Investor, Konseptor, dan Eksekutor

Minggu lalu saya ditelepon oleh seseorang. Mas, ngobrol soal investasi yuk. Akhirnya kami sepakat untuk ngobrol sambil makan siang. Bertiga kami makan siang sambil diskusi soal investasi.

Mereka adalah investor dari perusahaan kelas kakap yang sedang mencari ide untuk investasi. Kelas investasi mereka tentunya kakap juga, misalnya menggelar fiber optic ke seluruh Indonesia, atau membuat operator telepon baru. Sekelas itulah. Tadinya saya pikir mereka hanya tertarik untuk investasi di infrastruktur, tetapi ternyata mereka terbuka untuk investasi di apa saja (yang berorientasi teknologi tentunya) seperti misalnya di bidang content.

Setelah diskusi kesana kemari, belum menemukan ide. Waduh!

Saya bukannya tidak punya ide, tetapi ide yang ada di saya beda skala. Demikian pula beberapa orang yang saya tahu mencari investor skala bisnisnya kecil. Beberapa software house mahasiswa hanya membutuhkan investasi sebesar Rp 200 juta-an. (Perkiraan untuk hidup 1 tahun tanpa penghasilan.) Kalau mereka dikasih Rp 200 milyar, bakalan klenger mereka karena ketakutan.

Saya mengutarakan beberapa ide. Permasalahan yang saya hadapi bukan masalah investasi (investor), tetapi adalah kurangnya orang yang mampu menjadi eksekutor mandiri. Maksudnya orang ini adalah orang yang mampu menjalankan tugas pekerjaan tanpa instruksi yang rinci. Orang ini saya sebut eksekutor. Mungkin istilahnya adalah para profesional?

Terus terang, para konseptor dan investor kadang geregetan melihat para eksekutor yang lambat dalam mengeksekusi ide. Atau, kadang mereka tidak paham (esensi) yang mereka eksekusi. (Saya cek dengan teman saya yang juga founder dari sebuah perusahan, sama juga pendapatnya. Bahkan kami cenderung melihat daya juang para eksekutif ini kurang, dibandingkan dengan kawan mereka di Amerika sono.)

Saya sendiri adalah konseptor, karena terlalu banyak ide (konsep). he he he. Mau bilang inovator kok terlalu gagah. Konseptor sajalah, cukup. he he he.

Jadi petanya seperti ini. Investor punya uang, tidak punya ide. Konseptor punya ide, tapi tidak punya orang yang bisa menjalankan idenya dan mungkin juga tidak punya uang untuk mendanai idenya. Eksekutor bisa bekerja, tetapi tidak punya pekerjaan (yang seharusnya dibentuk oleh investor dan konseptor). Ketiganya tidak nyambung. Wadaw!

Iklan

23 pemikiran pada “Investor, Konseptor, dan Eksekutor

  1. Kalau dibuat %-nya,

    investor kebanyakan konseptor tidak ada yang mengeksekusi.

    atau malah 80% eksekutor yang tidk tahu harus kerja apa, 1% investor, dan sisanya konseptor–> sepertinya lebih cocok dengan kondisi sekarang.

    Entah mana benar?

  2. Komen saya ada yang terhapus, seharusnya saya ingin menulis begini;-

    Kalau dibuat %-nya,

    investor mungkin artinya kebanyakan konseptor, tidak ada yang mengeksekusi konsep yang demikian banyak

    atau malah 80% eksekutor yang tidak tahu harus kerja apa, 1% investor, dan sisanya konseptor–> sepertinya lebih cocok dengan kondisi sekarang.

    Entah mana yang benar?

  3. bagi eksekutor kelas cere seperti saya mendengar angka 200 milyar sudah mengkeret duluan pak :).

    btw, bapak bisa share gimana perkembangan bisnis musik bapak?

  4. Jadi masalahnya di mana Pak?

    atau dipersen saja permasalahan yang dihadapi 3 pilar itu…

    dari cerita ini sih yang saya tangkap,..
    investor ga pernah bermasalah, palng banter dananya dipastiinbersih dulu,..
    konseptor juga ga masalah, selama ide nya sehat walafiat,..
    eksekutor, nah ini tadi pak BR singgung.. apakah ini masalah utama nya? ga kreatif?kurang imaginatif? manja? dan tidak professional?

