Blog, Jurnalisme, dan sekitarnya

Sekarang sedang ribut urusan blog dan jurnalisme. Apakah blog (blogger) itu bukan jurnalisme (jurnalis)? Seru! Saya sendiri belum sempat membaca secara lebih teliti, sebab seperti saya tuliskan sebelumnya, banyak sekali yang harus saya baca. Ha ha ha. Nanti dulu lah. Kehabisan atensi nih.

Saya sendiri tidak terlalu peduli dengan pemilah milahan blog dan jurnalisme. Sepanjang saya bisa menulis di ruang ini, ya saya menulis. Akan tetapi memang ada yang peduli karena keterkaitan dengan hak-hak seorang jurnalis. Selamat berdebat … eh, berdiskusi, kawan.

Ada hal lain yang menggelitik saya. Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis bahwa “wartawan sekarang hanya sekedar menulis ulang press release“. Ha ha ha. Tentu saja hasilnya adalah menuai badai. (Sorry, mas Yockie, mas Eros Djarot, Marga T., saya pinjam istilah “badai”nya. Ha ha ha. Bukan maksud hati untuk mendompleng ketenaran Badai Pasti Berlalu-nya.)

Beberapa kawan saya protes kepada saya. Argumentasinya adalah bahwa mereka hanya melaporkan fakta. Just the facts, maam! Mereka tidak memiliki hak (dan kapasitas?) untuk beropini atau keberpihakkan. (Benarkah demikian?) Jadi dimanakah ruang untuk mengutarkan keberpihakan? Demikian pula siapa yang menyuarakan keberpihakan ini jika bukan para jurnalis / wartawan? Orang biasa seperti saya ini?

Opini orang biasa akan sulit menembus media konvensional. Kadang memang karena masalah kebijakan perusahaan (ya, media konvensional adalah sebuah PERUSAHAAN, jangan lupa itu), kadang juga karena masalah teknis seperti keterbatasan ruang fisik dari media konvensional sehingga mereka terpaksa harus menyeleksi mana yang bisa ditampilkan dan mana yang terpaksa ditolak. (Ini azas “scarcity“, sementara Internet memporak-porandakan ini dan mengubahnya menjadi asas “abundance“. Lain kali akan saya bahas mengenai hal ini.)

Blog merupakan salah satu alternatif jalan keluarnnya. Sayangnya, blog malah dicibirkan oleh banyak insan pers(?) / jurnalis. Bukankah ini sebetulnya merupakan ruang dimana mereka bisa lebih bebas berekspresi? Mereka memiliki latar belakang teori dan pendidikan untuk itu, tapi justru mereka malah alergi. Akibatnya, justru orang yang tidak memiliki latar berlakang pendidikan jurnalismelah yang kemudian menyesakkan ruang blog. Kemudian, dipersalahkan bahwa blog adalah bukan jurnalisme. Sedap!

Kalau begitu … selamat menulis ulang pres rilis saja, mas-mas mbak-mbak.

(Saya tahu bahwa saya akan menuai “badai” babak kedua dengan tulisan ini. Keep ’em coming boys and gals! Justru di sinilah letak manfaat dari ruang blog ini. Mana bisa ini berlangsung di ruang media konvensional?)

25 pemikiran pada “Blog, Jurnalisme, dan sekitarnya

  1. ah, ini pasti gara-gara mas bbr salah gaul ya? mestinya sampean bergaul dengan saya, jurnalis yang tak menulis ulang press release dan tak pernah mencibir blog, sehingga postingnya lebih imbang. selama ini mas bbr nongkrongnya di mana sih, hehehehe …

  2. I am a journalist and a blogger. Ya, tidak salah jika wartawan dianggap hanya menulis rilis atau hanya jadi ‘penyambung lidah’ –sejujurnya memang masih seperti itu, bisa dilihat dari banyaknya ‘talking news.’ Menurut saya sih BLOG hanyalah another information delivery channel (the medium) selain koran, situs Web dan SMS breaking news. Sedangkan journalisme lebih sebagai metode “produksi konten,” disana ada kaidah dan best practice.
    Jadi harus dipisahkan antara ‘the medium’ and ‘the content.’ Kalau dulu hanya beberapa orang saja yang bisa membuat karya jurnalistik (yakni mereka yang memiliki ‘the medium’), BLOG membuka kesempatan yang lebih luas bagi siapa saja membuat karya jurnalistik (be the journalist). Dan ini menuai ‘badai’ dari kelompok status quo. Seru kan !!!

