Rekam Jejak Peristiwa: Musik Tahun 80-an

Gara-gara sebuah tulisan tentang musik tahun 80-an saya jadi ingin mendengarkan musik tahun-tahun itu. Saya kemudian mencari kumpulan lagu tahun 80-an. Yang ketemu adalah sebuah video klip dari group band “Rah Band“. Judul lagu di video klip itu adalah “Clouds Accross the Moon“. (Bisa dicari di YouTube. URL-nya tidak ingat.)

Wah asyik habis karena lagu itu mengingatkan masa lalu. Setelah itu kemudian saya cari lagu-lagu dari Rah Band dari koleksi saya. Sebetulnya saya pernah punya kasetnya, tetapi entah dimana dan kalaupun ada mungkin saya sudah tidak bisa memutarnya. Akhirnya saya ubek-ubek komputer dan menemukan tiga buah lagu; selain “Clouds Accross the Moon” ada lagu “Sorry Doesn’t Make It Anymore” dan “Sweet Forbidden“. Wah, saya menjadi keasyikan sendiri dan sempat mata berkaca-kaca mendengarkan lagu ini. (Ada perasaan menyesal karena seharusnya saya membaca buku agama. Namun ada perasaan pembenaran bahwa lagu-lagu inipun masih mengingatkan saya kepada Yang Maha Kuasa.)

Soal suka terhadap sebuah lagu memang soal selera, tapi satu hal yang membuat saya mengerti mengenai kesenangan terhadap lagu adalah … lagu menjadi bagian dari “rekam jejak peristiwa“. Ini adalah plek kata-kata mas Yockie yang saya baca di blognya (di bagian komentar). Ah, how so true. Terima kasih atas pencerahannya, mas. You’re so great in explaining things.

Lagu-lagu seperti yang dibawakan oleh Rah Band itu sarat dengan keyboards. Bahkan semua bagian dari lagu itu – kecuali vokal (itu pun ada bagian vokal yang diproses dengan alat) – hanya dilakukan oleh oleh synthesizers. Tidak natural? Mungkin, tapi tetap saja sedap. Yang saya paling suka adalah fill-in keyboards di lagu Sweet Forbidden, mulai dari menit 4:10 sampai 4:45 – khususnya ada satu not berombak yang ditekan panjang di menit 4:27 (warna claro) – suara Prophet-5?. Mbrebes mili… (bahasa Jawa) itulah kata yang sering digunakan oleh mas Gatot untuk menceritakan perasaan. Cobain dengerin lagu itu deh. Jadi pengen ngumpulin syntesizers, buat studio kecil, dan mainan MIDI lagi. Sudah lama sekali, 1988?.

Memang lagu-lagu tahun 80-an banyak yang sarat menggunakan synthesizers. Masih ingat band Devo atau Gazebo atau bahkan Duran Duran. Hmm… rasanya baru saja saya membeli CD Gazebo (yang ada lagu “I like Chopin” itu). Saya juga keingat kaset band Transs (masih ingat? isinya ada Fariz RM, Erwin Gutawa, dan kawan-kawan). Jadi inget cerita lucu juga. Karena saking sukanya dengan kaset band Transs ini, saya konversikan dari kaset ke MP3. Eh, ternyata mas Jundi Karyadi (salah satu pemain keyboards di Transs itu) menelpon saya dan minta lagunya. He he he. Nggak kebalik nih mas? Tentu saja dengan senang hati. Great keyboards di kaset itu.

Saya berharap ada gelombang musik baru di Indonesia ini, seperti adanya LCLR, Guruh, Keenan, Fariz RM, dan mas Yockie tentunya di tahun 70-an dan 80-an. Bosan juga dengar musik sekarang yang hampir sama. I want more synthesizers and guitars. I want to hear more Mellotron, Prophet-4, and Moog. He he he. Dasar penggemar claro (classic rock) sih.

Kembali ke topik. Ternyata semuanya ini merupakan bagian dari “rekam jejak peristiwa“. Hanya itu yang dapat kukatakan. Bagaimana rekam jejak peristiwa Anda?

