Ada beberapa kejadian di kampus ITB yang membuat saya mengelus dada. Kejadian tersebut memang tidak saya alami akan tetapi dialami oleh kolega saya, sesama dosen. Kejadian pertama adalah sopan santun mahasiswa dalam menggunakan lift di sebuah departemen. (Tidak saya sebutkan detailnya. Ada di milis dosen ITB yang mungkin kurang baik kalau saya teruskan ke milis ini.) Seorang mahasiswa ditegur oleh dosen. Eh, bukannya malu atau minta maaf malah dia nantaingin. Hah! (Kalau mendengar ceritanya, saya ikut kesal! Maunya saya cari mahasiswa tersebut dan suruh minta maaf kepada dosen ybs.)

Kejadian kedua terjadi di dekat SBM (School of Business and Management). Seorang dosen parkir mobil dan ketika kembali akan menggunakan mobilnya ternyata di belakangnya ada mobil lain yang diparkir menghalangi mobilnya. Mobil tersebut terkunci dan direm. Akhirnya dosen ini (dan seorang lagi) terpaksa menunggu mahasiswa itu kembali. Ketika kembali, mahasiswa tersebut – lagi-lagi – tidak merasa bersalah dan bahkan mengatakan hal tersebut sudah biasa. Hah!@! WTF!!! Mana rasa sensitif terhadap orang lain? Untung dosen yang bersangkutan bisa menahan diri. (Di milis dia menyatakan kekesalannya dan sudah siap untuk berantem dengan mahasiswa tersebut. He believed he can take them – they were two of them! You know, I would do the same if I were him.)

SBM ini memang menimbulkan masalah di ITB, khususnya adalah masalah perbedaan kultur. Untuk masuk ke SBM memang dibutuhkan uang sedikitnya Rp 60 juta. Jadi banyak mahasiswa dan dosen yang melihat bahwa mahasiswa SBM ini borjuis dan kurang bisa berintegrasi dengan lingkungan ITB lainnya. (Untuk diketahui saja, mahasiswa ITB masih banyak yang berasal dari keluarga miskin. Dosennya juga masih banyak yang pas-pasan.) Saya sendiri belum pernah mengalami masalah dengan SBM. Mudah-mudahan tidak pernah. Saya banyak berharap SBM bisa memberikan warna yang positif terhadap ITB (dari sisi bisnis sense), tapi kalau seperti ini kejadiannya. Wah … mungkin sebaiknya SBM dipisahkan dari ITB saja?

Saat ini memang saya belum mendengar tanggapan dari mahasiswa maupun dosen SBM mengenai kasus-kasus yang terkait dengan “kultur” SBM ini. Mudah-mudahan ada jalan keluarnya.

Kembali ke masalah etika mahasiswa, sayang sekali nampaknya etika baik sudah luntur atau hilang. Untuk para mahasiswaku: prove me wrong! Buktikan bahwa saya salah. Buktikan bahwa kalian memang masih bisa menjadi tumpuan harapan kami.