  3. Bagaimana kalau seperti ini Pak?
    Saya menulis untuk mempromosikan suatu produk yang saya comot dari webnya produsen, lengkap beserta contentnya. Saya copy-paste ke blog saya. Di dalam web produsen ada copyright-nya. Blog saya pasangi iklan untuk tujuan komersial. Biar dapat duit maksudnya. Apakah ini dibenarkan? Bukankah dengan begini saya memberikan promosi gratis dengan cara menulis (ulang?) produk mereka?

  4. ya memang ada jurnalis yg hanya menulis rilis, tapi banyak pula yang nggak. semuanya serba imbang. ada blogger yang baik, banyak pula yang tidak baik.

    begitulah.

  5. Bro, BR yang terhormat (jujur, saya sangat menghormati kapasitas dan kapabilitas Anda selama ini di bidang TI…..BTW, Anda dan Kang Ono mendapat salam dari Judhi Prasetyo, country manager Fortinet di Singapura).

    Begini, Bro BR: saya baru menjadi wartawan 7 tahun silam, jadi pengalaman dan pengetahuan tentang kewartawanan masih rendah. Punten bae! Tetapi, setelah baca tulisan pangersa, saya koq agak miris, malu, dan………apa ya….saya agak jengah dan surprise. Kenapa? Karena, saya tidak tahu, bagaimana pangersa sampai pada “kesimpulan’ seperti itu tentang wartawan/jurnalis dan kewartawanan. Saya takutnya ini menjadi stigma negatif!!! (Atau memang sudah stigmanya sudah negatif).

    Saya tidak mau hipokrit! Saya memang suka menulis berita/tulisan yang berbasis dari release, baik karena datang ke acara press conference maupun kiriman email/fax. Tetapi, press release itu tidak saya telan mentah-mentah kemudian dimuntahkan lagi via media tempat saya kerja. Di situ ada proses editing, ada proses pemilihan yang disesuaikan dengan visi-misi media itu sendiri. Artinya, dengan contoh sederhana ini, saya dituntut untuk tidak berpihak pada si pemberi release.

    Saya sama sekali tidak mencibir dengan yang namanya blog. SAMA SEKALI TIDAK. Walau agak terlambat, saya juga punya blog (ada 2 blog malahan, belum termasuk friendster….he…he…he..). Bahkan, di kantor saya sedang demam blog, dan mewacanakan pembuatan blog corporate. Malahan, semalam, saya bersama mas Wicak (Tempo), Deriz (Bisnis Indonesia), Pak Adrianto (Bos Intimedia, pengelola Wikimu), dan Pak Eka Ginting (bos Indo.com), justru ngediskusiin tentang blog dan Web 2.0. Bahkan, sesuai usulan mas Wicak, ada rencana untuk membuat komunitas blog reli………

    Secara pribadi, saya tidak mau memilah-milah antara wartawan dan bloger, terutama dilihat dari sisi “pencurahan” ide/wawasan. Yang membedakan saya dengan bloger (yang bukan wartawan) adalah profesi saya wartawan. Sedangkan bloger, wallahu allam. Menulis adalah salah satu kerjaan rutin saya. Sedangkan bagi bloger, menulis boleh jadi sekadar hobi atau sekadar mencurahkan ide, pengetahuan atau curhat.
    alau agak terlambat

