Tentang Stanford University

Di milis teknologia (@googlegroups.com) dipertanyakan mengapa banyak perusahaan start-up muncul dari Stanford University? Contoh perusahaan yang terkenal saat ini adalah Google dan Yahoo!, sementara yang lama adalah Hewlett-Packard. Itu yang besar. Masih banyak perusahaan lain yang tidak kalah hebatnya.

Apa pengaruh dari Stanford University terhadap start-up (Silicon Valley)?

Saya ingin menceritakan beberapa fakta kecil dari yang saya ketahui mengenai Stanford University ini. Hal-hal kecil ini saya ketahui dari buku-buku tentang (sejarah) Silicon Valley, bertemu/bergaul dengan alumni Stanford University, dan sempat mampir ke sana juga. Ini dia.

Siapa “bapak” Silicon Valley?
Tidak lain adalah Frederick Terman, dekan dari sebuah fakultas di Stanford University pada waktu itu.

Siapa contoh murid-murid dari pak Terman ini?
William Hewlett dan David Packard, yang tentu saja pendiri perusahaan HP.

Adakah orang Indonesia yang kuliah atau alumni Stanford University?
Banyak. Salah satunya adalah Samaun Samadikun, yang merupakan salah satu penggagas ide Bandung High-Tech Valley (BHTV).
(Pada saat pak Samaun kuliah di Stanford, pak Iskandar Alisyahbana – salah satu technopreneur Indonesia! – sering mengunjungi beliau.)

Siapa contoh murid-murid dari pak Samaun ini?
Banyak. Contohnya, saya, Armein Langi, dan segudang lagi.
(Di tahun 2000, pak Armein sempat sabatical di Stanford University selama beberapa bulan. Pada saat itulah saya mampir ke sana, menjelajah Silicon Valley – termasuk ke Stanford University. Ini foto di depan Bill Gates building di Stanford University. Foto lebih besarnya dapat diperoleh di sini.)

Bersama Armein Langi, di depan Bill Gates building di Stanford University

Coincidence? Kebetulan? I think not!

Memang “hawa” dari Stanford University ini berbeda. Dari sejak awalnya mereka memfokuskan kepada kepraktisan dan link dengan industri. Bukan berarti bahwa mereka tidak tahu basic (science & engineering). Justru sebaliknya, mereka juga sangat jago do bidang itu. Namun, saya merasakan “virus” dari Stanford University ini yang berbeda dengan universitas lainnya. Saya saja yang hanya sempat mampir, tidak menjadi mahasiswa di sana, terkena virus ini.

Link antara alumni Stanford ini cukup kental. Saya lihat pak Samaun masih berkirim surat dan email dengan kawan atau alumni Stanford lainnya. (Email addressnya pun pakai stanfordalumni.org!) Dalam keynote di Consumer Electronic Show kemarin (Jan 2006), Larry Page – founder dari Google yang juga jebolan Stanford University – menampilkan “Stanley”, mobil yang memenangkan lomba pathfinder dari DARPA, karena mobil itu buatan tim Stanford. 🙂

Untuk ukuran Amerika pun, Stanford memang berbeda. Sebagai contoh, universitas Berkeley yang tidak jauh di situ memiliki “aura” yang berbeda (dalam pemahaman saya tentunya). Dalam pandangan saya, Berkeley lebih “techie” atau “akademik”. Selain itu Berkeley lebih berjiwa hippies dibandingkan Stanford yang lebih ke yuppies. Akibatnya, (engineer) para lulusan Berkeley menjadi pekerja bagi para lulusan Stanford. Ada guyonan seperti ini:

“Apa yang dikatakan oleh lulusan Berkeley kepada lulusan Stanford? Jawabannya: bos!”

Itu yang saya tangkap dari mengunjungi mereka dan juga membaca cerita-cerita mengenai mereka. Sebagai catatan, sifat hippies dari Berkeley ini sangat penting dalam fase awal hidupnya Silicon Valley. Salah satu nilai (values) yang dijunjung adalah: berbagi (sharing). Itulah yang membedakan Silicon Valley dengan daerah lain (di Amerika sekalipun).

Ketika di Silicon Valley, ada seorang kawan saya (kawan seperjuangan sekolah di Canada) yang memiliki posisi cukup tinggi di Intel. Dia membujuk saya agar mau bekerja untuk dia di Intel. Dia mengeluhkan anak buahnya (lulusan Stanford dan Berkeley) yang ngawur (kata-katanya sih lebih kasar). Ternyata lulusan Stanford dan Berkeley adalah manusia juga. Saya menolak, tapi hidung kembang kempis karena bangga juga. Artinya apa? Artinya kita-kita di Indonesia pun bisa!

Kalau mau, pasti bisa!

