Menurunnya Kualitas Produk

Tadi pagi saya ngobrol dengan ayah saya dan istri saya tentang menurunnya kualitas produk di Indonesia ini. Diskusi bermula dengan cepat rusaknya alarm mobil. Kemdian daftar barang yang kualitasnya menurun bertambah; kran air, steker listrik, semen, wastafel, dan seterusnya. (Ada yang perlu ditambahkan lagi?)

Mari kita ambil contoh kran air. Di tempat saya, kran air tidak dapat bertahan lama. Belum satu tahun dia sudah rusak lagi. Ada kran air yang baru dibeli, eh air yang keluar berbau karatan atau cepat bocor. Ah, mungkin ini kran yang kurang bagus. Kami pergi ke tempat lain yang (seharusnya) menjual kran yang lebih bagus. Hasilnya ternyata sama saja, cepat rusak. Heran.

Semestinya dengan bertambahnya umur Indonesia, semakin maju juga kualitas produk (buatan Indonesia). Yang kita alami justru sebaliknya, makin menurun kualitasnya.

Okelah kalau memang ada produk dengan kualitas yang kurang baik untuk menekan harga, tetapi seharusnya tetap ada produk yang kualitas baik (dengan harga yang lebih mahal). Yang ada saat ini tidak ada produk yang kualitas baik dengan harga yang cukupan lah. Mosok untuk produk yang kualitasnya bagus kita harus beli dari Singapura atau Malaysia?

Seharusnya di Indonesia ini ada produk yang kualitas cukup (kalau dibilang “rendah” kurang pas, jadi kita “cukup” saja – hi hi hi), menengah, dan sangat baik. Harga boleh bervariasi sehingga pembeli bisa memilih yang sesuai dengan daya belinya.

Ada pemikiran lain sih. Ya sudah, daripada beli produk yang bagus tapi harganya dua kali lipat, mendingan beli produk yang jelek tapi harganya juga setengahnya. Nanti kalau rusak, ya tinggal ganti lagi. Toh harganya murah. Anda lebih suka yang mana: kualitas (harga 2 kali lipat lebih mahal tetapi umurnya juga dua kali lipat) atau kuantitas (harga biasa atau lebih murah tetapi kualitas biasa atau lebih murah).

27 pemikiran pada “Menurunnya Kualitas Produk

  1. pertamaxx. aku sih mending kualitas mas. soalnya beli murah, jadinya masalah ekologis ntar. landfill jadi penuh dgn barang itu. udah gitu, most likely, barang murah itu tidak bisa terurai (decompose) dgn sendirinya.
    tapi ya itu kalau kantung muat utk beli yg kualitas bagus. kalau nggak, ya terpaksa beli yg kw2.
    salam, wicak.

  2. Pak, kalo barang murah cepet rusak itu biasanya produk China, sekarang produk China gila gilaan merambah dunia termasuk Indonesia, coba ajah masuk Hypermarket, produk rumah tangga hampir semua made in China, belum lagi mainan anak anak..pfff banyak deh

  3. segitunya kah kualitas barang yang ada di Indonesia saat ini?
    just an idea aja nih pak, dari contoh kran air di atas, apakah itu bukan karena kualitas airnya yang (mungkin) terlalu asam, sehingga gampang mengikis besi kran itu sendiri? (or something like that, maksudnya mungkin ga melulu salah kran air-nya yang gampang rusak)
    dan juga rasanya agak sulit kalau kita cari barang dengan kualitas seperti dulu yang harganya juga sama seperti dulu πŸ˜‰ Kata orang, “ada uang, ada barang”.

    btw, saya pilih kualitas juga tentunya πŸ˜€

  4. saya pikir masih ada kok barang2 buatan indonesia yg kualitasnya bagus. kamar mandi saya, mulai dari wastafel sampe klosetnya buatan indonesia, tapi sampe sekarang masih oke2 aja walopun udah dipake 3 tahun lebih…malah dulu sempet beli merek korea malah cuma bertahan setahun kurang….vote for kualitas

  5. gimana dengan lulusan ITB pak, sebagai ‘produk ‘ langsung ITB sebagai institusi pendidikan, termasuk yang manakah?, dan menurun kah? hehe..

  6. ndoro kakung, saya nggak tahu apakah kualitas posting di sini menurun atau membaik. yang pasti, makin rame πŸ™‚
    kalau dari segi prosesnya sih membaik, karena makin serius menggarapnya. kalau dulu, setelah nulis saya tinggal saja. ndak diperbaiki lagi. kalau sekarang, posting diperbaiki kembali kalau ada kesalahan ejaan atau kalimat. (padahal mungkin tidak perlu lagi ya?) kemudian ada tambahan gambar dan seterusnya.

    dari segi content, nah … yang ini saya nggak tahu. hi hi hi. masih tetap menulis sekeingetnya saja. he he he.

