Mengusung IT Outsourcing

Live coverage dari acara Sharing Vision, di Hotel Preanger, Bandung. Agus Nggermanto (kiri) dan Budi Rahardjo (kanan) mengusung topik “IT Outsourcing”. (Dipotret jam 8 pagi sebelum peserta datang.)

Di sesi pertama saya bercerita mengenai peta IT Outsourcing dunia. Saya bercerita mengenai Wipro, Infosys, Tata, … dan seterusnya. Saya juga bercerita mengenai India, China, Filipina (call center), dan Vietnam. Potensi Indonesia ada dimana ya? Kira-kira bisa ditunjukkan dalam gambar berikut ini. (Interpretasi saya.)

Keluhan yang paling banyak muncul dari peserta adalah ketidakpuasan terhadap outsourcer. Peserta merasa dijerat oleh vendor. Seolah-olah vendor membuat perusahaan peserta menjadi bergantung kepada outsourcer. Ketika dalam tahap negosiasi, baik-baik saja, tetapi setelah kontrak perusahaan menjadi tidak berdaya. Bagaimana mendeteksi vendor yang nakal ini. (Kalau saran saya sih diajak kelahi saja. he he he. Sok lah, diajak gelut wae.)

Saya menjawab pertanyaan di atas dengan membuat sebuah analogi, yaitu dengan analogi mencari pasangan hidup. (Lah, kok kembalinya ke situ lagi.) Nampaknya analoginya cocok. Namun ada dampak “negatifnya”. Peserta meminta untuk diberikan panduan pemilihan “pasangan hidup” vendor. Wah, seperti (beberapa orang) pembaca blog ini (dan blog lainnya) yang meminta panduan pemilihan jodoh. Waduh.

Iklan

49 pemikiran pada “Mengusung IT Outsourcing

  1. pada prinsipnya memang selaku perusahaan, seharusnya tidak tergantung oleh vendor. tapi pada kenyataannya, vendor juga tidak ingin kehilangan pelanggan, maka dibuatlah perusahaan tadi tergantung, dalam kapasitas full atau setengah atau sedikit tergantung.

    di Singapura, saya juga melihat praktek2 seperti ini ketika perusahaan mengoutsource, bahkan banyak vendor baru “belajar” proses bisnis ketika menangani client, dan dari modal yang sama dijual ke tempat lain. bedanya SG dengan Indo yang saya lihat adalah kepedean mereka yang luar biasa, meski para vendor outsource ini nantinya juga akan mengoutsource lagi ke negri lain semacam Cina.

  2. Kalau dari sudut pandang perusahaan (bukan vendor), maka perusahaan harus mempertimbangkan aspek cost, benefit dan risk secara menyeluruh atas pemilihan:
    1. area/proses kerja/fungsi apa yang mau dioutsourcingkan,
    2. bentuk outsourcing seperti apa yang paling tepat
    3. solusi software/hardware/infrastruktur apa yang paling tepat
    4. vendor mana yang lebih tepat

    Karena setiap perusahaan memiliki karakteristik dan kondisi yang berbeda-beda, maka belum tentu solusi outsourcing yang dipilih perusahaan A pasti cocok juga untuk perusahaan B. bahkan sekalipun perusahaan itu bergerak di industri yang sama. Jadi preferensi terhadap IT outsourcing bisa berbeda beda antara perusahaan yang satu dengan yang lain.

    Kalau sering kita dengar bahwa outsourcing itu bisa membuat perusahaan fokus pada bisnisnya, maka itu hanya terkait aspek benefit nya saja. Kalau kita ngomong bahwa akan ada ketergantungan terhadap vendor maka itu baru aspek risiko saja. Bahwa ada kemungkinan vendor tersebut baru belajar, tidak berkualitas atau justru mengoutsourcekan lagi ke vendor lain yang juga tidak jelas maka itu semua adalah aspek risk nya.

    Yang diperlukan pertimbangan menyeluruh dari sudur pandang cost, benefit, dan risiko. Baru keputusannya bisa kita yakini kualitas dannya. Dan kalau pertimbangan menyeluruh tersebut dilakukan maka pihak-pihak terkait di perusahaan tersebut telah mengambil keputusan dengan cara yang profesional..

    Salam,

  3. pak kalau boleh tahu perusahaan apa yang biasanya memanage IT outsourchingnya trus ada sumber2 tentang It sourching, buat tugas kuliah neh

    trims

  4. bbrp framework dapat digunakan untuk memilih aktifitas yang sebaiknya dioutsource seperti core competencies, sedangkan untuk pertimbangan biaya dapat digunakan transaction cost economics atau resource dependencies memilih vendor. selamat mencoba….

  5. Pemilihan vendor memang menjadi salah satu titik penentuan keberhasilan IT outsourcing. Mungkin bisa ditambahkan bagai mana tips bernegosiasi dengan vendor.Trims.

  6. Saya setuju dengan pendapat bahwa perusahaan harus membuat pertimbangan menyeluruh dari sudut pandang cost, benefit, dan risiko dalam memutuskan pemilihan vendor dalam IT outsourcing.

  7. Saya sepakat bahwa pemilihan vendor merupakan faktor yang penting dalam kesuksesan kemitraan atau kerjasama antara outsourcing dengan perusahaan. Namun, untuk meminimalisir ketergantungan terhadap vendor (apalagi jika ternyata vendor-nya nakal) maka lebih baik bukan core business yang di-outsource-kan…..

