempat. Ini penting!

Ayo kita lebih serius!

Iklan

8 pemikiran pada “Masih tentang kurang responsifnya mahasiswa

  1. Bahkan saya pernah nemu lulusan S2 India yg (utk melancarkan bahasa Indo, doi mengajar di APTECH) melamar ke perusahaan saya dan mau digaji Rp3.5juta. Ck…ck…

    Kebanyakan yg saya liat, temen2 “kenyamanan” dgn status ITBnya. Merasa diatas segalanya. Bahkan klo saya gak salah inget, Pak Budi jg pernah nulis klo si Anu itu lulusan mana ketauan dr profil bicaranya. Hehehehe…

  2. Salam Pak, saya mahasiswa dari Elektro UNY, eks IKIP Yogyakarta. Kekhawatiran memang benar, sangat beralasan dan telah terbukti di hampir setiap pelosok negri. Keadaan di kelas saya kuliah juga tidak jauh berbeda, tapi masih ada satu dua teman yang mau bertanya. Sedangkan saya sendiri, jika ditanya mengerti atau tidak mengerti? Saya malah bingung sendiri, mau bilang mengerti tapi tidak tahu yang mau dimengerti apa? Mau jawab tidak mengerti, koq kebangetan banget, sedikitpun nggak ada yang nyangkut…?!?
    Tetapi ya tidak di setiap mata kuliah saya atau mungkin juga teman-teman yang bersikap seperti itu. Sepertinya Dosen (tenaga pengajar pada umumnya, termasuk Guru maupun Tentor) masih menjadi figur yang penting di sini. Terkadang, ada mata kuliah yang sebenarnya menarik, tetapi karena karena Dosennya nggak enak ngajarnya, entah karena faktor apa, menyebabkan mahasiswa enggan terhadap mata kuliah tersebut. Atau malah sebenarnya ada mata kuliah yang tidak disenangi, tetapi karena Dosennya menarik, cara ngajarnya enak, caranya penyampaiannya tepat, serta benar menguasai materi serta permasalahan mahasiswa atas materi yang diajarkannya, menjadikan mata kuliah itu mata kuliah favorit.
    Dalam hati saya juga khawatir dengan nasib tenaga kerja lokal kedepannya nanti. Khawatir dengan diri saya sendiri khususnya.
    Bagaimana pendapat Bapak atas komentar saya ini?
    Maaf, saya malah jadi seperti curhat. Tapi bagi saya, ini adalah salah satu kesempatan terbaik, untuk lebih memperluas wawasan saya. Seperti ungkapan yang umum di kalangan mahasiswa, masa-masa menjadi mahasiswa adalah masa-masa pencarian jati diri. Yang terbaiklah yang kita semua harapkan semestinya. Saya tidak mau jadi tipe mahasiswa yang kegiatannya cuma kampus-kost kampus-kost kampus-kost-perpus. Saya ingin bersenang-senang dalam masa saya menjadi mahasiswa, meski kadang manajemen waktu jadi satu masalah yang agak sulit.
    Terima kasih.

  3. Apabila diperbolehkan, saya ingin menge-link blog saya dengan blog Bapak, dan berkirim email secara pribadi.

  4. Maaf pak, nambah lagi, saya minta alamat-alamat url yg membahas bahwa slides power point sudah nggak efektif lagi. Sebagai tambahan, temen-temen saya di sini yang dari S1 (saya D3) banyak yg mengembangkan media pembelajaran menggunakan tool Macromedia Flash MX untuk membuat cd-cd interaktif.

  5. saya dosen junior (aselinya sih Staff IT doank), baru pertama kali dapet kelas. Dari awal saya mencoba utk mencari alternatif supaya komunikasi dosen (saya) dengan mahasiswa saya bisa aktif, karena setelah pertemuan pertama saya sudah bisa melihat apa yg seperti pak Budi alami. Saya beri mereka alamat email saya dan saya buatkan forum diskusi online (pake PHPbb, yang umum2 aja) untuk bisa bertanya/berdiskusi khususnya bagi mereka2 yang “malu” bertanya/menjawab di kelas. Namun sayangnya cuma ada 1-2 orang aja yang mau. Itupun cuma di email aja, sedangkan yang di forum sama sekali tidak ada reply dari posting saya, padahal posting saya banyak membantu utk bisa lebih menjelaskan ttg materi yang saya berikan di kelas dan di modul.

  6. It’s become a big problem for forum owners to protect them from spam.
    Automated programs are sending their ads in huge quantities today.

    We’re small community of coders, upgrading forum’s source code to prevent spam-programs to post ads at your forums.

    Our technique is probably one of the best. There’s no need in such ugly methods as ‘capcha’ or ‘secret question’.
    For average user there would not be any visible effects. No need to make e-mail activation (that usually makes number of successful registrations less), no even need to make your users register at forums to post messages.

    More info only at icq: 448759872
    Send messages even if not logged in.

  7. Sekarang india dan china yg jadi pemain utama, artikel ini seolah meramalkan kejadian yang akan terjadi 13 tahun yg akan datang. izin baca artikelnya dari awal pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s