Hilangnya Semangat Untuk Bercita-cita Besar

Beberapa waktu yang lalu saya memutar film tentang Silicon Valley di depan kelas saya (ada 3 kelas). Filmnya adalah Triumph of the Nerds, sebuah dokumenter yang dibuat oleh PBS dengan pembawa acaranya Bob Cringely. Film ini bercerita mengenai sejarah industri personal computer di Amerika dan banyak hal lainnya lagi.

Tujuan saya memutar film tersebut adalah untuk menunjukkan kepada mahasiswa saya bagaimana rekan mereka (peer) hidup di sana, bagaimana mereka belajar dengan keras, bekerja dengan hati, dan yang lebih penting … punya cita-cita yang besar. Semua yang saya amati punya cita-cita “change the world“. Tentunya agar kehidupan kita menjadi lebih baik. (Jangan-jangan jawaban ini seperti pertanyaan di acara pemilihan ratu-ratu; apa yang Anda inginkan? Jawabannya adalah “world peace”? ha ha ha.)

Saya perhatikan tidak banyak mahasiswa yang termotivasi dengan film ini. Hik hik hik. Sebagian besar dari mahasiswa ini hanya berpikiran untuk lulus. Itu saja. Selebihnya tidak tahu. Pokoknya mengikuti arus saja. Padahal nanti kalau sudah lulus mereka akan mendapat tekanan yang lebih berat. (Kerja dimana dik? Hah? Belum kerja?)

Hal yang sama saya jumpai di dunia pekerjaan. Jarang ada yang ingin berbuat sesuatu dalam skala yang besar. Hidup bagaikan zombie. 😦 Datang ke kantor, mengisi daftar absensi, kerja (masih untung kerja, ada yang hanya baca koran), dan pulang.

Iri juga melihat orang Barat masih memiliki cita-cita, keinginan, atau wish. (Lihat tulisan saya tentang TED wish; keinginan untuk mengubah dunia. They still want to change the world.) Eh, tidak hanya orang Barat saja kok. Saya masih punya banyak keinginan yang belum tercapai (ingin punya research center, ingin punya park, ingin … banyak lagi). Dan untuk itu, saya masih harus berjuang keras.

Bagaimana kita mau berkompetisi dan berkolaborasi dengan peer kita di luar negeri sana jika kondisi kita masih seperti ini? Jangan pedulikan itu.

Ayo, semangat, semangat, semangat!

45 pemikiran pada “Hilangnya Semangat Untuk Bercita-cita Besar

  1. Saya melihat banyak diantara kita yang sebenarnya punya keinginan dan cita-cita besar. Namun krn kondisi lingkungan yang kurang kondusif, akhirnya banyak yg memilih bersikap pragmatis. Jangan salahkan jika mahasiswa berpikiran lulus dulu urusan belakangan atau mereka yg sudah bekerja tetapi lebih memilih menjadi zombie. Memang sedih pak. Kayaknya perlu adanya upaya membuat dan menata lingkungan yg kondusif. Dan pak Budi mungkin bisa menjadi salah satun pelopornya. Salam.

  2. Mas Budi, menurut saya baik jika anda berusaha ‘mendorong’ siswa siswi anda utk punya cita cita tinggi. Tapi tidak perlu sedih hik hik hik segala dong.

    Jalan hidup manusia itu berbeda2. Dari 100 orang, tidak mungkin seluruhnya akan bercita-cita tinggi.
    Tujuan hidup manusia juga berbeda2. Kalau anda berpendapat bahwa cita2 tinggi itu penting, ya itu anda. Orang lain sudah sangat bahagia dengan hal2 yang sederhana.

    Saya sendiri dulu juga bercita2 tinggi. Ingin menjadi yang terbaik. Tapi saya merasakan, utk mencapai cita2 itu saya harus mengorbankan banyak hal, waktu, cara hidup yang sehat (makan, olahraga, tidur). Sampai suatu saat saya yakin kalau dalam hidup itu banyak hal2 yg lebih penting daripada mencapai hal2 yg tinggi, atau mencapai kesuksesan.

