Ngoprek Bahasa Pemrograman

Beberapa waktu yang lalu saya kedatangan Bernaridho. Dia datang untuk menunjukkan utak-atiknya yang terbaru, yaitu bahasa pemrograman yang baru. Wah menarik juga. Bahasa yang dia kembangkan adalah “type-oriented” bukan object oriented. Ada alasannya mengapa demikian, tapi itu lebih baik ditanyakan ke dia.

Saya sendiri banyak bertanya mengenai latar belakang atau alasan dia membuat bahasa yang baru, mengapa tidak mengembangkan bahasa yang sudah ada saja, apa nilai kebaharuannya, dan seterusnya. (Silahkan kunjungi situsnya; www.bernaridho.com)

Yang membuat saya agak sedikit ngahuleng (berpikir dan merenung) adalah ketika dia menanyakan siapa yang bisa diajak diskusi untuk mengembangkan bahasa ini? Misalnya, apa ada yang bisa mengembangkan “translator” (itu istilah dia untuk compiler atau interpreter – memang dia banyak membuat istilah baru yang sebenarnya masuk akal juga). Hmmm … siapa ya? Tidak banyak orang yang mau ngoprek sampai ke low-level.

Saya sendiri tidak bisa banyak membantu dia karena waktu saya yang terbatas dan minat saya tidak ke sana lagi. Lagian pengetahuan saya untuk bidang ini sudah mulai hilang tergerus dengan waktu. (Masih keingat “dragon book” – buku Aho yang dijadikan buku teks – waktu belajar dulu. Sekarang hanya keingat sampul bukunya saja. hi hi hi. Isinya? Ya … keinget sedikit-sedikit lah.) Jadi harus cari orang lain nih yang bisa bantu dia. Ada saran siapa?

Semoga sukses Bernaridho!

Iklan

38 pemikiran pada “Ngoprek Bahasa Pemrograman

  1. dulu pernah ke rumahnya di daerah kalibata. waktu itu sih dia bilang lagi ngembangin bahasa batak dan lagi nyari yang mau bikin translatornya

  2. Setelah saya baca manualnya, bahasa batak ini lebih ke ‘functional programming’ walaupun ada objectnya sedikit. Bahasanya mirip2 dengan C dan Pascal. Lebih cocok untuk scripting language, dan untuk membuat program sederhana dan butuh cepat selesai.

    Untuk pemrograman yang kompleks kurang cocok karena kurang modular dan reuseable, yang merupakan keunggulan object oriented.

    Memang object oriented lebih susah dipelajari daripada functional programming. Namun untuk pembuatan software skala besar ‘object oriented programming’ lebih mudah dimanage.

  3. OOP atau FP (Functional Programming) adalah paradigma pemrograman. Tidak menentukan skala program yang dibuat, tetapi lebih kepada behaviour program tersebut.

    OOP akan lebih enak pada suatu tugas dari FP begitu juga sebaliknya. Dan bahasa yang punya paradigma OO bisa juga punya paradigma FP (misal Oz, Scala, dsb).

    Jaman sekarang orang lebih suka daripada membuat translator dari scrath menggunakan 2 pendekatan

    – Menggunakan back-end dari gcc
    – Menggunakan virtual machine (misal JVM atau VM lainnya)

  4. saya pernah bertemu beliau pada satu sesi training, memang usaha cukup bisa diacungi jempol. saya pun kagum dengan keyakinan dan idealis beliau, mudah2an ada yang membantu yah, kalo saya mah bantu doa aja heuehheue…

  5. Salah satu hal yang bikin saya bingung ketika membaca tutorial bahasa batak di situsnya pak bernaridho adalah bagaimana relasinya dengan bahasa-bahasa lainnya yang sudah ada khususnya diferensiasi konsep dan fitur bahasa sebagai alat berekspresi.

    Seperti yang sudah disebut oleh dora, ketika awal2 membaca tutorial bahasa batak terasa sekali fitur dan sintaks bahasa pascal dan c/c++. Ide yang saya tangkap justru hanyalah pada masalah pendefinisian istilah ‘objek’ yang diluruskan oleh bung bernaridho dengan istilah ‘type’.

