Pahlawan Kesiangan: Linux dan Microsoft

Saya merasa seperti deja vu menuliskan hal ini lagi. Tidak apa-apa, akan saya tulis kembali bagi orang yang belum pernah membacanya.

Di beberapa mailing list dibahas mengenai nota kesepakatan (MoU) antara Pemerintah Indonesia (ataukah Departemen Kominfo?) dan Microsoft. Banyak orang yang mempertanyakan isi dari nota kesepakatan itu, yang katanya berisi itikad Pemerintah Indonesia untuk membayar lisensi sistem operasi Microsoft untuk komputer yang digunakan di Pemerintahan. Saya sendiri berpikir bahwa mungkin isinya bukan itu akan tetapi komitmen Pemerintah Indonesia dalam menghargai HaKI. Tentu saja hasil akhirnya bisa membayar lisensi sistem operasi Microsoft, akan tetapi bisa juga menggunakan sistem operasi yang bebas seperti Linux. Sayangnya saya tidak memiliki salinan dari MoU itu sehingga tidak bisa kita kupas dengan mendalam. (Ada yang punya?)

Diskusi kemudian menjadi debat yang memojokkan pak Sofyan Djalil sebagai menteri yang menandatangani nota kesepakatan tersebut. Ini yang saya tangkap dari diskusi di beberapa milis. Banyak yang mengatakan bahwa seharusnya Pemerintah Indonesia menggunakan Linux saja. Saran yang sah-sah saja.

Yang menarik dari ini semua adalah banyak orang yang menjadi “pahlawan kesiangan” dengan usulan Linuxnya. Seolah-olah mereka adalah pandai dan Pemerintah bodoh karena tidak mengenal Linux. Ha ha ha. Saya bisa memahami kalau yang memberikan kritikan adalah memang orang-orang yang sudah terbiasa dengan Linux (ada banyak sih di Indonesia). Tapi … ini orang yang memaki-maki Pemerintah karena tidak memakai Linux yang sebetulnya dalam kehidupan sehari-harinya juga masih pakai sistem operasi Microsoft Windows. Ha ha ha. Lucu.

Jadi ingat sebuah kejadian. Ada sebuah presentasi yang isinya mengatakan bahwa kita harus menggunakan sistem operasi Linux. Sang presenter memberikan presentasi dengan menggunakan Microsoft Power Point. He he he. Apakah Anda mau percaya?

Sekarang debat tentang Microsoft vs Linux (atau Open Source secara umum) melebar ke kurikulum di sekolah. Orang mempertanyakan mengapa isi kurikulum ada yang mengarah ke produk Microsoft. Lagi-lagi saya hanya bisa meringis. Perlu diingat bahwa mungkin materi tersebut dibuat beberapa tahun yang lalu dimana tidak banyak orang yang memahami Linux. Dugaan saya, yang memberi komentar itu pun pada tahun itu juga mungkin belum tahu apa itu Linux. Kalau mau memberikan kritik yang produktif-lah. (Catatan, saya tidak tahu kurikulum mana yang dimaksud dan siapa pembuatnya. Bukan saya lho.)

Saya sendiri melihat ini semua dengan mencoba mempertimbangkan banyak hal. Meskipun saya lebih condong kepada penggunaan free software (termasuk di dalamnya adalah open source tentunya – meski saya lebih suka ke free ala FSF yang agak radikal itu – hi hi hi), saya pun masih bisa memahami adanya kebutuhan untuk menggunakan software proprietary saat ini. Bahkan software yang menurut kita sudah ada penggantinya di sisi open source pun membutuhkan waktu untuk mengubah penggunanya. Kata orang harus ada change management-nya.

Ah sudah kepanjangan. Nanti kita sambung lagi. Sekarang saya ingin mendengarkan komentar pembaca sekalian. Jangan lupa, kalau ada yang punya MoU yang bikin heboh itu mohon ditampilkan secara online ya.

