Presentasi, presentasi, dan presentasi

Baru saja saya pulang dari memberikan presentasi tentang entrepreneurship, dengan judul “From Zero to Hero”. Acaranya dilaksanakan di Financial Club dan disponsori oleh salah satu kandidat Ketua Ikatan Alumni ITB, Boyke Minarno.

Pada acara itu saya menceritakan tentang pengalaman saya memulai wiraswasata, dari nol, sampai ke sekarang – yang tentunya belum menjadi hero. Mau diceritakan di sini malah terlihat menjual diri. Tadi di panggung memang saya menjual diri; narsis tulen! ha ha ha. Ya, idenya sih memberi contoh kepada para pendengar yang kebetulan juga alumni ITB.

Setelah presentasi, ada ketemu dengan kawan-kawan lama di ISNET (Islamic Network). Kami membicarakan tentang revitalisasi server Isnet yang dulu sempat saya kelola beserta road map ke depannya. Ternyata tidak mudah mengelola infrastruktur bagi sebuah kelompok non-profit. [Cerita terkait ada di blog Harry Sufehmi.]

Besok pagi saya harus memberikan presentasi di depan salah satu klien kami. Hari Sabtu, saya kemungkin juga harus memberikan presentasi lagi tentang security dan knowledge management (serta data quality). Wah, banyak yang harus disiapkan, dipelajari, dan dituliskan.

Salah satu kunci keberhasilan sebuah presentasi adalah persiapan. Jadi kalau saya harus memberikan tiga presentasi, maka saya harus membuat tiga persiapan. Kebayang kan? Bagi yang tadi melihat saya memberikan presentasi, persiapannya juga tidak mudah lho.

Iklan

12 pemikiran pada “Presentasi, presentasi, dan presentasi

  1. Sekedar berbagi, Pak Budi.

    Untuk mendukung sarana infrastruktur pada komunitas non-profit memang berat sekali (saya punya pengalaman sedikit mengenai ini, Pak). Setahu saya, ada beberapa cara untuk mengatasinya.

    Diantaranya adalah;
    A. Mengoptimalkan kekuatan komunitas itu sendiri. Entah itu SDM atau SDA atau SDI (*Sumber Daya Illahi πŸ™‚ *) atau sumber daya lainnya.
    B. Membuat lingkar kedua. Lingkar kedua ini dikenal sebagai komunitas pendukung. Yaitu komunitas yang berbeda dengan komunitas inti, tapi amat mendukung kegiatan komunitas inti.

    Contoh A;
    1. Komunitas TKI/TKW di Hongkong bingung mengenai cara mendirikan Masjid.
    2. Mereka, para manusia yang berminat mendirikan masjid sama-sama belajar ilmu birokrasi lokal Pemda setempat, ilmu manajerial, ilmu penggalangan warga dan ilmu penumpulan dana.
    3. Setelah mereka menguasai ilmu tersebut, mereka baru mendirikan masjid.

    Contoh B;
    1. idem
    2. Mereka meminta bantuan pada pengacara lokal untuk mengurus akta notariat pada birokrasi. Serta melakukan inventarisasi dan penggalangan massa untuk membantu aksi mereka.
    3. Mereka langsung mendirikan mesjid.

    Dua-duanya ada pro dan cons masing-masing. Yang paling utama, masalah waktu. Saya berharap ditambahkan oleh pembaca lainnya.

    Semoga berguna, Pak.

  2. Wah dulu say akenal mislis adalah milis isnet dulu yang aku ikutin. kandang threadnya mencerahkan dan akdang bikin panas kuping juga. Wah sayang kalau skrg ISNET mati..

  3. Saya dulu mengenal dakwah via internet ya isnet itu.. sayang bgt kalo off

    mengelola komunitas apalagi non-profit memang susah. saya pernah nawarin konsep sana sini, ngajak2 temen dll, tapi susah betul.. berbulan-bulan! (Ngajak orang seneng2 pasti banyak yang mau, tapi ngajak bersusah-susah…???)

    susahnya cari teman dan jengkel (dengan diri sendiri) kaerna koar2 ide2 besar tapi tidak pernah ada realisasi ada akhirnya saja memutuskan jalan sendiri (coding, nyewa dan ngelola hosting, disain web, dll) ngebut gak sampe 2 minggu. Saya launch di website yang seadanya.

    Tyt gak sampe sebulan banyak ulasan baik media cetak bahkan Metro TV sempat mengundang saya (mgkn karena momennya sangat tepat)

    http://mtamim.wordpress.com/2007/09/27/review-di-tabloid-pulsa-dan-tabloid-newsponsel/
    http://mtamim.wordpress.com/2007/10/22/it-sebagai-media-dakwah/

    Tapi saya mikir juga utk sustain..
    Lha Isnet dengan segitu besar jaringan dan “backing” aja jalannya gamang…

    over all, ayo maju terus…

  4. Sayang sekali, baru tahu kalau ISNET sudah tidak aktif. Berarti satu aset dakwah maya sudah berhenti berproduksi. Mudah-mudahan banyak gantinya.

    Blog Anda menarik, pak Budi. Saya sudah bookmark ke favorites saya. Keep blogging, meskipun sibuk presentasi. πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s