Biarkan ku menikmati kopiku

Saya penggemar minuman kopi, tapi bukan maniak kopi. Maksudnya saya suka minum kopi, tapi tidak pernah berteori mengenai kopinya itu sendiri. Ndak ada kopi juga nggak apa-apa, tapi kalau ada kopi … ya dinikmati.

Saya tidak bisa membedakan mana kopi yang baik dan buruk, tapi ada kopi-kopi tertentu yang saya sukai. Mengapa saya suka kopi yang itu? Saya tidak tahu jawabannya, seperti tidak tahunya orang mengapa dia suka warna biru dibandingkan warna merah.

Saya suka kopi dari Starbucks. Sebentar lagi pasti banyak yang protes bahwa Starbucks itu bukan kopi sesungguhnya (maksudnya bukan kopi jadi-jadian, tapi bukan kopi yang dimaksudkan penggemar kopi). Bila memang demikian, apa saya tidak boleh suka kopi Starbucks? Apakah harus berpura-pura menikmati kopi di tempat lain? Saya sering jalan ke berbagai kedai kopi, karena banyak kawan saya yang memang gemar kopi. Berbagai kopi telah saya coba, Aroma, Bakoel, yang Italian di sana dan di sini. Tapi, ya itu … saya pribadi kembali lagi ke Starbucks.

Kata orang, minum kopi Starbucks itu yang dicari adalah suasananya. Mungkin benar karena memang suasana di beberapa kedai Starbucks enak. Tapi, jika ini benar mengapa saya tetap membeli kopi Starbucks di Km 19 jalan tol Cipularang melalui fasilitas drive through-nya? Bukankan saya tidak masuk ke kedai untuk mendapatkan suasananya? Kopi saya sruput di mobil sambil jalan menunju Bandung.

Ah … biarkan aku menikmati kopiku. Aku tak ingin berteori …

35 pemikiran pada “Biarkan ku menikmati kopiku

  1. Kalau bagi saya, pak Budi, yang penting dari kopi adalah ‘rekan2nya’ … entah itu sebatang rokok, entah itu teman mengobrol yang menyenangkan, entah itu komputer+internet untuk browsing, entah itu mouse dan keyboard untuk main game, entah itu secarik koran, entah itu sebuah buku bacaan… srupputtt… hhhh… perasaan nyaman dan hangat itu masuk dan melarut … nikmat … 🙂

    selamat menikmati kopinya pak Budi…

    hihihihi.. permisi …

  2. wkakakakaka… polemik kopi dari mana nih (nga ngikutin), kalo saya sih ternyata emang ga kuat ngopi, begitu ngopi pasti berdebar2 jantung dan kepala pusing wakakakaa… tapi konsumsi cola sehari bisa seliter wakakaka… terlalu keras barangkali kopi buat saya.

  3. Ada yang nulis comment di site saya, bilang (kira2) bahwa sikap kita terhadap kopi adalah sikap kita terhadap hidup. Jadi coba kita terjemahkan:
    “Saya menyukai kehidupan, tetapi bukan maniak. Maksudnya saya suka menikmati hidup, tetapi tidak berteori tentang kehidupan itu sendiri. Kalau nggak ada yang bisa dinikmati, ya nggak apa-apa, tapi kalau ada … ya dinikmati.”
    Hihi, ngaco ya? Ya, salahkanlah si penulis comment itu, yang masih anonim juga sampai sekarang :).

  4. Sekarang saya tahu dari mana teman saya punya hobi ngopi.. hehehehe…

    Saya pribadi lebih suka Bakoel daripada Starbucks.. Tapi sejujurnya saya lebih suka kopi kapal api, tugu luwak, dan sejenisnya.. dan paling benci Nescafe..

    Dan saya doyan ama warkop pinggir jalan.