52 pemikiran pada “Pahlawan Kesiangan: Linux dan Microsoft

  1. jadi inget dulu pernah seminar tentang linux dan opensource..
    anehnya yang presentasi, gak ngeliatin satu sesi pun tentang penggunaan linux..
    smua disampaikan pake laptop windows (walaupun ori)

    yang presentasi waktu itu adalah..
    Mr. Multimedia

    eh sumpah.. ini gak bermaksud mendiskreditkan lhoo..

    btw, saya sendiri masih pake windows bajakan..

  2. saya juga heran dgn perdebatan ‘microsoft atau linux’ yang gak jarang sampai seperti perang suku saja.

    sebenernya tinggal dilihat penggunaanya untuk apa. Kalau di level server, yang jelas adminnya tau TI, ini perkara mudah.

    Tapi kalau di level user, yang gak sedikit menganggap komputer benda keramat & takut rusak, linux bisa jadi masalah. pakai windows yang sudah jelas lebih user-friendly aja susah.. belum lagi masalah kompatibilitas dengan instansi lagi 😦 dst dst dst. singkat kata, linuxisasi bukan perkara sederhana.

    jadi lebih baik dilihat dulu, mau untuk apa dan siapa yang mengoperasikan, baru memilih linux atau microsoft 🙂

    **buat yg masih memperdebatkan, lebih baik ngrasain dulu jadi helpdesk, baru deh kasi komentar kekekekekeke..**

  3. Iya. Ketika acara kemarin di Surabaya, O.S notebook yang digunakan Panitia ternyata Windows… untung saja saya waktu itu membawa notebook yang (memang) sudah di-install opensuse 10.1, langsung deh diganti sama punyaku… he he he (jadi pamer nih) 😀

  4. Perang kepentingan juga, udah capek-capek belajar OS baru (linux) eh di lirik juga enggak sama “bos” apalagi mo deploy. Yang buat program yang perlu pake Windows juga turut berperan kok; ikut seminar, pelatihan dsb juga gak ngaruh kl akhirnya perusahaan menetapkan hrs pake software under windows jadinya ya mentah lagi heheehehe.
    Kampus yang berani igos juga masih sedikit, gimana mo make linux kl “tempat pencetak pemimpin masa depan” ini masih pilih safe mode :-).

    hidup windows (sambil ngetik komentar pake windows xp2 bawaan campus agreement)

  5. sudah , yang ngaku jagoan linux kerja di sun, red hat atau novell saja , prove yourself !

    while if you’re microsft guy, go there and work in redmond !

    yang masih debat hal seperti begini memang cuman ABG yang kurang kerjaan , go out from Indonesia, jangan jadi jago kandang, go fight and compete with other fellow sw engineers from other country to make linux or microsoft product better !

  6. Saya juga ngga tahu isi MoU tapi mungkin tautan ini bisa membantu mengira-ngira isi MoU dari detiinet.
    Ok lah, jangan berasumsi (peringatan buat saya pribadi), tapi saya merasa pernyataan di detiknet cukup eksplisit.

  7. Kalau saya sih tetep akan memakai software yang lebih mudah untuk digunakan Pak. Terserah deh mau open-source ataupun proprietary, yang penting lebih user friendly.

  8. Mas Budi, di samping penggunaan Linux vs Windows, ada prosedural administrasi dari MoU itu yang dipertanyakan. Yang mempertanyakan malah departemen lain (bukan pengguna Linux atau advokat Linux)

    Pro Carlos : ini bukan masalah siapa yang jagoan apa (teknis) banyak hal non teknis dibalik keputusan ini yang sebetulnya menarik utk didiskusikan.

    Kalau keputusan utk 1 orang, 1 persh, 1 organisasi sih ndak masalah. Tapi kalau keputusan sudah melibatkan 1 negara, maka prosedural pengambilan keputusan haruslah dipenuhi.