    Yang penting utk saya adalah kebahagiaan, kesehatan, bisa membuat bahagia orang lain. Yang sederhana saja deh, meluangkan waktu utk keluarga misalnya.
    Daripada ngeblog hal2 yang kurang penting, sudah berapa menit/jam/hari totalnya yang sebenernya bisa dipakai utk menemani istri dan anak?

    Kembali ke topik anda, di Indonesia masalahnya bukan orangnya, tapi situasi yang mendukung orang2nya.
    Saya yakin di komunitas mana pun negara mana pun pasti akan ada orang2 yang bercita2 tinggi, bercita2 menengah, dan lupa bercita2 :p. Itu sudah normal, manusia dibuat berbeda2. Masalahnya, apakah Indonesia bisa mendukung yg bercita2 itu?

    Coba deh kumpulkan 5 orang siswa siswi (dari ratusan?) mas budi yang punya motivasi tinggi, passionate, dan semangat. Terus kirim ke negara yang bisa mendukung cita2 mereka itu, kemungkinan sukses nya akan berlipat ganda kan?
    Bukan berarti di Indonesia tidak bisa sukses. Tapi faktor penghalangnya semakin banyak, kalau faktor2 itu yg sah sah saja mungkin masih bisa ditolerir, tapi kalau sudah seperti butuh koneksi, KKN, sogok menyogok?

  3. Nah… CEO Oracle harus ngasih ceramah dulu, pak! Itu tuh yang nyuruh mahasiswa Drop Out bareng dan bisnis sendiri. Bilang.. yang lulusan IT itu paling banter gajinya cuma 10 juta per bulan dan diperas sama teman-teman mereka yang duluan drop out. Hahaha hihihi.

    The speech refers to graduates as losers, because “I, Lawrence “Larry” Ellison, second richest man on the planet, am a college dropout, and you are not. Because Bill Gates, richest man on the planet – for now anyway – is a college dropout, and you are not. Because Paul Allen, the third richest man on the planet, dropped out of college, and you did not”.

  4. Salam Kenal dari saya, Andi Gunawan ….

    Teruskan memberi semangat mahasiswa anda atau siapa saja untuk bercita-cita tinggi, untuk mengubah dunia supaya menjadi lebih baik, menjadi tempat nyaman untuk di tempati. Mas Budi beri mereka semangat untuk pemimpin yang baik atau menjadi pencipta lapangan kerja bukan sekedar pencar kerja.

    Oh iya saya juga mau komentari saudara Marek yang terlihat pesimis dengan kondisi yang ada sekarang di Indonesia atau anda pesimis untuk diri anda sendiri untuk mengubah suatu kondisi menjadi lebih baik atau yang terbaik. Saudara Marek ide-ide besar dimulai dari hal-hal yang sederhana (anda baca tokoh seperti Thomas Alfa Edison) kemudian seiring dengan waktu orang yang sederhana ini mampu mewujudkan ide besar tersebut, atau para nabi dan rosul yang tadinya pun orang-orang sederhana dan mampu mengubah dunia. Andapun berfikir sederhana yaitu ingin membuat orang bahagia, bagaimana melakukannya kalau anda sendiri pesismis? atau mau berapa banyak orang yang akan anda jadikan bahagia ?

    Terima kasih … Eh Mas Budi, mau donk komentarin Blog-ku di AyoBangkitIndonesiku.wordpress.com thanks atas atensinya …