  5. IMHO, sebenarnya kita banyak memiliki seorang eksekutor… tetapi karena kurangnya pengalaman dan kompetisi yang sehat.. akhirnya seorang eksekutor yg tangguh sekalipun tidak pernah muncul ke permukaan, alasan yg paling umum adalah kurangnya pengalaman…

  6. Tidak bisa displit investasinya, pak? Buat semacam incubator yang isinya proyek-proyek kecil dan dananya disebar (less risk).

    Masalahnya industri TI (kecuali infrastruktur) tidak terlalu banyak butuh investasi raksasa – jadi mungkin ini juga ‘kesalahpahaman’ investor yang mau bermain di dunia TI.

    Melihat karakter orang Indonesia memang kita ini cenderung Konseptor kok hehe, disuruh kerja ya malas. Atau kita globalisasi saja, Konseptor orang Indonesia, Eksekutor orang India, Singapore, Malaysia atau negara-negara Asia lainnya?

    (Jadi ingat dulu pernah punya ide bahwa negara Republik Indonesia ini hanya butuh Presiden, Wapres dan Sekretaris – sisanya outsource saja hehehe).

  7. Saya nggak ngerti nih,kenapa bagian dari komen saya selalu terhapus..

    *garuk-garuk kepala*

    Saya mengutarakan beberapa ide. Permasalahan yang saya hadapi bukan masalah investasi (investor), tetapi adalah kurangnya orang yang mampu menjadi eksekutor mandiri. Maksudnya orang ini adalah orang yang mampu menjalankan tugas pekerjaan tanpa instruksi yang rinci. Orang ini saya sebut eksekutor. Mungkin istilahnya adalah para profesional?

    Terus terang, para konseptor dan investor kadang geregetan melihat para eksekutor yang lambat dalam mengeksekusi ide. Atau, kadang mereka tidak paham (esensi) yang mereka eksekusi.

    Apa bukan karena ketidakberhasilan steering committee aka konseptor berkomunikasi dengan organizing committee alias eksekutor?

  8. Ternyata banyak orang yang punya duit tapi bingung mau muterkan di mana ya? selama ini biasanya para pengusaha yang di wawancarai koran/majalah berkata “kesulitan modal”

  9. he..he Kang Boing (yang konseptor), dulu saya juga karena sering mbuat “Master Plan” akhirnya dipanggil oleh temen2 “Mister Plan” karena buat “plan dan plan” melulu tapi eksekusinya dodol. Memang bener katanya sebagian besar kesalahan di bangsa ini adalah di planning yg buruk dan orang yg jadi ‘the do er’ nya gak ada (yg perfect). BTW please liat my blog, I’ve got s’thing for you.

  10. Kalo saya lebih setuju ketiganya ga kelihatan sebagai sesuatu yang dipisah-pisah. Seorang investor juga sebenarnya adalah konseptor dan eksekutor, seorang konseptorpun sebenarnya adalah seorang eksekutor dan mungkin investor, dan seorang eksekutor pun sebenarnya seorang investor sekaligus konseptor.

    Cuma kadang karena ketemu “rumah” yang kelihatan lebih besar fungsi itu kayak di “override”. Ya misal, seorang eksekutor yang merupakan pengusaha swallow (swasta loyow) ga mungkin ga punya konsep dan invest resource yang dia punya. Namun karena “mungkin kebetulan ketemu” Pemain, yang modalnya lebih gede, jadi cuma dianggap “konseptor” doang ato malah kayak “seniman” doang.

    Seorang investor juga ga bakal tidak sebagai eksekutor bagaimana menjalankan uangnya dan sebagai konseptor bagaimana memutarkan uangnya yang ada. Kalo ga dijamin dia ga bakal jadi seorang yang disebut investor. Alias mungkin duitnya cuma ngedon di Bank karena ga pernah invest.

