Salahkah Aku Jika Berbahasa Inggris?

Tulisan ini terprovokasi oleh tulisan mas Yockie tentang karya anak muda Indonesia yang kurang bermakna. Pasalnya, anak muda ini berekspresi dengan menggunakan Bahasa Inggris. Saya tersentak dengan kritikan dalam tulisannya. Saya akan ceritakan di tulisan yang panjang ini. Harap sabar membacanya ya.

Terus terang saya agak sebel melihat anak-anak muda yang mencampurbaurkan penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Mengapa mereka melakukan hal itu? Apa karena ingin gaya? Gaul? Atau apa? Kulit mereka sawo dan makan nasi kok ngomongnya Bahasa Inggris, “cas cis cus“.

Kemudian saya perhatikan diri saya sendiri (sesuatu yang sukar) dan saya terkejut karena ternyata saya melakukan hal yang serupa. Apakah ketika saya menggunakan bahasa Inggris saya ingin sok-sokan? Ternyata tidak! Pernah suatu saat saya terkejut karena saya bermimpi dalam bahasa Inggris! Halah. What’s wrong with me? Diperlukan sebuah perspektif. Baiklah saya akan menceritakan tentang kehidupan saya.

Sejak kecil (saya sudah lupa, tapi yang pasti sejak SD) saya dikursuskan bahasa Inggris oleh orang tua saya beserta kakak dan adik saya. Kursusnya pun kursus yang privat, yang satu kelas isinya hanya 6 orang. Saya tidak tahu apa alasan orang tua saya melakukan hal ini. Sayapun ikutan kursus bahasa Inggris ini dengan senang hati. Yang saya senang adalah tempat kursusnya merupakan sebuah lab bahasa yang dilengkapi dengan meja sendiri, headphone sendiri, dan seterusnya. Pokoknya di jaman itu (tahun 70-an) merupakan tempat kursus privat yang canggih. Tempat kursus ini tidak terlalu terkenal, tapi saya suka sekali. Saya pun tidak punya pretensi apa-apa. Wong namanya juga anak-anak. Mungkin karena suka ini saya menguasai bahasa Inggris baca tulis yang cukup lumayan. Seingat saya, kelas 6 SD saya sudah ujian bahasa Inggris dan lulus level apa saya lupa.

Kursus bahasa Inggris ini berhenti (sekitar saya SMP) karena gurunya meninggal. Saya tidak mau kursus di tempat lain. Bukan apa-apa, guru bahasa Inggris di tempat lain mungkin sudah kalah bahasa Inggrisnya dengan saya, he he he, meskipun bahasa Inggris saya masih pasif. (Listening merupakan kekuatan saya.) Saya tidak pernah menggunakan bahasa Inggris di rumah, tetapi saya suka baca apa saja termasuk ensiklopedia yang waktu itu adanya dalam bahasa Inggris.

Saya kemudian belajar bahasa Inggris sendiri melalui musik dan film. Kalau nonton film saya tidak membaca subtitle-nya. Kalau musik, wah apa lagi … karena saya gemar musik maka saya mencoba mencari makna yang ada dalam lagu-lagu tersebut yang akhirnya berpulang kepada liriknya. Hal ini berlanjut sampai ke mahasiswa.

(Cerita lain. Di SMA lain lagi, saya mulai kursus bahasa Jerman karena saya ingin bersekolah di Jerman setelah saya lulus SMS. Saya kursusnya di Goethe Institut. Eh, nilai bahasa Jerman saya di sekolah menjadi 9 – nyaris 10. he he he. Setelah lulus SMA sebetulnya saya mendapat tawaran untuk sekolah di Jerman – seingat saya Siemens yang menawari – tapi tidak boleh oleh ibu saya. Jadi saya sekolah di ITB saja. Not a bad choice! Tapi semenjak itu bahasa Jerman saya tidak pernah saya gunakan dan sekarang sudah hilang sama sekali.)

Anyway, kembali ke topik bahasa Inggris. Setelah lulus dari ITB saya mendapatkan beasiswa untuk mengambil masters di Kanada. (Tentang ini panjang juga ceritanya. Pada awalnya saya ingin kuliah di MIT, tapi ada tawaran ke Kanada. What the heck. Kayaknya kalau di Kanada bisa nonton group band Rush yang saya gemari waktu mahasiswa. Itu yang kepikir di otak saya. Yes, I made the decision as simple as that.)

Akhirnya saya berangkat ke Kanada di pertengahan tahun 1987. Di Kanada saya tinggal di rumah sebuah keluarga (yang kemudian saya anggap sebagai keluarga saya sampai sekarang) dan kemudian di asrama. Meskipun tidak seseronok cerita tentang kehidupan kampus di film-film Hollywood, kira-kira situasinya sama. Saya tinggal di Winnipeg yang jumlah mahasiswa Indonesia bisa dihitung dengan jari di satu tangan. Di asrama saya bergaul dengan mahasiswa setempat, tentu saja harus berbahasa Inggris.

Ada satu hal yang perlu ditekankan di sini bahwa bahasa itu hanya satu aspek saja, akan tetapi ada aspek lain yang terkait dengan kultur yaitu kebiasaan sehari-hari. Misalnya, karena saya tinggal di Kanada maka di sana ada kebiasaan yang khas yaitu ice hockey, beer, tv series, dan seterusnya. Jika kita hanya mendengar, membaca, atau sekedar nonton film saja saya rasa kita belum dapat memahami.

Di dorm (asrama) saya ikutan main hockey di dalam ruangan (di basement). Bagi Anda yang belum pernah lihat ice hockey, coba sekali-sekali lihat … ini permainan yang sangat fisik (keras). Bahkan kalau di ice rink sesungguhnya dipekenankan untuk adu jotos! Hah? Bener, tapi ada aturannya. Sportivitas dijunjung tinggi. Untuk main di atas es sungguhan saya tidak bisa. Maklum, seumur-umur belum pernah ketemu yang namanya salju. Nah, di sana … salju bisa hadir 6 bulan dalam 1 tahun. hiiii. Saya kemudian belajar skating. Ternyata asyik juga, meskipun saya tidak terlalu mahir. Untuk main hockey dengan skate saya tidak bisa (sampai sekarang) karena susah dan … ngeri. Puck hockey itu sangat keras dan bisa cepat (puluhan km/jam kecepatannya). Kalau di-slap shot, gak bisa kelihatan tuh puck. Bayangkan kalau kena badan atau kepala.