  8. Perkembangan outsorcing IT beararti semakin tinggi ya pa..munculnya India dan China sebagai salah satu provider IT Outsourcing yanng cukup besar di Asia dan bahkan Dunia..apakah akan mendorong ahli-ahli IT kita untuk berkompetisi lebih tinggi atau malah bergabung dengan perusahaan-perusahaan IT mereka pa?

  9. perkembangan vendor untuk outsourcing TI sekarang ini sangat pesat, tapi dibalik itu kita harus berhati-hati dalam memilih vendor yang akan digunakan. Bagaimana cara memilih vendor yang sesuai dan tepat dengan apa yang dibutuhkan oleh perusahaan?

  10. Sebelum menentukan vendor yang menjadi mitra kerja, sebaiknya Perusahaan harus melakukan penilaian atau kriteria vendor yang baik. Jika kedepatan ada vendor yang nakal… kan ada Undang-undang yang terkait (UU no. 13 itu loh). Bisa aja dikenakan sanksi.

  11. memilih vendor Outsourcing SI seperti memilih pasangan hidup. susah dong??!
    ok,, serius ah sekarang.
    sebaiknya sebelum perusahaan memilih vendor, sudah dilakukan survey misalnya dengan mendengarkan rekomendasi perusahaan lain yang telah bermitra. jadi, tidak ada lagi komplain merasa tidak puas dengan kinerja vendor.

    salam, bettya.

  12. Mungkin cara lain yg dapat ditempuh oleh perusahaan IT outsource dalam menghadapi kompetisi dengan IT outsource luar/asing adalah dengan membentuk asosiasi, sehingga IT outsource Indonesia dapat exist

  13. Artikelnya sangat menarik Pak..China dan India memang semakin memainkan perannya dalam pesatnya perkembangan IT Outsourcing dewasa ini. Tapi kira-kira..vendor dari negara manakah yang lebih komit dan kooperatif ya Pak?

  14. di indonesa sendiri tren penggunaan outsourcing banyak di industri mana? perusahaan mana yang kira-kira dapat dipercaya sebagai vendor?

  15. Keluhan yang paling banyak muncul dari peserta adalah ketidakpuasan terhadap outsourcer, berarti para vendor yang sekarang ini di Indonesia belum kompeten? apa harus cari vendor di luar kalo begitu.. siapa tahu “jodoh”nya ada di luar negri :p

  16. vendor nakal..??bagaimana agar kita tidak salah pilih vendor?
    juka dijalankan dengan baik, strategi outsoucing mampu memberikan keuntungan baik bagi pihak perusahaan maupun tenaga ahlinya..

  17. wah kalo di matriks itu kayanya indonesia mirip2 india,,penduduk besar dengan kapabilitas yg tinggi juga..tapi kok lingkaran nya kecil ya? apa gara2 banyak vendor outsourcing yg “nakal”?
    jadi analogi mencari pasangan hidup itu yg kaya gimna ya? supaya gak salah pilih vendor..

    tq,
    rai fertilini

  18. Jadi selalu berfikir negatif terhadap vendor-vendor IT. Yang paling penting agar ke depannya tidak terjadi masalah adalah membuat kontrak kerjasama yang jelas dan menguntungkan untuk kedua belah pihak. Selain itu carilah informasi sebanyak-banyak untuk vendor yang berkompeten sebelum menentukan akan memilih vendor yang akan dipakai

  19. wah pak, klo gtu negara kita cukup bagus dong ya? itu buktinya kita hampir disejajarkan dengan China dan India. hanya perlu sedikit perbaikan kualitas SDM saja mungkin.,,,

  20. Sepertinya dengan berkembangnya outsourcing IT ini, perlu dibuat aturan main yang jelas baik berupa undang-undang, kepmen maupun prosedur terperinci berupa kontrak di perusahaan pemakai jasa. Sebagai penyedia jasa, apakah ada sertifikasi yang menjamin kompetensi mereka??

  21. Adakah daftar hitam vendor-vendor outsourcing nakal pak?
    bila ada sungguh sangat membantu sekali bagi perusahaan yang ingin menerapkan IT secara outsourcing.

  22. Saya setuju mengenai keterbukan kita untuk mempersiapkan peluang pasar yang tinggi terhadap IT outsourcing, dengan mempersiapkan kualitas SDM, dan juga infrastruktur dan faktor pendukung lainnya. Apabila gerakan kita lambat, maka negara lain yang notabene potensinya lebih kecil akan memanfaatkan peluang ini. Contohnya adalah Vietnam.

  23. Wah kasus tersebut jadi mirip dengan tulisan kecil di iklan – iklan …”syarat dan ketentuan berlaku” . Mungkin fase-fase yang menuntut perhatian ekstra dari para pengguna jasa outsource seperti misalnya tim legal yang mempelajari kontrak kerja dengan tim outsourceharus di”outsource” juga ke lembaga advokasi setempat supaya “melek” aturan.

  24. Pemilihan IT outsourcing suatu perusahaan memang harus mempertimbangkan sudut pandang cost benefit dan resiko pemilihan vendor agar pemilihan IT outsourcing bisa menjadi efektif.

  25. Menarik sekali membaca gambar daya tarik lokasi Vs kapabilitas pekerja.. Ternyata Indonesia memiliki kapabilitas pekerja bidang IT Outsourcing yang lebih unggul dibandingkan Singapura. Apakah ada data-data pendukungnya? Misalnya kapabilitas pekerja ini apakah hanya unggul dari harga dan biaya saja, bagaimana dengan etika kerja dan kualitas kerja? Karena hal ini dapat menjadi pendorong bagi kita untuk mengikuti langkah India. Thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s