Di tempat lain saya menulis bahwa saya berencana untuk membuat sebuah perusahaan start-up baru di pembuatan software (software house). Kami mencari lingkungan yang pas untuk programmer. Bagaimana pola kerja mereka? Apa kesukaan mereka? Jawaban dari pertanyaan ini akan digunakan untuk mencari tempat kerja yang paling cocok untuk mereka.

Pada awalnya ada dua alternatif jenis tempat; kantoran dan rumahan. Yang saya maksud dengan kantoran adalah bangunan yang memang didisain untuk kantor. Memang ruangannya tidak didisain khusus untuk software house. Di Bandung ada beberapa tempat perkantoran yang cukup wah, seperti misalnya di Jalan Asia Afrika.

Setelah tanya ke sana kemari dan juga melibatkan diskusi dengan beberapa kawan, saya mengambil kesimpulan bahwa sebetulnya programmer itu lebih suka bekerja di tempat yang rumahan.

Ada beberapa alasan mengapa hal ini dilakukan. Programmer sering bekerja tanpa mengenal waktu. Kalau bekerja di tempat kantoran, akan sukar bagi mereka untuk keluar dan masuk. Yang membuat mereka susah juga adalah kadang-kadang mereka terpaksa harus menginap di kantor. Ada masalah dengan kamar mandi, meletakkan alat-alat mandi (sikat gigi, sabun, dan yang paling penting handuk). Umumnya kantor tidak menyediakan fasilitas ini.

Alasan lain yang cukup populer juga di kalangan programmer adalah kesulitan cari makan. Programmer sering kesulitan untuk mencari makan. Bayangkan, jam 1 pagi sang programmer baru teringat bahwa dia belum makan malam (saking asyiknya membuat kode). Perut baru terasa lapan. Kemana mau cari makan? Kalau tinggal di lingkungan perumahan, dia bisa ke luar dan mencari makan di warung atau menunggu tukang jualan yang lewat di jalan.

Beberapa hari yang lalu saya putuskan untuk mengajak kawan melihat beberapa tempat (rumahan) yang saya maksudkan tersebut. Di Bandung, daerah yang sering dijadikan tempat untuk perusahaan start-up antara lain di Jalan Tubagus Ismail dan Sukaluyu. Pertama-tama kami mengunjungi kantor IZI (sebuah tempat konsultasi pendidikan) di Jalan Ambon. Tempatnya kelihatan kecil dari depan akan tetapi ternyata cukup luas di dalamnya. Banyak siswa yang sedang mengerjakan soal di sana, baik di kelas maupun di luar kelas. Menarik tempatnya, meskipun bukan diisi oleh programmer dari software house.

Tempat kedua yang kami kunjungi adalah markas dari Sharing Vision, yang sering menyelenggarakan training, workshop, survey, dan konsultasi di bidang IT dan telekomunikasi. Mereka sudah menyelenggarakan lebih dari 100 training untuk top management ke atas. Markas mereka yang baru di Jl. Tubagus Ismail adalah sebuah rumah biasa. Di dalamnya ada belasan orang yang sedang bekerja. Bahkan waktu kami datang ke sana sedang ada sembilan mahasiswa informatika ITB yang sedang kerja praktek. Ramai. Saya tunjukkan kepada kawan saya bahwa model beginilah yang disukai oleh programmer. Bukan kantoran.

Tempat ketiga yang kami kunjungi adalah kantor dari Elda Sarana Informatika, sebuah perusahaan yang bergerak di elektronika – lebih khusus lagi di bidang vechicle tracking. Mereka memiliki produk yang disebut ESItrack. Kantor mereka adalah sebuah rumah (2 atau 3 lantai) di daerah Sukaluyu. Ketika kami mengunjungi mereka, ada beberapa pekerja yang sedang sibuk membuat rangkaian elektronika. Lagi-lagi model rumahan ini disukai oleh mereka.

Setelah ini semua kami menyimpulkan bahwa nampaknya software house di Bandung lebih cocok dilakukan di rumahan.

Bagaimana pendapat Anda?