Tentang Bencana Itu (Gempa, Tsunami, Sampah)

Indonesia sedang dilanda bencana. Setelah tsunami di Aceh, kemudian ada gempa di Yogya, sekarang ada gempa dan tsunami di Pangandaran, Cilacap, dan jangan lupa juga ada sampah di Bandung yang untungnya sekerang sudah mulai bisa teratasi. Ada dua pendapat mengenai bencana ini:

  1. bahwa bencana ini adalah hukuman dari Tuhan Yang Maha Kuasa;
  2. bahwa bencana ini hanya alam yang bisa dipecahkan (dianalisa) dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Untuk yang pertama, bahwa bencana ini adalah hukuman dari Tuhan, saya mendengar komentar dari seorang kawan (sufi?). Begini katanya. Becana yang datang tersebut harus dilihat makna atau simbolnya. Ini contohnya (katanya lho):

  • banjir (seperti yang di Aceh), itu terkait dengan perang atau dosa yang sudah sulit untuk dipilah-pilah (dalam perang siapa membunuh siapa sudah tidak jelas lagi), lebih baik mulai dari scratch saja
  • gempa, ini terkait dengan kelakukan yang terkait dengan seksual (homoseks, kumpul kebo, dan sejenisnya)
  • sampah, terkait dengan babi atau hal-hal yang haram (seperti misalnya makan uang haram, dan sejenisnya)

Wah. Saya sendiri hanya manggut-manggut saja. Bisa jadi apa yang dia katakan ada benarnya.
Untuk yang lebih condong kepada ilmu pengetahuan dan teknologi, saya kemudian berpikir mengapa bencana ini bisa terjadi? Kalau kita memiliki ilmu pengetahuan mestinya bisa dihindari bukan? Atau

  1. kita masih bodoh, tidak memiliki pengetahuan untuk meramalkan bencana tersebut (atau memang ilmu untuk menganalisa hal tersebut masih belum ditemukan oleh manusia – jadi yang bodoh bukan hanya kita saja akan tetapi seluruh dunia)
  2. kita sudah tahu bahwa tempat kita bisa terkena gempa akan tetapi kita bodoh karena nekad tinggal di tempat ini.

Apapun, kalau kita ambil alternatif ilmu dan teknologi, kesimpulannya adalah kita bodoh. hik hik hik. Daripada mengakui kita bodoh, pilih alternatif pertama saja yaitu bencana ini adalah hukuman dari Tuhan. ha ha ha.
Sekedar omong-omong saja . . .

Iklan

25 pemikiran pada “Tentang Bencana Itu (Gempa, Tsunami, Sampah)

  1. Kalo kita bodoh yang pertama masih mending ya… barengan sluruh dunia, kalo kita bodoh kedua kok kayaknya gak bodoh juga. Kemarin rekan ada yg cerita kalau bumi kita ini cuma 100 km jari2 dan 6000+km jari2 yang stabil (baca: sperti tanah). Gimana dong Mas Boing?

  2. halo om…ikut bertanya ke temennya yg sufi…kalo gunung meletus..masuknya mana ya, terus artinya apa..? tapi alhadulillah gunung meletus di merapi korbannya nggak banyak ya..om…

  3. Nomor 2, itu harusnya dipanjangkan jadi “kita bodoh” udah tahu daerah rawan masih tinggal di sana dg cara itu. Cara itu yang saya maksud adalah cara hidup yg mengabaikan tanda-tanda bencana alam, bisa cara modern (dg rumah anti gempa) atau cara tradisional (memperhatikan tanda-tanda alam).

    Mungkin ini salah satu peringatan bahwa kita belum cukup modern (belum punya early warning system dan information systemnya) tapi sudah sok meninggalkan cara tradisional (mengabaikan tanda-tanda alam).

    Memang banyak kejadian alam yang tiba-tiba, tapi banyak juga yang punya tanda-tanda yang pada zaman dahulu kala orang bisa merasakannya sebelum kejadian.

  4. asumsikan saja pendapat pak budi yg kedua benar, bahwa kalau kita punya teknologi, semua bencana ini bisa di hindari. sekarang bisakah pak budi tunjukkan bukti bagaimana teknologi menghindari badai sekelas katrina ? bukankah amerika ini negara yg dipuja2 memiliki teknologi paling canggih ? dimana teknologi itu ?
    atau bagaimanakah teknologi mendeteksi gempa sekian menit sebelum terjadi ? Teknolgi apa yg bisa menerangkan gempa di laut selatan bisa menggetarkan jakarta dan surabaya tapi tidak berefek ke bandung atau bogor ?

    bimi ini punya Tuhan pak budi. sehebat hebat kita berteori tentang lempeng bumi A, B dan C, lempeng itu tidak bisa kita gerakkan. Tuhanlah yg mempunyai kemampuan menggerakkan lempeng itu. Masalahnya adalah, kita ini percaya adanya Tuhan, tetapi Tuhan kita anggap tidak mampu berperanan dalam hidup kita. Kita anggap Tuhan hanya tahu urusan sembahyang tapi Tuhan tidak mengerti teknologi, Tuhan tidak mengerti ekonomi, Tuhan tidak mengerti psikologi. Kita sudah sombong thd Tuhan, itulah sebenarnya dosa kita yg paling besar. Sebagai Akibatnya bumi ini kita urus dengan cara kita dan bukan dengan cara Tuhan.

