Tulisan saya tentang “hilangnya etika mahasiswa” menuai badai. Ha ha ha. Bukan badai sungguhan akan tetapi badai opini. Ini bagus. Entah kenapa kata “badai” kemudian menjadi dominan malam ini.

Sambil menyiapkan materi kuliah untuk besok pagi, saya memutar lagu-lagu dari album Chrisye, “Badai Pasti Berlalu“. Sayangnya ini adalah album baru yang merupakan olahan dari soundtrack film “Badai Pasti Berlalu” yang juga dinyanyikan oleh Chrisye (dan juga Berlian Hutauruk). Kalau versi sekarang lagu-lagu itu diaransir oleh Erwin Gutawa, yang dahulu oleh siapa ya? Rasanya oleh Eros Djarot? Saya pribadi lebih menyukai versi yang dulu. Lebih romantis. Sayangnya CD-nya tidak tersedia. Kalau ada yang punya kasetnya, saya mau. Nanti saya buatkan versi MP3-nya.

Badai Pasti Berlalu (1975) satu-garis Badai Pasti Berlalu. Ah, kata-kata itu mengingatkan saya akan filmnya, yang diperankan oleh Christine Hakim. Masih terbayang-bayang oleh saya gambar posternya, Christine Hakim berlari. Sampul dari kaset soundtrack film itu memang menggambarkan hal itu. (Lihat di sini.)

Kemudian pikiran saya berlari lagi ke novel. Ya, film Badai Pasti Berlalu itu berasal dari novel karya Marga T. Saya sudah baca novel itu. Sekali waktu masih muda (SMP? SMA?) dan sekali lagi tahun lalu. Saya beli lagi novel itu dan saya baca sekali lagi. Masih terasa trenyuhnya membaca kisah Siska. Tentu saja saya membayangkan diri sebagai Leo, sang penolong Siska. Ha ha ha. Novel itu juga membuat saya ingin menjadi dokter. Eh, nggak ding. Saya tidak mau jadi dokter. Dari dulu saya memang lebih suka utak atik elektronik atau main musik. Hi hi hi.

Sayang sekali sekarang saya tidak bisa menikmati novel seperti karya Marga T itu. Beberapa waktu yang lalu sempat saya tanyakan kepada mahasiswa saya, buku novel apa saja yang kalian baca? Jawabannya gumaman. Di sana sini terdengar kata Harry Potter. Sayang sekali tidak ada penulis Indonesia yang menjadi “bacaan wajib” bagi mereka. Saya tanya apakah ada yang baca Dewi Lestari? Mungkin satu dua pernah mendengar, tapi membaca bukunya mungkin tidak. Aduh. Kasihan sekali generasi muda saat ini. Jaman saya dulu ada bacaan wajib seperti buku karangan Kho Ping Hoo. Kalau mau yang lebih berat ya Marga T atau bahkan Ashadi Siregar (masih ingat “Cintaku di Kampus Biru?“)

Eit… waktu sudah larut malam sementara materi kuliah baru 75% selesai. Sementara itu besok saya juga harus memberikan workshop dimana materinya harus saya cerna juga. Ah, it’s going to be, yet, another long night. I am going to burn midnight oil. To my students, see you in class tomorrow.

Mau lagunya? Silahkan lihat di sini: http://sardjana.multiply.com/music/item/40/Badai_Pasti_Berlalu