Tag

, ,

Live coverage dari acara Sharing Vision, di Hotel Preanger, Bandung. Agus Nggermanto (kiri) dan Budi Rahardjo (kanan) mengusung topik “IT Outsourcing”. (Dipotret jam 8 pagi sebelum peserta datang.)

Di sesi pertama saya bercerita mengenai peta IT Outsourcing dunia. Saya bercerita mengenai Wipro, Infosys, Tata, … dan seterusnya. Saya juga bercerita mengenai India, China, Filipina (call center), dan Vietnam. Potensi Indonesia ada dimana ya? Kira-kira bisa ditunjukkan dalam gambar berikut ini. (Interpretasi saya.)

Keluhan yang paling banyak muncul dari peserta adalah ketidakpuasan terhadap outsourcer. Peserta merasa dijerat oleh vendor. Seolah-olah vendor membuat perusahaan peserta menjadi bergantung kepada outsourcer. Ketika dalam tahap negosiasi, baik-baik saja, tetapi setelah kontrak perusahaan menjadi tidak berdaya. Bagaimana mendeteksi vendor yang nakal ini. (Kalau saran saya sih diajak kelahi saja. he he he. Sok lah, diajak gelut wae.)

Saya menjawab pertanyaan di atas dengan membuat sebuah analogi, yaitu dengan analogi mencari pasangan hidup. (Lah, kok kembalinya ke situ lagi.) Nampaknya analoginya cocok. Namun ada dampak “negatifnya”. Peserta meminta untuk diberikan panduan pemilihan “pasangan hidup” vendor. Wah, seperti (beberapa orang) pembaca blog ini (dan blog lainnya) yang meminta panduan pemilihan jodoh. Waduh.