  5. Mas Budi…
    Mudah-mudahan bisa sukses mentrigger mahasiswanya untuk mempunyai semangat untuk maju. Dalam terminologi agama,ada dua ungkapan yang seolah bertentangan padahal tidak. Ada ungkapan agama yang mengatakan bahwa: ‘Allah tidak akan mengubah suatu kaum sehingga kaum itu merubah dirinya sendiri’, nah ungkapan ini cocok untuk mahasiswa pak Budi. Tapi kalau mahasiswanya super optimis dan merasa hanya dengan kerja keras-nya mereka berhasil. Maka ayat yg dipakai adalah:”Sesungguhnya Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (jabariyah)”. Artinya, Tuhan tetap bermain dalam kesuksesan seseorang. Ini juga berarti bahwa dua ungkapan yang dua-duanya diambil dari Quran atau pesan Rasull itu tidak ada pertentangan, tapi bagaimana dengan bijak kita menerapkannya pada konteks orang yang kita hadapi…

    Tabik
    Halliva

  6. @Marek: Anda terlihat pesimis sekali dengan kondisi Indonesia saat ini. Kalau kita hanya menunggu saja sampai keadaan kondusif (“situasi yang mendukung orang-orangnya”) untuk bercita-cita besar, mau nunggu sampai kapan? Siapa yang bisa membuat Indonesia kondusif?

    Karena keadaan Indonesia belum kondusif, bukan berarti kita harus menelantarkan cita-cita besar kita. Justru dengan cita-cita besar besar ini diharapkan bisa membuat keadaan Indonesia menjadi kondusif untuk cita-cita besar yang lainnya.

    Yang bisa kita lakukan sekarang adalah tetap bersemangat mencapai cita-cita besar kita. Dan tidak lupa memberi semangat kepada orang lain yang kehilangan semangat.

    Untuk Marek, anda punya cita-cita besar, tetap semangat untuk meraih cita-cita itu. Keluarlah dari zona nyaman anda masih banyak yang harus kita lakukan untuk bangsa ini. Oke Marek..tetap semangat! Merdeka!

  7. Pak, lagi senang nonton TED ya? Sama nih – sudah lihat presentasinya Sir Ken Robinson mengenai Pendidikan dan Kreativitas? Mindblowing… dan sedikit menjelaskan mengapa ‘kreativitas’ menjadi barang langka sekarang.

    Pak, bagaimana kalau kita organize semacam TED di Indonesia? Bisa kan seharusnya? Count me in kalau memang ada niatan kesana, tidak usah besar-besar dulu, mungkin cukup 5-10 orang di kafe yang ada presentation roomnya – sekedar sharing idea (dan menunjukkan bahwa sharing idea itu bukan hal yang haram dalam dunia bisnis/kreatif/teknis dengan alasan takut idenya dicuri). Harusnya sih seru :).

  8. gimana punya semangat kalau gak punya cita-cita?
    gimana punya cita-cita kalau gak punya wawasan… dan suhu/suheng yang berwawasan 🙂

  9. Pak, nih, saya mungkin contoh yang sok-sokan punya cita-cita besar …

    Udah kenyang dikatain stres, bloon s/d gila oleh banyak orang.

    Bahkan, mantan mahasiswa saya aja ikutan mengejek-ejek saya … hik … hik … hik …

    Sebelum mengkampanyekan agar punya cita-cita besar, mungkin kita lebih baik mengkampanyekan dulu semangat untuk hidup dengan penuh etika.

    Etika kepada orang yang lebih tua dsb …

  10. Wah…sungguh beruntung mahasiswa/i yang diajar oleh Pak Rahard.
    Sebenarnya metode belajar yang saya inginkan seperti yang
    Bapak terapkan. Memotivasi mahasiswa terlebih dahulu. Saat ini
    tidak sedikit lulusan IT yang sebenarnya kurang mencintai
    bidangnya. Mereka hanya mengejar nilai semata tanpa mencintai
    mata kuliahnya. Yang mereka tau bagaimana setelah lulus mendapatkan uang
    banyak. Saya salut melihat anak2 India. Mereka sangat
    mencintai dunia IT, mereka rela berjam-jam mengoprek di
    depan komputer meskipun tidak menghasilkan uang.