    Sayangnya.. saya lebih doyan teh.. :p

  5. Heheheheee…
    Iya pak. Paling penting mana yg enak menurut kita. Ga perlu berteori. Nikmati aja, sekali pun gw selalu kagum sama Paul Bassett, world barista champion. BTW, klo sempet ke Tanjung Pinang (Riau Kepulauan), boleh lah nyobain kopi khas disana. Gw yg bukan penggemar kopi aja bisa nagih. Hihihi…

  6. Kopi Aceh, Kopi Gayo, sampai Toraja, sampai East Timor (dulu masih Tim Tim) dan tentu saja Kopi Bali sudah saya cobain. Kopi Tanjung Pinang, mungkin pernah saya cobain heheh waktu masih kecil. Masa kecil di Tj Pinang yang menyenangkan.

  7. Hmmm.. Kopi ya, suka juga sih … kopi susu saya suka, apalagi Starbuks
    Tapi kenapa selalu habis minum kopi perut saya jadi aneh, mual atau mules … Sementara itu saya tidak minum kopi dulu 🙂 Ganti ama susu atau coca cola … 🙂

    Ada yang tahu kenapa ?

  8. rayyan (#10), coca cola malah bikin perut saya mules. sekarang sudah tidak boleh minum coca cola. apalagi coca cola dingin! jadi ngiri lihat orang minum coca cola dingin. waahhh puasa-puasa mikirin makanan. … sop buah!

  9. kopi kental yang nggak begitu manis plus tanpa ampas. hmmmmmmmmmm……

    paling suka racikan es kopi susu jahe khas warung ujung gang kos’an, nikmat banget.

  10. Kebetulan saya pernah baca artikel ttg Starbucks. Kualitas kopi mereka memang top bgt, karena sumber biji kopi yang diambil juga yang berkualitas tinggi dari seluruh dunia. Untuk mengikat petani2 kopi tsb, Starbucks gak tanggung2 mengucurkan dana buat pembangunan sekolah dan fasilitas umum di desa2 petani tsb tinggal. Di Indonesia juga ada, kalau gak salah di Sumatera (tepatnya saya lupa). Terus resep racikan kopi mereka juga menjadi standard bagi kedai Starbucks di seluruh dunia. Pemegang franchise pun gak tahu resep tersebut, persis kayak coca-cola yah? Untuk menjadi barista pun gak sembarang orang bisa, ada kualifikasi tertentu dan harus melalui pelatihan juga. Yah tipikal perusahaan Amerika lah. Yang menarik, owner Starbucks itu sebelumnya pegawai Starbucks yang kemudian keluar dan sukses memiliki kedai kopi di Eropa dan membeli saham Starbucks dan merubah Starbucks menjadi seperti sekarang. Thx

  11. klo pak Budi pas ke Jogja, silahkan mampir ke Angkringan dekat stasiun tugu dan cicipi anehnya Kopi Joss.

    sementara saya paling suka menikmati teh..
    ada beberapa tempat di Jogja yang sering saya kunjungi untuk makan demi mendapatkan tehnya 😀

  12. Hahaha, saya tau kenapa saya lebih suka merah ketimbang biru. Merah itu cerah dan berani. Kesannya optimis. Hayooo, siapa tuh yg suka protes kopi Starbucks kopi bo’ong-bo’ongan? Kalo ukuran standar kopi kafe, kayanya emang rasa Starbucks yg menang sih. Ayo ayo, kalo Pak Made udah balik ke Indo, kita bikin gathering di Starbucks… 🙂

  13. Yang saya dengar starbucks itu lebih banyak keluar uang untuk kesejahteraan karyawan dibandingkan membeli kopi berkualitas. Tapi rasanya bagaimanapun komposisi budgetnya kalau memang uangnya banyak banget.

    Tapi pernah merasa gak sih kalau Indonesia kan salah satu penghasil kopi dunia yang terkenal. Tapi kok kita kalau nggak minum kopi bubuk instant ya minum di kedai perusahaan bule. Rasanya nggak akan sulit utk membuka usaha yang menyaingi Starbucks di Indonesia.

