Catatan Tentang Ujian Mahasiswa

Ada beberapa hal menarik yang saya peroleh dari memeriksa hasil ujian mahasiswa kemarin. Sayangnya “hal yang menarik” yang saya maksudkan tersebut sifatnya buruk.

Yang pertama, nampaknya mahasiswa terlalu banyak menghafal. Jawaban pertanyaan persis seperti kata-kata yang ada di buku teks. Ada banyak mahasiswa yang jawabannya sama seperti ini. Idealnya sih mereka melakukan paraphrase atau menuliskan jawaban tersebut dengan cara atau gaya bahasa mereka sendiri. Atau mungkin mahasiswa tersebut takut kalau salah dimengerti, sehingga menulis persis seperti di buku saja. Bagi saya, artinya mahasiswa belum memahami topik tersebut.

Yang kedua, ketika ditanyakan sesuatu maka dijawab dengan terlalu singkat. Misalnya pertanyaannya adalah sebagai berikut: “Sebutkan empat strategi penulisan”. Jawaban dari mahasiswa adalah: (1) abc, (2) def, (3) ghi, (4) jkl. Kemudian jawaban berhenti di situ. Memang benar bahwa jawabannya adalah itu, tapi seharusnya mereka menjelasakan sedikit apa itu “abc”. (Tentu saja kita bisa berdebat dengan mengatakan “habis yang ditanya sebutkan sih, jadi saya sebutkan saja”.)

Saya lihat ini perbedaan cara belajar di Indonesia dan di luar negeri. Mungkin jawaban seperti ini terjadi karena anak-anak kita dibiasakan dengan pilihan berganda (multiple choice), sehingga mereka cukup puas dengan jawaban yang “saklek” seperti itu. Saya lihat di luar negeri lebih banyak pertanyaan dan jawaban yang membutuhkan penjelasan.

Ada lagi soal tulisan. Banyak tulisan mahasiswa yang sulit terbaca. Saya lihat tulisan anak-anak sekarang memang tidak seindah tulisan orang jaman dahulu. Menulis halus bukan merupakan topik yang dianggap penting lagi. Gara-gara membaca buku mengenai typography saya kembali diingatkan bahwa cara dan media penyampaian itu penting agar makna yang diinginkan sampai ke pembaca. Pemilihan font, cara menulis, dan seterusnya dapat mempersulit pembaca, yang artinya nilai anda bisa menjadi lebih kecil. Ya, memang isi atau jawaban lebih penting, tapi perlu diingat bahwa pembaca juga manusia. (Jadi ingat lagunya Seurieus “rocker juga manusia”? he he he.) Mood dari pembaca (penilai, dosen) ini perlu juga dijaga agar mereka memberikan nilai yang maksimal. Itulah sebabnya tulisan anda harus bagus, jangan seperti ceker ayam. (Mengapa analoginya kok ceker ayam ya?)

Demikianlah beberapa catatan singkat mengenai ujian mahasiswa kemarin. Bagi Anda yang masih menjadi mahasiwa, mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya.

25 pemikiran pada “Catatan Tentang Ujian Mahasiswa

  1. Kebanyakan ngetik jadi jarang berlatih menulis di kertas lagi? Mending kalo kemampuan ngetiknya membuat tulisannya jadi bagus, malah kebanyakan jadi gaya SMS dan chatting, yg bikin2 istilah sendiri dan penggunaan tanda baca yg seenak jidat bikin tulisan susah dibaca dan dipahami. Coba join aja salah satu milis/forum ABG yg populer, dan coba baca tulisan2nya.

  2. Ada stereotip yang menarik soal tulisan tangan. Cowok selalu diidentikkan dengan tulisan jelek, sedangkan cewek selalu identik dengan tulisan kecil, rapi, dan enak dibaca. Cowok yang memiliki tulisan kecil, halus, dan bagus akan ditanya, “Ini bukan tulisanmu sendiri kan?”

  3. wah pak, kalo saya ujian sih jawabnya selalu pakai kata-kata sendiri. Soalnya sering nggak tau jawaban yang benernya kaya apa. Hehehe.. itu beda kasus, ya?

  4. ampun pak….. saya emang gak bisa nulis bagus.. tulisan untuk konsumsi sendiri he..he.. bener kata ronny, kebanyakan ngetik pake keyboard jadi tulisannya acak adul :D.