Di dorm saya juga mulai mengenali pop culture mereka, jenis musik yang mereka gemari (beda dengan British pop), dan film yang mereka tonton. Saya kemudian juga mulai menggemari TV sitcom yang klasik, seperti family ties, threes company, golden girls, dan banyak lagi termasuk serial yang klasik di Inggris. Bagi saya yang menarik adalah David Letterman show. Ini adalah ajang saya belajar bahasa Inggris dan kultur.

Bagi saya … seseorang itu memahami sebuah kultur kalau dia sudah bisa tertawa dalam humor (joke) dalam bahasa tersebut. Seorang bule yang bisa tertawa sambil melihat Srimulat (Johny Gudel, Gepeng) barulah bisa dikatakan mengerti kultur Indonesia (sedikit Jawa).

Pertama kali saya melihat David Letterman, saya tidak mengerti karena bodorannya sangat kental dengan kultur North American. Lama kelamaan saya mengerti dan bisa tertawa dengan mereka. He’s a f***ing ass. he he he. Saya juga pernah beberapa kali nonton stand-up comedy di beberapa tempat, dan sudah bisa tertawa dengan mereka. Sebenernya sih ingin sering nonton, tapi karena sebagai mahasiswa yang miskin itu tidak memungkinkan. David Letterman merupakan penerus dari Johnny Carson, yang juga sangat lucu.

Pertama kali saya sadar bahwa saya mulai menyerap kultur North America ini adalah ketika saya berinteraksi dengan orang Indonesia dan mereka tidak memahami humornya Letterman. Hah? Di Indonesia orang lebih mengenal Jay Leno, yang merupakan kompetitor dari David Letterman. I realized that I was Americanized!

Perlu diingat bahwa saya tinggal cukup lama di Kanada – dari pertengahan tahun 1987 sampai akhir tahun 1997 – 10 tahun lebih. Saya tinggal di sana ketika umur saya merupakan umur yang produktif (dalam menghasilkan karya) dan masanya mencari jati diri. Maka … terseraplah kultur North American (meski lebih ke Canadian) dalam hati saya. Jika dibelah dada saya ini mungkin akan ditemukan kultur Indonesia (karena saya dilahirkan sebagai orang Indonesia, masa kanak-akan sebagai orang India), kultur Islam (karena saya beragama Islam), dan kultur North American (karena saya dewasa – dalam arti sikap – di sana). Selain karena waktu yang lama, tempat kami juga jarang orang Indonesianya, sehingga suka atau tidak suka kami harus berbaur dengan orang setempat. (Hampir dua tahun saya sendirian di Kanada, kemudian menikah … dengan orang Indonesia, thank God … dan kemudian berkeluarga di Kanada.) Kami tinggal juga di perumahan / apartemen yang co-op (koperasi) sehingga keterlibatan dengan orang setempat tinggi, terlebih lagi kami tinggal di Kanada yang agak “kampungan” sehingga aspek kekeluargaan dan komunitas lebih tinggi. We were part of the community.

Sebagai keluarga, kami termasuk golongan kere di sana. Maklum, saya hanya mahasiswa yang hidup dari honor research assitant dan honor bekerja di computer center. (Beasiswa hanya saya terima 2 tahun di awal saja.) Kami sekeluarga (saya, istri, dan dua anak) harus hidup pas-pasan. Jaket untuk musim dingin pun kami beli di toko bekas. Kami hidup sebagaimana orang Kanada kelas menengah ke bawah – lebih di sisi bawahnya. We had to live their way. No option. Namun pada akhirnya kami menemukan banyak pelajaran hidup di sini.

Nah, selama hidup di sana itulah mulai merasuk bahasa Inggris dalam kehidupan saya sehari-hari. Apalagi ketika anak-anak mulai besar, mereka berbahasa Inggris. Kalau dilihat dari kacamata orang Indonesia, ini akan lucu. Orang yang kulitnya sawo matang, namanya Jawa, tapi ngomong Inggris dengan keluarganya. Ho ho ho. Oh ya, bahasa Inggris saya tentu saja berakses Indonesia. You can’t change that and I don’t want to pretend that I am not an Indonesian. I AM an Indonesian. Hal ini tidak menjadi masalah di sono. Ada banyak orang yang bahasa Inggrisnya berakses. Contoh yang paling khas adalah Arnold Schwarzenegger. Ha ha ha. They don’t mind at all.

Ketika di sana, anak-anak jelas lebih mudah berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia, meskipun saya menggunakannya sehari-hari di rumah. Saya jadi ingat dengan orang tua saya. Mereka berbicara ke saya dalam bahasa Jawa, tetapi saya membalasnya dalam bahasa Indonesia. Saya kan tinggal di Bandung, kawan-kawan saya kebanyakan berbahasa Sunda. Malah, saya pikir saya lebih PD menggunakan bahasa Sunda daripada bahasa Jawa. Jadi … saya tidak bisa menyalahkan anak-anak yang berbahasa Inggris. Mungkin mereka berasal dari keluarga yang seperti saya, yaitu mereka dibesarkan dalam lingkungan yang berbahasa Inggris. Salahkah mereka jika mereka menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupa sehari-harinya di Indonesia?

Bahasa Inggris bukan milik orang Inggris atau Amerika. Dia ada milik dunia! Mau tahu orang yang bahasa Inggrisnya paling bagus? Berdasarkan pengalaman saya, orang India yang bahasa Inggrisnya paling bagus. Itulah sebabnya banyak karya sastra berbahasa Inggris yang dibuat oleh orang India. Pemilihan katanya sangat variatif. Vocabulary mereka lebih kaya, dibandingkan orang Inggris/Amerika sekali pun! Jadi jangan katakan bahwa bahasa Inggris adalah milik orang Inggris saja.