  7. Semua barang mengaku dengan kualitas nomor satu, gak ada yg mau ngaku barang murah.

    Saya tau MasBoing gak langganan Kompas, tapi Kompas hr Minggu ini ada cerita menarik ttg Gitar produksi Indonesia. Sekilas saya baca kita secara kuantitas kalah sama China tapi secara kualitas gitar buatan Indonesia lbh bagus drpd China hehehe…

  8. Masih mending pak bisa beli yang berkualitas.
    Ketika saya beli kran untuk water heater, ingin yang agak bagusan, dijawab sama penjualnya, gak ada. Pindah toko lain, gak ada juga.

    Beli saklar, kabel, karet O-ring, obeng, dsb, semuanya dapet yang gak berkualitas. Setelah tanya sana-sini, rupanya produk yg berkualitas itu gak laku dijual di kampung saya. Ya udah, jadinya harap maklum saja. Wong hidup di negara berkembang…

    Itu bener. Soalnya saya sudah lama hidup di Jepang, hampir 20-4 thn. Kalau balik kampung dan butuh (terutama) alat2 yg berhubungan dengan listrik, mesti mengelus dada. Soalnya susah sekali nemu sebagaimana yg biasa saya pegang di sini. Bentuknya, tampak mukanya sih bagus2, tetapi rupanya beda rasa. Sudah biasa pegang steker/kabel di sini yg kokoh2, pas di sana, bolak-balik kesetrum…

    Gak apa-apa Pak.
    Harap maklum aja dengan penurunan kualitas produk, karena memang itu yang laku.

  9. tul banget… sekarang ini sangat susah untuk beli pernik2 (keran, Steker, kabel dkk) yang berkualitas bagus…. semua toko kecil dah keracunan produk cina….. hanya toko yang relatif besar yang masih menjual produk berkualitas…. dan sayangnya memang mahal benar…. 😦 untuk keran aja 15 ribu vs 150 ribu dengan model yang relatif sama… tapi soal kualitas yang mahal memang top…. sampe lupa kapan belinya….

  10. celakanya untuk menghadapi serbuan barang china, manufacturer lokal melakukan berbagai macam cost reduction program, kadang menurunkan kualitas produk tsb
    agar survive di peta perdagangan

  11. Berarti produk China lah yang menurun kualitasnya, bukan produk Indonesia, hehehe.. Soalnya setau saya sejak dulu memang kita banyak impor barang-barang rumah tangga dari China. Inget kakek-nenek saya yang sering membanggakan jam dinding (jam gandul), mesin jahit, sendok garpu yang made in China dan awet sekali kwalitetnya.

  12. Duh… china aja udah mulai concern ama kualitas (setelah didera kasus-kasus recall). Masak Indonesia mau ngekor di belakang china (mainland)? Aduh, plis dong jangan… it stinks (bukan rasis, but china mainland does stink, even in Shanghai… selfish, inconsiderate, pushy, dirty, no sense of hygiene, bad mannered, impolite, rude people on the street + pleghm on the sidewalk, public peepee and poopoo).

    Tolong dong, daripada ngikut mending mikirin bikin barang yang kualitasnya bagus. Masih ada koq marketnya. Apalagi kalau gw perhatiin di web, persepsi orang-orang udah ill-fell banget ama produk china. Malah banyak yang berjanji gak akan lagi nyentuh “made in china”. Peluang kan?

    Sorry, kalau gw gak ngikutin prinsip ekonomi, cuma… really, ngikutin china yang suka cut corners untuk turunin harga gak banget deh.

    Sorry, kalau kedengeran kayak china bashing. But… I just hate those f*cking red commies, ultra-capitalistic, authoritarian, amoral guys in the govt. and biz.

  13. Now I feel bad for having made generalization about the people here. The truth is I’ve met very helpful and nice people along the way.

    It’s just the daily frustration getting in and out of the subways, seeing people spit everywhere so frequently, throwing garbage on the street & sidewalk, screaming, and poisonous food and all those stinks and pollution in the air of Shanghai drive me nuts.

    I need to take my daily yoga now. Be zen.