  11. Ada dikatakan bahwg manusia itu adalah pro duk dari lingkungan. Kalau pengaruh lingkungan sdh membisikkan bahwa yg terbaik adalah tamat sekolah, dapat ijazah dan cari kerja, jelas pikiran akan terfokus kesana, mana ada keinginan untuk bercita-cita menggapai bintang dilangit.

  12. APakah budaya “apa adanya” itu merupakan produk turunan dari budaya kita orang Melayu, yang memang cenderung nggak ngoyo? Atau produk turunan dari istiadat yang pasrah pada takdir? Sungguh, jika Anda iri dengan Barat, saya juga iri dengan manusia-manusia ulet dari Jepang dan Vietnam yang punya etos kerja luar biasa………….

  13. Hidup bagaikan zombie. Datang ke kantor, mengisi daftar absensi, kerja (masih untung kerja, ada yang hanya baca koran ngeblog ), dan pulang.

    :mrgreen:

  14. Wah punya filmnya ya pak Budi, saya udah cari kemana-mana gak ada *secaranya nyari di glodok :p*
    Bisa di pinjam pak ? *dengan cara modern, alias di Rip* ? Thanks

  15. Problematika pendidik memang salah satunya pada “membangkitkan motivasi” anak didik. Ini yang saya peroleh dr dosen AKTA IV saya…
    Memberikan materi itu soal gampang. Membangkitkan dan memelihara/menjaga motivasi mereka, itulah yang lebih sulit. Padahal, jika motivasi internal tak ada, atau lemah, maka aktivitas belajar jadi hanya akan ke arah yg “biasa-biasa” aja. Itu masih mending buat mereka yg mau belajar. Lha wong siswa saya aja banyak yg males belajar. Belajar di jurusan yang mereka pilih (sendiri?) aja males. Apalagi, apa tuh tadi kata Pak Budi? “Mengubah dunia”?
    Sebelum berpikir mengubah “dunia” tempat tinggal orang banyak ini, lebih baik mengubah dulu dunia mereka sendiri. Mengubah dunia *kita* sendiri, maksud saya 😉

  16. Itu filmnya yang soal Bill Gates dan Steve Jobs itu bukan pak?
    Seingat saya pernah nonton yang judulnya Silicon Valley juga, dan ceritanya tentang ‘persaingan’ antara Jobs dan Gates.

    Btw, mahasiswa yang diceritain, mahasiswa ITB tuh? *siul2*

  17. Ketika usia kita masih lagi belia atau remaja, umunnya kita berani bermimpi serta bercita-cita. Makin tambah usia, makin banyak pula informasi, baik yang positif maupun negatif, yang “mem-brainwashing” pikiran kita, sehingga untuk bermimpi serta bercita-cita lebih besar lagi selalu dihadapkan pada realita hidup.

    Aku jadi teringat kata-kata Pramoedya Ananta Toer dalam roman Rumah Kaca:

    “Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka ‘kemajuan’ sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.”

    Jadi penasaran dengan filmnya. Thanx sudah memberikan inspirasi, Mas Budi.

  18. Perut mereka udah pada kenyang semua pak, mereka gak perlu mikirin uang bulanan kiriman orang tua di kampung, sementara kita masih terbebani oleh banyak hal…

    mmm, pas nonton film “Silicon Valley” rasanya pengen sekali dan berandai2 jika saya bisa berada di sana, bisa seperti “Wozniak” yang ngoprek hardware rakitan ampe konslet sekalipun, bisa liat “Steve Jobs” jual mobil buat bikin perusahaan pertamanya, bisa liat “Bill Gates”, “Paul Allen” dkk ngoprek komputer di kampus, n nyari proyek ke negeri tetangga.

    mmm, tapi pas saya tersadar dari mimpi, akhirnya saya mikir, mungkin gak ya ini terjadi disini di Indonesia tercinta, ya mungkin aja sih, tapi, ya banyak tapinya pasti…