    Yang saya sayangkan mungkin pada hal jawaban terhadap isu-isu bahasa pemrograman modern (internationalization, virtualization, platform dependability, mixed-language-programming, dll) yang saya pikir belum terjawab dari paparannya tentang bahasa batak.

    Apakah memang kemampuan kita sebagai bangsa Indonesia baru ‘sampai di sini saja’?

  6. Thanks untuk Pak Budi atas pemuatan ttg Nusa. Saya akan respond comment beberapa posting.

    [dora]
    Setelah saya baca manualnya, bahasa batak ini lebih ke ‘functional programming’ walaupun ada objectnya sedikit. Bahasanya mirip2 dengan C dan Pascal. Lebih cocok untuk scripting language, dan untuk membuat program sederhana dan butuh cepat selesai.

    [respond untuk dora]
    Bisa jelaskan definisi ‘functional programming’?
    Tentang ‘objectnya’ sedikit, apa definisi’object’?

    [dora]
    Untuk pemrograman yang kompleks kurang cocok karena kurang modular dan reuseable, yang merupakan keunggulan object oriented.

    [respond untuk dora]
    Apa definisi ‘kurang modular’?
    Setahu saya ‘modular programming’ adalah pemrograman dimana program dipilah atas modul-modul.
    Karena itu saya ingin tanyakan apa definisi ‘module’?

    [dora]
    Memang object oriented lebih susah dipelajari daripada functional programming. Namun untuk pembuatan software skala besar ‘object oriented programming’ lebih mudah dimanage.

    [respond untuk dora]
    Kalau ‘object’ saja tidak didefinisikan dengan baik, apa cara untuk buktikan bahwa pembuatan software skala besar ‘object oriented programming’ lebih mudah dimanage.

    Kalau ‘object’ tidak terdefinisi dengan baik, lebih-lebih lagi ‘object-oriented’, dan lebih-lebih lagi ‘object-oriented programming’.

    Saya sudah bicara dengan banyak pakar TI, dan sampai sekarang tidak usah jauh-jauh dapat definisi yang bagus tentang ‘object-oriented programming’, istilah ‘object’ saja tidak terdefinisi dengan baik.

    Bernaridho

  7. [IMW]
    OOP atau FP (Functional Programming) adalah paradigma pemrograman. Tidak menentukan skala program yang dibuat, tetapi lebih kepada behaviour program tersebut.

    [respond untuk IMW]
    Tentang menentukan skala program yang dibuat, agak debatable, tergantung implementasi. Ke definisi dulu, Functional Programming adalah programming yang sangat mengutamakan (ekstrim ke?) fungsi. Dengan kata lain, operasi yang bersifat sebagai prosedur (tidak mengembalikan nilai) tidak diutamakan. Dalam praktek, translator beberapa bahasa pemrograman mengakomodasi prosedur.

    Functional-programming tidak berarti meniadakan objek (konstanta/variabel), dan nilai. Nyatanya, esensi pemrograman adalah tipe, operasi, nilai, dan objek; independen terhadap apapun label ‘paradigma pemrograman’. Inilah yang tidak dipahami sangat banyak praktisi dan akademisi.

    Dalam beberapa kasus, functional-programming memang membuat program tidak scalable. Sebagai contoh: tiap file LISTENER.ORA, SQLNET.ORA, TNSNAMES.ORA adalah sebuah program dalam functional-programming language. Semua file konfigurasi Oracle tersebut ditulis dalam sebuah dialek dari LISP.

    Program-program tersebut tidak scalable. Bisanya ‘cuma’ assign nilai ekspresi ke objects (persisnya, variables). Tidak scalable karena program tersebut tidak mengerjakan windowing, input/output, dan lain-lain; memang tidak dispecify di level bahasa.

    Jadi, functional-programming bisa scalable bisa tidak, tergantung programming-language-nya seperti apa.

    [IMW]
    Jaman sekarang orang lebih suka daripada membuat translator dari scrath menggunakan 2 pendekatan

    – Menggunakan back-end dari gcc
    – Menggunakan virtual machine (misal JVM atau VM lainnya)

    [respond untuk IMW]
    Thanks untuk sarannya. Saya pilih pendekatan yang bukan merupakan salah satu dari di atas. Bagi saya memetakan program yang ditulis dalam Nusa ke program yang ditulis dalam C (terlebih lagi Java) lebih sulit. Mungkin bagi orang lain lebih mudah. Kalau lebih mudah, any help dari orang tersebut sangat saya harapkan dan hargai.

