Matematika dan Orang Teknik

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan mahasiswa wali saya dalam proses perwalian. Saya lihat ada banyak mahasiswa saya yang kesulitan dalam kuliah Rangkaian Elektrik. Banyak mahasiswa saya yang tidak lulus dan harus mengulang. Hmm… apa penyebabnya? Tadinya saya berpikiran bahwa dosennya yang nggak bener kalau banyak mahasiswa yang tidak lulus ini. Saya tanya siapa dosennya, ternyata dosennya berlainan. Berarti bukan dosennya. Saya lihat mahasiswa lain, yang bukan wali saya, ternyata mengalami masalah yang sama. Hmm … apa mungkin memang materinya terlalu sukar, buku referensinya kurang baik, pendekatannya kurang baik, atau apa. (Nanti naik ke semester berikutnya ada masalah dengan kuliah Elka atau sejenisnya.)

Rangkaian Elektrik merupakan salah satu kuliah dasar dari Teknik Elektro. Di dalamnya diajarkan Matematika yang merupakan basis dari berbagai analisis rangkaian. Apakah ini masalahnya, yaitu penguasaan Matematik?

Beberapa hari kemudian ada mahasiswa saya datang. Dia minta saran memilih opsi (dahulu subjur) yang mana, yang paling sedikit matematikanya. Dia merasa tidak mampu dengan matematika yang ada dalam kuliah. Aduh. Yang mana ya? (Bagusnya adalah dia terus terang dan tidak dipendam sendiri sehingga menjadi masalah di kemudian hari.)

Itu fakta pertama. Fakta kedua: saya mendapat SMS dari seorang kawan yang keponakannya membutuhkan tutor untuk kuliah Matematika dan Fisika. Keponakannya baru di tingkat pertama perguruan tinggi (kebetulan juga ITB). Saya tidak mempermasalahkan tutornya. Yang saya lihat adalah adanya kebutuhan untuk lebih mengerti soal matematika. (Bagian dari Fisika yang tidak dimengerti, dugaan saya, adalah rumus Matematikanya.)

Kemarin saya membaca sebuah artikel di majalah IEEE Spectrum, edisi September 2007. Artikel ditulis oleh Robert W. Lucky dengan judul “Math Blues“. Dia bercerita bahwa semakin tinggi karirnya, ternyata dia semakin jarang menggunakan Matematika yang dulu dia pelajari. Ada rasa sedih dan nostalgia mengenang pelajaran yang sarat rumus matematika. Teringat olehnya persamaan Maxwell. (Ha ha ha, sama seperti saya. Sampai sekarang saya masih tidak mengerti makna dari persamaan Maxwell dan Schrรถdinger. Silahkan lihat Wikipedia untuk melihat rumusnya. gedubrak!)

Orang Teknik (engineers – apa terjemahan yang pas untuk engineers ya?) sangat membutuhkan matematik dalam kehidupan profesionalnya. Sayangnya seringkali kami tersandung dengan pemahaman matematika. Artikel IEEE Spectrum tersebut menyebutkan bilangan imajiner sebagai contoh. Terus terang kami tidak mengerti mengapa ada bilangan imajiner tersebut (mengapa disebut imajiner?), akan tetapi kami tahu cara memanfaatkanya dalam beberapa rumus untuk analisa rangkaian atau sinyal.

Selain artikel tersebut, saya juga sempat membaca tulisan Bob Colwell di IEEE Computer tentang hal yang sama – bilangan imajiner. (Bob Colwell adalah salah satu desainer prosesor Intel, mulai dari yang lama sampai ke Pentium.) Jadi sudah dua orang engineers yang punya pengalaman yang sama. Tambah dengan saya, jadi tiga orang. ha ha ha. Apa makna akar kuadrat dari bilangan negatif ya? Pada prinsipnya orang teknik dapat menggunakan rumus yang sebetulnya dia tidak mengerti – seperti bilangan imajiner itu – tapi bisa digunakan. It works! That’s all that counts. Itu yang penting. Dia bisa memecahkan masalah yang dihadapi.

Kembali ke masalah utamanya adalah memahami matematika selepas SMA.

Saya juga mengalami hal yang sama. Ketika SMA saya menyukai matematika dan merasa cukup pandai. Setelah masuk ke ITB, ternyata matematika saya berantakan. Entah karena sebetulnya matematika saya tidak kuat atau karena cara pengajarannya atau karena memang matematika yang diajarkan sudah berupa “binatang yang berbeda” dengan yang diajarkan di SMA. Hasilnya adalah saya muak terhadap matematika. Apalagi kemudian saya harus berhadapan dengan Maxwell equation dan Schrรถdinger. Uhuk uhuk uhuk … muntah-muntah.

Saya baru bisa mulai mengapresiasi matematika (seperti ketika di SMA) ketika mengambil S3. Wah, sudah terlambat. Sayang sekali. Ada tahunan waktu yang hilang. Apalagi ditambah dengan berubahnya profesi saya, yang seperti artikel IEEE Spectrum tersebut, mulai meninggalkan matematika.