    Gmana pengen beli kompie wong uang kiriman dari emak n bapak di kampung hanya cukup untuk makan dan bayar kos, jangankan punya mobil seperti Steve Jobs, pengen punya sepeda aja mesti nabung bertahun2…

    coba deh bapak liat Depdiknas kita yang makin gila dalam membuat kurikulum gila n gak mikir tingkat pendidikan di kampung dan daerah pedalaman bagaimana ???

    saya yakin kalo Steve Jobs, Bill Gates, lahir di Indonesia, di daerah pedalaman, dan lahir dari orang tua yang susah, sempet gak ya dia ngoprek2 komputer ? palingan juga bajak sawah… atau nanem singkong buat nyambung hidup…

  19. Filmnya sih memang inspiratif,, tapi dengan kondisi kampus yang seperti sekarang, tugas blablabla,, absen 80%,, gak boleh mandi [lho???]. Aneh, ternyata kampus gak ada bedanya dengan sekolah.

    bosan sekali.

    kalau yang saya kejar hanyalah IP 4.0 , rasanya hambar.

    duh, pak. benar rasanya. setelah masuk kampus rasanya semua angan2 saya yang tinggi semasa SMA, kandas rasanya.

  20. suarakan keinginanmu dengan blog, dengan langkah nyata, satu juta blog adalah keinginan besar??? gimana caranya itulah peer kita … (nyambung nggak yah, bodo ah)

  21. orang barat sudah mengubah dunia, dan kita sudah berubah menjadi orang barat lalu apa lagi yang akan kita kejar ?

  22. Pak Budi, orang barat juga banyak yang resah. Seingat saya, di sekitar tahun 2001, boss NASA waktu itu, Golding, sempat mengeluh kemana dunia pendidikan di Amerika ini? Jurusan Sci-Tek menurun, yang ngurusi gizi, senam, pengontrolan berat badan dsbnya malah bertambah. Bukan bidang kedokteran maksudnya. Paul Zane Pilzer malah menyebut healthcare business sebagai sickness business dan business sampingan yang menyaingi sickness business ini kian berkembang dan perhatian orang beralih dari science and technologi secara umum ke bidang yang akan membawa ke Next Trillion itu. Jadi yang gelisah bukan cuma pak Budi. Hanya saja di dalam film yang pak Budi putar itu,(saya belum pernah nonton) saya pikir, systemnya sudah terbentuk jadi biarpun Goldin dll bingung secara keseluruhan, tetapi di lingkungan academic atau perusahaan masih banyak yang maju. Ngomong begini jadi ingat kisah yang sering dituturkan pak Poer almarhum waktu mendirikan Pasca Opto di UI. Beliau bilang, di Jerman asal mahasiswa punya niat, semua sudah tersedia dan dia bisa teruskan sampai Ph.D., kalau dia memang punya kemampuan otak. System pendukungnya sudah terbentuk. Mau masuk ke Grad School nggak mampu pun ada Graduate Assistantship, bebas tuition dsbnya. Apa bukan begitu ya pak Budi?
    Sedangkan di America sini menurut small business administration office, setiap tahun banyak sekali business baru yang tumbuh, tapi dari sekian business baru, yang berhasil hanyalah beberapa persen yang terbaik (dalam arti teknik dan manajemen). Soal cita-cita besar, butuh biang keroknya pak Budi. Cita-cita besar harus ditularkan. 🙂
    Mudah2an dengan kuliah gabung ini, cita-cita besar itu bisa ditularkan dan itu akan mendukung upaya menuju terwujudnya impian pak Budi. Semoga…..

  23. jadi dapet inspirasi dari tulisan ini.

    saya juga punya tekad kuat(tapi mungkin belum bisa dibilang cita2 besar).

    hari depan kita harus lebih baik dari sekarang (untuk segala aspek).

    Menurut saya, kita jangan terlalu menyerah dengan keadaan kita sekarang yang diberikan oleh Tuhan (dalam artian ada usaha untuk lepas dari kondisi2 yang menurut kita kurang baik).