Sejak kecil (SD) bahasa Inggris sudah merupakan bagian dari kehidupan saya. Saya lebih mudah membaca buku (artikel, tulisan) dalam bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Kadang-kadang ini menyebalkan bagi saya. I can’t help it. Salahkah saya? Saya tidak ingin ke-barat-baratan. Saya orang Indonesia, tetapi saya dalam posisi yang terjepit. Seringkali lebih mudah bagi saya untuk mengungkapkan perasaan dalam bahasa Inggris dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Seringkali sebuah ungkapan tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Apa terjemahan dari “janc*k” (bahasa Jawa Timuran)? Saya kira tidak ada padanan kata yang pas sekali. Karena masalah kultur dan kontekslah dia menjadi sulit diterjemahkan. Apakah terjemahan “kembali ke laptop”nya Tukul akan lucu jika diterjemahkan ke bahasa Inggris? (Atau “untung ada saya”nya Gepeng, atau “geeennntolet” nya Bambang Gentolet Srimulat, atau “sebling”nya Kang Ibing waktu jaman Radio Mara dulu.)

Bagi saya, sah-sah saja orang yang berkulit sawo matang untuk mencurahkan ekspresinya dalam bahasa Inggris. Tentu saja jangan salahkan audience orang Indonesia yang tidak paham akan curahan hatinya itu. You’re barking at the wrong tree. Memang jadi nggak nyambung. he he he

Hanya, terus terang, saya belum bisa membedakan mana yang sungguhan menggunakan bahasa Inggris karena merupakan bagian dari dirinya atau yang hanya ingin pamer (sok global) saja. Don’t ask me. I have no idea… Saya sendiri sudah hampir 10 tahun kembali di Indonesia (hah, masih lebih lamaan di Kanada?) dan sudah kembali menyerap kultur Indonesia. Saya berjuang keras untuk tidak menggunakan bahasa Inggris. (Apakah supressing ini merupakan sebuah hal yang baik?) Namun, kultur North American akan tetap menjadi bagian dari diri saya yang tidak bisa dihapuskan. I can’t help it.

Akhirnya, “salahkan aku jika aku menggunakan bahasa Inggris?”

Iklan

43 pemikiran pada “Salahkah Aku Jika Berbahasa Inggris?

  1. kagak salah pak, sy ja malah pengen. maklum, masih belajar. inggrisnya masih “little2 sih i can”
    hehe..tetep pd aja lagie..

  2. Kadang yang menyebalkan adalah saat mendengar orang yang menggunakan kata/kalimat dalam bahasa Inggris diikuti dengan versi Indonesianya. Misalnya : “…..it’s important to take the right decision, penting sekali kita mengambil keputusan yang tepat……” Maaf contohnya tidak bagus, tapi semoga Anda paham maksud saya. Banyak kali saya mendengar orang berbicara dalam 2 versi sekaligus (meski dalam 1 kalimat). Kalau memang mau menggunakan kata/kalimat dalam bahasa Inggris, ya sudah tidak perlu diterjemahkan (lihat-lihat audiens lah). Kalau memang tahu terjemahannya ke dalam Bahasa Indonesia, rasanya tidak perlu mengungkapkan bahasa aslinya segala. Terkesan sombong dan merasa diri lebih pintar. Tapi kalau tidak bisa menemukan padanan kata/kalimat dalam Bahasa Indonesia, silakan saja menggunakan bahasa Inggris.

  3. Kalau saya, paksakan nulis di blog bahasa inggris walaupun kadang ancur :)) Ini karna tuntutan profesi. Gak tau kalau profesi lain yah, tapi aneh kalau programmer itu gak bisa bahasa inggris.

    Contohnya ruby, dibikin sama matz orang Jepang. Tapi walaupun bahasa inggrisnya ancur, paling tidak bisa nyambung dikit2. Kalau gak ruby gak akan heboh di US sana. Trus jaman nya opensource, kan gak mungkin tanpa bahasa inggris.

  4. Menarik sekali pengalaman Pak Budi.

    Kalau saya pribadi ya pak, saya iri pada orang yang jago berbahasa Inggris dan bahasa non Indonesia lainnya.

    Kadang kita juga nggak bisa memvonis, “Ah sombong banget, ngomong Inggris masih kachow begitu dah sok cas-cis-cus…”

    Kadang orang bicara sesuatu karena terbawa suasana dan kecepatan dia bicara kalah dibandingkan dengan kecepatan dia berpikir.

    Ada juga rekan-rekan blogger yang menulis ‘sekena-nya’ karena menulis tidak ingin dibebani oleh hal-hal yang rumit. Menulis saja demikian adanya, nanti akan ada kesadaran yang timbul soal keinginan untuk lebih baik lagi.

    Terima kasih buat share pada Budi di hari Sabtu ini, bisa menjadi pelajaran dan masukan yang sangat baik untuk direnungkan menjelang liburan :-).

    Salam dari Bekasi pak.

  5. Saya sering menyelipkan bahasa Inggris karena memang saya belum tahu istilah bahasa Indonesianya. Terutama di bidang saya. Duh, kalau paksain pakai bahasa Indonesia malah terkesan lucu.

    Salam kenal Pak.

  6. Yang bikin repot itu adalah, orang berbahasa inggris di antara org-org yang berbahasa Indonesia….
    Kalo semua pada make bahasa Indonesia, pake bahasa Indonesia ajah, kalo mix and match juga gak apa2 asal di komunitas itu diterima…
    Kalo sok-sok’an itu yah yg pake bahasa inggris diantara org2 yg pake bahasa indonesia..
    🙂

  7. Ikut urun pendapat, pak.
    Buat saya mempelajari bahasa berarti juga dapat ‘bonus’ budayanya. Susah dihindari. Mau di Kanada atau ing amriki, 🙂 budaya itu cepat merasuk. Apalagi intervensi budaya barat (baca: berbahasa Inggris) juga sudah menguasai kita.

    Namun ketika Pak Budi sebel mendengar orang kita ber cas cis cus dalam Bahasa Inggris apalagi dicampur aduk Bahasa Indonesia, saya malah lebih sebel dengan logika berbahasa kita yang sudah terpengaruhi Bahasa Inggris. Tak ada yang lebih merusak daripada orang berbahasa Indonesia dalam logika Bahasa Inggris.Di situ salahnya, menurut saya.

