Situs Menarik – Desain Elegan

Kali ini blogwalking saya mengarah kepada hal-hal yang berhubungan dengan desain. Entah kenapa. Mungkin karena sedang membaca buku tentang typography. Aniwei, ketika berjalan saya menemukan blog slideshare.net. (Sebetulnya alamat ini muncul sebagai komentar di salah satu tulisan saya.)

Situs slideshare.net ini bisa digunakan untuk berbagi (share) materi presentasi. Saya sendiri belum mencoba memasukkan materi presentasi saya di sana. Alasannya sederhana, saya minder melihat desain slide-slide yang ada disana. Fantastik! Elegan! Lucu! Pokoknya seru. Senang sekali bisa melihat desain slide-slide yang bagus. Kok saya tidak bisa mendesain seperti itu ya? Mungkin karena bakat seni saya sangat terpendam sehingga sukar digali? Ha ha ha.

Silahkan menuju ke tempat kejadian, slideshare.net, dan berikan komentar Anda. Atau lebih bagus lagi kalau Anda bisa mendesainkan beberapa contoh materi presentasi untuk OpenOffice Impress.

Berikutnya yang menjadi tujuan dari blogwalking saya adalah beberapa situs di multiply.com yang menyediakan musik aneh-aneh. Yang saya maksud dengan musik aneh-aneh adalah lagu-lagu (progressive / classic) rock dari tahun 70-an. Ada beberapa situs, tetapi untuk masuk ke sana ternyata membutuhkan undangan (invitation). Setelah berhasil masuk, wah di sana ada “harta karun” (atau harta “harun” ya? he he he). Ada banyak lagu yang bisa diunduh.

Yang menarik bagi saya adalah orang-orang ini dengan tekun memasukkan lagu-lagu ke situsnya. Mereka tidak sekedar memasukkan lagu begitu saja, tetapi juga mengedit tag dari lagu tersebut sehingga ada judul lagunya, dan seterusnya. Lebih hebat lagi kadang ada juga yang memasukkan gambar sampul dari album tersebut.

Memang salah satu hal yang menarik dari album-album jaman dahulu adalah desain dari sampul (cover) albumnya. Kalau jaman sekarang sampul album hanya sekedar foto dari para pemain band atau artis yang bersangkutan. (Ya yang hanya foto artis juga banyak sih.) Kalau jaman dahulu ada sampul yang didesain dengan menarik. Saya ambil contoh sampul album Electric Light Orchestra (ELO) berikut ini, yaitu dari album Out of the Blue.

Perhatikan gambarnya. Di sana ada sebuah pesawat ruang angkasa (?) yang sedang docking di sebuah “piring terbang”. Saya suka desain dan warnya. Di bagian atas dari piring terbang tersebut ada logo ELO. Jadi sambil mendengarkan lagu-lagunya, kita bisa juga menghayal dengan melihat sampul albumnya. Kalau melihat gambar di atas, apa yang Anda bayangkan atau khayalkan?

Nah, ini merupakan tantangan dalam dunia musik digital saat ini dimana sampul album tidak terlalu dianggap lagi. Sekarang kan lagu langsung masuk pemutar MP3 yang hanya menampilkan judul lagu saja – atau bahkan nama berkasnya saja. Wah, sayang sekali ya. Ini yang harus kita ubah. (Hmmm … muncul ide bisnis. Dasar entrepreneur. he he he.)

Kalau contoh sampul album musik Indonesia yang bagus apa ya?

Apa seperti gambar di samping ini? Bwa ha ha ha … Dasar narsis sejati, ya? Tapi harus diakui fotonya bagus kan? Memang fotografernya – mas Julianto – sangat sakti dalam mengambil foto. Beda dengan saya yang asal jepret saja. Dia memperhatikan komposisinya. Saya suka dengan bayangan di lantai itu. (oh ya, foto ini diambil tengah malam – betulan! – mungkin malah sudah dekat jam 1 pagi di gedung Cyber.) Biasanya sih dia memotret cewek, jarang memotret cowok. hi hi hi.

