Tua bersama

Darimana kita tahu kalau kita sudah menemukan pasangan kita? Saya pernah dengar(?) (baca?), tapi lupa sumbernya, bahwa pasangan kita sudah tepat kalau kita bisa membayangkan tua bersama. Nah, itulah yang saya rasakan. Saya kebayang tua bersama istri saya. Terbayang saya sudah kakek-kakek main catur dengan seorang kakek-kakek lagi di taman pada sebuah pagi yang cerah, sementara sang nenek dengan nenek lain lagi sedang asyik membuat minuman (juice? lemonade) untuk kakek-kakek ini dan cucunya. Wah … life is so wonderful.

Kalau kita bisa tua bersama artinya kita sudah mengetahui betul tabiat pasangan kita dan sudah dapat menerima kekurangannya. Hey, nobody is perfect. Ini bukan suatu yang mudah. Apalagi semakin tua. Semakin kurang ajar? Bukan. Semakin tua semakin seperti anak-anak saja, susah diatur. he he he.

Mudah-mudahan kita bisa hidup sampai tua, bahagia, dan tentunya manfaat bagi orang banyak. (Kalau main catur berdua, apa manfaatnya bagi orang lain ya?)

Catatan (biar pada ngiri), tulisan ini dibuat setelah duduk-duduk di depan rumah (front porch) bersama istri saya, makan mie bakso buatan sendiri. Pagi, udara Bandung yang cerah, nyaman sekali untuk berjemur. Moyan kata orang Sunda. πŸ˜€ Orang lain sibuk pergi ke kantor, kami santai nge-bakso dulu. he he he. Inilah nikmatnya jadi entrepreneur, bisa mengatur waktu kerja sendiri. Okay, now, it’s time to work. See you in the next blog entry.

15 pemikiran pada “Tua bersama

  1. huhuhuhuhuhu jadi pengen tua.. tapi di cilegon sini mana ada taman yang ada papan caturnya pak.. tamannya ajah ga adaaaaaa

  2. apakah hal itu msh berlalu saat di usia tua, kita malah sadar klo selama ini kita hidup dgn orang yg salah?

    btw, emang bener, ceritanya bikin ngiri euy

  3. Pak Budi, tulisannya memang bikin iri. Tapi apakah idenya karena ada berita di media bahwa mensesneg, Yusril, menikah dengan ABG 22 tahun? ada hubungannya gak yah?

  4. untuk #7, saya baru tahu kalau Yusril menikah lagi dari koran dan malah agak kurang suka dengan berita itu 😦 Meskipun itu hak dia sebagai seorang manusia, tapi sebagai seorang menteri – yang menjadi panutan – mungkin kurang cocok. Kok agak bagaimana begitu. Kesannya kok negatif. Entahlah.

    Kalau ada gambar orang tua gandengan tangan, nah itu saya lebih suka. he he he. πŸ˜€

  5. Duh jadi lega dengernya, soalnya saya sama suami kebayang kalo ntar menjelang jadi aki sama nini mau tinggal pebukitan daerah Temanggung untuk ngembangin pendidikan gratis untuk masyarakat pedesaan situ…ah semoga ini dicatat malaikat.

  6. Semoga…semoga…semoga…tapi kalo pagi-pagi intan nge teh sama suami depan rumah, sipa yang terima pendaftaran Sharing vision ya ? πŸ™‚

  7. heheh..bagaimana dengan AA Gym?
    nikmatnya kalo kita menikah dengan belahan jiwa kita, bukan atas dasar paksaan untuk menikah? akan tetapi dibutuhkan suatu kegigihan untuk mendapatkan soulmate kita, yaa benar nobody’s perfect..akan tetapi jika kita dan pasangan kita sudah merasakan yang namanya Teletooth (istilah saya untuk berkomunikasi dengan pasangan saya, tanpa harus “berkomunikasi” – telepati) , merasakan chemistry yang sama…saya yakin kita dan pasangan kita akan mengalami kehidupan tua yang menyenangkan seperti diatas (kalau jodoh juga)

    wah…saya jadi kangen sama pasangan saya..hik hik…miss u honey!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s