Iklan

16 pemikiran pada “Rekam Jejak Peristiwa: Musik Tahun 80-an

  1. Sound akhir 70-an dan awal 80-an emang demen mainan sintesiser. Kibor kayak GX1 dianggap pinter. Rick van der Linden juga mengandalkannya. Mungkin waktu itu masih merupakan teknologi baru ya? Orang sekarang dengan Jean-Michael Jarre lama bisa ngomentar, “Halah, cuma main2 musik elektronik gini kok dianggap hebat, di PC juga bisa…” Lha emang tahun 77 PC udah merakyat? πŸ˜€

    Soal sound kibor, coba ambil secuil lagu ELP(owell) yang ada miripnya dengan salah satu lagu Europe kan? BTW saya barusan nemu CD lawas (bukan bekas) Giorgio Moroder

  2. Sebuah cerita yang menarik. Periode 80an bagi saya adalah periode “fokus” karena practically saya tidak mendengarkan musik kecuali MARILLION atau yang sejenisnya. Kenapa? Tahun itu rasanya kok sedih karena banyak band prog kayak Yes dan Genesis menjadi ngepop banget. Munculnya Marillion di tahun 83 dengan Script for A Jester’s Tear membuat suasana semarak! Kaset Yess saya sampe bodhol beli tiga kali lantaran sering diputar.

    Tapi saya juga “sedikit” mengikuti musik nasional seperti Chrisya “Resesi”, Gank Pegangsaan etc.

  3. istilah “rekam jejak peristiwa” cocok banget Pak Budi…. biasane aku pakai istilah “memory” kalau pas beli CD yang agak diluar selera (sekarang)…. contoh waktu dapat CD Blackfoot (group southern rock Amrik yang personilnya ada turunan nDayak) juga CD King Kobra (hair metal)… nota bene I grew up listening to those… sementara sekarang (4 tahun terakhir) dengerin banyak ke neo-prog/prog-met dan lagi sinau symph-prog….

    Jadi mohon ijin akan pakai istilah “rekam jejak peristiwa” kalau ketemu teman2 sesama pecinta musik di Surabaya LOL

  4. weh….saya anak duaribuan pak, tapi saya mendengarkan juga lagu2 delapanpuluhan kayak Duran-Duran, The Cure, Depeche Mode, new wave gitu kan

    saya rasa musik jaman sekarang dah mulei rame ama synth juga sih….cuman campurannya emang rada gimana gitu. Kalo mo paling bagus jaman sekarang synth itu Deftones, terutama di album White Pony.

    Btw, kita tukeran link gmana??? ehehehe

  5. Waduh2.. Rah Band.. Eike suka banget ama suaranya yang bagaikan rayuan pulau kelapa itu. Kalo gak salah ada juga lagunya “Sam the Samba Man” kan mas? hihihi.. menyenangkan..

  6. waktu band-band seperti DuranDuran dan sejenisnya lagi berjaya, saya malah tidak tertarik mendengarkan musik mereka … tapi setelah masanya lewat rasanya musik mereka jadi enak didengerin — mungkin karena ada nuansa nostalgis … bisa dibilang selera musik saya sekarang fifty-fifty, antara metal dan synth pop 80-an … mendengarkan a-ha, alphaville, arcadia atau duran duran, sama enaknya seperti mendengarkan iron maiden, judas priest, atau helloween …

  7. Dear All

    Gabung yuuk dengan temen temen Komunitas Era 80 an & temen temen komunitas era 2000 di MetroTV pada Taping Program Acara Televisi “ZONA80 dengan jadwal sebagai berikut :

    * Hari Sabtu tanggal 09 Februari 2008 / 1 episode:
    – Jam 14.00-14.45 WIB (Audience Arrive & Meal)
    – Jam 14.45-15.00 WIB (Audience enter to Grand Studio)
    – Jam 15.00-17.00 WIB (Taping episode 1)