Bagaimana mengatasi masalah ini ya? Ada beberapa ide seperti di bawah ini.

  • Adakan kuliah khusus: matematika untuk orang teknik, tetapi dengan pendekatan yang berbeda, yaitu pendekatan kepraktisan. Misalnya, mungkin jika kami lebih mengerti manfaat penggunaan bilangan imajiner (dalam perhitungan rangkaian dan sinyal, misalnya) kami bisa lebih memahami maknanya dan memberi apresiasi.
  • Memberikan tutorial yang khusus. Jadi ada kelas terbuka, tambahan, yang bukan menjadi bagian dari kuliah resmi. Ini merupakan media antara orang (mahasiswa) matematik dan orang (mahasiswa) teknik untuk berkomunikasi.
  • Menjelaskan keindahan matematika sehingga ada ketertarikan untuk mempelajarinya, atau sekedar mengetahuinya.

Anda punya ide lain? Tolong. Mahasiswa saya membutuhkan bantuan Anda sekalian. Wahai math wizards, cipratkan sedikit ilmumu kepada kami.

Iklan

49 pemikiran pada “Matematika dan Orang Teknik

  1. saya dulu RE juga ngulang pak. pertama ambil dapet dosen baiik hati malah gak lulus, ngulang dapet dosen yang strict dalam penilaian, malah lulus… aneh …

    kayaknya para mahasiswa bapak perlu lebih sering belajar bersama bersama teman-temannya yang lebih jago, dan ingatkan jangan terlalu terpaku dengan contoh soal (baik dari buku maupun contoh soal ujian sebelumnya). ingatkan juga kalau di tingkat atas masih ada kuliah yang jauh lebih sukar, pengolahan sinyal dijital misalnya, atau antena (…hhmmm…)

  2. Apa benar kuliah Kalkulus di TPB ITB berbeda dengan SMA? Soal materi bisa jadi berbeda. Namun ternyata kelihatannya soal mengajarkannya di kelas hanya sedikit berbeda. Entah bagaimana kuliah kalkulus menjadi “the killer subject” (!). Saya bukan orang Astronomi, namun saya pernah mendapatkan fakta bahwa mahasiswa Astronomi banyak yang sedikit lulus kuliah matematika di tingkat III, dimana kuliah itu adalah kuliah jurusan MA. Padahal, saya tahu persis dosen-dosen di Astronomi mempunyai pengetahuan matematika yang tinggi (advance).

    Jadi, “back to square one”, masalah delivery. Saya suka filem “Stand and Delivery” seorang Guru yang bernama Escalante yang mampu membuat anak-anak berandalan menjadi hebat matematikanya !

    See You,
    WK

  3. Engineering -> rekayasa ๐Ÿ™‚

    Saya pikir saya saja yang ‘ngawur’, pak. Ternyata saya tidak sendirian hehehe…
    Begitu menikah dengan lulusan Matematika, saya mendapati diri saya mengerti matematika dengan cara dan pemikiran yang sama sekali lain. Apresiasinyapun jauh berbeda.

    Seperti pak Budi bilang, tak ambil pusing itu rumus datang dari mana, artinya apa dan asal mulanya bagaimana, kalau tahu kapan memakainya dan ‘it works’ ya sudahlah. Ngapain pusing. Yang ada saya jadi dikritik tajam oleh kalau sudah begini hahahaha… ‘dasar engineer’ wakwakwakwak…

  4. Pak Budi, permasalahan dari Rangkaian Elektrik (RE) bukan pada hitungan matematisnya..

    Waktu saya mengambil mata kuliah tersebut, saya sempat berkenalan dengan seorang senior yang sudah mengulang sebanyak 4 x (dan info terakhir, menjadi 5 x setelah semester berakhir)

    Hmm,menurut saya sebetulnya masalahnya ada pada konsep global yang absurd,bukan pada hitungan matematis.
    Terus terang belum lagi ditambah dosennya yang ‘horror’ .. *anti A dan meluluskan tidak sampai setengah dari penduduk kelas?? what the…*
    Ataukah mungkin mahasiswa ITB,khususnya elektro, yang semakin kurang pandai? *secara teman teman semua mendengarkan dengan tekun,tapi teuteup aja mayoritas tidak lulus..*

    ya mungkin pak Budi bersedia mengubah cara pengajaran berkaitan dengan mata kuliah tersebut? de rehash gitu pak.. :mrgreen:

  5. he..he..he..sama saya juga ngulang waktu kuliah rangkaian elektrik, dulu namanya teknik rangkaian kan?
    kayanya dulu pak Budi waktu ngajar Dasar Teknik Elektro juga gak pernah kasih materi itung2annya deh…saya masih ingat dulu yang ngajarin cara ngitungnya malah asistennya ๐Ÿ˜€

  6. Kalau indahnya matematika di RE atau RL [Rangkain Listrik] sebenarnya tak seindah di Eletrodinamika. Mengetahui yang di balik yang nampak [fenomena fisis/sosial] di mana aturan alam atau kejadian sosial bekerja [formula matematis] adalah hal paling menarik dalam matematis. Tanpa itu matematika buta.

