Antara Kompetensi dan Karakter

Dari berbagai diskusi dan pengalaman sehari-hari nampaknya ada tendensi menurunnya karakter orang Indonesia. Pendidikan diarahkan kepada kompetensi (KBK?), tapi lupa kepada karakter. Padahal karakter itu sama pentingnya dengan, atau di beberapa keadaan malah lebih lebih penting dari, kompetensi.

Kompetensi bisa dipelajari di sekolah atau bimbingan belajar, tapi dimanakah kita bisa belajar karakter?

Link terkait (dan kayaknya lebih seru diskusinya di sana):

Iklan

25 pemikiran pada “Antara Kompetensi dan Karakter

  1. Karakter seperti itu seperti “ether”. Bisa dirasakan manfaat tapi sulit untuk dipetakan. Karakter adalah turunan dari kebiasaan (habit)…..Hanya bisa diajarkan oleh orang-orang yang berkarakter……Mungkin Pak Budi berminat membuka kelasnya?????

  2. Lingkungan dong Pak, mulai rumah sampai dengan lingkungan kerja atau lingkungan kampus bila kita masi sering berada di kampus. Meskipun kadang lingkungan tidak memberikan contoh yang baik untuk pembinaan karakter tapi bagaimanapun juga ya begitulah karakter akhirnya yang terbentuk pada individu tersebut, salah satunya yaitu individu tersebut memiliki karakter “tidak memberikan contoh baik”, bukan begitu?… ๐Ÿ™‚
    Mungkin ada baeknya bila selaen individu tersebut dan lingkungannya di audit Pak, biar karakter “tidak memberikan contoh yang baik” tersebut dapat terevolusi.

  3. salam om

    kalau mau belajar karakter mustinya pergi ke gunung sendirian, menggali karakter pribadi. kalau tetap di alam manusia tentunya karakter terpengaruh sini dan sana. *mudah2an bener*

  4. @Yudhi

    Sebenarnya gak harus ke gunung ‘sendirian’. Justru saat bersosialisasi dengan orang-orang akan tercermin karakter seseorang. Bersosialisasi juga tidak selamanya berkerumun dengan orang-orang, bisa juga lewat tulisan di blog. Terkadang context tulisan bisa mencerminkan karakter

    CMIIW

  5. Character Building harus di bangun sejak anak masih kecil. Inputnya termasuk value2 dalam kebudayaan, konsep2 yang disampaikan secara lisan/contoh/subliminal, bahasa yang digunakan, kebiasaan2, dsb. dsb. Cukup kompleks. Membangun karakter bangsa bukan tugas pemerintah, tapi kita2 sebagai manusia dan orang-tua. Bisa mulai dengan kebiasaan2 sehari-hari (ex. kalau pinjam barang/duit harus dipulangin, tolak jam karet, etc. etc).

  6. Terima kasih atas masukan-masukannya. Kemarin kami di Pusat Mikroelektronika (dahulu PAU Mikro) ngobrol ngalor ngidul tentang hal ini (karakter dan etika). Berikut ini beberapa cuplikan.
    Pak Kastam bilang bahwa kalau di luar negeri, begitu kita keluar rumah, kita belajar. Belajar bagaimana antre menggunakan bis, makan, dan seterusnya. Belajar memberikan tempat untuk orang tua di bis. Dan seterusnya. Kembali ke rumah, kita (katakanlah anak) cerita, report. Jadi setiap orang keluar rumah (by default) mereka mendapat pelajaran.
    Di Indonesia justru sebaliknya. Pelajaran atau pendidikan (etika) justru di rumah. Kita beritahu anak kita supaya jangan ini dan jangan itu, nggak sopan, dan seterusnya. Ketika ke luar, sang anak akan mempraktekkan pendidikan di rumah ini.
    Repotnya adalah … di luar anak tidak dapat pendidikan (etika, karakter), di rumah juga tidak dapat (misal orang tua sibuk atau tidak tahu). Hasilnya tidak ada pendidikan mengenai etika dan karakter. Jadi jangan salahkan anak-anak sekarang karena mereka memang tidak mendapat pendidikan itu. Mereka tidak tahu.
    Untuk itu, kita harus mengajari atau mendidik secara eksplisit. Misalnya, di bis berikan instruksi mengenai sopan santun. Di mall berikan instruksi cara menggunakan elevator escalator yang baik. (Tahukah Anda bagaimana sebaiknya berdiri di elevator escalator? Merapat ke sebelah kiri? Atau sebelah kanan? hayo … Kalau di Singapura ada aturannya; di sebelah kiri. Kalau di Inggris ada aturannya; di sebelah kanan. Semuanya dibuat eksplisit.)
    Begitu?

  7. Di mall berikan instruksi cara menggunakan elevator yang baik. (Tahukah Anda bagaimana sebaiknya berdiri di elevator? Merapat ke sebelah kiri? Atau sebelah kanan?

    Maksud Bapak “elevator” (lift) atau “escalator”?

    Kalo eskalator sih iya, ada aturan rapat kiri atau rapat kanan (supaya orang yang mau cepat bisa naik di sisi sebelahnya).

  8. Oh ya, elevator (lift) juga ada aturannya: kasih jalan buat yang keluar duluan, baru masuk ke lift.
    Berdiri merapat ke belakang (bukan kiri ataupun kanan), menghadap ke pintu (kecuali lift yang pintunya dua sisi), jangan bicara terlalu keras. Terpenting: jangan merokok dan jangan kentut.

