Kalau dalam beberapa tulisan terdahulu saya mengatakan bahwa untung saya orang Indonesia, kali ini saya ingin mengatakan sayangnya (ruginya) saya orang Indonesia. Hal ini terkait dengan berita yang saya kutip dari koran Bisnis Indonesia ini.

Bisnis Indonesia, 7 Juli 2006, Jakarta
PII minta gaji insinyur lokal naik
Persatuan Insinyur Indonesia (PII) minta pemerintah meningkatkan billing rate insinyur lokal yang selama ini lebih rendah 10 kali lipat dibandingkan tenaga profesional asing.
Wakil ketua PII Airlangga Hartarto mengatakan permintaan itu sudah disampaikan kepada Bappenas karena lembaga itulah yang mengeluarkan diskriminasi tarif standar gaji insinyur lokal dan asing.

PII menilai perbedaanya terlalu jauh yakni 10 kali lipat. Kalau insinyur asing itu dihargai US$5.000, insinyur Indonesia hanya US$500. “Kami minta billing rate itu disetarakan atau paling tidak perbedaannya tidak terlalu besar,” ujar Airlangga usai bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wapres.

Ya begitulah. Saya pernah mengalami sendiri kasus yang membuat saya mengurut dada. Dalam sebuah proyek yang melibatkan tenaga kerja asing ternyata billing rate saya jauh di bawah billing rate orang asing yang terlibat. Padahal mereka hanya memiliki gelar BSc dari sebuah universitas di Kanada, sementara saya memiliki gelar MSc dan PhD dari universitas di Kanada juga. Academic-wise I am much better than them. (At least, theoretically.) Alasannya, standar Bapenas yang mengatakan demikian. Jika Anda melanggar, rasakan sendiri akibatnya.

Aneh bukan? Hanya karena saya warga negara Indonesia maka billing rate saya lebih rendah dari warga asing. Padahal ini DI INDONESIA!@#! Tanah air saya sendiri. Kalau di sono, mungkin gaji saya lebih besar dari gaji dia. Welah. Itulah. Kalau kita hanya hitung-hitungan duit saja, bisa sakit hati. Ada kenikmatan lain dari hidup di Indonesia.

Namun hal ini tidak seharusnya kita biarkan. Harus kita hargai tenaga kita sendiri. Bagaimana Bapenas? Siap menghargai warga negara Indonesia? Siap ya?