    -=adnan=-

  5. Pikiran si sufi sepertinya hanya dipenuhi oleh pandangan bahwa Tuhan itu suka menghukum dan murka kepada manusia, sama seperti di mitos2 dewa2 Yunani atau kisah2 dewa2 di pewayangan Jawa.

    Menurut saya contoh2 yg diberikan oleh si sufi itu kurang tepat. Banjir jelas terjadi salah satunya karena kita membiarkan alias cuek sama hutan kita yg digundulin terus2an sama segelintir pengusaha yang berkongkalikong dengan orang2 di birokrasi. Gempa jelas terjadi karena Indonesia memang terbentuk akibat pergerakan lempeng2, dan sampah membludak karena kita tidak bisa atau nggak becus mengurusnya dengan baik.

    Di negara yang makanan pokoknya babi seperti sebagian besar negara2 Eropa misalnya, jarang ada sampah yang menumpuk (kecuali tukang sampahnya sedang strike menuntut kenaikan gaji). Banyak juga praktek2 free sex di negara2 barat, tapi karena di sana memang bukan daerah tektonik aktif ya nggak ada gempa. Di timur tengah banyak perang, tapi ya nggak ada banjir wong gurun pasir.

    Soal bencana, mitigasi adalah hal yang sangat penting. Kerusakan bangunan atau konstruksi apapun mungkin agak sulit dihindari, meramalkan juga hal yang sangat sukar, mengurangi jumlah korban itulah hal yang lebih mudah. Mitigasi bencana itulah kuncinya.

  6. >> kita sudah tahu bahwa tempat kita bisa terkena gempa akan tetapi kita bodoh karena nekad tinggal di tempat ini.

    Tahun lalu, ketika Katrina, John Scalzi menulis sebuah artikel berjudul “Being poor is knowing exactly how much everything costs.”

    http://www.scalzi.com/whatever/003704.html

    Salah satunya adalah:

    Being poor is people wondering why you didn’t leave.

    Saya percaya “bodoh” yang dimaksud di sini searti dengan “being poor”.

    —-
    โ€œWhy is is so hard to remember poverty once you get past it, if you get past it? Why is it so hard to empathize with poverty if you have never had it? What the hell is wrong with us?โ€ (1 of comments)

  7. Punya tuhan yang suka marah dan menghukum ya uwis ditinggal aja. Cari Tuhan yang lain … kan kalau muslim emang gitu kan … “tiada tuhan selain TUHAN ”

    Tuhan itu maha baik, suka guyon juga ngithik2i pakai gempa, pakai longsir. Trus tuhanku juga suka kucing2 an … lah wong aku lagi merhatiin gempa bengkulu kok tiba2 njlegurr di selatan Pangandaran. Yang sebelumnya sedang tengok2 G merapi kok tiba2 Patahan Opak bergerak2 ..
    wis jian Gusti kok guyonan gitu sihhh ! ๐Ÿ™‚

  8. Hehe, memang tuh, dari pada ribet, cape-cape mikir geologi segala, atau introspeksi dimana kesalahan kita, belum lagi nanti harus memperbaiki diri, lebih baik ambil pilihan praktis, kambinghitamkan Tuhan sebagai kurang kerjaan, iseng mulu ngasih cobaan, dan pemarah pula, hobi kok ngambek ga jelas dan bagi-bagi azab.

    Maka dari itu, marilah kita semua berdoa bersama, semoga Tuhan tidak lagi marah-marah, dan semoga besok-besok Tuhan menjadi lebih sibuk supaya tidak sempat lagi iseng mencoba-coba iman umatnya.

    Amiiin.

  9. Nah ini dia,

    “lebih baik mulai dari scratch saja”, ini saya asli ngakak LFS banget ๐Ÿ™‚

    Ya namanya bencana seperti gempa belum ada tanda2 yang pasti untuk dapat mendeteksinya. Tapi kita manusia juga harus berusaha dengan selalu berdoa dan berjaga-jaga dengan kemungkinan itu.

    Untuk masalah sampah, sepertinya itu silakan temen2 lihat kira-kira itu hukuman dari Tuhan atau kelalaian dalam penanganannya?