    * Hari Minggu tanggal 10 Februari 2008 / 2 Episode:
    – Jam 14.00-14.45 WIB (Audience Arrive & Meal)
    – Jam 14.45-15.00 WIB (Audience enter to Grand Studio)
    – Jam 15.00-17.00 WIB (Taping episode 2)

    ===> Jam 18.00-18.30 WIB (Break Dinner & Sholat)

    – Jam 19:00-19:15 WIB (Audience enter to Grand Studio)
    – Jam 19:15-21:15 WIB (Taping episode 3)

    # Dress code : klo bisa Era 80 an gtu lhouw.

    # Reservasi :
    – Cell/SMS : Riries 08174821812
    – email : riries@zona-80.com

    Ditunggu lho………….TQ

  8. fariz rumahmakan (rm) di lagu barcelona. wiiihhh… mantap kalo ga salah pake kaos buntung sambil nyanyi abis ngibor trus ngrokok di jendela..

  9. wah surprise nama gazebo disebut. Bener pak, I Like Chopin memang asik bgt. Apalagi yg extended version. Kaya synthesizer. Love in Your Eyes sama Telephone Mama jg ga kalah asik.

    Duran Duran mau konser di jkt lho pak awal april ini.

  10. ikut nostalgia ya Mas…
    dulu sejak SMP mulai suka Queen, Kansas, ELP, dan band2 art rock (istilah jaman tsb) pengaruh dari kakak disamping juga suka Duran Duran, Stray Cats, Wham, Spandau Ballet, dll band2 new wave..
    SMA beralih selera ke thrash metal macam Metallica, Megadeth, OverKill, Testament dan juga mengumpulkan t kaset2 guitar master dari roadrunner records: Greg Howe, jason Becker, Stephen Ross, Joey Tafolla…
    awal 90an berkenalan dgn jazz: casipoea, The Rippingtons, Pat Metheny, Chick Corea, Tribal Tech, dll dan mulai kerajingan Dream Theater “images & words” serta puluhan band progmet lainnya
    mendadak di 2005 terasa jenuh mendengar progmet dan sedikit2 kembali mengumpukan album2 new wave 80an yg pernah sempat dicampakkan karena saya anggap musik cemen…
    sekarang berimbang, gimana mood kadang dengerin 80an, ato 70an kadang 90an dan 2000an…

  11. Thn ’80 an itu emang era yg sgt in untk Indonesia, yaitu
    – era keemasan musiz Indonesia (Chrisye, Fariz, Ikang F., Chandra Darusman dll) walaupun group music bule subur (Queen, Duran2 dll);
    – era film Indonesia (Rano karno nyang sekrng jd pejabat, Yessy Gusman dll) walaupun film bule subur, jadi masih ngimbangi.

    Dan music pd era itu abadi, karena mereka terjun ke dunia music memang total dan berangkat dr ketrampilan bermusik dan jiwa entertainer sejati, tidak sperti sekarang (maaf bukan mengecilkan), cuma euforia untuk jadi ngetop dan cari uang. Bukan sok tau, tp liat aja nanti 3 atau 4 tahun lagi orang dah lupa yang namanya Peterpan, Radja, dll. Orang baru bisa bikin dua kaset langsung bubar (contoh Sela on 7).

  12. permisi..salam kenal semua..senang bisa ikut bergabung..waktu yg tepat untuk kilas balik musik era 80 an setelah 20an thn lebih…heheheh..sedikit kilas balik awal sy mulai suka dengan musik brt ingat waktu itu sy kelas VI SD dan masih ingat tu kaset HOT 100.. mgk sobat disini masih ingat Gazebo,Mo,Sam Harris..Duran-Duran,Culture Club,Toto.. Tears For Fears, Simple Minds, OMD, Icehous,A-ha..wah masih byk lagi..terus yg Indonesia Edy Endoh,Spirit Band..Emerald, Dimensi Band…dan sampai sekarang semua kaset saya terpelihara dengan baik..mgk ini dulu ..next sy sambung lagi..tq all..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s