    Kalau mau cas cis cus dalam Bahasa Inggris ya monggo aja asal bener. Mau bikin lagu dalam Bahasa Inggris kalau memang lebih mudah ya silahken. Tidak ada yang salah asal konteksnya saja cocok.

    Cuma dua perak saya saja pak.. (baca: just my two cents ) hahahaha..

  8. @arul, problemnya ya itu … kadang-kadang di tengah-tengah orang Indonesia pun otak ini berpikir dalam bahasa Inggris. Maka yang keluarnya pun adalah bahasa Inggris. Bukan maksud hati untuk demikian (tidak sopan, arogan), tapi ini terjadi. Untuk kasus seperti ini bisa-bisa saya dicap sok ng-inggris…. Nah itu.

  9. Jadi nyesel suka mbolos les english.. 😦

    Sekarang cas-cis-cus deh..bukunya english semua..

    Saya pribadi menulis dalam bahasa inggris karena memang ingin belajar. Bukan sok-sok an loh pak..karena saya tahu bahasa inggris saya agak-agak gimana. Hahahaha..

  10. Klo menurut saya sih flexible saja. Klo bergaual sama orang Indonesia ya kita pakai bahasa Indonesia, kalau bergaul dama orang asing ya pakai bahasa Inggris lah…

    Kata Gus Dur sih, “Gitu aja repot…” 😀

    Btw, waduh bahasa yang saya pake juga campuran begini…

  11. You guys just don’t get it, do you? Even with Indonesians, (deep in my heart) I wanted to speak in English. Picture this. You guys speak to me in Bahasa Indonesia and I reply in English. How do you feel?

  12. stuju pak Bud. Meskipun gak seruwet pengalaman pak Budi, tp sy tadinya bekerja di lingkungan yg bhs resminya Inggris. Jd semua korespondensi, dokumentasi, dll hrs dlm bhs Inggris (meski yg baca ujung2nya org Indo juga..hehe).
    Nah saat kerja di Prancis, entah kenapa, di otak sy dr bhs Prancis itu diterjemahkan dulu ke Inggris baru ke Indonesia & sebaliknya. Dan itu terjadi scr sistematik, di bawah sadar. Susahnya lagi, seringkali logika bhs Prancis itu beda jauh sama logika Inggris, blom lg kl mesti ditransfer ke bhs Indo.
    Sebenarnya biarin ajalah orang2 ngomong Inggris ato bhs lain, hak2 mereka asal bukan buat pamer. Yg saya gak suka itu orang2 yg suka lupa sama asalnya. Sering sy ketemu orang Jawa yg ngakunya gak bisa bhs Jawa (mungkin takut dianggap ndeso), maunya ngomong gaya Jakarta pdhal logatnya jelas2 masih Jawa medhok….sucks but true…

  13. From now on! We demand the goverment :
    Legalizing and implementing practical english in Indonesia education system! It’s an urgency for Indonesian! It’s a must! boost up our student’s communication skill! Dont let our next generation become a numb generation when it comes to do practical english , our current generation already lost the battle in english with indian and philipino, please thinkin’ globally, we’re livin’ in Asia Pacific Region BRO! we’re not livin in JAVA island logically, the net has made the Diffrence! Please kampanyekan blog dengan menggunakan bahasa inggris, please lakukan sesuatu untuk mempercepat dan mewujudkan hal ini……Mas Kelik represents Indonesian going global community.

  14. Hanya, terus terang, saya belum bisa membedakan mana yang sungguhan menggunakan bahasa Inggris karena merupakan bagian dari dirinya atau yang hanya ingin pamer (sok global) saja.

    Mungkin kita sesungguhnya tak perlu repot2 membedakannya, Pak? Menurut saya, selama kita dan mereka mengerti, bahasa hanyalah perantara. Upaya membedakan niat/motif mungkin malah hanya akan merusak suasana.

  15. kaloe menoeroet saja, biarpoen kita berbahasa inggeris, maoepoen bahasa melajoe, hal ini djanganlah mendjadikan masalah dalam menjampaikan pendapat.
    Sampaikanlah apa jang ada didalam loeboek hati jang paling dalam, sehingga chalajak rame mengerti maksoed kita.

    sperti jang pernah chalajak tahoe, bahawasanya bahasa diboeat sebagai sarana penjampaian pendapat, dan sebagai alat pemersatoe asa.

    (ditoelis dengan edjaan jang kira-kira masoek dengan tata bahasa melajoe versi van opushjen)

    hehehhe

  16. Letterman di NBC dan kemudian pindah ke CBS yang posisinya di NBC digantikan oleh Conan O’Brien. Wajar banyak yang ga paham Letterman karena dahulu NBC (skrg CBS) cuma buat yang punya parabola. Beda dengan Jay Leno yang sudah MSNBC yang sudah direbroadcast worldwide di TV TV kabel. 😀

    Saya sendiri lahir di lingkungan minyak yang kental amerikanya tapi banyak belajar dari lingkungan setempat tanpa harus ter-americanized 😀 … di Duri itu kental Minang/Padang dan Batak (punya sejarah kelam dua suku ini suka berantem besar medio 80-an), dan Dumai kental Melayunya *kayak si Adham Somantrie yang logat Dumainya ga ilang sampe sekarang :P, dan Rumbai/Pekanbaru kental Minang/Padangnya. Pindah ke Bandung dapet pengaruh Jawa dan kemudian Sunda setelah pacaran dengan orang Sunda hahahaa… So? Lessons learned? Saya bisa jadi orang Minang kalo nawar di Ambassador, bisa seperti orang Malaysia kalo lagi acting iseng di Rumah Makan Sederhana, bisa ngomong Sunda kalo ketemu Sunda, bisa ngomong Jawa kalo ketemu orang Jawa. Dan bisa ber Lae lae kalo ketemu orang Batak. Itulah indahnya jadi orang Indonesia. Tanpa harus ter-Americanized. 😀

    Kenapa kita ga bisa memberikan pengaruh seperti America (pinjem istilah Americanized-nya lagi), ya salah sendiri kita ga punya Industri Film. Pinjem istilah Jeng Merry (Magdalena, TechnoMedia); Amerika modalnya ya iklan. Amerika gituuuu… jaman koboi aja ga ada dalam history Amerika, bisa aja bikin sejarah sendiri 😀 Yang ada adalah jaman kulit hitam jadi pengembala sapi 😛

    Kalo saya boleh pilih? Saya ya mau jadi orang Indonesia aja. Banyak sekali kebudayaan yang masih bisa dinikmati disini. Kaya sekali. Kenapa musti merasa inferior? Kalo komen soal bahasa tadi persis seperti yang saya posting di blog mas Jockie http://jsop.net/?page_id=42#comment-260

    Sekali-kali atuh mas londo-londo nya diajak Bahasa Indonesia. Steve Jobs belajar bahasa Sunda? Nah itu baru nampol… dihaturan gelar kahormatan ku abdi mah upami kersa diajar basa sunda.