Satu keluhan … blogwalking seperti ini membutuhkan bandwidth yang besar – sedih. Maklum, masih fakir bandwidth

Iklan

34 pemikiran pada “Situs Menarik – Desain Elegan

  1. BR said:
    Nah, ini merupakan tantangan dalam dunia musik digital saat ini dimana sampul album tidak terlalu dianggap lagi. Sekarang kan lagu langsung masuk pemutar MP3 yang hanya menampilkan judul lagu saja – atau bahkan nama berkasnya saja. Wah, sayang sekali ya. Ini yang harus kita ubah. (Hmmm … muncul ide bisnis. Dasar entrepreneur. he he he.)

    -> Maksudnya Cover Art mas? Bukannya dah lama buanget, (unless your player is XMMS ato WinAMP), malah sekarang bukan udah jamannya malah COVER FLOW!

    http://www.apple.com/itunes/jukebox/coverflow.html

    Sekkeeem πŸ˜› *ngacirrrr

  2. Kebayakan MP3 player yang dipakai anak-anak adalah MP3 player buatan entah dari mana yang tampilannya hanya teks saja. Tentu saja mereka tidak menggunakan iTunes πŸ˜€

    Selain itu informasi mengenai siapa pembuat sampulnya, pemain biola, pemain tambahan, sound engineer, dan seterusnya itu umumnya tidak ada. Ini yang membuat ganjelan dari musik digital saat ini. Tentu saja saya bilang, biar pakai piringan hitam atau CD pun belum tentu informasi lengkap tersebut diperhatikan oleh pendengarnya. Kalau memang mau mencari informasi kan bisa menggunakan internet. Jawaban tersebut belum memuaskan, ternyata.

  3. Saya pun tidak memakai iTunes ataupun iPod, tapi pernah mencoba alat sejenis bernama Gremlin.
    Ya kalau file MP3 tersebut dari iTunes atau sumber sejenis/semodel dengan iTunes pasti ada cover-art nya dan ditampilkan oleh si Gremlin, tapi kalau download dari sembarang tempat (IRC, P2P sharing etc.) belum tentu ada cover-art nya.

  4. #starchie
    September 30th, 2007 at 4:39 pm

    Saya pun tidak memakai iTunes ataupun iPod, tapi pernah mencoba alat sejenis bernama Gremlin.
    Ya kalau file MP3 tersebut dari iTunes atau sumber sejenis/semodel dengan iTunes pasti ada cover-art nya dan ditampilkan oleh si Gremlin, tapi kalau download dari sembarang tempat (IRC, P2P sharing etc.) belum tentu ada cover-art nya.

    -> Toel boss, intinya lah konsepnya kan bukan konsep baru hehehehe… BR kebanyakan manggung kali jadi ga uptodate lagi πŸ˜€ hehehee kritik membangun mass… kritik πŸ˜€ kekekeke… seperti kata mas sendiri https://rahard.wordpress.com/2007/05/31/tidak-mau-dikritik/

    Mungkin ide awalnya mo bilang kalo Digital Beat Store mo nambahin cover art dijualan musiknya? πŸ˜€ makan-makan πŸ˜€

    Tambahan buat yg suka ngeP2P πŸ˜› … sebenarnya dari P2P juga kalo mau di albumin (dikasih Cover Art) juga gampang banget, asal ID3 Tag nya bener tinggal jalanin software-software kayak GimmeSomeTune langsung deh tuh kesedot Album Covernya malah sekalian dengan Lyricsnya.

  5. Saya paham konsepnya. Masalahnya bukan di saya akan tetapi di artis dan tim kreatifnya. Hal-hal yang saya ajukan itu mungkin tampak “gampang” dari sisi kita orang techie, tapi tidak bagi para artis.

