3M: makan, meeting, musik

Hari Jum’at ini seyogyanya kami kumpul untuk sekedar acara perpisahan dengan Yanto, salah seorang member tim kami. Sayangnya Yanto tidak bisa hadir ke Bandung. Acara tetap berjalan, diganti dengan acara makan-makan dan meeting internal 2 perusahaan kami.

Karena saya baru beli digital camera, ehm … ehm …, maka akan banyak foto-foto yang muncul di blog ini. Tidak semuanya akan ditampilkan di sini karena akan membuat berat membuka halaman ini. Maklum, bandwidth kita-kita kan masih terbatas ya. Atau mau dicoba nekad?

Biasanya sih acara kami dimulai dengan rapat (meeting) dulu, tetapi kali ini dimulai dengan makan dahulu. Maklum, habis Jum’atan perut keroncongan. Berikut ini beberapa gambar makan-makannya.

(Ada gambar yang rebutan makan terpaksa disensor. ha ha ha. Kelihatan rakusnya sih. Ah, sikat saja … pasang saja. Nih … kurang seru apanya?)

Lah kok jadi ngamuk gini makannya? Jangan khawatir. Besok dibakar dengan futsal kok.


Setelah kenyang makan, acara dilanjutkan dengan meeting yang lebih tepatnya adalah mendengarkan wejangan dari saya kemudian diskusi masalah internal software house kami. Ada beberapa permasalahan yang harus kami pecahkan. Salah satunya adalah kami masih belum mampu untuk mengatasi programming yang large scale dan high performance.

Masalah tidak untuk dihindari tetapi untuk dipecahkan. Tidak usah defensif dengan ketidak-mampuan kita. Artinya, kita tahu masih banyak yang harus kita pelajari (supaya kita tidak congkak). Ada beberapa usulan untuk memecahkan masalah kami ini, termasuk salah satunya adalah training internal. Artinya kami akan belajar bersama untuk meningkatkan kemampuan kami. Tunggu tanggal mainnya. Pasti kami bisa dan lebih hebat lagi! Lihat saja nanti.

Its name is also effort … he he he. Ini sih bahasa Inggris ngawur dari terjemahan … “namanya juga usaha”. šŸ˜€ Itulah yang akan kami lakukan.

Masalah lain yang harus kami pecahkan adalah perlu adanya orang (yang senior dan punya banyak jam terbang) untuk tempat bertanya. Ini ada benarnya. Sementara ini meski kami mahir di bidang software, kami belum punya lebih dari 10 tahun jam terbang. Maklum software house kami baru berumur (hampir) 2 tahun. Saya sendiri tidak bisa coding dengan bahasa dan framework yang baru seperti yang dikuasai mereka. Maklum, saya lebih banyak berkutat di sisi networking dan programming shell (lebih tepatnya perl). Sementara klien kami membutuhkan aplikasi (dengan basis .NET, java, PHP). Jangan khawatir. Ini akan pecah dengan keseriusan dan jam terbang.

Setelah diskusi itu sebagian dari kami pindah tempat untuk melanjutkan meeting dengan topik yang lain. Sambil rapat, saya asyik bermain gitar. Maksa. Serius nggak sih rapatnya? Ya tetap serius dong meski lesehan seperti di gambar ini. Rapat kami memang sering seperti itu, suasana santai tapi materinya super serius (pokoknya mengerikan lah – he he he).

(Gitar yang kepotong di samping itu Rois.) Lagu yang dimainkan apa? Lagu “Kisah Romantis” dari Glenn Fredly. Lho? Kok?

Jadi … 3M: makan, meeting, musik. Sebetulnya bisa juga diterjemahkan jadi meeting, makan, molor (tidur). he he he.

Oh ya, sebelum lupa. Sebagian besar yang ada di tempat kami adalah blogger juga. Jadi acara ini bisa dianggak kopi darat Blogger Bandung juga. he he he. Lihat agregat blog kami di Planet Indocisc. Ada yang mengenali wajah kami dari foto-foto tersebut?

5 pemikiran pada “3M: makan, meeting, musik

  1. perut kenyang, kerja beres, dan hobi tersalurkan.

    hebat euy… jarang-jarang ada yang bisa begini! pak BR memang!

  2. Pak BR,
    Salam kenal…

    Hanya sedikit komentar mengenai klien yg memerlukan aplikasi berbasis PHP, Java, dan .NET. Saya rasa kalo jam terbang yg merupakan halangan, dengan pengalaman pemrograman perl anda, itu semua bisa diatasi.

    My team and me have been developing large scale and commercial applications which are used by government and other big companies purely in perl. Perl can replace almost all task that can be done in other languages. With the not-so-new framework, Catalyst, it’s even simpler and more robust to build a web application. To answer Java’s ‘hibernate’ jargon, perl has its own Class::DBI, DBIx::Class, or the newer Rose::DB::Object that solves developer ‘little-sql-query’ in their daily programming…

    Intinya, ‘perl is not only for simple shell scripting’, saya yakin dengan kemampuan pak BR dalam perl, anda bisa memberikan beberapa sesi internal training di dua perusahaan bapak untuk memecahkan solusi tentang kekurangan jam terbang dengan bahasa baru ini, bahasa baru itu, framework baru, dll.

    Untuk penutupnya, ini bukan flamewar :), tp sekedar berbagi pengalaman di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s