  17. Mau nambah comment nih Om…

    “Salahkah Aku Jika Berbahasa Inggris?”

    Tidak, tidak salah kok. Yang salah itu kalau bahasa yang dipakainya salah alias ga bisa dimengerti sama yang diajak bicara…, Betul? 😀

  18. hmm… mungkin saya salah dengan menggunakan judul “bahasa” dalam tulisan ini sehingga kebanyakan menyoroti masalah bahasanya saja, padahal yang saya maksudkan adalah lebih mendalam … ke arah kultur (dan mungkin cara berpikir).

    Kalau pada suatu saat Anda diminta untuk berekspresi (mencurahkan isi hati Anda yang paling dalam) dengan bahasa Sunda (karena kebetulan Anda berada di sebuah daerah yang kebanyakan pendudukan adalah orang Sunda), padahal Anda percaya dirinya hanya dengan menggunakan bahasa Indonesia (misalnya karena Anda dibesarkan bukan di lingkungan Sunda), apa yang Anda lakukan? Apakah Anda akan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Sunda?

    Agak sedikit lebih nyleneh. Misalnya Anda orang Padang, tapi besar di Jogjakarta sehingga logat Anda (dan yang lebih penting … kultur Anda) menjadi Jawa sekali. Suatu saat Anda diminta untuk berekspresi. Anda kemudian berekspresi dengan menggunakan bahasa Jawa (dan dengan cara orang Jawa), apakah Anda salah (karena dianggap menghianati kultur Padang)? [Eh, cerita ini sebetulnya saya contek dari seorang kawan saya yang saya kira orang Jawa karena … semuanya mirip orang Jawa, eh ternyata aslinya orang Padang.]

    Ada lagi seorang keturunan Cina yang dibesarkan di sebuah kampung di Indonesia (katakanlah berkultur Jawa). Dia sudah tidak bisa lagi berbahasa Cina, tidak mengerti kultur Cina, dan pola pikirnyapun sama seperti orang kampung dimana dia dibesarkan. Tapi … fisik dia Cina asli, dengan mata yang sipit, rambut yang lurus, dan seterusnya. Dia berada pada posisi yang terjepit. Kebanyakan orang menganggap bahwa dia pasti memiliki kultur Cina. Sementara itu komunitas Cina memojokkan dia juga karena dia dianggap tidak paham kultur Cina. Itu menghina juga. Ketika dia berbicara dan berekspresi dengan bahasa Jawa halus, orang marah kepadanya. (Ada kecurigaan dan cibiran.)

    Ada seorang yang berfisik Indonesia (Melayu). Dia berkultur Arab (tidak harus identik dengan Islam kan?). Dia juga dimarahi karena tidak ngendonesha.

    Dan seterusnya.

    Kebanyakan orang beranggapan bahwa kalau seseorang kulit sawo matang maka dia *pasti* memiliki kultur Melayu. Padahal bisa saja, kultur dia itu Amerika (misalnya karena besar di sono), Eropa, Cina, Arab, Persia, dan seterusnya. Kemudian dia disalahkan karena tidak menghargai kultur Indonesia. Aduh …

    (I’ve got to learn how to explain things in a better way. Physical appearance can be deceiving.)

  19. @adinoto, soal David Letterman, itu bukan hanya dia (si Davidnya) aja, tapi lebih ke arah konten (jokenya) yang sangat kultural dan situasional Amerika banget. Misalnya … ada yang ketawa (dan mengerti) nggak kalau saya bilang:

    “I did not inhale” … (hint: clinton)

    Atau ada yang ngerti nggak joke (skit) binatang moose yang ada di film “brother bear” (yang pertama)? (hint: coba perhatikan logat bahasa yang digunakan. Beauty. That’s were I came from, eh. Take off, eh. ha ha ha.)

    Itu yang saya maksud dengan kultur, ekspresi, makna, … bukan sekedar bahasa.

  20. bukan sekedar gaya2 an kalo aku sering pake bahasa inggris dalam berkomunikasi. abis kalo pake bhs indo, alur berpikir ku jadi kepanjangan. dari inggris diterjemahkan dulu ke indo, begitu juga sebaliknya. kelamaan… keburu ilang ntar momennya ato apa yg ada di otak ini. aku rasa tak ada yg salah jika kita sbg orang indo berbahasa inggris. asalkan buat kita nyaman, why not? thus, kita juga sebenanrnya ga bermaksud mau nunjukkin ke org lain kalo kita ini fasih berbahasa inggris. sejauh rasa nyaman itu tercipta, tak apa2 menurut saya. memnag terkadang ada dilema juga kalo lawan bicara kita agak2 kurang paham. di satu sisi kita ingin diri kita nyaman (dlm berkomunikasi) tapi di satu sisi kita jg ingin lawan bicara kita juga ikut mengerti dgn apa yg mau kita omongkan. kan ga lucu kalo nantinya kita jadi asik sendiri. ya… sbg jalan tengah, ada baiknya kita juga ikut melihat siapa lawan bicara kita.

    oh ya, tambahan buat kultur canada. musik country mau dikemanain???

  21. Mungkin begini MasBoing, katakan saja dulu apa yg anda pikirkan, tanpa peduli itu dalam bahasa apa. Kalo bahasa Inggris kan sebagian besar org di lingkungan kerja atau keluarga ngerti.

