Mengambil Makanan Secukupnya

Waktu kecil, orang tua saya selalu berkata; “Habiskan nasinya. Nanti nasinya nangis kalau nggak habis.” Dalam bayangan saya, setiap butir nasi berteriak-teriak “ayo makan saya, kalau tidak … saya nangis”. Tentu saja saya percaya dan menghabiskan nasi di piring. Mungkin orang tua saya berasal dari keluarga susah. Maklumlah jaman dahulu, keluarga besar, makan pas-pasan.

Setelah besar, kebiasaan untuk mengambil makanan secukupnya tetap melekat di saya. Sering saya sedih melihat makanan sisa. Misalnya, di acara kondangan sering kita lihat orang mengambil banyak makanan kemudian tidak dihabiskan dan dibiarkan di piring yang diletakkan di bawah kursi. Demikian pula dengan minuman. Aduh sayang sekali. Banyak orang yang kelaparan, sementara di sini makanan disia-sia.

Para kondangan ini tidak merasa bersalah. Lha wong mereka datang sebagai kondangan. Apa lagi sudah ikut nyumbang. Terserah kami kan? Toh sudah diperkirakan jumlah yang akan makan.

Perasaan tidak bersalah ini juga muncul ketika orang membeli makanan, di restoran atau di warung misalnya. Kan saya sudah bayar. Mau saya makan semua, setengahnya, atau tidak sama sekali, sang penjual kan tidak rugi. Memang benar, tapi apakah tidak ada rasa bersalah? Tidak sedikitpun? Aduh …

Memang ada orang yang makannya banyak. Ini tidak masalah. Yang masalah adalah menyisakan makanan, bukan banyak atau sedikitnya yang dimakan. Kalau makan banyak tapi habis, itu tidak masalah. Eh masalah ding, tapi itu masalah lain, bukan masalah membuang-buang makanan. Itu masalah nggragas, kata bahasa Jawa. he he he.

Sayang melihat makanan berlebihan atau sisa ini bisa bikin masalah, karena kita bisa menjadi “tong sampah” – menghabiskan makan sisa. Kalau hanya soal label “tong sampah” sih tidak masalah, tapi … itu bikin badan gemuk, kolesterol, tekanan darah naik, asam urat, dan seterusnya. he he he.

Mungkin karena saya pun pernah mengalami hidup susah sehingga untuk soal mengambil makanan secukupnya tetap melekat. Selain itu kita harus sering jalan-jalan ke tempat orang yang susah makan agar kita bisa lebih menghargai makanan. Bagaimana mengajari orang agar mengambil makanan secukupnya? Lewat blog ini saja rasanya belum cukup. Ah, setidaknya saya sudah berusaha.

14 pemikiran pada “Mengambil Makanan Secukupnya

  1. Sekalinya saya ikut attachment di US, terbengong bengong dengan porsi makanan mereka yg besar besar. Saya termasuk golongan “nggragas” kalo di kampung. Tapi setelah ke sana asli shocked. Lucunya lagi, karena tinggalnya di San Jose, CA, banyak Asian people juga (Chinese, Japanese, Vietnamese) yg bodynya imut. Otomatis banyak makanan tersisa setiap makan. What a waste.

  2. ha:) dalam bahasa budaya itu kepekaan sosial mas.
    Kalau boleh saya berpendapat , kalimat terakhir anda “bagaimana harus menghargai makanan” selayaknya berbunyi “bagaimana menghargai orang yang tidak bisa makan saat kita sedang menikmati makan”

    Dengan topik postingan tsb diatas, bagi saya ini social value anda.

  3. Soal makan di jaman susah, saya melihat sekarang banyak orang tua di Indonesia melakukan balas dendam. Karena saat masa kecilnya makan daging sulit, sekarang anaknya diberi porsi makanan daging banyak-banyak, makanan ala orang “Barat” banyak-banyak, akibatnya anak jadi kegemukan. Perhatikan saja orang tua dengan bangga bercerita ketika memberi banyak sosis, daging, chicken fillet, roti dsb. Tapi malu bila bercerita memberi makan tahu-tempe dan nasi (padahal lebih sehat yang belakangan).

    Sangat kontradiksi dengan trend yang ada di tempat negara saya tinggal (Jerman), orang sekarang cenderung diajarin makan nasi, dan sayur dan kurangi daging (he he makanan orang miskin). Bahkan anak saya yg masih di TK, harus dikurangi makan susu (susu jangan dianggap minuman, tapi makanan), dan juga makanan manis-manis dikurangi.

    Di restoran di LN (seingat saya di London, Australia dan USA )ada yang menerapkan bila ada sisa makanan di piring, maka pengunjung harus membayar ekstra.