  6. saya wartawan dan saya tidak mencibir pada blog, bahkan saya juga blogger aktif. dimana menulis di blog sudah menjadi kebutuhan batin saya selain saya menulis berita untuk media tempat saya bekerja. Kesimpulan anda sangat terburu – buru mas budi. mungkin anda kurang banyak bergaul dengan wartawan yang betul – betul wartawan, dan sayang sekali seorang budi rahardjo berani membuat kesimpulan dari sebuah pandangan yang hanya sekilas dan sedikit sampel..ini bukan badai mas, ini hanya bahan sampeyan untuk lain kali lebih hati – hati dalam menyimpulkan, tabik 🙂

  7. semua berpulang ke kebebasan berekspresi tadi…ada beberapa wartawan saya baca malah berani menggantung pena alias pensiun dari dunia wartawan dan terjun ke dunia blogger dengan resiko yang cukup berat yaitu hilangnya peghasilan tetap ke penghasilan antah berantah…tetapi ya itu tadi, terggantung kepada indivdu masing masing…

  8. Blog mungkin suatu bentuk revolusi dari teknologi informasi, dalam hal ini media penyampaian informasinya. Sepatutnya dunia jurnalisme juga mengikuti perkembangan media penyampaian, apapun itu bentuknya. Gak bisa lah kalo mau bandingkan media konvensional dengan blog, semua punya style dan massa sendiri2 🙂

    Mengenai press release, tergantung medianya tuh, kalo jurnalisnya males2 ya paling tinggal copy paste, tapi kalo jurnalisnya rajin ya mungkin malah bisa menambahkan informasi yang berkaitan dengan press release yang bersangkutan (tentunya dengan riset sana sini dulu).

    Thanks.

    Sony AK
    http://www.sony-ak.com

  9. Lebih seru lagi jika dosen/guru nge-blog. Tidak hanya terkungkung dalam teori belaka, tetapi mengembangkan teori lanjutan beserta prakteknya. Syukur2 membuktikan teori di kehidupan nyata.

    Jadi, dosen/guru tidak hanya harus menulis jurnal ilmiah, tetapi juga menulis yg tidak ilmiah di blog.

    (** Eh, gak nyambung ya? Yo wis, kabur lagi… **)

  10. Wah, udah lama ndak nerima press release.. Jadi lupa rasanya kayak apa bikin berita dari press release hehehehe

  11. Sebagai orang biasa (bukan wartawan), yang berkali-kali menulis di media massa dan berkali-kali pula tulisannya diperkosa oleh redaktur, blog adalah sarana ungkapan keberpihakan.

    Kapan lagi saya bisa nulis culunnya FPI?
    Kapan lagi saya bisa nulis galaknya ORBA?
    Kapan lagi bisa nulis anehnya KBRI?
    Kapan lagi saya bisa nulis secara bebas kawin beda agama?

    Kapan lagi tulisan saya bisa langsung ditanggapi oleh pembaca?

    Wartawan konvensional menulis… Sapa lagi yang ngomentarin selain redakturnya… Baru dah naek cetak.

    Blogger, dikomentarin atau tidak. Tetap saja nulis. Walaupun kadang ada yang isinya bau ketek. Tetap saja menulis.

    (*ikut-ikutan maen badai, mirip kapten Budi Sparrow, hehe*)

  12. Om BR, saya minta ijin, Blognya saya taut ya…?

    Blog itu buat belajar nulis. Klo udah bisa nulis di blog, siapa tahu nanti bisa nulis buku…

    Maaf klo ga nyambung… (koment yang nyambungnya udah tuh tadi di atas…)

  13. Pak Budi, benar-benar “on-target” nich… Di AS sekarang lagi ribut antara “blogger” dan “journalist” Sampai sampai ada jurnalis bilang “all blog is crap”. Masalahnya expansi blog itu merubah kontrol informasi milik industri media. Banyak orang sekarang baca blog saja dari pada baca berita atau koran.