  8. [pebbie]
    Salah satu hal yang bikin saya bingung ketika membaca tutorial bahasa batak di situsnya pak bernaridho adalah bagaimana relasinya dengan bahasa-bahasa lainnya yang sudah ada khususnya diferensiasi konsep dan fitur bahasa sebagai alat berekspresi.

    [respond untuk pebbie]
    Manual adalah manual, bukan dokumen perbandingan suatu bahasa pemrograman dengan bahasa pemrograman lain.

    [pebbie]
    Seperti yang sudah disebut oleh dora, ketika awal2 membaca tutorial bahasa batak terasa sekali fitur dan sintaks bahasa pascal dan c/c++. Ide yang saya tangkap justru hanyalah pada masalah pendefinisian istilah ‘objek’ yang diluruskan oleh bung bernaridho dengan istilah ‘type’.

    [respond untuk pebbie]
    Pelurusan definisi istilah ‘objek’ tidak bisa disebut ‘hanya’. Kalau ‘hanya’ kenapa ribuan akademisi dan praktisi lain di dunia ini tidak sanggup meluruskannya?

    [pebbie]
    Yang saya sayangkan mungkin pada hal jawaban terhadap isu-isu bahasa pemrograman modern (internationalization, virtualization, platform dependability, mixed-language-programming, dll) yang saya pikir belum terjawab dari paparannya tentang bahasa batak.

    [respond untuk pebbie]
    Dalam membangun sesuatu, bangun secara perlahan. Adakah suatu bangunan besar dapat muncul secara mendadak? ‘Rome is not built in a day’.

    [pebbie]
    Apakah memang kemampuan kita sebagai bangsa Indonesia baru ’sampai di sini saja’?

    [respond untuk pebbie]
    Apakah kemampuan Anda cuma sampai di sini saja? Anda bahkan gagal melihat banyak hal lain yang istimewa dari Batak/Nusa selain hal pelurusan istilah ‘object’ ke ‘type’.

    Apakah Anda bisa membuat bahasa pemrograman yang istimewa?

  9. [berna]
    Pelurusan definisi istilah ‘objek’ tidak bisa disebut ‘hanya’. Kalau ‘hanya’ kenapa ribuan akademisi dan praktisi lain di dunia ini tidak sanggup meluruskannya?

    [pebbie]
    Karena ada banyak isu yang lebih besar daripada memperdebatkan istilah atau memilih bahasa mana yang istimewa.

    http://www.unixguide.net/freebsd/faq/16.19.shtml

    Ada begitu banyak bahasa baru muncul di sourceforge. bahkan untuk cakupan yang lebih kecil seperti varian LISP.

    Setelah bahasa yang baru sudah jadi, siapa yang akan menggunakan dan mengapa digunakan?

    Meskipun tidak ada salahnya untuk ngoprek.

    Semoga berhasil!

  10. [pebbie]
    Karena ada banyak isu yang lebih besar daripada memperdebatkan istilah atau memilih bahasa mana yang istimewa.

    [respond untuk pebbie]
    Hm, isu besar seperti apa? ‘Security’? Security pun menjadi salah satu alasan designer Java untuk membuat Java, untuk membuat bahasa pemgoraman baru. Kalau istilah tidak penting, kenapa banyak pengarang besar (Chris J. Date, Andrew S. Tanenbaum) berpikir keras sebelum mereka memilih istilah?

    Anda bohong atau bodoh kalau bilang istilah tidak penting. Bicaralah ke orang lain dengan istilah yang sembarangan.

    Soal siapa yang memakai itu sudah saya pikirkan.

  11. Hallo, salam kenal.
    saya mengetahui Bahasa Nusa dari PC Media Edisi 06/2008. saya tertarik dengan bahasa pemrograman, tapi tidak pernah menjadi sangat ahli.
    ketika saya mengunjungi http://www.bernaridho.com, sepertinya situs tersebut sudah tidak aktif, karena yang muncul iklan.
    yang ingin saya tanyakan, dimana saya bisa mendapatkan deskripsi dan tutorial dari bahasa nusa atau mungkin disebut dengan bahasa batak?
    Demikian surat saya, semoga ada yang bisa membantu. terima kasih. maju terus iptek indonesia. Salam.