  9. Analisis yang menarik juga. Saya juga sempat merasa ‘bingung’ mengenai isi dari MoU tersebut. Kalau memang perjanjian menggunakan software Microsoft di lembaga pemerintahan, masak hasil IGOS yang belum lama keluar langsung tak berlaku? Tetapi kalau memang isi MoU itu hanyalah perjanjian kalau pemerintah akan menghargai HaKI tentulah berbeda sekali. Menghargai HaKI kan tidak harus dengan linux ataupun open source.

    Menurut saya lebih penting lembaga pemerintahan mengadopsi open standards semacam open document. Apapun softwarenya, yang penting dokumennya open document 😀

  10. Kalau urusan teknisnya, saya lebih suka deploy Microsoft Windows XP utk desktop/workstation/laptop, karena semua orang tahunya itu (less customer support), dan sekuritinya relatif sudah lebih baik, apalagi di kampus sudah ada Windows Update Services.

    Kalau utk solusi server, menurut saya lebih enak FreeBSD/Linux/Solaris. Tinggal cari solusi mana yg paling friendly serta ‘fire and forget’, mudah ditinggal karena rock-stable dan gak gampang kena hack. Bagi saya FreeBSD termasuk OS yang memenuhi kriteria tadi. YMMV.

    Kalau politis, au ah gelap. Toh kalau pemerintah nya memang niat, mestinya bisa kok kasih special price tanpa embel2 aneh2. Lha wong Pemerintah China aja (dengernya) beli license microsoft utk satu China itu utk beberapa tahun kok ke Microsoft. Cari2 aja beritanya dgn berita Presiden China waktu pergi ke Amerika. Ada dealnya.

    Buat saya, lebih enak kepala ini dipake seminimal mungkin mikirin isu yang aneh2. Lebih baik mikir bagaimana bikin IT Services System yang lebih baik utk customer, dan lebih mudah diurus buat kita2, sehingga orang spt saya bisa ngabur utk ngerjain hal2 yang lain 😉 Charity, bikin buku, konsulting, dsb.

  11. kunderemp – change management bukan sekedar aturan. Ada perencanaan, dokumentasi, implementasi/eksekusi, monitoring dan kontrol disitu. Dengan demikian maka diharapkan proses perubahan yang digarap oleh proyek tersebut tidak akan mengalami masalah2 yang tidak terduga yang fatal. Ribet memang, tapi ini penting, apalagi untuk proyek2 dengan skala besar.

    justin – helpdesk saya jadi sering menganggur sejak setahun yang lalu migrasi ke linux, hehe. siapa yang tertarik melamar untuk jadi helpdesk saya ? 🙂
    sekali lagi, jika dieksekusi secara benar, migrasi ke linux / open source bisa membawa sangat banyak keuntungan.

  12. Bukankah dng memberikan julukan “pahlawan kesiangan” pada orang lain, ada nada kesombongan dalam bertutur kata ?

    Perdebatan di pemerintah Microsoft vs Linux sepertinya sudah ada sejak bertahun – tahun yang lalu. Ada Inpres no 2 dan no 6 tahun 2001 yg lebih condong ke Open Source, ada IGOS yang lebih moderat (“Pemerintah hanya memberikan alternatif platform, berdiri di tengah tidak menyokong MS atau Linux”, yg penting berlisensi).

    Jangan begitulah mas Raharjo, berikan kesempatan pada yg lebih muda
    untuk menyampaikan dan melaksanakan gagasannya. Inikan suatu proses, hasil dari generasi kitapun tidak sebagus yang kita bayangkan di awal. Mudah-mudahan bisa jadi tahap-1 untuk pembangunan berikutnya.

    Kalau konsekuen tidak berpihak, apakah bisa pemerintah memberikan
    dana juga sebesar 150 juta US$ pada komunitas Linux Indonesia utk
    mengembangkan platform OS utk pemerintahan. Jadi tidak cuma MS yg
    dapat dana ….