    Lalu kemudian jabarkan sesuai konteks komunikasi yg ada.

    Menurut saya saat orang menjelaskan apa yg dia pikirkan dengan ungkapan, jargon budaya2 yg asing bagi saya, itu malah memperkaya dan memberi perspektif yg lebih luas, sekaligus menjadikan diskusi memiliki basis yg lebar. Buat saya yg gak ngerti inhale-nya clinton, misal, jadi bisa ngebayangin dan nebak2. Itu kan memperluas, tambah kaya.

    Tapi bagian paling seru cerita ini adalah OK ke Canada karena Rush! Hahaha…

  22. Budi Rahardjo
    July 15th, 2007 at 5:32 am

    @adinoto, soal David Letterman, itu bukan hanya dia (si Davidnya) aja, tapi lebih ke arah konten (jokenya) yang sangat kultural dan situasional Amerika banget. Misalnya … ada yang ketawa (dan mengerti) nggak kalau saya bilang:

    “I did not inhale” … (hint: clinton)

    Atau ada yang ngerti nggak joke (skit) binatang moose yang ada di film “brother bear” (yang pertama)? (hint: coba perhatikan logat bahasa yang digunakan. Beauty. That’s were I came from, eh. Take off, eh. ha ha ha.)

    Itu yang saya maksud dengan kultur, ekspresi, makna, … bukan sekedar bahasa.

    ->> Mas, ada yang lebih seru sekarang, kalo ga salah mungkin pengganti Conan O’ Brien (acara setelah Jay Leno), karena saya baru sekali liat sih… Mukanya Iranian banget, dan emang turunan American-Iran… dan stand up comedian.

    Gayanya komedi satir banget: …. hmm misal “Why there’s no peace news in Iran?? … Everyday the news is about bomb, … bomb, and war… I’d like to hear someday a peace news… like .. Mohammed brings cookies (kue)… send it to neighboor… a very good news… (chuckle)… until the next day the cookies exploded (ternyata bom :D)”….

    Yang lain misalnya… “Mercedes (Mercy) new ads is using asian people as a driver (myth di Amrik, orang asia ga bisa nyetir, mungkin kaitannya dg orang Hongkong dsb, bukan Indonesia yang banyak Supir Medan (walaupun bukan orang Medan :D, baca: nyawa murah). The message is our car is safe car. Even people who can’t drive can use it…. So why there’s never airline that use Arabian as its commercial star? “Come fly with me…” (logat ngeyek American Airline) tapi disenandungkan dengan gaya Arabian 😀

    Culture? Yah ga aneh juga lah disini peran TV cuma maunya yang paling murah laku. Industri TV disini cuma sebatas perut. Ga punya Soul sama sekali. Maunya jejelin sinetron ga mutu, kekayaan-kayaan, borju, setan, pembalasan hari akhir dan paling banter joke garing? Salah sapa? Ada yang bilang salah lembaga survey riset nasional kayak ACNielsen karena katanya begitulah hasil riset masyarakat, tontonan yang paling disukai. Halah bener ga? Dengan ini saya undang pihak ACNielsen ato lembaga lain meluruskan, apa memang benar ato emang dasar TV-TV lokal aja (ANTV, SCTV, INDOSIAR, TPI) semua yang ga mutu. Dasar bangsa tempe!!

  23. Budi Rahardjo
    July 15th, 2007 at 5:25 am

    hmm… mungkin saya salah dengan menggunakan judul “bahasa” dalam tulisan ini sehingga kebanyakan menyoroti masalah bahasanya saja, padahal yang saya maksudkan adalah lebih mendalam … ke arah kultur (dan mungkin cara berpikir).

    Kalau pada suatu saat Anda diminta untuk berekspresi (mencurahkan isi hati Anda yang paling dalam) dengan bahasa Sunda (karena kebetulan Anda berada di sebuah daerah yang kebanyakan pendudukan adalah orang Sunda), padahal Anda percaya dirinya hanya dengan menggunakan bahasa Indonesia (misalnya karena Anda dibesarkan bukan di lingkungan Sunda), apa yang Anda lakukan? Apakah Anda akan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Sunda?

    ->> Loh mas kalo konteksnya bahasa kan pas banget seperti yang ditulis Mas Jockie dan komen saya disana kalo mungkin yang ga pas banget itu situasinya. Situasional banget. Nah bukannya esensi tulisan mas Jockie?

    (I didn’t have to explain in different way kan :-P) – pinjem gaya BR 😛

  24. Dulu pas waktu ribut setelah Johnny Carson mengundurkan diri, saya masih ngikuti. Ada Letterman, Leno, O’Brien. Saya masuk di camp Letterman 😀 he he he. Conan itu bodorannya garing, njelehi, kampungan, … gak lucu lah. (Ada sidekicknya juga, tapi saya lupa namanya … Andy?) Menurut orang Amerika sih dia gak lucu. he he he. Sekarang di sini, yah paling bisa dapet Jay Leno. Lumayanlah …

    I could tell the “culture” they’re into by the tv shows they’re watching. Sama seperti kita bisa menentukan generasi seseorang di Indonesia berdasarkan buku atau acara TV yang dia lihat. Yang seangkatan dengan saya (kalu laki-laki) pasti bacaannya Jan Mintaraga, Teguh, Kho Ping Ho, Karl May, … (Kalau yang perempuan gak tahu saya. Hmm… apa ya? Marga T? NH Dini?) Demikian pula di sono.

  25. Berapa persen orang indonesia yang memiliki kesempatan bekerja di perusahaan asing oil n gas yang americanized yang akhirnya jenuh untuk berbahasa inggris, karena dng mudahnya dia mendapat kesempatan bekerja di persh itu…so tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan yang layak, Bagaimana sarjana generasi Mid 90 an yang sangat sulit sekali mencari pekerjaan yang layak ? Goverment can not create opportunity and job in indonesia…dan pada saat mereka ingin going global mereka sadar mereka tidak bisa bahasa inggris dengan lancar ……so who’s to blame ?