  12. memang sudah saatnya orang indonesia membuat bahasa sendiri untuk berkomunikasi dengan komputer selain juga os-nya. selama ini kita terus selalu menggunakan produk negara lain bahkan hanya untuk sebuah temiti. kita sering membanggakan keahlian kita terhadap penguasaan windows, linux, c++,java,pascal, dll. namun semua itu bukan produk kita sama seperti produk lain yang sering kita banggakan “import”. jadi bagaimanapun diluar any attribute dari nusa language programming tetap harus kita ancungi jempol bahwa ada kreatifitas diantara kita.

    matur nuwun

  13. Bahasa pemrograman baru? Sebenarnya apa yang menarik dari munculnya bahasa pemrograman baru? Kita,sebagai orang Indonesia sepertinya begitu berharap akan munculnya bahasa baru (khususny dg embel2) lokal. Lantas, apakah anda tidak mengaku adanya developer dr indonesi yg ikut bergabung dg team pengembang bahasa pemrograman versi opensource (misalnya compiler pascal atau freebasic). Atau jangan2 semangat FLOSS orang INDONESIA hanya omong koson?????

  14. Tambahan. Kalau memang alasannya adalah semangat nasionalisme. Tolong pemakaian bahasa Indonesianya diperbaiki. Kasihan orang-orang balai bahasa yang sudah pusing2 mencari padanan istilah2 asing, tapi tidak pernah dipakai. Khususnya oleh orang2 TI yang ngakunya intelek dan sok-sok pake bahasa inggris. Jadi sebelum pusing2 mikirin bahasa pemograman versi indonesia, mendingan pikir dulu cara pemakaian bahasa INDONESIA yang BAIK dan BENAR. Terimakasih…

  15. bahasa NUSA,… hmm… suatu invensi yang baik ditengah tradisi budaya orang2 kita yang ternyata sebenarnya SUSAH MELIAT ORANG SUKSES. apapun hasilnya NUSA ini sudah suatu oase ditengah kekeringan penemuan putra2 bangsa kita dalam bidang ICT. dan yang ternyata banyak publik lebih bisa ngomong doank daripada doing. NATO !! (No Action Talk Only)

    ada yang bilang ini bahasa terlalu sederhana padahal yang ngomong gak membuktikan dia bisa membuat sesuatu, huh NATO!

    ada yang menjelek2an dengan berdalih memberi kritik membangun tapi dia sendiri tidak terbukti reputasinya membuat sesuatu, huh NATO!

    ada yang mulai nyinyir menghubung2kan invensi secara terkotak2 pada kesukuan, dan mau bikin versi suku dia tapi ngomong doank tanpa hasil, huh NATO!

    padahal kalo kita pikir2 mau yang bikin orang batak kek, sunda kek, ambon kek. toh masih orang indonesia juga. kenapa sih gak bisa didukung? kenapa sih gak bisa liat orang sukses?. kenapa sih suka iri atas kemajuan orang dan justru memanjakan kebodohan untuk bersemayam di diri kita dan bukannya terpacu untuk doing something??

    apapun hasilnya abah melihat NUSA ini sudah suatu KEMAJUAN dan BOLEH BIKIN KITA BANGGA sebagai sesama orang Indonesia.

    selamat dan sukses buat Bernaridho.. anda membuat torehan tinta emas bagi sejarah bangsa kita khususnya dibidang ICT. semoga tambah banyak yang mendukung dan mengembangkan penemuan anda, dalam segala cara tapi tetap cara Indonesia.

    salam dari abah. orang sunda aseli (eh campur jawa dink).. 🙂

  16. threadnya terlihat rame dan menyenangkan
    masalah bahasa Nusa terasa baru ditelinga . Karena berniat pengen jadi Embedded Enggineer (mahasiswa Informatika)..nyari2 yang berhubungan tentang EL eh ternyata ketemu di website pak Budi yang seru..masalah bahasa Nusa.

    sy agak setuju dengan apa yang diucapkan oleh tinyhack tapi saya juga mendukung Pak Bernard kalau ingin mengembangkannya, cuman perlu lagi untuk mendalami konsepnya lebih dalam lagi, karena terlihat dari tulisan si tinyhack, si tinyhack kayaknya lebih ahli deh . Sebenarnya jika Anda ingin mengembangkannya Anda seharusnya butuh sebuah Lab seperti Bell Labs dimana bahasa C dan C++ itu keluar dari seorang programmer sejati.