  7. Saya senang RE, malah dulu ada triloginya, 1 to 3 ๐Ÿ™‚ dan juga ada sekuelnya yaitu DASELKA, ELKA1, ELKA2. Alhamdulillaah all passed at first attempt.

    Sayangnya sejak berkutat dgn dunia digital, trilogi dan sekuelnya ini amat jarang lagi tersentuh ๐Ÿ˜ฆ

    Alhasil otak ini makin jauh dari persamaan mumet, krn hanya berpikir 10 dan if/else/case saja. Namun tak perlu khawatir krn persamaan matematis dlm dunia nyata cukup mumet dibandingkan RE ๐Ÿ™‚

  8. perlu tuh pak, ada penjelasan tentang matematika dengan definisi yang lebih membuka wawasan (tanpa mencantumkan aksiom, lemma, theorem, dan proof **&^%!) ๐Ÿ˜€ supaya bisa jadi sumber inspirasi orang teknik (bukan hanya sebagai alat).

    mengutip salah satu buku yang pernah saya baca tentang pattern recognition (lupa)

    maybe math is not a convenient way to analyze a problem. but it certainly IS one way

  9. wah mas. kan MA 111 dan 112 utk kelompok teknik sudah di bedakan dgn yg kelompok MIPA (FI, AS, MA). pendekatannya sudah beda. di kelompok MIPA, matematiknya di tekankan penurunan dari dasar. logika sampai adanya dalili dan axioma. setahu saya di kelompok teknik lebih pada pengolahan dan penggunaan. setidaknya begitu waktu jaman gue duluโ„ข.
    Menurut saya, akar problemnya adalah pendidikan matematik yg kurang memadai di tingkat awal: SMP dan SMA. makanya pada babak belur di universitas. waktu saya membandingkan kurikulum di SMP dgn temen saya yg SMP di amerika, masih sama, tapi di SMA, sudah mulai jauh berbeda. mungkin konsep2 banyakan kita yg tau, tapi pengertian dia yg di US jauh lebih mengakar drpd kita disini. mungkin juga temen saya itu kategori jenius.

  10. bisa jadi seperti itu, biasanya matematik (dan peranakannya) di perkuliahan dasar itu diajarkan secara sains (scientific), bukan secara praktis/teknis (engineering) pada fakultas teknik.

    sehingga hasilnya beda.

  11. Hahaha.
    Aku:

    DTE : 2 kali kalo gak salah
    Medan 1: 2 kali ato 3 kali?
    Elka: 2 kali juga

    Semua tidak ada yang lulus dengan nilai lebih dari C.

    *mahasiswa pemalas*

  12. Bukan hanya pada mata kuliah tertentu atau pelajaran tertentu saja terjadi hal seperti ini. Kesimpulan saya, yang menjadi sumber masalah adalah “cara penyampaian” materi/ilmu. Sangat sedikit orang yang bisa menjelaskan sesuatu hal dengan cara yang tepat. Bahkan seorang dosen yang sudah mengajar puluhan tahun tidak ada jaminan memiliki kemampuan penyampaian materi/ilmu dengan sederhana dan bisa dipahami dengan benar. Bisa saja dia memiliki pengetahuan yang sangat mendalam pada sebuah ilmu, namun tidak punya keahlian dalam memberitahu pada orang lain. Tampaknya ini adalah sebuah “seni” yang jarang dimiliki orang.

  13. ternyata ‘aura jahat’ DTE (Diulang Tetep E ) blm sepenuhnya lenyap ya, padahal dah dibagi 2 mata kuliah (CMIIW). Kalo menurut saya sih ngulang sekali dua kali di tingkat 2 ga pa pa lah, dari pada keteteran di tingkat yg lebih atas krn ilmu dasarnya kurang. Logikanya kalo matematika utk RE yg masih sederhana aja msh blm menguasai, bgmn mau ke matakuliah dengan matematika yg lebih rumit, macam Medan I & II, Elka, DSP, Elektronika komunikasi (matematika bilangan kompleks semua isinya) atau antena propagasi.
    Pengalaman dulu, Matematika Teknik I dan II diajarkan matematikanya saja, kurang (lbh tepatnya tanpa) pendekatan tekniknya. dan menurut dosen saya waktu itu, memang begitulah permintaan dari departemen(wakss….masih jaman ya departemen), kasih saja matematikanya, aplikasinya urusan kami. Walhasil, solusi teknis dengan jalan matematikanya dapat, tp kenapa begini kenapa begitu matematikanya, meneketehe.
    Sampai sekarang saya masih ga ngerti juga masalah Curl (pusaran, del x F, utk persamaan maxwell bentuk diferensial), matematika lbh aneh DSP.
    Solusi utk yg baru tingkat 1 atau 2 ngeluh soal matematika, ngikut kata ‘rajawali’ Pak Iyas, masih ada kesempatan ikut SPMB lg :P, peace yo!!! Tp klo msh mo kerja keras di elektro, jgn gengsi utk nanya dan belajar dr temen yg lbh menguasai (bisa krn cerdas, bisa jg krn lbh bekerja keras), bisa jadi gengsi utk bertanya krn dulu mereka adlh yg tempat bertanya di SMA , inilah penyebabnya, biar ga ngerti asal gaya, peace lg yo!! Belajar dengan teman itu simbiosis mutualisme, yg belajar lebh nyaman bertanya krn hubungan yg lbh santai, yang mengajari juga makin menguasai ilmunya, dapat pahala pula, Insya Allah ๐Ÿ™‚