    Salam,
    Purwoadi

  13. Maaf .. anggota baru neh .. saya cuma mikir aja, seandainya yang menemukan atau menciptakan system itu adalah diri kita. Ga peduli namanya, apakah itu Linux atau Microsoft. Kira-kira, apa ya tindakan kita. Apakah kita membiarkan orang lain ikut andil membesarkan ide kita. Atau kita kuasai semua untuk tujuan komersial.

    Banyak sisi yang bisa kita sikapi. Tidak bisa dengan mudah kita mencari benar atau salah. Apapun, kita bisa saat ini, tidak terlepas dari masa silam. Tidak terlepas dari para ilmuwan yang sudah tiada. Gara-gara mereka menemukan transistor, menemukan teori fisika, menemukan dalil2 dan banyak lagi, maka manusia jaman sekarang cukup belajar dan mengembangkannya.

    Kita ga hidup sendiri. Kita bisa karena kita belajar. Belajar dari literatur. Literatur yang dikarang oleh orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk pengetahuan. Sudah saat nya kita menghargai hak intelektual. Karena jasa guru, dosen, ilmuwan, penemu dsbnya kita bisa seperti sekarang.

    Yang membuat saya tidak sependapat adalah apabila kita dibatasi untuk mengakses pengetahuan. Dibatasi untuk menggunakannya. Alias di monopoly. Karena dengan adanya monopoly itu menghambat perkembangan pengetahuan manusia.

    Bukankah manusia itu mahluk yang lemah dan punya keterbatasan. Oleh karena itu Allah menciptakan kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kita mau belajar dan saling melengkapi. Bayangkan kalo di dunia ini, kaya semua atau miskin semua. Atau pintar semua, atau bodoh semua.

    Maaf .. jika ada kata yang terplintir sehingga bikin salah paham. Maaf .. jika ada kalimat yang tak bermakna sehingga bikin pusing kepala. Maaf .. (waduh kok jadi ikut-ikutan mpok Minah sih di Bajaj Bajuri) hehehe

  14. Mas Budi,
    Di sini pointnya bukan masalah teknologi sama sekali tapi murni politis. Kebetulan saja kali ini kontennya Open Source vs MS. Bisa baca analisis dari Ibu Judith. Pointnya adalah perjanjian ke single vendor itu melanggar banyak aturan. dan seperti yang di katakan IMW, jika yang ditentukan adalah diri sendiri silakan saja, tapi yang ditentukan adalah nasib negara maka ikutilah aturan.

    Walaupun saya sudah menggunakan Linux cukup lama, saya tidak mau mengatakan orang yang menggunakan ( bahkan tidak menggunakan ) linux setelah saya sebagai pahlawan kesiangan that’s rude.

    Oh iya, angkanya $45 juta untuk 3 tahun jadi $15juta/tahun, tapi itu sudah histori kok sekarang, jangan tanya dari mana datanya 😉 gak mungkin ada url-nya yang model begini hehehehe…

  15. seneng sekali pake Linux, tapi masih tetep setia sama windows,
    kupakai mereka berdua berdampingan saling mengisi satu sama yang lain sehingga terciptalah keluarga yang sakinah (halah!..)

    kekekekekeke…

  16. Ping-balik: #direktif
  17. Saya udah pake opensouce dan Windows OS. Memang saya gak mau bilang bahwa Linux Free lantas kita musti berbondong2 migrasi ke Linux. Jawabnya Ndak … Itu semua tergantung siapa pemakainya IT Kah ?? atau org Design Kah ?, atau masyarakat secara umum kah??. saya sendiri sampe sekarang masih pake OSX dengan MS Office di kantor namun catatan yang saya bisa ambil jika saya belajar Unix like OS adalah saya ingin mendapatkan konsep sebuah OS dan belajar Unix yah lebih mudah kita belajar pake Linux atau *BSD atau Solaris… karena kita akan belajar tentang konsep sebuah OS yang sebenarnya, ndak hanya menuruti perintah yang memang telah di design oleh vendor sehingga kita hanya seorang pemakai tanpa tau prinsip kerja sebenarnya. klo kita user biasa yang sudah terbiasa dengan windows dan terbiasa juga membajak software yahhh … itu mememang kita, Bukan ?? tapi mo sampe kapan begitu ?? sementara kita gembar-gemborkan HAKI bukan ?? OpenSources adalah jawaban untuk sebuah lembaga/corporate/ badan “pemerintahan” yang gak punya banyak uang untuk mensupport , itung lisensenya ini dan itu ….
    coba deh itung2 licensenya microsoft satu2 termasuk call lisensenya belum lagi DBnya. tiung dehhh …. dan bandingkan klo kita beli sebuah paket open source…