    Saya setuju dengan komentar halliva di atas tadi (saya setuju dengan ayat2 yang dia sebutkan).

    intinya, kalau mau berubah harus ada usaha! (tapi jangan lupa berdo’a karena itu juga ngga kalah penting!) jangan hanya menunggu kondisi yang mendukung. justru kita yang harus mengusahakan supaya kondisi itu menjadi lebih baik!

    jadi inget nih sama lagunya Sheila on 7 yang judulnya “Jalan Terus” (album ‘The Very Best of S07’) dan yang judulnya “Generasi Patah Hati” (album ‘Pejantan Tangguh’). Cocok banget ma tulisan ini.

    What a great think Mr. Budi!

  24. Menurut sepengelihatan saya, lingkungan di sini seringkali membuat kita tidak berani bermimpi. Padahal kalau pengin sesuatu, maka harus punya mimpi dulu.

  25. senada dengan avianto…
    ada baiknya dimulai dari yang sedikit dulu, pak..
    siapa tahu semakin lama semakin banyak…
    mau juga saya ikutan dari ngumpul kecil2an dulu 😀

    @avianto
    Pak, bagaimana kalau kita organize semacam TED di Indonesia? Bisa kan seharusnya? Count me in kalau memang ada niatan kesana, tidak usah besar-besar dulu..

    TED? apaan ya?

  26. Silicon Valleys.. erm

    Ironically Pak Budi, i just had a discussion with my father this morning on hows Stanford’s students became a pioneer and contributed to the success of the Silicon Valley and how they found Sun Microsystems. Erm.. “orang barat” is way too advance and they are passionate on whatever things they do. Erm..

  27. begitulah pak anak muda sekrang ga punya mimpi.
    Mereka bahkan ga berani untuk bermimpi.
    Sekalinya bermimpi malah kerendahan.
    Masak mimpinya hanya kerja di perusahaan multinasional, itu sih mudah buat anak itb.

    Rindu soekarno yang punya mimpi memerdekakan indonesia.

  28. banyak org gak punya cita2 yg tinggi karena takut gak kesampean pak..
    bagai org yg ingin pigi ke ‘atas’ tapi takut jatuh..
    yah, pdhl cita2 tinggi enggak sama dengan mimpi kan pak??? 😕
    *bingung nih*

  29. salam kenal pak budi
    pernah tidak bapak memperhatikan, tiap angkatan yang baru lulus [paling tidak dari sekolah tempat bapak mengajar] selalu merasa angkatan di bawahnya tidak kompeten, kemampuan juangnya menurun dan manja. dulu saya merasa ini hanya komentar orang-orang gila senioritas. tapi … saya merasa begitu juga akhirnya. ada penurunan kemampuan untuk berjuang. mungkin karena sekarang semuanya relatif lebih gampang didapat. butuh data anu.. sila tanya mas google… ada! dulu kan, musti nggombalin penjaga di perpus sekolah anu supaya bisa dapet data yang dicari :-p.
    atau karena arus informasi terlampau deras, teman-teman junior kita tidak lagi bisa fokus. informasi gaya hidup hedon lebih dominan diadaptasi karena jelas lebih asyiiik.
    kalau saya boleh bercermin pada dosen2x jadul saya… mereka itu konvensional sekalee.. banyak yang tidak tahu bagaimana cara pakai email,tapi .. konsep mereka matang. tahu mau ke mana dan harus bagaimana. anak-anak kita sekarang –mungkin termasuk saya, bisa pandai dalam teknis, tapi tidak tahu tujuan akhir, tidak tahu mau dibawa ke mana kemampuan mereka itu.
    bapak tentu pernah baca bukunya andrea hirata. tentang mimpi . mungkin settingnya harus begitu, harus dalam kondisi tertekan ~ supaya bisa hasilkan jiwa berjuang.
    tabek

  30. berbuat,berbuat….sapailah tujuanmu.
    1.mulailah dari diri sendiri
    2.mulailah dari yang kecil
    3.mulailah saat ini
    insya Allah cita2mu akan tercapai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s