    Kalau saya ? Memang tergolong banyak makan, tapi badan ndak besar-besar, mungkin bukan tergolongan cacing-an, tapi sudah “naga-an”

  4. buat IMW:
    kita senasib
    rasanya porsi makan saya sudah masuk ukuran “nggragas”
    tapi kok berat dan ukuran badan saya tetep segini ya?
    apa olahraganya kurang?
    atau memang banyak homunculus nganggur ngga punya rumah di dalam lambung kita? ^^

    oia
    biasanya posisi saya dalam keluarga adalah sebagai “tong sampah”
    yg kebagian tugas menghabiskan semua makanan yg tidak habis dimakan bapak, ibu, dan adik perempuan saya ^^
    gimana pak Budi?
    apakah metode ini sudah tepat?
    atau membuat saya sakit lebih cepat?

  5. kadang miris… liat makanan yg disediakan tersisa banyak. dulu kalo di jurusan sih setiap acara ga ada makanan yg tersisa soalnya dibawa pulang. n… dulu beberapa kali ngadain acara makanan juga tersisa… solusinya kita bungkusin n kita bagi ke anak2 jalanan.

    kadang aku suka bingung juga liat org ambil makanan setumpuk kek ngerampok tp ga dihabisin…. sisanya banyak.. kan kasian.. mending itu bagian buat yg lain yg beneran pengen makan. pengalaman ga enak lainnya… kehabisan makanan .. tp di piring2 t4 makanan peserta .. rata2 yg makan masih sisa setengah.. tau gitu mending buat kita yg ga kebagian.. hiks hiks… maaf curhat di blog pak budi jadinya.

    btw… themenya ganti yah pak? td agak kaget juga pas liat.

  6. 4 IMW

    Soal makan di jaman susah, saya melihat sekarang banyak orang tua di Indonesia melakukan balas dendam. Karena saat masa kecilnya makan daging sulit, sekarang anaknya diberi porsi makanan daging banyak-banyak, makanan ala orang β€œBarat” banyak-banyak, akibatnya anak jadi kegemukan. Perhatikan saja orang tua dengan bangga bercerita ketika memberi banyak sosis, daging, chicken fillet, roti dsb. Tapi malu bila bercerita memberi makan tahu-tempe dan nasi (padahal lebih sehat yang belakangan).

    -> Hahahaha jadi inget pengalaman liat engineer-engineer muda yang baru kerja di perusahaan minyak, makannya kayak tong sampe masuk kurus kering berapa bulan kemudian udah kayak bebek siap digoreng wakakakaaa ndeso πŸ˜€

  7. Kalau saya sudah biasa menjadi tong sampah. Kalau ada keluarga atau teman yg tidak bisa menghabiskan porsinya (predefined di restoran), maka biasanya mereka melimpahkan ke saya. Alhasil saya sering menjadi kekenyangan.

    Tapi kok badan saya tetap kurus ya? (** Kabur **)

  8. gak usah makanan, di tempat makan siap saji ada orang yang mengambil sambel 1 piring penuh…. waw….

    apalagi kalau makan ke tempat all u can eat, wah… malah suka ada sisa banyak…

    kadang2 sebel juga melihat yang beginian. apa di keluarganya tidak di ajarkan yaa ?

    saya sendiri sebisa mungkin mengajari anak untuk menghabiskan makanannya, dan ini susah sekali, ujung-ujungnya saya juga yang makan.. πŸ˜€ tapi setikdaknya mencoba unutk menanamkan sikap dan perilaku yang seharusnya, biar gedenya gak malu-maluin orang tuanya.

    lihat abg sekarang kadang2 pusing juga.. baru makan dikit udahan, padahal sisa banyak (ngapain di pesan yaa…) kali aja mentang mentang ortunya tergolong mampu.

    dah ah… lama2 ini bisa panjang melebihi tulisan asli, padahal cuma comment.. πŸ˜€

  9. ia, waktu kecil, saya diberi tahu ibu kalau nasi tidak dihabiskan nanti nasinya menangis-nangis. nasi itu dari beras, beras itu dari padi, menanam padi itu lama, belum lagi kalau terkena hama tikus, hama wereng, atau banjir, atau kekeringan.. pokoknya manjang deh..

    sekarang mencuci beras pun hati-hati, takut ada butir terbuang.

    pernah makan di hartz-chicken bandung, dikatakan: `makanan yang sudah diambil tidak boleh disisakan, jika bersisa akan dikenai biaya`. masak sih? πŸ˜› tapi jadinya makanannya habis ludes total..

    lain kali mengambil secukupnya

  10. Sebetulnya kalau kita mau menganut faham “lakukan segala sesuatu sesuai dengan kebutuhan bukan kemauan”, pasti nggak akan ada yang berlebihan tuh. Kalau mau ambil makanan, ya diukur kebutuhan perutnya, yang penting ‘terpenuhi’. Kayanya kita akan rugi banget kalau makan nggak sampai perut padat (apalagi kalau lagi dateng ke undangan, nggak mau rugi…). Ingat….makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan, jadi secukupnya sajalah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s