  14. Kuncinya :
    1. Banyak latihan
    2. Kerjain PR yang bener. Ini kebiasaan buruk kalau pas mau dikumpulin suka nyontek temen
    3. Belajar bareng ama temen yang lebih jago terutama pas ngerjain PR dan pas mau ujian. Kerasa sekali manfaatnya.
    4. Jangan banyak maen internet di lab.
    5. Setelah langkah 1 s.d 4 dilakukan. Berdoa dan pasrah.

    minimal B dapet.

  15. Hallo Pak Budi urun rembug boleh ya …

    topiknya sangat menarik untuk diangkat. Contoh praktis penggunaan (dan makna) dari bilangan imajiner memang tidak mudah. Tetapi, dengan tafsiran tak langsung, sebenarnya ada beberapa perangkat elektronika yang memakainya, misalnya I/Q demodulator yang terdapat di berbagai modem dan perangkat pencitra medis MRI. Disamping itu, dalam kawasan Fourier, hampir semua sinyal bernilai kompleks.

    Kalau boleh menambahkan lagi, ada hal yng tidak kalah “imajiner”-nya yang selama ini kita pakai. Akhir-2 ini baru disadari kalau berbagai teknik kompresi data , mis. JPEG, bekerja berdasarkan “prinsip ketidakpastian”. Surprise kan ya …? Kapan-2 saya ingin diskusi dng civitas STEI mengenai hal ini, tapi ingin memperdalam dulu teknik presentasi yng baik dari Pak Budi ๐Ÿ™‚

    Tks–andriyan

  16. Betul pak Andriyan. Mungkin dengan visualisasi, pemahaman tentang pentingnya bilangan imajiner bisa terbantu. Saya sendiri memahami apa manfaat transformasi Fourier lama setelah selesai kuliahnya. Baru ngeh. Sementara masih banyak rumus matematika lainnya yang sampai sekarang masih banyak tabir rahasianya.

    Kapan diskusi mengenai JPEG-nya pak? Mengenai teknik presentasi, kan harus sering praktek. Jadi sekalian praktek pak. he he he. Ditunggu.

  17. Pak Budi, saya rasa semua mahasiswa EL, MS dan MT mendapat kuliah Matematika Teknik I dan II, yang memang khusus untuk orang teknik. Mengenai bilangan imajiner, saya rasa pengajar kuliah tersebut, termasuk saya setahun yang lalu, sudah memberikan background darimana munculnya bilangan imajiner i. Orang science mungkin lebih menerima bilangan imajiner daripada orang teknik karena kami kadang hanya membayangkan, misalnya vektor berdimensi n >3 yang tidak dapat divisualisasikan lagi.

  18. Apakah ada detail kesulitan yang dialami mahasiswa dalam kuliah Rangkaian Elektrik ? Apakah kesulitan memodelkan permasalahan engineering ke dalam model matematis ? Ataukah kesulitan menyelesaikan model yang didapat ? Pengalaman saya dulu, belajar Rangkaian Elektrik memang sempat ‘geger budaya’, nggak biasa dengan pemodelan rangkaian listrik.

  19. Bu Novriana, tentang permasalahan matematik ini bukan hanya masalah di ITB semata. Lihat saja kutipan saya (dari majalah IEEE tersebut) adalah dari dua orang di negara Amerika. Mereka ternyata punya permasalahan yang sama. Jangan-jangan ini masalah global ๐Ÿ™‚

    Soal bilangan imajiner, itu hanya sekedar contoh. Yang lagi-lagi anehnya kok dipakai sebagai contoh juga oleh orang-orang tersebut.

    Kalau soal menghayal, mestinya orang teknik lebih jagoan. Itulah sebabnya banyak yang tertidur di kelas. he he he. Guyon saja. (Kepada mahasiswa saya: ayo bangun!)

