Beberapa waktu yang lalu saya bertanya kepada beberapa kawan; “nilai-nilai apakah yang ingin kita ajarkan ke mahasiswa?” Sampai sekarang saya belum mendapatkan jawaban yang mengena.

Kata orang, fungsi perguruan tinggi tidak sekedar untuk mengajarkan mahasiswa mengenai hal-hal yang spesifik kepada bidang ilmunya akan tetapi juga untuk mendidik mahasiswa. Sebetulnya nilai apa yang ingin kita wariskan kepada para mahasiswa (murid) ini? Saya ambilkan beberapa contoh:

  • Bahwa bertanya itu bukan aib, dan bahkan cenderung baik. Atau, bertanya itu merupakan cerminan kelemahan! Ayo belajar lebih baik! (Saya mengutarakan hal ini karena saya temui bahwa mahasiswa saya takut bertanya. Ketika saya kejar lebih jauh, ternyata mereka tidak diajarkan untuk bertanya ketika masih SMA oleh guru dan oleh teman-temannya. Akibatnya mereka menjadi malu dan tertekan kalau bertanya.)
  • Bahwa kegagalan (mendapat nilai buruk, tidak naik kelas, tidak lulus ujian) itu bukanlah sebuah aib. Ataukah, nilai buruk itu memang aib dan tidak boleh terjadi? (Poin ini muncul karena ada mahasiswa yang merasa bahwa dia harus sukses terus sehingga menghalalkan segala cara, termasuk nyontek dan menipu.)
  • Bahwa nyontek itu buruk, maka mahasiswa sebaiknya tidak nyontek. Atau, nyontek itu boleh saja selama hasil contekannya lebih baik daripada yang dicontek. Saya jadi teringat peribahasa ini; “Good artists copy. Great artists steal.”
  • Bahwa kepercayaan (trust) merupakan nilai utama (core value) bagi perguruan tinggi. Ataukah kerja keras (hardwork). Atau, cerdas (work smarter). Atau …
  • Bahwa sebaiknya kita menggunakan teknologi untuk mengatasi kelemahan-kelemahan kita (sehingga nanti banyak digunakan teknologi di kampus).
  • Lulusan perguruan tinggi sebaiknya menghasilkan lapangan pekerjaan, menjadi entrepreneur (technopreneur). Atau, lulusan perguruan tinggi sebaiknya menjadi profesional. Atau, lulusan perguruan tinggi diarahkan untuk menjadi peneliti (researcher) dan mencoba meraih hadiah Nobel.
  • Lulusan jurusan teknik sebaiknya juga mengetahui masalah sosial, ekonomi, dan politik sehingga mereka bisa menjadi seorang insinyur yang peka terhadap masalah sosial, ekonomi, dan politik. Atau, sebaiknya insinyur tidak usah turut campur soal politik. Fokuskan saja kepada bidang ilmunya.

Mohon maaf apabila contoh-contoh saya tersebut membingungkan (misalnya tidak dalam satu kategori). Ini menunjukkan betapa bingungnya saya sehingga mencampuradukkan semuanya. Jika anda memiliki alur yang lebih runut, saya ingin tahu.

Saya tidak tahu apakah nilai-nilai tersebut perlu dituliskan secara eksplisit atau tidak. Apakah juga setiap perguruan tinggi bisa memiliki fokus (tema, aliran, madzhab) yang berbeda-beda? Dalam pemahaman saya, seharusnya ya. Saya bisa melihat ciri dari lulusan sebuah perguruan tinggi X dari cara dia berbicara, berpendapat, dan seterusnya. Nilai yang diajarkan oleh perguruan tingginya tercermin dalam lulusannya.

Sebagai seorang dosen, saya menjadi bingung dengan arahan yang seharusnya saya ambil. Apakah perguruan tinggi hanya menjadi seperti pujasera dimana setiap dosen dapat melakukan apa saja sesukanya tanpa ada koordinasi (arahan, tema, fokus, dsb.)?

Dalam pemahaman saya, seharusnya ada seseorang yang mengambil posisi sebagai pimpinan (take leadership) untuk mengarahkan kebingungan ini. Sayangnya di Indonesia kita makin kehilangan figur yang bisa dijadikan rujukan atau mengarahkan.
Ada yang mengatakan bahwa pedoman perguruan tinggi adalah tri darma perguruan tinggi. Klise. Ya, ya, ya, ini sama dengan pedoman Bangsa Indonesia adalah Pancasila. (Bagaimana cerita P4?) Tentu saja tidak salah. As true as motherhood. Menurut saya harus ada yang lebih spesifik lagi sehingga tidak hanya sekedar ucapan klise saja.

Saat ini kita seperti orang yang kumpul rame-rame ingin menuju kepada sesuatu, akan tetapi tidak jelas sesuatu itu apa. Ada yang menuju Jakarta. Ada yang menuju Bandung. Ada yang menuju Surabaya. Dan bahkan ada yang menuju ke Singapura.

b i n g u n g – c o n f u s e d