Tag

, ,

Ada banyak kawan yang melakukan kegiatan sosial. Ada yang bergerak di lingkungan pendidikan, kesehatan, bisnis, dan banyak lagi. Pada umumnya kegiatan ini dilakukan secara informal, tidak teroganisir (ad hoc), dan tanpa menggunakan bendera atau badan hukum apapun. Kemudian muncul masalah konsistensi dan kelangsungan dalam menjalankan kegiatan sosial tersebut. ternyata dibutuhkan sebuah lembaga formal. Mulai timbul masalah.

Masalah utama adalah bentuk dari lembaga formal ini. Bentuk yang natural adalah yayasan (foundation). Sayangnya yayasan di Indonesia ini sudah pernah disalahgunakan (abused) sehingga sekarang dipersulit untuk membuatnya.

Jika kita perhatikan memang ada perbedaan dalam penggunaan lembaga ini. Di luar negeri, umumnya ada orang kaya yang ingin membuat sebuah kegiatan sosial, dia kemudian membuat yayasan atau foundation ini. Jadi si lembaga ini tidak berusaha untuk mencari dana (secara profesional) untuk mendanai kegiatannya. Dia bisa lebih fokus kepada menjalankan kegiatannya.

Di Indonesia (umumnya) orang membuat yayasan untuk menerima dana dan juga untuk mencari dana (untuk kegiatan sosialnya). Seringkali yang terakhir itu – mencari dana – malah menjadi fokus utamanya. Yayasan kemudian menyelenggarakan kegiatan profesional, memberikan layanan berbayar, membuat sekolahan, dan seterusnya. Kemudian mereka lupa alasan mengapa mereka mendirikan yayasan tersebut dan lebih fokus kepada mencari uangnya.

Saya tidak mengatakan bahwa mencari uangnya tidak penting, karena tanpa uang kegiatan mereka bisa tersendat-sendat. Namun saya perlu mengingatkan bahwa tujuan awalnya adalah agar kegiatan berjalan. Jadi yang lebih penting adalah kegiatan berjalan. Jika uang harus habis, tetapi kegiatan jalan, itu harus dilakukan. Jangan sampai uang dihemat-hemat (karena mau diwariskan ke kepenguruan berikutnya) sampai mengorbankan kegiatan.