  10. Sufi? Kalo di kosan dulu sebutan sufi diberikan ke orang yang suka nonton filem. Sufi == Suka Filem.
    ๐Ÿ˜€
    Kalo suka nonton “Adzab Ilahi”, “Hidayah” dan lain-lain acara TV yang lagi ngetrend sekarang, mungkin kawan Pak Budi ada benarnya juga.

  11. kalo menurut aku seh, bukan nya bodoh, tapi masa bodoh dengan apa yang terjadi dan yang akan terjadi, yang penting korupsi jalan terus

  12. Jajajaja, manusia kadang sok tau. Merasa tau kehendak tuhan dan terkadang serasa lebih Tuhan dari Tuhan.

    Bencana ataupun kebahagian semuanya hanya ujian.

  13. Pagi tadi sebelum berangkat kerja aku dengar berita di TV ada gempa lagi di Sulawesi dan Nias…wah..apakah didalam buki kita ini ada semacam efek domino…dan Indonesia ada di antara 2 patahan besae…gimna tuh pa?

  14. Pak Budi… kata yang lain, segala musibah dan bencana ini bisa berkah dan benar-benar bencana itu tergantung sikap kita saat merespon musibah tersebut. Jika setelah banjir seluruh rakyat Indonesia insyaf dan menjadi jujur, maka musibah itu adalah berkah. Jika setelah gempa, kita semua insyaf dan meninggalkan maksiat, gempa itu membawa berkah, demikian juga jika setelah kena musibah sampah , kita semua meninggalkan yang haram, musibah itu jadi berkah. Tapi jika setelah semua musibah itu kita adem-ayem saja bahkan lebih kacau..musibah itu adalah hukuman. Begitu cenah…. ๐Ÿ™‚

    http://dnugraha.wordpress.com

  15. sudah bodoh, kagak mau belajar lagi!
    Terus mau saja dibodoh-bodohin…
    oh ya… namanya juga bodoh, gimana bisa tahu kalau dibodoh-bodohin???
    dasar bodoh… ๐Ÿ˜ฆ

    yang benar donk…
    kalau sedikit-dikit Tuhan penyebabnya. Tuhan marah, Tuhan tegur.
    karena dosa, karena haram…

    “religius” ok saja, tetapi jangan sampai kena “brain washed” seperti begitu ah…

    Ratusan tahun yang lalu, bumi masih datar, dan manusia takut jatuh ke jurang yang dalam…
    Ratusan tahun yang lalu, angka 0 dan bilangan negatif itu haram!!!

    Maksudnya apa??? Jangan membatasi dirimu dengan yang tidak perlu!!! Tetapi “berkembanglah” … ๐Ÿ™‚

  16. APakah belum cukup!!!!!!!!!!!!!!

    BENCANA BERTUBI-TUBI yang terjadi di INDONESIA
    —–Negeri dimana mayoritas MUSLIM, YANG notabene beriman kepada ALLAH Subhanallahu wa ta’ala, PENCIPTA sekaligus PEMBUAT ATURAN KEHIDUPAN buat MANUSIA—-

    APakah belum cukup!!!!!!!!!!!!!!
    PIKIRAN & HATI KITA TERBUKA…
    PIKIRAN & HATI KITA TERSADARKAN…

    Bahwa kita KUDU KEMBALI KEPADA ATURAN ALLAH SWT…
    Bahwa kita JANGAN SEKAL LAGI MENCAMPAKKAN ATURAN KEHIDUPAN YANG DATANG DARI-NYA…
    Bahwa kita JANGAN LAGI BERSIKAP SOMBONG KEPADA ALLAH SWT dengan KEYAKINAN KOSONG bahwa KITA BISA MENYELESAIKAN SEMUA PERSOALAN dengan MERASA PINTAR MELEBIHI TUHAN.

    SEDERHANA…
    SANGAT SEDERHANA…

    TINGGAL MANUSIA MAU ATAU TDAK…
    MENCAMPAKKAN KESOMBONGAN MEREKA…
    DAN BENAR-BENAR TUNDUK DAN MENYERAHKAN ATURAN/SISTEM & KEHIDUPAN MANUSIA, HANYA KEPADA ALLAH SWT…
    YANG TERMAKTUB DALAM AL QURAN & AS-SUNNAH…

    BELAJARLAH, TUNTUT ILMU, PAHAMI..
    KITA KAN SEGERA MENEMUKAN CAHAYA..
    YANG BELUM PERNAH TERPIKIRKAN SEBELUMNYA…

    “KUNCI”NYA HANYA SATU..
    TUNDUKKAN HATI & PIKIRAN KITA…
    SANG MAHA KUASA, ALLAH SWT…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s