  20. Misalkan, ada dua cara mempelajari matematika yaitu secara soft dan secara hard.
    Mempelajari secara soft artinya: mempelajari dengan memilih-milih berdasarkan fungsi praktisnya. Sifatnya pragmatis. Yang diperlukan dalam praktek, ya dipelajari. Hal-hal yang lebih dasar (pembuktian teorema) tidak perlu dipelajari.
    Trus, mempelajari matematik secara hard artinya: mempelajari dengan menambah fokus pada kekokohan bangunan matematiknya. Jadi harus mempelajari pembuktian teorema. Namun cara ini tetap tidak boleh meninggalkan alasan kepraktisan matematika tersebut.

    Dalam batas tertentu, engineer cukup mempelajari matematika secara soft dan umumnya hal ini digunakan jika metodologi dan tool (algoritma, perangkat) yang dipergunakan sudah jelas. Untuk aktifitas engineering yang membutuhkan pengembangan metodologidan tool, seringkali dibutuhkan pemahaman matematika secara hard.

    Menurut saya, baik secara hard maupun soft, mempelajari matematika harus bermula dari pijakan yang konkret kemudian secara bertahap melangkah ke yg lebih abstrak, yg seperti ini lebih alami bagi proses belajar manusia.
    Misal tentang sinyal, sebaiknya menempuh tahap berikut:
    1. Contoh-contoh sinyal
    2. Definisi sinyal
    2. Jenis-jenis sinyal dengan melihat contoh2 tersebut dan merefer dalam definisi. Tahap ini harus tetap terbuka terhadap kemungkinan adanya contoh sinyal yang tidak tercakup dalam definisi.
    3. Representasi grafis sinyal.
    4. Representasi matematis sinyal: y=sin(t)
    5. Menggambarkan secara grafis bahwa sebuah sinyal dapat dibentuk dari penjumlahan sinyal-sinyal yang lain.
    6. Berlanjut ke kajian matematis: sebuah sinyal dapat direpresentasikan sebagai superposisi sinyal sinusoid yng memiliki frekuensi2 tertentu.
    7. Penjelasan kegunaan praktis no. 6.
    8. Baru bisa lebih abstrak lagi: deret fourier
    dst.
    .

  21. Menarik!

    Ternyata orang teknik juga ingin tahu makna dibalik “rumus-rumus” matematika yang indah itu ya? ๐Ÿ˜€ Saya pikir mereka tak mau ambil pusing… ๐Ÿ˜€ (padahal kalau mengerti maknanya, pemahaman akan aplikasinya harusnya lebih baik. Jadinya, tidak cuma make, tapi juga menggunakan secara bermakna).

    Tentang pengajaran (pembelajaran) matematika untuk orang teknik, sebaiknya diajar oleh orang teknik yang mengerti makna matematika yang dipakainya itu. Sehingga selain mengerti keterpakaian, juga mengerti maknanya. (Jadi perlu pengajar seorang engineers yang mengerti matemaika. Atau matematikawan yang mengerti ke-enggineer-an…. Bukan matematikawan murni (tok). Sehingga secara sekaligus, matematika dan keindahannya terjelaskan, juga aspek praktisnya diperoleh pula…).
    ๐Ÿ˜€

  22. sama pak! saya juga baru bisa mengapresiasi math stlh masuk s3 (setelah mulai mengenal kripto tepatnya). jadinya skarang sering sit-in di math dept dan berteman dgn para “math wizard” dsana, siapa tau ketularan ๐Ÿ˜‰

  23. Pak Budi, ikut nimbrung ya….
    Jaman saya kuliah Tek. Elektro (UKSW) dulu, matkul RL sepertinya hanya lewat – asal lulus – saja. Yang penting bisa memilih rumus yang benar, ngitungnya bener, ngga ngerti lagi apa ada seni matematikanya atau tidak. Dulu saya merasa matkul Kalkulus I-IV kok kayaknya ngga nyambung ama matkul Rangkaian Elektronik/DTE/elektronika lainnya. Kalkulus III yang penuh integral rasanya menjadi momok buat saya.

    Di matkul Matematika Teknik I dan II, barulah saya agak ‘ngeh’ bahwa rumus matematika itu ada seninya, ada asal-usulnya, engga ‘mak bedunduk’ muncul di buku teks. Dosen Mat.Teknik saya, Prof. Dr. Liek Wilardjo yg ‘memaksa’ kami untuk menguraikan asal-usul sebuah rumus. Ujian selalu kondisi buku-terbuka, soal ujian hanya 1 atau 2 buah, esai. Satu-satunya dosen yang membuat kami membawa setumpuk buku namun tetap kesulitan memahami arah pertanyaan beliau dan jawaban yang diinginkan, meskipun beliau berbaik hati menjelaskan pertanyaan soal ujiannya itu pada kami. ๐Ÿ˜€

    Tapi dari sini saya jadi mulai mengerti saling keterkaitan antar rumus matematika, fisika, gelombang mikro, dsb. Maths is the heart of everything in electronics engineering. Meskipun akhirnya sampai sekarang saya sudah ‘meninggalkan’ matematika lagi, tercebur ke dunia TI, dimana saya hanya menggunakan matematika sederhana utk aplikasi2 FICO dan sejenisnya.

