Setelah “Badai Pasti Berlalu” kini muncul “Naga Bonar 2”. Kok film-film lama bermunculan dengan versi barunya? (oke oke oke … naga bonar beda katanya.) Setelah itu apa lagi? “Gita Cinta dari SMA”? (Teringat Rano Karno dan Yessy Gusman. Aduh … merinding!) Wah, wah, kok film-film jaman saya SMA bermunculan kembali? Apa sebenarnya yang terjadi?

Pendapat sementara dari kawan-kawan adalah versi baru dari karya-karya lama ini tidak lebih bagus dari versi klasiknya. Aduh! Artinya secara artistik, kita (orang Indonesia?) menurun. Kalau lebih bagus, itu asyik, tapi ini tidak lebih baik. Saya sendiri belum menonton film-film tersebut. Bahkan untuk soundtrack-nya pun belum saya miliki. Tidak tahu apakah akan saya beli atau tidak.

Saya sendiri masih mencari film-film dan lagu-lagu lamanya. Beli lho! Bahkan saya sempat menghayal. Kalau saya kaya raya, saya beli hak cipta dari “Badai Pasti Berlalu” – baik filmnya maupun soundtracknya. Setelah itu saya sebarkan kemana-mana. Kalau perlu saya sebarkan secara gratis. Yang penting seluruh orang Indonesia (dan juga yang bukan orang Indonesia) bisa menikmati karya ini. Sayangnya saya bukan Bill Gates dan kalaupun ada duitnya, mungkin saya gunakan untuk yang lain dulu … seperti membantu anak-anak muda untuk mandiri (starting-up with them). Tapi, boleh dong punya mimpi. Siapa tahu kejadian. (I have to be careful with what I wish for. ha ha ha.)

Tulisan ini dan mungkin mood saya terpengaruh oleh romantisme masa lalu? Akhir-akhir ini memang banyak kenangan masa lalu yang menyeruak. Bahkan penuh dengan kejutan. Salah satu kejutannya adalah ketemu dengan mas Yockie S. Prayogo itu. Belasan dan puluhan tahun yang lalu mungkin tidak akan terbayangkan akan hal ini. (Thank you for being humble, mas Yockie.) Selain ketemu mas Yockie, ketemu pula dengan mas Budi (nama pasaran lagi?) Djarot yang adiknya mas Eros Djarot. Kemudian Chrisye meninggal. Dipinjami kaset Badai Pasti Berlalu oleh mahasiswa. Dikasih versi digitalnya oleh mas Toty. Tiba-tiba ditelepon kawannya kawan saya waktu mahasiswa, yang tiba-tiba menanyakan koleksi kaset saya sejak SMA (yang saya pasang di rak seperti di toko). Dan banyak lagi … Bahkan tulisan ini saya ketikkan dengan mendengarkan album “Puspa Indah”nya Chrisye. (Dee said in her posting that I am a believer of “synchronicity.” You may be right, Dee.) Ah …

Ah, mungkin saja para produser, penyandang dana, dan orang yang mengambil keputusan di balik film-film lama atau lagu-lagu lama itu adalah orang-orang yang seumuran dengan saya, yang ingin kembali ke romantisme jaman itu? Ini alasan logis yang bisa saya terima.

Tapi … bukankah mengulang-ulang ini tanda kurangnya kreativitas?