    Saya harus lama berdiskusi tentang musik digital ini untuk meyakinkan bahwa this is the way to go. Inilah masa depan mereka. Kalau mereka tetap ngotot (misalnya tetap mau pakai piringan hitam atau kaset), mereka akan kehilangan kesempatan (dan hilang tidak dikenal).

    Nah, untuk itu saya harus mencoba memahami masalah dari kacamata mereka. Ternyata memang ada beda cara pandang sehingga penerimaan musik digital di para seniman masih terhambat. Untuk itu kita harus sabar dalam menjelaskan kepada mereka. Juragan batre pakai kacamata techie sih. hi hi hi.

    Mengenai tag yang bener … saya tidak tahu apakah para pembaca memang mencermati betul. Kalau saya, saya menghabiskan BANYAK WAKTU untuk utak atik itu tag. he he he. (Satu persatu saya edit.) Yang seperti ini membutuhkan kesabaran dan kesenangan (karena mungkin dianggap gila oleh banyak orang – he he he). But I do it anyway. he he he. Soalnya saya senang dengan melihat statistik, melihat top 100 lagu yang saya dengarkan, melihat top 10-nya orang lain, dan seterusnya. Untuk melakukan itu, tag harus bener.

    Jadi, jurangan batre, gampang itu belum tentu dilakukan. he he he. “Tinggal” nambahin. Ya itu dia, “tinggal”nya ditinggal. he he he.

  6. hehe, artistnya diajarkan pake iTunes aja Pak BR, kan sudah ada versi windows. tinggal ctrl-i (windows) atau cmd-i (mac) muncul dialog box buat mengedit tag secara manual. Di mac dipermudah dengan dashboard, cukup menginstall beberapa widget untuk dashboard seperti misalnya amazon art yg otomatis mencari cover art lagu yg sedang dimainkan di iTunes ke amazon dan mengupdate secara otomatis untuk seluruh album maupun hanya pada lagu2 yg di pilih saja.

  7. iya nih pak BR kurang uptodate.., kebanyakan manggung kali & pinter ngeles.. wakakakka

    terus menyoal piringan hitam.. penggemarnya masih ada kok pak BR. kalangan penggemar audio high-end malah lebih menjagokan piringan hitam dibanding CD, apalagi MP3, mereka alergi dengan MP3.. wakakak

  8. Seniman itu lain. Mereka memiliki pandangan yang berbeda. Misalnya, ada yang tidak mau lagunya dijual hanya 1 lagu; HARUS SATU ALBUM. Nah lho. Gimana tuh? Alasannya adalah albumnya merupakan satu kesatuan. Bayangkan kalau beli buku hanya beli bab3-nya saja, katanya. He he he. (Kalau saya sih gak papa.)

    Bagi kita-kita yang begitu nggak kebayang. Lha saya mau dengerin hanya lagu ketiga, emangnya kenapa. Kalau seniman, lebih baik nggak dijual daripada diketeng seperti itu. Dan … mereka niat bawa ke pengadilan kalau perlu!

    Coba deh perhatikan lagu-lagu yang Anda miliki. Berapa persen lagu Anda yang pakai cover art? Berapa persen yang mencantumkan nama produsernya. He he he. Yakin pada banyak yang nggak peduli. Bagi artis dan timnya ini penting karena membuat 1 lagu itu nggak hanya penyanyinya saja yang berperan.

    Just because you can does not mean you will (do) it. he he he. (Kebanyakan hanya bisa berteori. hi hi hi.)

  9. @eep, emang masih ada artis Indonesia yang rekaman pakai piringan hitam? he he he.

    Soal kualitas, saya juga termasuk yang percaya bahwa kualitas piringan hitam jauh lebih baik dari CD (apalagi MP3).

    (Koleksi piringan hitam saya udah nggak pernah dipakai lagi semenjak jarum pemutarnya patah. Dan sekarang koleksinya lagi mau “dipinjem” kawan. Katanya daripada nganggur, lebih baik dia yang merawat. Bener juga sih, tapi sayang.)