  14. ak (#19), masalahnya bukan “sulit” atau “nggak sulit”nya membuka usaha kopi, tapi ketekunan kita ini memang agak payah. Kalau ada orang Indonesia yang tekun terus, saya rasa memang bisa berhasil. Nah, Kopi Aroma (Banceuy, Bandung) merupakan salah satu contoh usaha kopi yang banyak penggemarnya. Sayangnya saya kok nggak berapa suka dengan kopi Aroma. Sip sih, tapi entah kenapa.

    Soal kopi Aceh, beberapa waktu yang lalu saya dapat oleh-oleh kopi Aceh dari Andika ketika dia jalan ke Aceh. Memang luar biasa enaknya. Sayang gak bisa banyak-banyak minumnya karena supplynya hanya sedikit. he he he. Oh ya, kopi Aceh itu saya tambahin susu he he he. Pasti ada yang protes! Kok dicampur susu. Biarin! Yang penting uenak tenan.

    Wah … jadi lapar nih puasa-puasa ngomongin makanan! Batal!

  15. Kalo saya di Bogor mending ke DailyCafe di PangrangoPlaza adanya cuma cappucino sih tapi cukup mantap rasanya dan harganya setengah dari Starbuck 😀

  16. #20, salah satu yang membuat gerai seperti Starbucks, Walmart tidak laris manis di Jerman, bukan karena mereka kurang tekun, tapi orang Jermannya yang keras kepala lebih menyukai produk Jerman, apalagi urusan Cafe, padahal Cafe Jerman ndak pakai kursi, mereka berdiri.

    Dasar orang keras kepala !

  17. #22, bukan keras kepala mungkin, tapi lebih mencintai produk negeri sendiri mungkin. Mereka memang terkenal ‘chauvinis’ sejati. Rasa kebanggaan sebagai bangsa Jermannya sangat tinggi.Coba aja nyari orang pakai HP Nokia di Korea Selatan sono, hi.hi..kalau gak Samsung yah LG…

  18. Starbucks? Aduh!
    Udah kebanyakan di sini, mas, kayak lampu perempatan jalan.
    Saya bukan peminum kopi, tapi suka mampir soalnya ada wi-fi gratis. 😀

  19. Kupi atjeh ….. wow kereeeen …..
    tapi repotnya udah dibawain adikku banyak-banyak (coffee beans yang udah di’goreng’) … waktu dimasak ga bisa serupa dengan rasa di Atjeh sono yang amboyyyy ….

    Ada yang tau cara masak kupi atjeh yang pas ?

  20. #23 : Ya itu keras kepala pakai produk sendiri. Tapi sebetulnya bukan karena chaunivist (saya fikir tadinya orang Jerman seperti ini tapi tidak mala kita orang Indonesia yg sering lebih chauvinist). Mereka cuma sulit merubah kebiasaan, alias kurang spontan.

    Jangankan soal cafe, udah tahu dari kotanya ke Amsterdam lebih dekat kalau mau terbang ke LN, tetap saja mereka lebih suka ke Frankfurt.

  21. buat gw yang ueeenak abiz tentu kopi Tugu Buaya, yg gw temuin di NTT, sekali nyoba gile benar2 kopi ueenak. COBAIN DEH!! Klu elu penasaran kontek aje toll free pabriknye 0.800.19.88888 atau log in aje ke http://www.indraco.com

  22. saya uda coba berenti ngopi, sampe di hipnotis segala, kata terapisnya kopi cuman sugest… tapi 2 minggu kemudian saya ngopi lg…

  23. Uda pernah coba kopi di coffeshop baru blom?
    Namanya MYCOFENA, adanya di pasific place lt.lg

    Kl kalian semua pengemar kopi sejati coba dech kopinya, katanya sich roasting sendiiri, gw uda coba sech racikan minuman kopinya sich bolelah untuk saingan dengan starbucks, ditambah harga yang terjangkau banget..silahkan dicoba dech..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s