  9. BTW. Saya hari Minggu kemarin nonton film “Naga Bonar Jadi 2” dan mendapatkan pelajaran karakter “ekstra kurikuler” sbb:

    Kalau melihat Film Layar Lebar lain produksi Indonesia, “Naga Bonar Jadi 2” memang punya kualitas yang “luar biasa”. Temanya jernih dan bernas, penuh dengan hikmah yang tidak menggurui.

    Pantas saja Deddy Mizwar mendapat pujian yang bertubi-tubi…….Oalah….. sepertinya kita sangat memerlukan tontonan dan tuntunan yang menghibur dan dapat mentertawakan diri sendiri. Sepertinya beliau telah menerapkan : “Our character is what we do when we think no one is looking.”, Karl Otto von Schonhausen Bismarck

    Terbukti film ini dapat diterima oleh hampir semua kalangan…..termasuk anak saya yang kedua (~7 tahun)….sangat menikmati film yang durasinya cukup panjang ini. Dia selalu tertawa dan kadang2 ikut sedih serta merenung pada setiap dialog yang terjadi antara bapak dan anak (Naga Bonar dan Bonaga).

    Lebih mengharukan lagi adegan Naga Bonar menghiba pada Jendral Sudirman agar tidak memberi hormat pada mobil yang lewat……Itu sangat kontras dengan “belief” yang dianut keduanya……Kayaknya bener peribahasa Cina ini, “If there is a strong general, there will be no weak soldiers”.

  10. Klo menurut saya, pembelajaran/didikan dari keluarga sangat menentukan karakter seseorang (ex: anak), didikan dengan agama yang kuat dan ilmu yang mantap akan memberikan karakter yang bagus buat anak.

  11. Sow a thought, and you reap an act;
    Sow an act, and you reap a habit;
    Sow a habit, and you reap a character;
    Sow a character, and you reap a destiny
    — as quoted in 7H

  12. Kalau menurut saya, ya harus ada yang mengawali memberikan teladan karakter yang baik itu bagaimana… Yang paling cepat diterima oleh seluruh masyarakat, ya …pejabat tinggi negara atau figur publik (selebriti, seperti Pak Budi). Tingkat kedua adalah para guru dan dosen(terima kasih nasehatnya di kuliah kemarin, Pak). Berikutnya adalah para kakak (setingkat mahasiswa). Terakhir (sebenarnya terasa agak mengherankan dan aneh), adalah orang tua. Entah kenapa kok anak jaman sekarang itu susah sekali untuk meneladani orang tuanya, ya? Padahal orang tua adalah yang paling sering berinteraksi dengan seorang anak…

    Nah, orang-orang inilah yang HARUS menyadari pentingnya karakter.

    Jadi ini sama seperti waktu membahas masalah kekerasan dalam pendidikan itu, Pak. Kembali ke masalah content

  13. Mungkin pak, belajar di Indoensia dan di luar itu bedanya tidak terletak pada dimana pelajaran itu diperoleh. Tetapi justru lebih pada perbedaan mental untuk mau belajar. Dimana ia mau belajar, kapan dia mau belajar. Terkait juga dengan simpati dan empati yang dimiliki seseorang yang kemudian akan menjadi penentu apakah peristiwa di sekitarnya (eg: naik bus, nasihat ortu, dll) akan ia catat sebagai pelajaran

    Mungkin .. hehehe *mengangkat bahu*

  14. toni, poin yang ingin saya angkat adalah bahwa suka atau tidak suka, kalau di luar negeri, begitu kita keluar rumah maka kita dipaksa untuk belajar dari lingkungan (yang benar). Jadi, setidaknya mereka pernah tahu. Soal diterimanya “pelajaran” itu mungkin soal lain.

    Di Indonesia, kita (dan anak-anak) tidak menerima pelajaran ini. Bahkan, kalaupun pelajaran yang diterima dari lingkungan adalah pelajaran yang salah; bahwa tidak ada aturan!

  15. Halo Pak Budi,

    you wrote:

    Pak Kastam bilang bahwa kalau di luar negeri, begitu kita keluar rumah, kita belajar. Belajar bagaimana antre menggunakan bis, makan, dan seterusnya.

    Luar negeri disini maksudnya yang mana nih? Kalau di Cina (mainland) kayaknya gak gitu deh ๐Ÿ™‚

  16. “Karakter adalah kekuatan untuk bertahan dimasa sulit”. Tentu saja yang dimaksud adalah karakter yang baik, solid, dan sudah teruji. Karakter yang baik diketahui melalui “Respon” yang benar ketika kita mengalami tekanan, tantangan & kesulitan.

    Kita dapat belajar berkarakter dari kenyataan hidup yang ada saat ini. Minim fasilitas dan temen-temennya…

  17. Jadi, pendidikan karakter terjadi di rumah?
    Kalo gitu bener donk KBK?? Karena pendidikan karakter bukan tugas sekolah kan??

  18. mslah karakter bisa terbentuk krn 2: yaitu dirumah dan dilingkungan dimana ia beradaptasi. Di sekolah tempat ku bekerja juga ada yang namanya pembinaan karakter dan out boundnya. Semakin anak terbiasa dengan tingkah laku/pembelajaran yang positif maka akan muncul satu jiwa karakter yang baik. Karakter merupakan suatu pola yang harusnya sudah dicanangkan sejak dini. Contoh ketika anak akan membuang sampah, maka dia akan teringat bahwa jika membuang sampah bukan pada tempatnya, maka ia berarti belum berbuat baik untuk orang lain. Dllll……….,,,, pokoknya banyak dech~~~~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s