  26. Mengapa sih masih sering terjadi ? ibarat membunuh seekor lalat dengan menggunakan meriam.

    Bahasa asing dalam konteks globalisasi sebuah masalah tersendiri , demikian juga bahasa lokal dalam konteks kultur dan budaya .

    Tidak bisa kita memaksakan seluruh rakyat Indonesia harus berbahasa Inggris semua supaya menjadi masyarakat global .(global itu apa? dan siapa sih?)

    Tetapi kalau ada orang Indonesia harus bekerja diwilayah global , ya jelas dia harus menguasai bahasa global .

    Jadi mari sekali lagi kita ingatkan diri kita sendiri , untuk memahami semua persoalan dengan tidak memakai pendekatan serta pemahaman yang “parsial”.

    salam.

  27. Sedikit banyak saya lebih setuju ke mas Yockie untuk tidak memaksakan seluruh rakyat Indonesia harus berbahasa Inggris. Hanya, mohon juga, yang berbahasa Inggris (atau bahasa non-Indonesia lainnya) jangan dipojokkan juga sebagai tidak cinta Indonesia, tidak sensitif, tidak … lainnya. Kadang, situasi yang memaksa mereka untuk tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia secara lebih baik / efektif.

  28. hehe.. saya pernah sering merasa dipojokkan oleh sebuah forum diskusi , pdahal forum itu jelas tidak bermaksud demikian .

    Siapakah yang harus belajar untuk menjadi pendengar yang baik , sebelum diskusi dilanjutkan ?

  29. Kadang saya merasa jadi orang “aneh” karena situasi yang exceptional, yang sukar dibayangkan oleh orang. Cerita tentang kebiasaan berbahasa Inggris itu hanya tip of the iceberg, mas. Ada banyak hal lagi yang mungkin sulit diterima oleh orang lain karena dianggap tidak mungkin. At one point, I thought I am just a “regular” guy, but it turned out that I am not.

  30. Aduuh, kalau saya justru berbeda. Saya seorang jawa tulen keturunan kraton. Bahasa Jawa sangat ditekankan terutama kromo inggilnya. Setelah saya kuliah (saya kuliah di jogja juga di UGM), saya memantapkan diri untuk selalu ngomong dang think in english. Sayangnya, lingkungan saya kurang mendukung, meski mereka mengerti dengan yang saya omongkan, tapi mereka menjawabnya dengan Javanese. Benar2 menyebalkan. Akhirnya, saya sedikit melupakan bahasa inggris dan hanya menggunakannya jika perlu. Finally, saat ini, speaking skill saya sangat jelek!!

  31. Pak, saya mungkin mengerti apa yang anda maksudkan. Saya sendiri, akibat lama di rantau (tidak sampai 10 tahun seperti anda, tapi cukup lama deh), mungkin mengalami apa yang anda alami: transformasi cara berpikir, berparadigma dll. Akibatnya anda menjadi mirip seorang Kanada yang tinggal di Indonesia — bahkan dalam tubuh seorang Indonesia.

    (Kalau anda seperti saya, mungkin saat ini anda tidak bisa menemukan lawakan di televisi Indonesia yang benar-benar lucu. Mungkin lucunya hanya “hehehe” atau bahkan “hmmf” tapi tidak sampai “hoahahaha”.)

    Keuntungannya, ya kita menjadi orang yang lebih siap dalam pergaulan internasional. Kerugiannya, kita dianggap aneh oleh orang sekitar kita. Bahkan sampai ada celaan “lebih londo daripada orang londo” untuk orang-orang seperti kita.

    Bagaimana bersikap dalam kondisi seperti ini? Pendekatan saya adalah dengan menganggap diri sebagai “warga dunia” yang kebetulan tinggal di lokal Indonesia. Maka kita berpikir sebagai seorang manusia global yang tidak dibatasi sekat-sekat bangsa dan negara.

    Dari konteks ini, saya menilai tidak salah jika seorang “pribumi” bertingkah laku seperti orang “asing”, jika memang itu adalah ekspresi alamiahnya (bukan sengaja bertujuan untuk berpretensi sebagai seorang asing). Tetapi, kita juga harus mempertimbangkan bagaimana penerimaan orang lain terhadap diri kita. Ada dua kemungkinan:
    1) Dicemooh, dianggap sombong, dianggap kacang yang lupa kulitnya; atau (yang lebih ringan)
    2) Tidak dimengerti, sehingga akhirnya ekspresi kita toh menjadi sia-sia.

    Kesimpulannya, walaupun saya mengatakan tidak salah, tetapi mungkin ada cara yang lebih baik: dengan mencoba belajar kembali menjadi “pribumi”. Kalau anda perlu 10 tahun untuk menjadi “orang Kanada”, mungkin anda akan perlu 10 tahun lagi menjadi “orang Indonesia”. Toh anda tidak perlu mulai dari nol untuk menjadi “orang Indonesia”, padahal bisa dibilang anda mulai dari nol untuk menjadi “Canuc”. Right, eh?

    Salahkah jika seseorang yang suaranya parau mencoba menyanyi? Mungkin tidak salah, karena dia juga punya berhak berekspresi dengan keterbatasannya. Tetapi orang sekitar mungkin akan merasa terganggu. Jadi, barangkali akan lebih baik bagi masyarakat jika dia tidak bernyanyi. Mungkin lebih baik jika dia belajar bernyanyi yang lebih baik, atau mengembangkan talentanya yang lain.

    Salahkah jika seorang “pribumi” berpikir dan berlaku seperti orang “asing”? Mungkin juga tidak salah, tetapi barangkali akan lebih baik jika dia mencoba lebih keras untuk mengekspresikan dirinya sebagaimana seorang “pribumi” di tengah-tengah kaumnya sendiri. When in Tasik, do as Tasikmalayans do.

    BTW — di blog anda yang lain, anda bercerita tentang hilangnya (atau lunturnya) perbendaharaan kata bahasa Inggris anda. Loh kok seperti kontradiktif? Hati-hati, suatu saat you’ll end up in no man’s land: cannot think like an Indonesia, but your English vocabulary already wears off. Hiii syerammm…

    — Probo
    Citizen of the world, currently living in Tangerang, Indonesia

  32. Probo, TEPAT SEKALI APA YANG ANDA KATAKAN! (Maaf, saya harus menggunakan huruf besar semua karena memang saya sedang BERTERIAK!!!) Anda mengatakannya dengan sangat lugas, tidak bertele-tele, dan tepat pada sasaran. Mudah-mudahan dengan adanya tulisan Anda itu, jeritan saya bisa lebih mudah dipahami.