  10. Oh ya, soal pemutar MP3, saya pengen tahu jenis pemutar yang dipakai Anda-Anda. Saya sendiri sudah lama mengandalkan iTunes (di Mac dan Windows).

    Kalau di Linux masih pakai macam-macam (gonta-ganti, belum nemu yang pas). Kalau di jalan pakai iPod nano 2GB (yang rasanya sudah kadaluwarsa … he he he – harus upgrade nih).

  11. terakhir sebelum menggunakan ipod.., saya menggunakan ipod nano palesu luncuran cina.. hehe. judul lagu tetep muncul tuh.. ya ga tau kalau di player mp3 lainnya, 4 kali beli pemutar mp3 non apple, judul lagu (ID3 tag) nya selalu ada.

    btw.., rasanya inti persoalan bahasan macnoto adalah:

    Nah, ini merupakan tantangan dalam dunia musik digital saat ini dimana sampul album tidak terlalu dianggap lagi. Sekarang kan lagu langsung masuk pemutar MP3 yang hanya menampilkan judul lagu saja – atau bahkan nama berkasnya saja. Wah, sayang sekali ya. Ini yang harus kita ubah. (Hmmm … muncul ide bisnis. Dasar entrepreneur. he he he.)

    lah bukannya gambar sampul album tuh dah lama ada..? kenapa kita jadi ngebahas piringan hitam yak..? jadi mengular begini…
    hehehehe

  12. Budi Rahardjo
    September 30th, 2007 at 7:37 pm

    @eep, emang masih ada artis Indonesia yang rekaman pakai piringan hitam? he he he.

    kalau memang sudah tidak ada artis Indonesia yang rekaman pakai pirinagn hitam, lalu ngapain pak BR nulis ini:

    Saya harus lama berdiskusi tentang musik digital ini untuk meyakinkan bahwa this is the way to go. Inilah masa depan mereka. Kalau mereka tetap ngotot (misalnya tetap mau pakai piringan hitam atau kaset), mereka akan kehilangan kesempatan (dan hilang tidak dikenal).

    πŸ˜›

  13. Om BR,
    saya hanya mungkin sedikit nambahin aja..saya bingung dgn konsep musik digital..krn itu rancu banged…dalam dunia musik termasuk musiciannya, musik digital itu lebih condong kepada proses kreatifnya, dimana musik aransemennya diciptakan melalui alat2 yg berbasis digital (digital piano, digital synth, etc)..toh proses ini juga membingungkan, karena sekarang banyak proses2 yg campur aduk..

    kalo ngeliat arah pembicaraannya, yang dimaksud yang saya tangkap adalah, proses distribusi dari materi yang dihasilkan dgn menggunakan digital way (tau bener gak nih.CMIIW)..jadi tidak ada perpindahan secara fisik (cd.kaset.LP etc). Sekarang ini yg paling populer ya Itunes itu..utk artis2 indonesia..label blum ngelirik utk jualan lewat itunes kecuali artis2 tertentu..pun jualannya gak segede yg kita kira..

    Beda dgn ringback tone..model ini yg sekarang menghasilkan uang terbesar baik label dan artis..dan jangan salah pak..sekarang rata2 royalty diitung per lagu..saya tau secara pribadi penghasilan dari beberapa pencipta lagu dari RBT…cukup lumayan kalo lagunya meledak..hehehe..

    CMIIW

  14. Coba deh eep lihatin pemutar MP3 yang populer, yang entah buatan apa gitu. Layarnya hanya ada LCD yang hanya bisa menampilkan judul lagu saja.

    Sebelum punya iPod nano, saya sudah punya (sedikitnya) 2 MP3 player lainnya. Ya seperti itu, gak ada layarnya. (Coba lihat Creative MuVo misalnya.) Handphone saya juga bisa muter MP3, tetapi juga tidak bisa menampilkan cover art-nya. he he he.