    Om IMW, di UG laporan praktikum kudu ditulis tangan.. kalo gak gitu kudu diketik pake mesin tik.. gak boleh pake komputer he..he.. saya sempet terkaget-kaget beberapa tahun yg lalu..

  5. Pak Budi,
    Waktu saya kuliah S2 di Amerika dulu (2001-2003), 90% ujian yang saya ikuti adalah pilihan berganda loh pak. Sekali saya pernah baca koran Amerika (Plain Dealer) bahwa dosen-dosen di Amerika sekarang (waktu itu) cenderung lebih suka memberi pilihan berganda untuk ujian. Itu yang kemudian dikritisi.

  6. Mengenai “sebutkan”, menurut saya mahasiswa bisa ditolong dengan mengubah soalnya menjadi “Sebutkan DAN jelaskan …”, atau boleh juga di taruh di instruksi pengerjaan (yang biasanya ada di atas/awal lembar soal/jawab): “Setiap soal yang diawali dengan ‘Sebutkan’ perlu diberi penjelasan.”

    Saya dulu waktu kuliah juga gitu, apalagi kalau waktunya mepet. Begitu ketemu soal “sebutkan” tapi tanpa “jelaskan”, buru-buru saya tulis point-pointnya saja. Kalau memang ada waktu lebih ya saya jelaskan. Dasar pemikirannya simple: karena soalnya “sebutkan”, saya jelaskan atau tidak jelaskan sama aja dong penilaiannya. Hehe, mungkin sulit dipercaya ada yang berpikir seperti ini. Tapi percaya aja deh πŸ™‚

  7. Kalau masalah menghafal, sepertinya itu karena sistem belajar kami yang masih SKS (Sistem Kebut Semalam) pak. Masalah tulisan, ya begitulah. Kami kan sekarang jarang menulis. Tinggal download slide presentasi dosen, diprint, terus dihafal deh sebelum ujian :D.. Bahkan waktu di kelas pas saya mau nyatat, salah satu dosen saya negor, “Ngapain sih kamu nyatet, kan udah ada slidenya..?”. Tapi si Bapak ini memang suka becanda.

    Selain itu, saya setuju soal lebih baik essay. Lebih bisa menilai kulaitas mahasiswa itu sendiri.

  8. Blogging dan diskusi di milis/forum sebetulnya bisa dipake utk berlatih menulis. Asal menulisnya yg bener aja. Nggak selalu harus bahasa baku kaku, yang penting enak dibaca. Menggunakan huruf besar kecil dan tanda baca yg tepat pada tempatnya, alur ide yg jelas (satu paragraf per ide), yg penting kan menyampaikan ide. Harusnya memudahkan pembaca, bukan memudahkan penulis. Biasakan setelah menulis dibaca lagi, tapi pura2nya sebagai pembaca yg baru pertama kali membaca tulisan sendiri.

    IMW: bukan kaskus, tapi saya kelamaan ngurusin milis2 linux.or.id, hehehe… tapi biasanya hanya bbrp yg baru2 join aja, lama2 udah bagus.

    PS. tulisan saya juga masih jauh dari sempurna, misalnya saya masih suka menggunakan singkatan2, campur bahasa, dst., tapi saya berusaha supaya masih enak dibaca.

  9. Wah, pak..kalau saya yakin tidak akan sama dengan buku. Waktu ujian ELxxx1 dulu, saya gak tahu jawabannya . Jadinya ya ngarang aja.. :)).

  10. soal menghapal, ya emang gitu budaya yg ditanamkan sejak SD oleh banyak guru kita..

    Gimana kalo Pak Budi ngajak guru dan dosen se-Indonesia bikin perjanjian gak nyuruh2 murid dan mahasiswa utk selalu ngasih jawaban sesuai text book? πŸ™‚

  11. Kalo ujian Esay, nilai bisa beda pak .. kalo pil ganda kan jelas tu nilai kebenarannya (contoh, makul yang baru saya ambil, jawaban saya sama PERSIS dengan seorang teman, tapi nilai beda.. ANEH!!!)