  18. wah beneran deja vu. dulu saya kan pernah lihat pak budi presentasi tentang linux, tapi pake powerpoint. habis itu kan saya sentil kira2 “wah, presentasi linux kok pake powerpoint”, terus pak bud bilang “kalau kebetulan crash waktu melakukan presentasi, jadi gak bisa menyalahkan linuxnya” hahaha…

    jangan2 orang pro linux yang pake powerpoint ini alasannya juga sama 🙂

  19. #17 kalau banyak yang tidak mengakui nilai itu saya sih ketawa saja. Yang penting ndak jadi dan sudah jadi histori, dan dana yang seharusnya keluar tidak jadi keluar he he Itung itung menyelamatkan dana negara hehehe. Dikatain pahlawan kesiangan, biarin aja.

    #20 Mengapa media telat membahasnya atau menginvestigasinya ? Padahal riuh-rendahnya sudah lebih dari 10 hari.

    Komentar saya berikutnya :
    Berapa hal yang mengganjal (seperti pertanyaan saya di milis TELEMATIKA)

    Mengapa salinan MoU itu sulit diperoleh, sebagian besar rekan wartawan dari berbagai media tidak memilikinya.
    BIla MoU itu berisi keinginan pemerintah menghargai HAKI, mengapa kepada Microsoft mengapa bukan ke BSA (yg mewakili kubu proprietary) dan ke FSF dan OSI (yg mewakili FOSS). Pelanggaran GPL juga pelanggaran HAKI.
    Bila keinginan melakukan legalisasi penggunaan proprietarya dengan membayar lisensi ke MS, bagaimana dg aplikasi proprietary lainnya. Apakah pemerintah via Kominfo sudah melakukan perhitungan pembiayaan keseluruhan ? Termasuk dana upate ? Misal lisensi anti virus, lisensi backup, lisensi ini itu
    Pernyataan Kominfo mengatakan bahwa Solusi OpeN Source belum siap apakah sudah dilandasi data ? Atau hanya kira-kira berdasarkan bisikan ?

  20. mulai lagi ini masuk ke period infinite loop dari function debat kusir. Yang jadi topik ada ada saja, tapi tetap saja debat kusir karena nobody listen to each other, gak mau denger pendapat orang dan merasa “i have the right to be the most right” attitude, issuenya nggak cuman ms vs linux, linux vs freebsd , apple vs ipod, vi vs emacs.

    Ujung2nya sama, yang satu mengumpat yang lain, yang satu merasa diremehkan dengan yang lain, yang satu punya opini, pasti ini dapat bisikan dari pimpinan proyek.. he he he 🙂 dst, pelakunya juga sama dari dulu. Nanti ada satu dua yang quote “manusia makluk yang lemah” dan anti-kapitalisme rejim.. he he 🙂

    for some of us, kebanyakan sudah seperti affan sejak dulu, mending waktu ini dihabiskan untuk memikirkan coding socket , yang masih ada waktu untuk endless debat kusir silahkan tambah thread ms vs linux ini 🙂

    sorry for sarscasm remark.