    Coba baca lagi deh tulisan saya. Pointnya adalah:
    1. Sampul lagu dianggap tidak penting. (Bukannya tidak bisa, tapi … tidak penting!)
    2. Kebiasaan orang hanya mendengarkan lagu tanpa mengapresiasi proses pembuatannya – keluar dalam bentuk … hanya artis dan judul lagu. Meskipun pemutar bisa menampilkan informasi yang lebih, kebanyakan tidak menampilkan. Apalagi didukung dengan perangkat murah yang membatasi info.

    Seniman menolak digitalisasi karya mereka (atau lebih tepatnya peng-MP3-an lagu-lagu mereka, soalnya dalam bentuk CD kan sudah digital).

    ps: sekarang ini saya sedang mengedit-edit cover art untuk dimasukkan ke dalam lagu-lagu yang berasal dari album itu, terus ditambah dengan informasi urutan track, dan seterusnya. asyik. tapi ngabisin waktu. he he he. (kalau nge-rip sendiri, windows media player kadang sudah bisa melakukan hal itu, meski untuk informasi mengenai produser dll. tetap gak ada.)

  15. @noequipment, tidak semua artis / seniman setuju dengan RBT karena ada yang beranggapan bahwa RBT itu merusak karya mereka. Beberapa waktu yang lalu salah seorang artis (sebut saja DZ) menuntut sebuah operator karena lagunya dipotong menjadi 45 detik. Dia menuntut bahwa proses itu merupakan mutilasi dari karya seninya. Jadi seharusnya RBT itu disampaikan dalam format penuh satu lagu. (Nah lho. Emangnya ada yang mendengarkan RBT sampai lagunya habis? hi hi hi.)

    Saya tidak menyalahkan DZ. Hanya saja fenomena digital (betul Anda, digital distribution) ini memang mengundang pemahaman dari sudut pandang yang berbeda dari sisi seniman, technologist, businessman. Menarik kalau ketiganya bertemu. Kadang lucu. (Persis seperti diskusi ini.) Hal yang simpel (tidak penting) bagi satu sudut pandang, ternyata merupakan masalah besar (prinsip) bagi sudut pandang lain. Pertemuan saya dengan seniman dan pelaku bisnis merupakan pelajaran yang sangat berharga.

  16. Ikutan nimbrung ah Kang…

    Masalah edit tag sama cover ini emang kepuasan tersendiri… apalagi kalo dari koleksi pribadi, ngeripping sendiri, dan ngedit sendiri…
    Saya pribadi ngelakuin ini teh karena dari dulu udah terbiasa ama database, so jadi kebawa ke masalah pribadi. Pertama emang sepertinya gak ada kerjaan, tapi setelah koleksi semakin banyak, saya butuh sesuatu yang terdata. Apalagi sekarang dibantu dengan iTunes, yang bisa mengedit secara global per album, so gak butuh waktu lama. Kadang saking gebleknya, apalagi kalo suka dengan album itu, lyrics dan segala informasi pun dimasukin kesana.. hehehe.. kurang kerjaan yah.

    Tapi ini jadi kepuasan tersendiri setelah dipindahkan ke iPod, memudahkan mencari lagu2 apa yang mau diputar… Pertama punya player ini, saya sempet kesel dengan cara baca foldernya, berdasarkan nama artis atau genre. Apalagi kalo file2 yang kita masukkan ke player ini dapet dari beli atau download punya orang, kadang sembarangan info tag-nya… so dengan kita atur databasenya, tinggal mencet aja apa yang kita mau.

    Cuma yang sekarang saya masih cari, ada gak yah software yang memprotect file MP3 kita supaya gak bisa diedit lagi sama orang lain? Ini saya sudah search, masih belom nemu juga. Kalo kang Budi punya info tentang software ini, hatur nuhun pisan kalo saya dikasih tahu…

    Tengkyu ah udah baca komentnya.. πŸ˜‰

  17. Cuma yang sekarang saya masih cari, ada gak yah software yang memprotect file MP3 kita supaya gak bisa diedit lagi sama orang lain?