  24. Waktu kuliah di EL ITB, ada teman saya yang lulus RL dengan nilai A tanpa tahu sama sekali bentuk transistor dan penggunaannya. Sementara saya habiskan waktu dua tahun untuk menemukan arti sesungguhnya kuliah-kuliah imajiner tersebut. Saya membangun pemancar radio, disitu saya belajar tentang sinyal. Saya merakit penguat, disitu saya belajar elka. Saya bikin rangkaian PSU, disitu saya belajar trafo. Dan ilmu praktis saya itu berasa jauh lebih berguna daripada kuliah yang cuman dapet C atau D ๐Ÿ˜€

    Saya rasa yang sangat kurang di kuliah EL ITB adalah filosofi dan penggunaan. Jadi harusnya sebelum kuliah itu ada cerita, ini lho… nanti kamu di dunia nyata bakal ketemu peralatan atau problem untuk bikin ini atau itu, atau mengatur ini dan itu. Nah untuk bisa bikin ini itu, mengatur ini itu, kamu harus tau apa inputnya dan apa outputnya. Untuk memroses input jadi output dibutuhkan sistem seperti itu, nah untuk menghitung sistem itu kita akan belajar bersama di semester ini. That’s all.

    Dan akhirnya, saya dapat nilai A dan B di kuliah-kuliah yang lebih membumi untuk saya, yang saya tahu apa gunanya, sementara kuliah imajiner-imajiner tadi jadi catatan jelek di raport IP saya :D… sampai sekarang…

    Dan sekarang, setelah lulus, saya rasa saya lebih menguasai ilmu subjur-subjur lain daripada teman-teman saya yang dulu belajar di subjur tersebut ๐Ÿ˜€

  25. Saya sendiri alumni EL, tetapi sekarang ambil Master bidang Matematika (more an applied one).. Sebenernya masalah ini cukup klasik dan terjadi diberbagai tempat. Saya seringkali didatangi sesama grad student dari engineering untuk bertanya masalah Matematika. Menurut saya pribadi salah satu solusi yang bisa diterapkan adalah dari sisi yg memberi ilmu (pengajar). Merangkum dari berbagai ide diatas yang garis besar tentang presentasi materi,salah satu cara mengatasi adalah mencari seorang komunikator yg baik.
    Harus saya akui tidak semua prof Matematika itu hebat dalam memberikan kuliah (some even quite strange), so mencari/memilih Prof yang bisa memberi kuliah yg lebih hidup bisa dijadikan salah satu opsi (or train them-tp ini lbh tugas Dept Matematika).

    Regards,
    Johan

  26. Baru2 ini saya mendapat pengalaman membantu mengajar Fisika untuk SMA di Sekolah Indonesia Bangkok (SIB), yang kemudian berkembang menjadi Matematika juga untuk SMP. Walau pun hanya membantu, prakteknya jadi terlibat penuh mengajar hampir 1,5 tahun.

    Pelajar SIB adalah tipikal pelajar Indonesia juga, karena kurikulumnya sama dengan yang di Indonesia.

    Satu hal yang saya tangkap adalah, ternyata pelajar kita MALAS. Malas untuk membaca, malas untuk menyimak, malas untuk mengasah otak, malas untuk bersusah2. Semuanya ingin serba instan.

    Saat lagi sekolah sekarang ini, beberapa teman2 S2 dan S3 ada meminta bantuan untuk diterangkan sesuatu yang kebetulan bidangnya sama dengan yang saya pelajari. Hal yang tertangkap dari pertanyaan2 mereka ternyata mereka tetap MALAS. Malas membaca, malas mencari tahu, malas menyimak dan malas bersusah2. Semuanya tetap ingin instan.

    Banyak pertanyaan yang sebenarnya bisa dijawab sendiri asal mau duduk sebentar dan baca.

    Jadi masalahnya bukan pada matematikanya, tapi pada sifat mahasiswanya. MALAS….

    Sony

  27. Memang Benar Sekali Ada masih bnyk rahasia ttg Matematika .
    Tetapi sebenarnya benar sekali Anak Elektro harus kuat matematikanya, jadi kalau memang si anak mengeluh tidak kuat karena Matematika kurang, saya sarankan anaknya untuk banting setir aja ambil jurusan yang lain, atau ambil subjur Telecommunication yang menurut saya mungkin Matematikanya lebih terjangkau dari subjur yang lain.

    Karena ternyata kadang kita bisa saja sebenarnya anaknya memang sudah salah jurusan, jadi mau dipaksakan juga ga akan bagus hasilnya.

  28. Matematika TPB (TK 82) saya rasa waktu itu sulit sekali untuk dimengerti, dan terbukti nilai saya sering hanya dapat nilai 15 – 40 (skala 100)..tapi banyak juga yang dapat 90 – 98. Namun waktu ‘matematika teknik’ di jurusan rasanya lebih mudah dimengerti dan aplikatif untuk menghitung, dan materi matematika yang diajarkan di TPB tidak pernah lagi sampai lulus. Pertanyaannya…apakah mahasiswa semua jurusan harus mendapat materi matematika (TPB) yang sama.