    Menurut analisa saya sendiri:
    C akan menjadi sebuah bahasa Sepanjang Masa. Agak sulit untuk merubah keadaan hidup sekarang dimana hampir setiap permasalahan IT itu telah digubris abis oleh pakarnya. Apalagi mengenai bahasa Pemrograman. Mungkin sebaiknya lebih baik mengembangkan sesuatu di atas sesuatu. Maksud saya mengembangkan sesuatu yang baru di bidang IT dengan hal yang sudah ada. Namun jika Anda bersedia untuk membuat Bahasa Baru seperti Nusa anda harus terlebih dahulu memberikan sebuah latar belakang yang benar-benar akademis dan filosofis seperti Dennis Ritchie membuat bahasa C karena ingin menangani masalah yang terdapat di Unix karena Bahasa B yang dikembangkan oleh Tompson ada yang tidak bisa ditangani, setau saya itu. kalau Anda berupaya untuk bertanya2 tentang sesuatu silahkan saja cari di google.com, misalkan anda bertanya dari mana Anda tau? ya dari jendela situs itu.

    Tetap semangat pak bernard semoga berhasil…

  17. Sayang Bernaridho ini kelihatannya doyan mengutak-atik urusan yang bahkan bukan keahliannya dengan lumayan keliru.

    Contoh : http://prasdianto.blogspot.com/2008/08/kenapa-banyak-orang-sok-tau-masalah.html

    Lalu responsnya terhadap kritikan teknis dari Yohanes juga lumayan mengenaskan.

    Dikutip :

    Kalau ini tidak membuat Anda lebih hormat dan lebih sopan terhadap saya, saya akan katakan begini

    (A) Saya TAK BUTUH PENGAKUAN ANDA TENTANG NUSA.
    (B) Ketidaksopanan Anda membuat saya bertanya: mungkin Anda memang TIDAK DIDIDIK DENGAN BAIK OLEH ORANG TUAN ANDA.

    Dst … kalau search di Google, bisa ketemu lebih banyak lagi.

    Anyway, mudah-mudahan ybs bisa segera sadar bahwa attitude nya tersebut justru akan berbalik suatu hari menjatuhkan dirinya sendiri. Sulit untuk bisa terus maju dengan attitude seperti itu.

  18. saya bangga sbgai bangsa indonesia,. karna ada anak bangsa yang dapat membuat bahasa pemrograman,.

    saya mgkin tidak dpat membantu apa2,. karna saya memang bukan org yg ahli dalam bidang itu,.tpi saya berkeyakinan suatu saat nanti bahasa pemrograman NUSA akan menjdi booming di dunia,. berjuang terus pahlawanku BERNARIDHO,.

  19. Wah baru tahu saya ada yang namanya Bernardinho. Parah banget ya pola pikirnya. Ngga bakalan berkembang nusa kalo dipimpin orang seperti itu. Bill Gatesnya Indonesia Mantab!!!

  20. Bahasa Nusa, sbg penambah bumbu perkembangan IT indonesia sih boleh2 saja. Cuma sayang jarang/sedikit yg mengekspos kode2 atau perbandingan dgn bahasa lainnya.
    Selintas tidak lebih baik dengan bahasa script yg sudah ada…

    Bgmn dgn Bahasa BAIK ciptaan orang Indonesia juga ?
    http://sourceforge.net/projects/baik/
    Kok nggak ada yg mengulas ya ? Sebagai bahasa pemrograman, BAIK jg bisa buat program yg lumayan, dari akses database mysql sampai buat aplikasi GUI semisal mirip Notepad (papan tulis pake menu, klipboard dll – red).

    Semoga makin maju deh bagi para pengembang indonesia.
    Nggak cuma ngejelekin … Harus bisa menghormati dan menerima kemajuan orang lain …

    Makasih ah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s