  12. Jadi tergelitik Pak Budi, kayaknya wajar ya tulisannya jadi jelek, wong sekarang semua muanya udah nulis pake komputer. Kalau zaman dulu tulisannya bagus ya karena memang sering digunakan, kalau sekarang makin jarang sekali gidunakan karena komputer.

  13. Wah, kalau saya malah ada dosen yang cukup unik. Soalnya ada keterangan : Jawab hanya dengan satu kalimat saja.

    @kurnia_1
    Wah saya di D3 Elektro UGM juga laporanharus ditulis tangan dengan bolpoin warna biru. Mungkin ini maksudnya biar original gitu tapi tetep aja ada yang meng-copy tulisan laporan lainnya yang sudah jadi sehingga ada istilah ‘master’.

    @Riky
    Kalau pengalaman textbook seperti itu juga pernah saya alamin di SMA padahal mata pelajarannya PPKn

  14. Wah dulu saya pernah gagal ujian yg materinya tentang perakitan pc, padahal sehari hari saya punya sidejob teknisi komputer,soal2x nya juga menyuruh saya menyebutkan komponen dalam pc dan langkah2x pemasangannya, dan jawaban saya disalahkan dosen karena dia bilang jawaban km beda dengan text book yg dia ajarkan, padahal setelah saya jabarkan buku dengan jawaban saya adalah berbicara hal yg sama, setelah berupaya berdebat dengan si dosen dia tetap kekeuh “jawaban kamu tidak sama dengan di buku…..” hmmm apakah jawaban saya harus sama huruf per huruf ya, supaya bisa dianggap benar……..

  15. Penggunaan kata sebutkan mestinya jangan dijawab dengan tulisan… datangi yang ngasih soal terus sebutkan secara lisan. Begitu yang pas. Kalau yg ngasih soal minta tuliskan baru ditulis. πŸ˜€

  16. beraksi sesuai kondisi aja, tergantung tipe dosennya, tergantung pengawasnya, dan tergantung siapa teman yang ada di samping saya…
    karena, sumpah, kuliah itu cuma buat nyari nilai aja. kemampuan IT yang saya punyai buat menghidupi anak gadisnya orang lain praktis saya dapatkan di luar bangku dan jam kuliah:D

  17. berhubung saya orang paling payah dalam menghafal, yang namanya jawaban ujian biasanya saya bikin sendiri kalimatnya berdasarkan poin2 yg saya inget. tapi ada kejadian saya disalahkan juga karena jawaban beda dengan text book padahal khan poinnya dan penjelasannya dah bener. uhhh serba salah. sementara temen saya yang jago menghafal .. malah bener hanya karena persis seperti text book.

    soal tulisan…. hmm jadi ingat jaman2 menulis indah di sd dulu……the best time soalnya kalo belajar yang lain kayak eksakta saya ga pernah dimarahin ortu … soalnya cepet ngerti dan bisa. tapi kalau latian nulis indah yang ada buku tulis khususnya itu.. ama belajar ketrampilan… uhhhhh pasti dimarahin.. katanya jelek atau salah mulu. tapi jadi pelajaran seumur hidup hehehe.

  18. Yang paling bagus sebenarnya menggunakan bahasa sendiri berdasar pengetahuan yang dimiliki. Namun, yang sering terjadi memang mahasiswa menulis sesuai dengan apa yang tertulis di buku. Hal ini dikarenakan pola pembelajaran di Indonesia sejak dahulu ditekankan pada pola menghafal bukan pola berpikir.

    Selain itu, dari sisi mahasiswa melakukan hal tersebut selain karena pola menghafal yang sudah terlanjur melekat adalah karena beranggapan bahwa apabila tidak sesuai text book maka akan diberi pengurangan nilai oleh dosen (faktanya: memang ada beberapa dosen yang ingin mahasiswanya menjawab sama persis dengan buku)
    Mungkin ada penyebab lain, yaitu mahasiswa tersebut sangat tidak menguasai materi (seperti pendapat bapak) sehingga dia mencontek pada saat ujian, dan tentu hasilnya akan sama persis dengan yang tertulis di buku.

    Mengenai tulisan halus, memang faktanya pelajaran tulis halus sudah tidak ada lagi kan pak?…Jadi wajar saja kalau generasi sekarang berbeda dengan generasi Pak Budi πŸ™‚

    Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s