  29. matematika??

    ga parah-parah amat sih nilai2 matematika dan fisika saya dulu waktu di kampus..

    cuma itu, memang perlu lebih membumi kali yaa? seperti
    penjelasan integral jaman sma yg hanya menghafal rumus sampai saya ketemu penjelasan integral riemann..

    kayanya pas tpb harus dikuatin deh konsep dari rumus2 yg dihapal jaman smu..

  30. Saya juga alumni Teknik Elektronika dengan nilai Math/Calculus yang amburadul… namun disadari atau tidak, math/calcs itu adalah bahasa buat orang teknik/ilmu alam, karena dari situlah kita bisa memodelkan alam ini pake logika dan bukan hanya naluri/perasaan saja. Seorang ilmuwan (scientist) akan menggunakan matematika untuk merunut/menerangkan bagaimana elektron bisa bergerak dalam semiconductor, sedangkan insinyur (engineer) akan menggunakan matematika untuk memahami (dan kemudian menerapkannya) bagaimana lapisan-lapisan semiconductor yang ditumpuk-tumpuk ini menjadi sebuah transistor, dst.
    Ahli fisika, ahli kimia, ahli elektronika, ahli biologi, ahli ekonomi, dst, semuanya punya satu bahasa universal, yaitu : Math/Calculus.
    Untuk orang-orang terapan, mungkin math/calc tidak menjadi sesuatu yang terlalu penting diketahui, tapi pada suatu titik, dia pasti akan tetap menggunakan bahasa ruwet ini, karena ilmu alam itu ilmu yang menggunakan hukum dan alam itu adalah sesuatu yang mentaati hukum…
    Kenapa matematika penting? karena math/calcs adalah bahasa… bagaimana anda menjelaskan kepada seseorang jika anda tidak memahami/mengetahui bahasa yang digunakannya. Begitu pula sebaliknya bagaimana anda memahami apa yang disampaikan seseorang jika anda tidak mengetahui/memahami bahasanya?

  31. nice article pak budi..just sharing memory..

    saya eks mahasiswa mesin penerbangan–juga bergelut dengan matematika pas kuliah–paling jelimet klo bahas ilmu aerodinamika dan tetek bengek matematiknya–saya ingat ada persamaan fluida yang integralnya sampai tiga [jadi ular-nya banyak banget]–ampe saya tidak ngerti lagi apa arti fisiknya persamaan tsb..

    pernah kita 2x [mhswa cuma 10 org] pas kuliah disuruh menurunkan persamaan hingga didapatkan persamaan bernoulli yg terkenal itu oleh prof oetarjo diran [mbah-nya ilmu aerodinamika indonesia]–dan semuanya tidak ada yg bisa..alhasil..dua jam kuliah cuma bahas persamaan itu tok..buang2 waktu..huahaha..diakhir kuliah kita baru tahu, bahwa persamaan itu ternyata yg bisa menyebabkan pesawat bisa terbang..saya lulus juga mata kuliah itu tapi dng susah payah..hehe..

    tp yg membuat saya bangga sebetulnya adalah ketika saya bekerja di bidang finance [saya bekerja di perbankan]–yg juga mengenal matematika keuangan..saya sedikitpun tidak merasa jiper dan mrs kagok dng matematika keuangan… ….soalnya… saya udah pernah bertemu dengan matematika dalam bentuknya yg paling mengerikan…huahaha…

    jadi saya pikir matematika selain melatih logika deduktif kita ternyata berperan banyak dalam self development terutama menambah kepercayaan diri seseorang…huahaha lagi..

    mudah2an bisa dishare ke mahasiswa pk budi…

    keep your spirit strong pk Budi…

  32. Numpang masuk… boleh khan??!!
    Pak Budi.. Berhubungan dengan Matematika juga nih…
    Apakah Bpk punya materi mengenai Algoritma Knapsack Merkle-Hellman? Jika punya, apa bpk bs kirim ke e-mailku (day_math@yahoo.co.id), aku butuh untuk bahan skripsi, Soalnya, aku cari di internet yang ada malah make bahasa Jerman….. (Mene ene bese tehe…… alias kaga’ ngarti) Aku dr Jur. Matematika FMIPA Uncen, mau ngambil penerapan matematika ke dlm Kriptografi getoh… (diusulin ma dosenku)
    Atau bpk punya saran maupun tips untuk saya…..
    Thanks B4……

  33. Pak Budi mohon bimbingan dari bapak. Saya mau ikut Diklat DIII Teknik Radio 29 oktober 2007 di ATKP Medan-Sumut, saya lemah di matematika sebab dulu dari STM Elektronika, matematikanya beda ama anak SMU. Tolong bantuan pak budi dari mana saya harus memulai, dan buku apa yg harus saya baca. Kalau di internet ada gak situs yg bisa di kunjungi untuk matematikanya.
    Tolong balas ke e-mail saya ya..pak.
    E-mail : ris_7276@plasa.com