  21. Salam kenal,

    Tulisannya cukup menarik juga. Yah, memang dalam banyak hal orang (terutama yang lebih awam) memandang linux karena “murah”-nya — dan, akhirnya, jadi cenderung menyalahkan pemerintah RI yang tidak memakai linux. quote: “kan gratis? jadi bisa menghemat pengeluaran nasional dong!!” 🙂 Contoh yang bagus untuk ini mungkin kalau baca majalah InfoLinux; coba deh perhatiin berapa banyak artikel yang berkaitan dengan “penghematan nasional” di rubrik opini-nya.

    Dan linux memang jauh lebih terkenal karena kesan “murah”-nya, memang — padahal banyak kelebihan linux yang belum sempat tereksplorasi selain itu saja. Support driver? Kelengkapan program? Saya sendiri pernah menulis (beberapa waktu yang lalu) tentang berbagai kelebihan-selain-harga ini di sini.

    Jadi, jangan salahkan jika banyak orang (awam, pengguna windows) mencela pemerintah karena mengabaikan linux. Lha, mereka cuma tahu gratisnya saja? 😛
    Padahal cukup banyak kemampuan teknis yang dimiliki linux; program2 yg tersedia, etc. etc.

  22. #23. Untuk sama-sama sarkas : kalau udah enak dan bisa nentuin beli yang mana sih ndak perlu mikirin. Sayang untuk hal ini kita beda, walau kaki saya di LN sudah lebih dari 10 tahun tapi saya masih mikir hal lain selain injekan kaki saya. Ini bukan masalah Window vs Linux. Tapi prosentase pembelian vs dana utk pengembangan lokal (salah satunya). Dan, saya ndak punya bisnis di Linux (konsultan atau produk), paling nulis ttg Linux saja. Duit saya lebih banyak datang karena saya dosen.

    Sorry ikut-ikutan sarkas. Kalau cuma mikirin coding socket mah anak SMA juga bisa kekekeke

  23. #23: wah, jangan samakan semua orang. ada kok orang yang disela-sela kesibukannya (coding socket) mau ngurusin hal2 ‘kotor’ seperti ini.

  24. Apapun pandangan orang sama saya dan apapun selera saya, saya rasa vendor manapun dg sebesar apapun sumbangannya terhadap negara tak seharusnya campur tangan dalam pembuatan RUU ataupun rancangan peraturan2 yang menyangkut masyarakat luas di suatu negera — seterpuruk apapun negara itu.

    Saya percaya MoU itu dibuat bukan sekedar berdasar pandangan, selera dan rasa satu-dua orang saja.

  25. tdk mengkultuskan Aa Gym (by Aa Pri), Aa Linux, Aa MS, ato Aa Mac.. 🙂

    (sbg rakyat miskin) tetap ‘berusaha’ legal

    salinan MoU (money of understanding[?]) jd spt Supersemar.. 🙂

  26. Kalau komputer untuk kerja sih mending pakai Windows, karena ada supportnya dari Microsoft.
    Kalau komputer untuk server di perusahaan, saya lebih cenderung menggunakan Solaris karena ada support dari SUN, kecuali jika di perusahaan itu ada yang mau maintain 24/7 server-server Linux or FreeBSD

  27. Nah ini namanya poligami.

    Kalau di kantor, saya pake Microsoft Windows di notebook saya.
    Kalau di ruang server, saya pake Linux buat Database Server saya.
    Saya mencintai keduanya dan mampu berlaku adil…..
    Ha ha ha ha ha ha

    Peace!

  28. Pak Budi, masalahnya sekarang opensource indonesia siapa yang backup ? Gerakan opensource indonesia sekarang tuh menurut saya cuma para penggembira yang cuma teriak-teriak kiri-kanan. Saya praktisi opensource, tapi saya gak berani kritik pemerintah, soalnya opensource indonesia apa sudah penah membuktikan sesuatu ? apa pernah menghasilkan sesuatu yang riil yang bisa langsung dipake ?