    (dan) Kalimat terakhir Anda itu … memang seram. Itu membuat saya frustasi karena kehilangan keduanya (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris). Aaarrrggghhh…

  33. menurut saya sah-sah saja jika seseorang mencampur-campurkan bahasa Indonesia, Inggris dan bahkan berbagai bahasa sekalipun. Seperti disinggung Pak Budi, bahasa itu adalah terjemahan pikiran kita.

    Buat saya, orang yang bahasanya bercampur-campur ini biasanya orang yang ingin berkomunikasi dengan mode informal sehingga dia mengeluarkan isi kepalanya begitu saja tanpa repot-repot menkonversikannya kepada satu bahasa saja. Yg mencampur2kan bahasa Inggris ke Indonesia mungkin dianggap sok. Tapi bagaimana dengan orang yg mencampur2kan bahasa Jawa ketika berbicara pada audiens yg bukan orang Jawa ? Sebetulnya mereka melakukan itu dengan hal yg sama.

    After all, menurut saya, inti dari komunikasi itu adalah menyampaikan pesan. Asalkan pesan bisa sampai dari pengirim ke penerima, maka tujuan berkomunikasi sudah berhasil terlepas dari bahasa apa yg digunakan.

  34. Saat ini saya berusaha untuk konsisten.
    Menggunakan bahasa Inggris, ya, Inggris semua, Indonesia, ya Indonesia semua…

    Setidaknya blog saya yang bahasa Inggris itu mudah-mudahan tetap berlanjut seiring keinginan saya belajar dalam bahasa Inggris. (tul?)

  35. menarik sekali cerita diatas…
    pengalaman saya belajar mengenai bahasa sangat menarik..kayak nya sekarang menguasai satu bahasa gak cukup…cuman yang mau saya tanyain dari pengalaman saya.. sebelumnya saya sudah okeh lah untuk bicara inggris…tapi semenjak saya belajar bhs jerman… inggris agak terkikis.. kadang jika mau berbicara.. pikiran selalu menterjemahkan ke dalam bhs jerman..apa yah yang kira2 salah…

  36. Kalau waktu dan tempatnya pas serta mengizinkan atau memang mengharuskan kita menggunakan Bhs Inggris , ya mengapa tidak? itupun kalau memang kita mampu !.

    Tetapi kita secara sadar atau tidak sadar bahwa occidentalisme itu sudah merasuki jiwa orang orang kota yang katanya terpelajar termasuk dalam penggunaan bhs Inggris!, walhasil yang kasihan yaitu bahasa kita sendiri yang telah dengan susah payah di bangun oleh para pendiri bangsa (sejak tahun 1925 ; satu nusa, satu bangsa, satu bahasa ) kita jadi rusak berantakan!, Ya Indonesia tidak , ya Inggris tidak.Kasihan bahasaku.

    Salam

    Alfie

    Salam

    Alfie

  37. Tapi … di sisi lain, bahasa Indonesia juga bisa dianggap merusak bahasa daerah yang sudah dibangun berabad-abad! Apa tidak kasihan juga dengan bahasa daerah?

  38. Salam kenal buat Bpk.Budi sekeluarga. Saya baru saja browsing wordpress, ehh pas pertama kali saya klik blog/cerita Budi seru juga ya. Banyak hal-hal baru yang baru saya ketahui melalui tulisan Bpk. Seperti “Belajar Bahasa Indonesia” dan “Salahkah Aku jika berbahasa Inggris” , aduhh saya jadi malu nih Pak, di Blog saya bahasa Indonesia saya suka kecampur2, kadang menggunakan bahasa Manado (ini bahasa bukan ya hehe),bahasa Inggris (yg masih blepotan) dan bahasa Belanda (karena pernah tinggal di Belanda,sekarang tinggal di Belgia di perbatasan Belanda yang menggunakan bahasa Belanda juga), menurut saya, tidak salah kock Bapak/keluarga Bapak/Anak2 menggunakan bahasa Inggris walaupun wong Indonesia tulen, kalo keadaan harus begitu, contoh saja saya, saya selalu berbicara dengan kedua anak2 saya bahasa Indonesia, sedangkan dengan Bapaknya anak2 bahasa Belanda, padahal anak saya (yg tertua hampir 3 thn, yg bungsu masih baby 9 bulan) sering bertemunya dengan saya, tetapi saya heran kenapa setiap saya bertanya dan berbicara dalam bahasa Indonesia, dia enggan membalas dengan bahasa Indonesia? (sebel deh hihihi).. Malahan dia lebih senang dengan bahasa Belanda (phhhh payah), karena seperti cerita Bapak Budi diatas, Anak-anak Bapak lahir dan besar di Canada, otomatis dalam sehari-hari kebanyakkan mereka membaca, mendengar, berbicara bahasa Inggris… Nah begitu juga sebaliknya anak2 saya…Jadi ngga salah deh Bpk Budi dan keluarga berbahsa Inggris, bukan berarti untuk pamer atau sok2an…

    Salam,

    Keluarga van Westen – Parengkuan
    Love and Peace
    http://vvv_1610.blogs.friendster.com/vs_blog/

    Ps. Bpk sorry ya (upss salah) maaf ya bahasa Indonesia kurang bagus…

  39. Halo “V”. Salam kenal kembali.

    Untuk anak-anak, sekembalinya ke Indonesia, mereka dengan cepat berubah. Dalam waktu tidak berapa lama (bulan?), mereka sudah menggunakan bahasa Indonesia dalam kegiatan sehari-hari. Ketika saya tanya kenapa tidak menggunakan bahasa Inggris, mereka menjawab malu (dan mungkin takut dianggap sok). Ketika saya pancing dengan bahasa Inggris, jawaban mereka dalam bahasa Indonesia. Ha ha ha. Oh, well.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s