Iklan

13 pemikiran pada “Tentang Stanford University

  1. nah, “hawa” itu sangat penting. ada teman yang pengennya di kampus terus, karna hawanya katanya hawa belajar. padahal kalau dia bisa menciptakan hawa itu sendiri, kenapa harus terus di kampus? ada juga yang heran kenapa orang2 stanford lagi yang muncul, kenapa inovasi itu lagi2 dari silicon valley, karna hawa itu. seperti teman tadi hanya bisa belajar di kampus, gak bisa menciptakan hawa belajar sendiri. Indonesia juga gak bisa menciptakan “hawa” inovasi itu.

  2. Ada satu hal yang saya heran, mengapa universitas2 Eropa tidak banyak terdengar. Apakah memang kualitas lulusannya tidak sebagus Amerika? Atau masalah lain? Tapi memang menurut daftar “Top 500 World Universities”, universitas Amerika sangat mendominasi.

    Padahal ada banyak lulusan Eropa yang sudah “mendunia”. Sebut saja Linus Torvalds. sang bapak Linux. Atau Jorma Ollila, yang membawa Nokia menjadi mobile phone company nomer satu di dunia.

    Saya sendiri lulusan Eropa juga, dan masih banyak terpengaruh “hawa” Eropa. Saya juga ingin lebih tahu, seperti apakah sih “hawa” Stanford, dkk itu.

    Antony

  3. Kalau dilihat dari sisi *ilmunya*, universitas di Eropa tidak kalah dengan di Amerika. Bahkan, secara keilmuan banyak yang lebih baik dari yang di Amerika. Universitas di Amerika cenderung melihat ke arah kepraktisan.

    Kalau dilihat dari sisi bisnis (entrepreneurship), maka Stanford University ini termasuk yang berbeda dengan yang lain. Dia unggul jauh daripada universitas lain di Eropa (dan bahkan di Amerika sendiri). Universitas di Eropa (dan di Indonesia) cenderung masih menjadi “menara gading” yang mengharamkan bisnis. Ini bedanya.

  4. Setuju dengan “penting studentnya”. Bahan dasar memang penting.

    Tapi jangan sampai, student bagus … eh, perguruan tingginya yang butut. Malah bikin student jadi nggak berkembang. Sayangkan kalau terjadi (dan memang terjadi).

  5. Jgn lupa sama Sabeer Bhatia kreator Hotmail, pak. Doi jg kluaran Stanford.

    Perguruan tinggi di Indo memang mengharamkan bisnis buat sistem pendidikannya. Tp (maaf) tidak mengharamkan (ber)bisnis buat guru2nya. Hehehehe… Soalnya saya dulu doyan ngampus. Cuman sering gak ada guru. Ya main bola lah jadinya. Udah gitu brantem lagi. Udah brantem, dendam2an. Krn dendam, sekolah ngaco. Krn ngaco, mulai aktif berorganisasi. Kena tegur kemahasiswaan krn jarang skolah. Stress krn masa studi sarmud dah injury time. Makin garang dlm demo. Akhirnya jadi aktifis. Di benci negara. Di buang ke luar negri dgn alesan kuliah. Ehhh… tamatan luar negri deh. Semoga crita ini hanya ada di “Republik BBM”. 🙂

    Hehehehe… maaf. Ngelantur.

  6. Ngeliat teman sekolah sebelah dalem kampus (sekolah manajemen) aja sbenernya dah bikin ngiri banget pak, teori dan praktis porsinya fifty2, itu juga kata mahasiswanya sih..
    apalagi ngedenger cerita2 stanford, cck2..

    Apa yang didapetin selama ini dan sampai saat ini saya masih kuliah kayanya kondisi susah banget untuk berpraktis apalagi untuk berbisnis, apa semuanya jadi pembenaran bahwa pendidikan itu emang tidak murah di negara ini??

  7. Di Amerika Serikat ranking antar National Universities beda skornya tipis-tipis. Perbedaan yang mendasar adalah berapakan setiap tahunnya universitas mampu mencetak entrepreneur baru. Makanya Stanford dan MIT dikenal sebagai ikon Amrik untuk sebutan Entrepreneur University. Artinya setingkat lebih tinggi derajatnya dari Research University yang memang sudah ada 400an Research Universities di Amerika Serikat.

    Alumni ITB yang studi lanjut di Stanford lumayan banyak antara lain Hariadi Supangat (mantan Rektor ITB), Samaun Samadikun, Kuntoro Mangkusubroto.

  8. Wah kebetulan banget atasan saya lulusan Stanford University + Berkeley University Pak.
    Tapi dari artikel ini dapet kalimat yang ngena “Artinya kita-kita di Indonesia pun bisa!, Kalau mau, pasti bisa!”
    Da aku mah apa atuh cuma lulusan lokal. Bukan kampus nomor satu pula.
    Apa saya bisa setara hebat seperti mereka yang lulusan sana? >.<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s