  14. Secara pribadi saya suka kuantitas. Iyalah, toh saya hanya siswa gebleg yang tidak punya banyak uang.

    Tetapi apabila melihat kualitas, terus terang saja produk Indonesia belum banyak yang bisa dikatakan demikian. πŸ˜•

  15. Pak BR!
    dari pemahaman saya, kualitas yang baik tidaklah mutlak harus mahal. Yang pasti, kualitas produk yang jelek pasti dihasilkan oleh proses yang jelek. Yang kalau diteliti lebih lanjut, proses yang jelek dan amburadul ini justru sangat costly dan membebani konsumen.

  16. kalau saya lebih pilih kualitas (yang lebih mahal) dengan catatan ada duitnya, tapi kalau keperluan mendesak and nggak punya duit, mau nggak mau pilih yang murah. maklumlah, hidup pas pasan. mengapa saya lebih memilih yang kualitas, karena kalau rusak harus ganti lagi kan perlu waktu, tenaga dan lain sebagainya lagi.

  17. Ada kemungkinan kualitas produk menurun. Atau ada kemungkinan juga kualitas produk membaik tapi ekspektasi Anda terhadap produk tsb meningkat melebihi kenaikan kualitas. Coba kalau ekspektasinya diset di level terendah, semua produk pasti kelihatan bagus πŸ™‚

  18. Kayaknya yang berlaku hukum pasar: Permintaan dan Penawaran. Barang kualitas bagus ada kok, tapi harganya mahal. Mending jual barang yang murah tapi lakunya banyak dan cepat daripada jual barang mahal lakunya lama. Kadang ada toko yang sengaja menyediakan beberapa barang kualitas-1 dan kualitas-2 supaya konsumen ada benchmark.

    Mestinya, seperti kata Dedy Mizwar: Murah tapi tidak murahan. Seharusnya ada standar yang mengatur spec minimum dari produk (terutama barang). Tidak perlu terjadi menurunkan kwalitas supaya harganya jadi murah. Mending menjual barang seken (saya sudah membuktikan bahwa barang seken produk KW-1 lebih bagus daripada barang baru KW-2 atau KW-3).

    Khusus untuk kran air, awalnya saya beli yang menurut penjualnya KW-1 dengan harga mahal (biarin lah, paling beli sekali dalam 5 tahun). Ternyata masa pakainya sama dengan KW-3 yang harganya hanya 1/3-nya. Akhirnya saya beli yang KW-3 saja. Kalo gak lebih bagus, buat apa bayar lebih mahal.

  19. Saya sih lebih memilih produk Indonesia dari pada China yang kualitasnya SANGAT-SANGAT BURUK. Untuk produk keran, ledeng, accessory kamar mandi saya gunakan produk TOTO yang buatan Indonesia MURNI dan kualitasnya SANGAT-SANGAT BAGUS bisa bertahan lebih dari 10 tahun.

    Kalau untuk produk listrik misalnya Saklar, Switch, Kabel, dll. saya gunakan PANASONIC (Buatan Indonesia) atau Bosch & Lomb (Buatan Indonesia) yang kualitasnya juga SANGAT0SANGAT BAGUS dan bisa bertahan seumur rumah kita.

    Jadi menurut saya kualitas produk-produk Indonesia itu sangat-sangat bagus CUMAN orang-orang saja yang suka nyari-nyari produk murahan, yah fapetnya kualitas MURAHAN juga.

    You Get What You Pay For… πŸ™‚

  20. Ha ha ha barang cina memang busuk semua dan sialnya sekarang ini hampir sebagian besar barang yang beredar adalah produksi cina. ini pengalaman saya dengan barang made in china
    1. Keran air saya pernah beli di toko katanya harga tidak pernah bohong so saya beli yang paling mahal. apa yang terjadi kemudian baru 1 bulan juga sudah rusak dratnya. kemudian saya berpikir ah kalau begini lebih baik yang murmer saja. ya udah akhirnya beli yang murmer cuma 13 ribu. sampai di rumah saya pasang ke pipa paralon. saya kencangkan dengan tangan kosong gak pakai engkol. apa yang terjadi? keran air yang konon dari logam itu patah kayak kerupuk. akhirnya saya buang ke tempat sampah!
    2. saya penghobi parabola. saya pernah membeli receiver merek Matrix karena iklannya sering muncul di TV eh baru 1 tahun juga sudah rusak parah. akhirnya saya beli yang paling mahal di kota saya merek Hansen KH3, apa yang terjadi malah lebih parah! 1 bulan rusak sudah! Gila bener barang bikinan RRC! Masih banyak lain pengalaman pahit saya dengan barang made in china dan kayaknya gak akan muat kalau ditulis di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s