    Terimaksih Pak Budi

    Rinaldi Saputra
    Medan

  34. Saya alumni EL ITB, dulu saya termasuk mahasiswa yang sering ngulang, RL, Elka, Medan, Probstat. Lama kelamaan jadi terbiasa sekelas dengan adik angkatan :-)…
    Ada yang dapet C tak biarin aja, ada yang kuulang lagi dan akhirnya dapet A/B.
    Dulu sempat ‘minder’ juga, apakah otakku sudah bodoh ??
    Tapi sekarang kalo inget masa2 itu, jadi tertawa hahaha… masa2 yg indah…
    Sekarang ini pkerjaanku sama sekali gak berhubungan dengan matematik yg rumit, ada itung2an tapi dengan gampang diitung pakai Excel.
    Setelah sekian lama… ada kerinduan diwaktu2 senggang saya baca2 lagi mata kuliah itu.
    Saya beli buku2 terbitan Schaum Outline Series untuk sekedar refreshing…
    Asyik juga bacanya….gak was2 diburu ujian..
    Gak was2 nilai jeblok :-)…
    Salut buat dosen2ku di ITB..

  35. Saya anak Teknik Elektronika UNY, saya mengalami kesulitan pada mata kuliah Matematika dan Rangkaian Listrik (walaupun baru semester 1) mungkin saya adalah mahasiswa yang terbodoh di kelas, tapi semoga saja tidak.
    saya cari materi-materi matematika diinternet kok susah ya? habis materi yang diberikan sama dosen saya sulit dipahami sih. ada tidak web yang memberikan penjelasan tentang matematika dengan jelas?

  36. Saya Mahasiswa MIPA fisika UNLAM, sebenarnya teknik elektro pada dasarnya sama dengan bidang yang saya geluti yakni Instrumentasi. Di analisis rangkaian ternyata memang membutuhkan kepekaan matematika. Nah untungnya saya sudah memiliki basic matematika dan penalaran yang sudah lumayan. Jadi tidak terlalu sulit dengan matematik.
    Kuncinya : Kita rajin-rajin latihan mengerjain soal maatematiknya dan yang penting mengerti konsep dasar matematik misalnya bilangan imajiner (dalam teknik di lambangkan “j”) adalah akar dari min 1. Terus juga kepekaan kita terhadap nalar, nah kalo ini sedikit berpikir pada kehidyupan nyata. kalo mo latihannya kayaknya harus belajar fisika.
    Dan yang pasti dasar dari semuanya jangan mengaanggap pelajaran itu sulit, karena ini berhubungan dengan motivasi.
    So… Mahasiswa jangan nyerah dalam belajar dan organisasi ya !!!

    HIDUP MAHASISWA!!!

  37. Sy mahasiswa elektro UKSW 2007
    Sy rasa pelajaran yg paling susah di elektro adalah matematika & fisika.

  38. waduh kalau sampai topik kaya gini pada berat ya…Aku cuma kuliah di jurusan pendidikan fisika, walau banyaknya dapat ilmu buat mengajar tapi kalau materi kaya persamaan maxwell sama schrodinger tau dikit…Palingan ilmu yang aku pahami guma sampe fisika klasik aj…Kalo mau liat aku lagi nulis tentang fisika di budakfisika.blogspot.com

  39. Wah biarpun udh lama topikny saya mau nimbrung ah pa’ ya….he..he
    Menurut saya memang menurut saya sih kesulitan terletak pada fokus pembelajaran dari teknik elektro itu sendiri yang terlalu mendekatkan sesuatu dengan angka..]
    sebagai contoh sebagai praktisi elektronik saya ingin mengetahui sebuah kabel putus ato ga cuman pake tester dan yang diliat apkah jarum menyimpang full ato kaga dan lucunya saya tidak melihat angkanya berapa..( definisi matematisnya kabel putus itu emang R=0)
    contoh lain adl mengukur tegangan arus dan resistansi secara langsung dengan tester.. jadi kesimpulan saya matematika membuat suatu hubungan antar besaran tertentu dengan formula. Singkatnya mencari sebuah besaran secara tidak langsung..
    Dan Inilah yang menyebabkan berkembangnya teknik pemecahan formula/ riumus…dan teknik menciptakn model matematik dari fenomena alam( dari aljabar sampai kalkulus) he..he..he

  40. entahlah, kadang2 saya tidak bisa mensinkronkan antara math dan ilmu di jurusan saya, terutama dalah hal, tujuannya… misal, graf di matematika itu dikejar sampe ujung dunia sifat2nya, eh di jurusan hanya kepake preambul-nya…
    beda engineer sama science mungkin di situ kali… dan kayaknya saya belum bisa jadi engineer (apalagi tukang jualan) yang baik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s