    Kasihannya, banyak reporter and jurnalis yang selalu harus menyandang pandangan boss/perusahaan mereka (apa lagi di dunia politik). Kalau tidak, hilang deh pekerjaan. Itu sebabnya sedikit yang mem-blog. Paling-paling blognya untuk mengulang kembali opini formal mereka. Hanya sedikit sekali jumlah kolumnis di NY Times and Wahisngton Post yang betul-betul bebas beropini. Yang lain di “edit” selalu oleh boss/Editor. [TH]

  14. Kadang, kalau kita menulis sesuatu yang berbeda dengan media resmi, ada saja yang berkomentar semacam “Nggak boleh iri!!” — haha :). Peace, Boss, Peace :).

  15. setuju pak hardjono,
    setelah manusia berhasil membuat aturan yang baku untuk menyampaikan hak menulis dan bicara, kini manusia dihantam oleh implikasi teknologi buatan manusia itu sendiri.
    ya….menggelinding sajalah…ntar juga sampai ke muara koq.

  16. Aku sependapat dengan Pak Budi; blogger bisa juga disebut sebagai wartawan. Tapi tidak semua blogger otomatis jadi wartawan.

    Aku sendiri 12 tahun menjadi jurnalis di sejumlah koran terbitan Medan, antara lain pernah redaktur di Grup Jawa Pos dan anggota AJI. Karena merasa muak dengan media yang umumnya tidak independen dan tidak memberi gaji layak, akhirnya aku berhenti dari media, dan sejak 20 Maret 2007 nekat menulis berita lewat blog. Kini aku menafkahi anak-istriku dengan berjualan oli-campur.

    Menurutku ada sejumlah hal yang harus dipenuhi blogger jika ingin disebut wartawan:
    1) Menyebutkan identitas diri yang jelas dan lengkap pada blognya; seperti alamat, latar belakang dan foto si blogger, dll. [Jadi kalau ada blogger menulis berita tapi namanya disamarkan atau identitasnya kabur, itu bukan wartawan].

    2) Mencari, mengolah, dan menulis berita/opini/foto sesuai prosedur dan etika jurnalisme yang berlaku di negaranya. Antara lain, independen; tidak berdusta; membedakan fakta dan opini; konfirmasi; menghormati off-the-record; tidak menghina etnis, agama, dsb. Tentu saja, sebelum semua itu, seorang blogger yang ingin menjadi wartawan harus lebih dulu memahami/menguasai tata-bahasa jurnalistik; apa itu berita; bagaimana mencari berita; jenis-jenis berita dan teknik menulisnya; dll.

    3) Isi blog harus berupa berita; tidak melulu opini dan cerita pribadi seperti diary/blog ABG yang menjamur itu.

    4) Siap dikomplain dan digugat ke pengadilan jika berita di blognya ternyata tidak benar.

    Secara garis besar itulah menurutku syarat blogger jadi wartawan. Tentu saja boleh ada penambahan. Aku juga merasa seperti kata Pak Budi, akan banyak wartawan tidak suka dengan gejala blogger=jurnalis ini. Buat anda yang punya naluri jurnalisme dan ingin menulis berita di blog, tak usah ragu. Mulai saja meliput dan menulis. Tapi hati-hati jangan sampai merugikan orang lain dengan berita fitnah/tidak akurat; karena penjara menunggu anda.

    Maaf jika komentarku ini agak panjang. Berikut ini adalah sari opiniku soal blogger, jurnalis, dan media. Ini jugalah peganganku sehingga menolak tawaran jadi redaktur dari koran tempatku terakhir bekerja, dan lebih memilih menjadi blogger. Mudah-mudahan “sajak blogger” ini bisa bermanfaat bagi siapa saja:

    “Blog bukan cuma media-tanpa-sensor; blog telah menjadi malaikat penolong dan tempat meneduhkan nurani bagi jurnalis yang masih punya rasa malu.

    Media di Indonesia, terutama koran daerah, adalah mesin-uang bagi para bunglon, pemeras, politisi, dan pelacur idealisme. Kurindukan suatu hari nanti, koran yang begitu akan mati; sebab mereka sering membunuh kebenaran. Kuimpikan detik ini, setiap warga akan menulis dan mengedit beritanya sendiri.

