Kata orang sono, "don't judge a book by its cover." Jangan menilai seseorang dari penampilannya. Teorinya begitu, tapi pada kenyataannya sukar.

Saya senang berpakaian casual (pakai baju dikeluarkan, pakai sepatu kets, topi, kadang pakai T-shirt, but no sandal! – tetap pakai sepatu). Tentu saja pakaian casual saya itu kalau saya tidak menghadiri acara resmi, seperti waktu mengajar, rapat sesama dosen dan peneliti, atau diacara yang tidak formal. Kalau ke acara formal saya memakai pakaian resmi (jas dan dasi). Nah, cara berpakaian casual saya ini sering dipertanyakan orang. Padahal itu ke acara yang tidak resmi lho.

Di Indonesia ini (dan mungkin juga di luar negeri), tampilan memang menjadi patokan. Itulah sebabnya banyak orang yang menggunakan mobil mewah dan berpakaian perlente karena memang layanan yang diterima berubah sesuai dengan pakaian atau mobil yang digunakan. Dulu saya pernah mencoba bereksperimen. Ketika saya membawa mobil Suzuki Carry ke kampus (ke hotel, atau ke tempat parkir) sang penjaga (satpam) biasa saja, tetapi ketika sama membawa BMW maka sang penjaga sangat hormat. Saya masih ingat kekesalan kakak ipar saya karena kami mendapat perlayanan lebih baik ketika parkir sementara dia didiamkan hanya karena mobilnya berbeda. Padahal kalau mau dihitung secara rupiah, mobilnya dia 3 atau 5 kali lebih mahal daripada BMW kuno ini. Ha ha ha.

Saya sendiri pernah salah menilai orang. Pada suatu saat di sebuah daerah di Amerika Utara (mungkin di Mineapolis? atau North Dakota? pokoknya dalam perjalanan jauh) saya menaiki bis malam. Kemudian ada seorang bapak-bapak tua, kepalanya botak, yang juga naik ke bis. Bajunya menggunakan parka seperti yang dipakai tentara. Maklum waktu itu agak dingin. Parkanya agak lusuh. Saya membaca majalah PC Magazine untuk menghabiskan waktu di bis ini. Kemudian bapak ini nyeletuk dan mengajak diskusi soal komputer. Ternyata dia paham benar soal komputer. Jangan-jangan dia ahli komputer yang bekerja di perusahan besar yang sedang berlibur. Wah, saya salah menilai orang. Tadinya saya kira dia hanya seorang tua yang biasa saja (bahkan cenderung gelandangan).

Ini jadi mengingatkan saya akan seorang kawan yang menjadi presdir di sebuah perusahan besar di Indonesia. Suatu ketika di Bandara Udara Yogyakarta, saya sedang menunju ke pesawat dari transit dan terdengar nama saya disebut. Saya menoleh. Ternyata kawan ini sedang duduk dengan baju yang agak lusuh dan sedang asyik makan kacang. Sementara bawaannya ada di tas kresek plastik yang agak lusuh. Melihat penampilannya orang tidak akan mengira bahwa dia presdir dari sebuah perusahaan besar. Presdir menunggunya di executive lounge, bukan di tempat umum seperti ini. Saya terkekeh-kekeh melihat penampilannya. Ternyata dia baru pulang menengok orang tuanya. Lagi-lagi penampilan bisa menyesatkan.