    Itu urusan label company.
    Itu urusan undang-undang, namanya DRM kalo di Amerika.
    Dan DRM banyak tidak disetujui.

  18. Soal seniman ndak setuju model digital, cover album dsb. Mungkin sudah perlu difikirkan model kontrak 360 contract.

    Sekarang banyak artist dunia menerapkan model kontrak ini. Salah satunya the Police yang lagi reuni.

    Kata Gus Dur, Gitu aja koq repot.

  19. @eep, emang punya disk berapa gede? hi hi hi.

    koleksi saya masih kalah gilanya dengan mas gatot (lengkap! begitu ada di amazon, langsung dipesan), mas oryza (cover songs, bootlegs), mas babeque (rock tahun 70-an yang aneh-aneh!), … mereka punya ratusan CD.

    koleksi saya masih terbatas. kadang masih dalam bentuk kaset (soalnya berburunya – misalnya di cihapit – hanya kaset, kalau cd … harganya masih jahiliyah). koleksi belum sampai 1000 kaset lah.

  20. kalau disk tenang pak BR, bisa diatur, lah ipod terbaru kan 160GB heheeh…., koleksi lagu saya baru 60 GB-an, macem-macem.. dari sunda sampai arab, hehe

  21. Sebagai teknisi kadang kita sering lupa satu unsur yang dimiliki oleh seniman: ego raksasa.

    Kalau kita bisa memahami ‘ego’ seniman dan mencoba untuk memuaskan ‘ego’ mereka dengan penyelesaian teknis, bisa kok mereka mengerti :).

    Btw, bohong kalau ada yang bilang seniman tidak punya ‘ego raksasa’ karena pada dasarnya seni itu adalah permainan ego (berbeda dengan ‘desain’ yang walaupun ada unsur seninya tetapi merupakan upaya untuk memecahkan masalah).

  22. Soal ego raksasa itu bukan cuma seniman, ilmuwan juga :-). Lha menurut saya seniman itu juga ilmuwan koq (bedanya mereka dari Fakultas Seni).

    Soal seniman untungnya saya dari kecil sudah akrab bergaul dengan mereka (he he sempat nyaris jadi seniman sih, tapi gagal). Memang kalau baru bergaul dengan mereka para “techie” akan sering terkaget-kaget, tapi bagi yang memang dari dulu sudah tak terpisahkan dari komunitas mereka ya mereka tidak berbeda dengan ilmuwan atau lainnya.

    Coba deh mas Bud, ketemu ama mas Otto Sidharta dosen IKJ, dia juga doyan programming bahkan menguasai software yang jarang diketahui oleh orang Indonesia dan itu bukan kaitannya ama musik.

  23. he he sempat nyaris jadi seniman sih, tapi gagal

    Saya percaya, semua keturunan Bali (apalagi murni, bukan campuran) pasti memiliki darah seni yang lebih tinggi dibanding suku lain.

  24. Saya campuran, lha tapi sisi lainnya juga membawa darah seni πŸ™‚ yang kental. Tapi saya gagal jadi seniman.

    Sekarang cuma jadi seniman karnaval saja, kalau diajak rekan saya yang salah satu seniman kostum yang lumayan ngetop di Jerman,
    http://www.olaf-leonhard.de

  25. Abi, ada beberapa ide. Saya lihat ada band yang merilis lagu mereka secara gratis, tetapi ada bahan tambahan yang tetap dijual seperti misalnya coverart, informasi mengenai lagunya, dan seterusnya. Jadi Anda bisa menjual layanan untuk mengeditkan ID tag, menambahkan informasi (mengenai latar belakang lagu tersebut, composer, produser) dan seterusnya.

    Layanan butik begitu? Mungkin tidak banyak yang mau mengambil layanan ini, tetapi ada. (Seperti masih adanya penggemar piringan hitam dan kaset – masih berburu kaset lama.) Itu hanya sekedar satu contoh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s