  29. Saya hanyalah pengguna biasa (user). Iseng2 install Ubuntu di dektop, partisi windows (System dan Data) gak bisa me-mount. Tanya tetangga gak ada yang punya komputer. Mau beli yang original kemahalan. Bajakan 5rb, original 750rb (XP Home pula). Ya udah pake WinXP SP2 bajakan lagi 🙂

    Kalo open source bisa semudah windows menggunakannya ya saya tentu lebih suka pake open source.

    Lah ini…driver USB, data cable, IR adapter, printer, dll rata2 under windows (paling banter Mac). Mandeg dong saya dengan linux.

  30. Ping-balik: Bloggerz « IT & Comm
  31. ada baiknya anda-anda semua berkumpul dalam satu forum untuk mencari solusi permasalahan HAKI yang sedang dihadapi user komputer di Indonesia yang sebagian besar menggunakan software bajakan. Bukan banyak berbantah-bantahan. Apakah harus ada versi ekonomis dari windows? apakah Linux bisa segera dikembangkan untuk mendukung software dan hardware yang sudah dipake secara umum? atau kalo anda memang pinter (karena saya biasa2 aja) dan menguasai IT kenapa nggak kumpul merancang sebuah OS made in Indonesia ? MERDEKA !

  32. Untuk pascal, Linux SUDAH mendukung hardware dan software yang digunakan sehari-hari.

    Kemudian untuk membuat OS sendiri, untuk apa? Toh sudah ada Linux. Saya sih lebih setuju kalau fokus diarahkan kepada dukungan (support), help desk, training, dan sejenisnya. Maksudnya agar transisi dari proprietary ke open source menjadi lebih mudah.

  33. waktu masih kuliah saya fanatik linux, ikut KSL, ada in seminar lah dsbnya…sok jago juga (hi..hi.. hi) tapi setelah bekerja di perusahaan yg kebanyakan pake Microsoft saya perlu belajar lagi dari dasar….walah…
    menurut saya jangan fanatik pada satu vendor saja, kalau bisa menguasai open source dan juga microsoft sangat bgs spy bisa “prove your self” di dunia yg sangat beragam ini…..

  34. Untuk kedepan saya lebih cenderung ke Linux Knoppix 4.0 atau 5.0 yang versi DVD. Karena lebih user friendly. Layaknya keluarga microsoft. Selain itu juga hardware compability yang cukup tinggi. Jadi untuk pengguna pemula yang menganggap Linux itu sulit, tidak lagi terdengar.

    Sangat mudah sekali penggunaan Linux Knoppix. Bahkan aplikasinya juga lengkap. COCOK sekali untuk pemula. Bhakan yg lebih heboh, Knoppix dapat jalan langsung bootable dari CDROM/DVDROM. Tanpa harus install ke harddisk dulu. Tapi, bila diinstall juga bisa. SANGAT FLEXIBLE.

    Gebrakan itu, yang keluarga microsoft tidak bisa menandinginya.

    Sekian sekilas dari saya. Untuk pertanyaan yg lebih jelas tentang Linux Knoppix email saya saja?

  35. Wah, ternyata perdebatan ini sudah lama ya, mungkin saat saya masih belum mengenal lebih dalam tentang komputer. Hehe saya anak baru soalnya.

    Sekarang tidak ada alasan lagi mengatakan sulit tentang menggunakan linux. Wong distro-distro sekarang udah dibuat simple kok. =)

  36. 2015
    Yg nyari MoU: http://www.antaranews.com/berita/256771/kemendiknas-dan-microsoft-kerjasama
    Maaf kalo bukan isi MoUnya, at least uda jelas menggambarkan bahwa guru komputer “dipaksa” jadi sales marketing produk microsoft.
    Bisa ditebak, hasilnya materi dalam buku ajar TIK kelas VII dan VIII SMP kyk gini:
    modul 8 : dasar-dasar internet –> IE 8
    modul 9 : perangkat lunak pengolah grafis –> Corel draw X3
    modul 10 : perangkat lunak pengolah animasi –> Macromedia Flash 8
    modul 11 : perangkat lunak desain web –> MS frontpage

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s