    Blog adalah tempat di mana hati nurani bisa merdeka.”

    Salam.

  17. Dear Pak Budi Rahardjo, senang ketemu blog Anda. Saya baru saja membuat blog utk para praktisi komunikasi, terutama mahasiswa. Sy lihat di kampus yg saya ajar sangat kekurangan bahan (maklum, kampus kecil). Jadi, saya establish di http://www.bhayu.wordpress.com.

    Bila Pak Budi berkenan, mohon saya di link-back ya Pak. Terima kasih & sukses.

  18. Aku setuju dengan Bang Jarar, wartawan adalah tugas mulia dalam konteks ideal, tapi karena himpitan dan akbat zaman dan peradaban hari ini hanya bicara dan bekerja untuk uang, banyak wartawan atau pemilik media sudah tidak bisa lagi membedakan benar dan salah, atau pantas dengan tidak pantas,

    agar tidak terus terjebak dengan lingkaran setan antara membuat berita – menafkahi anak istri – penuhi kebutuhan hidup yang makin lama semakin mahal, wuih

    maka blog bisa jadi sarana pelampiasan, bagi jurnalis yang masih mau patuh pada hati nurani(maaf bang jarar aku pake bahasanya) atau bagi penulis yang selama ini bukunya sulit beredar di pasaran, karena rumitnya administrasi dan birokrasinya

    Negara yang termasuk juga pemimpinnya, Aku berani jamin tidak akan pernah berpikir atau melakukan tindakan nyata untuk mengamalkan UUD 1945 tentang tugas negara yang harus mampu memberi kehidupan yang layak bagi rakjatnya,

    ayoo semua edit dan tulis beritamu..(minjem lagi neh bang jarar) di blogmu masing2
    biar aja koran2 pada mati, isinya boong semua, jauh dari realita yang ada, jika korantersebut sudah mati..maka manusia indonesia bisa mendapatkan kebenaran sejarah yang selama ini di palsukan oleh penguasa bejat negeri ini

    buat rakjat mulai detik in jangan lagi ikut pemilu apapun dan manapun, ada yang mau debat masalah golput..ya aku golput sejati
    pemerintah tidak akan pernah mamapu mansejahterakan hidup rakyatnya
    apa gunanya ikut pemilu..

    (maaf ga nyambung) kabur aha..ada intel melayu..

  19. Kalau menurut saya Blogger itu juga seorang jurnalis yang kalau meminjam istilah dulu sebelum ada internet dan website atau blog site mereka dikatakan sebagai WTS, yakni wartawan tanpa surat kabar. Umumnya yang menjadi tulisan mereka adalah features, laporan perjalanan, bisa jadi press release, bisa jadi protes sosial. Kalau sulit untuk menuliskan suatu kritik atau pandangan karena mungkin dianggap bertentangan dengan pandangan umum yang berlaku di masyarakat maka blog adalah media yang efektif karena pembacanya juga banyak dan tidak saja untuk konsumsi rekan rekan pembaca di tanah air tapi juga sampai kemanca negara dimana disitu bisa akses internet.
    Kalau surat pembaca di koran bagi yang tidak berlangganan koran tersebut tidak tahu dan tidak memberi pengaruh apapun. Tapi sekali di launch di blog atau di forward ke email maka tanpa disadari menyebar kemana mana.
    Jadi saya selalu hati hati kalau mau memforward sesuatu ke milis atau ke blog karena bisa saja info yang saya forward kelihatan benar tapi sebenarnya menyesatkan, merusak nama baik dan merugikan orang lain. Pernah ada suatu toko serba ada bermasalah dan ditulis di blog lalu tersebar lewat milis milis ke seluruh indonesia. Akhirnya pemilik toko tersebut minta maaf dan baru menanggapi protes atau suara pembaca tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s