Hampir sebulan saya tidak baca koran lokal dan tiba-tiba diajak ngobrol orang dengan topik terkini. Bingung saya. Mereka ngomongin apa sih? Dasar kuper ya. Akhirnya saya tahu salah satu topik yang menjadi perdebatan adalah tentang Aa Gym yang menikah lagi. Halah … topik beginian kok menjadi topik nasional? Apa nggak ada topik yang lebih penting lagi? Tapi akhirnya saya juga menulis blog entry ini juga. Arrrggghh.

Perdebatan yang ada menurut saya jatuh kepada dua hal ini

  • Masalah poligami-nya sendiri
  • Masalah Aa Gym yang melakuan poligami

Untuk masalah yang pertama, soal boleh atau tidaknya poligami, bagi saya sudah tidak menjadi isyu lagi. Boleh. Titik. Mungkin ini yang disebut blind faith? Tapi jika Al Qur’an mengatakan demikian, mengapa perlu kita sangkal?

Banyak diskusi mengenai apakah itu sunah atau tidak. Menurut saya sih ini juga sudah nggak usah dibicarakan. Jika Anda menganggap bahwa Nabi Muhammad (saw) adalah panutan dan bahwa apa yang beliau lakukan atau ucapkan sebagai sunnah, maka poligami itu sunnah.

Banyak kemudian orang yang mencari-cari dalil atau alasan bahwa itu tidak berlaku lagi. Menurut saya mereka cari kerjaan saja. Jika tidak boleh, maka Al Qur’an akan mengatakan tidak boleh. Contoh yang paling mudah adalah minuman keras (minuman beralkohol yang memabukkan). Padahal jaman jahiliyah itu orang-orang pada minum yang memabukkan. Adanya perintah bahwa tidak boleh, maka tidak boleh. Tidak ada ceritanya karena sekarang dunia sudah moderen – dan menjadi lifestyle – maka minuman keras jadi boleh.

Ada contoh lain, misalnya riba, makan daging babi, dan seterusnya. Meskipun sistem finansial sudah moderen, yang namanya riba ya tetap riba. Atau kalau kita sudah menemukan cara memasak yang lebih sehat maka daging babi boleh dimakan. Hiii Bagi saya, ini sudah jelas. Al Qur’an adalah panduan yang jelas. Yang tidak boleh pasti sudah dikatakan tidak boleh. Herannya masih banyak orang yang mencari-cari dalil untuk membenarkan pendapat mereka.

Kalau saya sih, aturan ya sudah aturan. Mengenai kita mau melakukan atau tidak itu terserah kepada kita. Ada banyak aturan agama yang kita tahu dan kita tidak mampu atau tidak mau melakukannya. Saya sih jujur saja, ada hal-hal yang tidak mau saya lakukan (termasuk poligami itu). Mungkin karena keras kepala? Biarin. he he he. Masih banyak lagi hal-hal yang dianjurkan oleh agama yang belum saya lakukan. Misalnya, nggak ada contoh main musik. Saya tetap nekad main musik, masih belum mau meninggalkan musik. (Bukan saya lantas mencari-cari alasan.)

Okey?

Masalah yang kedua, soal Aa Gym yang melakukan poligami. Nah, di sini letak permasalahannya. Jika yang melakukan poligami adalah sopir truk atau bahkan pemilik warung warlaba besar, mungkin tidak akan banyak perdebatan. Orang akan mencibir sekali dan selesai sudah. Masalahnya adalah Aa Gym merupakan tokoh masyarakat dan panutan orang banyak. Ini yang menjadi masalah. Akan saya coba ambil analogi seperti di bawah ini.

Misalnya, kita sedang ribut dengan Amerika dan presidennya, Mr. Bush. Mereka kita anggap nggak bener. Pokoknya kita sebel dengan mereka. Nah, tiba-tiba Aa Gym pindah warga negara menjadi warga negara Amerika dan membantu Mr. Bush. (Ini hanya contoh aja lho.) Bagaimana perasaan kita? Sebel dan kesal sekali kan. Hah!@! Ngapain sih si Aa? Menjadi warga negara Amerika kan nggak ada salahnya. Banyak orang yang melakukan hal tersebut. Ada sobat saya juga yang menjadi warga negara Amerika. Nggak ada masalah. Hanya, kalau Aa Gym menjadi warga negara Amerika ketika kita sedang masalah dengan mereka … itu bikin masalah. Kita merasa dikhianati. Padahal kita tidak tahu alasan dia mengapa melakukannya. Tapi kita tidak peduli. Yang kita pedulikan adalah bahwa kita sakit hati. Itulah yang terjadi. You hurt our feelings.

Tentu saja Aa Gym secara agama dan hukum tidak salah. Dia tidak membutuhkan restu atau ridho dari manusia seperti kita-kita ini. Ridho dari Allah sudah cukup. Jadi untuk itu saya mendoakan agar Aa Gym dan keluarganya diberi perlindungan, ridho, dan kasih sayang dari Allah (swt). Kepada Aa Gym dan keluarganya mohon maaf bahwa kami ini masih kesal kepada anda, tidak terima dengan kondisi seperti ini.

Saya melihat pribadi Aa Gym sebagai orang yang sabar. Ketika dihujat dia tetap sabar. Bagi saya ini adalah kekuatan dari Aa Gym. Ketika dia melakukan pilihan untuk melakukan poligami tentunya dia sudah menimbang berbagai hal. Jadi mestinya ada alasan kuat untuk melakukan poligami. Mungkin alasannya sangat pribadi sehingga kita tidak perlu tahu, tapi saya yakin bahwa ada alasannya. (Betul kan Aa?) Perlu kita hargai privasi dia (meskipun dia sebagai tokoh masyarakat). Hanya saja saya merasa dia seharusnya bisa lebih bersabar. Jika perlu dia harus mengorbankan dirinya sendiri untuk kepentingan masyarakat (baca: ketenangan masyarakat). Ya, memang agak selfish juga kami-kami ini dalam menuntut kepada Aa Gym, tapi itulah pengorbanan seorang public figure.

Saya sudah melihat adanya hikmah atau manfaat dari kejadian ini. Kita bisa melihat siapa yang menyenangi Aa Gym karena pribadinya semata atau karena isi agama Islam yang dia berikan. Aa Gym pun bisa melihat siapa kawan sesungguhnya, yaitu kawan yang selalu setia ketika ada masalah. (You can count on me, Aa Gym. Kesal ke kawan boleh kan?) Ada juga yang menduga bahwa kepopuleran Aa Gym akan menurun. Bagi saya ini bagus! Ada lebih banyak waktu bagi Aa Gym untuk belajar dan juga untuk keluarganya. Ah, demikian hebatnya karunia dari Allah. Di kala kita melihat ada masalah, kita juga melihat adanya manfaat.