    Yang penting lebih ke arah ketiganya bukan cuma separasi yang ga penting kan. Nanti keluar lagi istilah imitator, inovator, whatever itu jadi ga penting 😀

    Yang lebih krusial di komen ini saya liat tuh ada berapa peluang dari request Avianto dan Sueng mungkin bisa ditanggapi serius secara Mas Budi punya akses ke so called “investor”.

    Semoga sinerginya berjalan dengan baik, dan bermanfaat buat keseluruhan rekan-rekan, dan terutama warga Bandung! Secara saya mau jadi walikota butuh dukungan orang-orang berhasil, bener ga? 🙂

  11. Susahnya investor itu harus ketemu dan percaya dengan orang / tim yang akan mengeksekusi. Saya sudah beberapa kali menjadi penengah antara investor dan eksekutor, tetapi jarang yang jadi. Entah kenapa.

    (Sebetulnya saya sedikit punya dugaan jawabannya, tetapi nanti kalau saya tuliskan dianggap nge-sok hebat. he he he. Jadi nggak saya tuliskan.)

    Investor itu betul-betul ada. Di pertemuan BHTV bulan lalu misalnya, ada investor yang mau tarik kabel fiber dari Jakarta ke Bandung. Tapi terus bisnisnya apa? Balik modalnya gimana? Jhony sampai kebingungan tuh. he he he. Saya sih senang kalau ada bandwidth internet yang tambah gede, tapi waktu diajak mikir model bisnisnya … bingung juga karena menurut saya bisnis infrastruktur itu lama untungnya. (Ini masih jadi PR.)

  12. Pendapat pribadi saya, memang ketiga hal ini sulit terkombinasi (atau dikombinasikan).. karena banyak sekali variabel yang harus benar2 cocok.. seperti visi dan misi, juga kultur dalam bekerja. antara ketiga belah pihak harus cocok.

    perbedaan diantara investor, konseptor dan eksekutor pun sebenarnya tidak terlalu banyak, hanya pada teknis pekerjaan saja.

    kalo di paksain untuk cocok, kmungkinan besar pd akhirnya akan timbul suasana yang tidak harmonis dan bisa berujung pada mencari2 kesalahan satu sama lain, padahal yg namanya kesalahan dan perhitungan yang meleset pasti selalu ada pada skala tertentu. Jd yg tujuan utama memulai bisnis dgn mereka untuk membuat hidup jd lebih baik malah ga tercapai, yg ada malah tegang terus.

    pengalaman buruk saya yang terakhir adalah ketika menangani investasi asing dari Abu Dhabi, jumlahnya 27jt US$.. untuk dijalankan di bidang distribusi produk2 perminyakan di Asia Tenggara, seperti pelumas, Fuel Oil dan diesel oil.

    ujung2nya karena perbedaaan visi dan terutama sekali kultur, ujung2 nya berakhir jd konflik dan investasi saya kembalikan (sambil marah2 sama mereka karena malu dgn para distributor dan para supplier yg sdh di beri komitmen).

    Padahal jaringan sdh terbentuk, permintaan sudah ada dan supplier jg sdh di tangan… bahkan unutk trial eksekusinya jg sangat berhasil (menurut parameter yg sdh di sepakati sblm nya)… tp ya itu.. kultur yg berbeda shg bnyk yg ga klop.

    akhirnya ya saya cuma bisa bilang, mungkin memang belum rejeki aja yah…. wallahualam

  13. Masalahnya, Qlo Sy banyak ide tapi sulit mencari Investor… Musti kemana&gemana cari Investornya Bos???
    Para Investor terhormat Kenapa ‘gak buat website yang bisa mengundang para ideor-ideor (he3x…”gak enak yah nyebutnya) eh… konseptor untuk mengungkapkan gagasannya beserta proposal yang jelas untuk dipelajari oleh Beliau-Beliau ???
    Jika Salah satu atau beberapa investor tertarik… kan bisa berhubungan dengan konseptor yang mengirimkan&menjelaskan idenya via Internet
    Akhirnya bukan hanya ada istilah jobseeker saja, tapi Ntar ada istilah INVESEEKER (“gak enakeun lagi neh… he3x)

    Ah… mudah-mudahan kebaca oleh para Investor… (mailing me Boz)

  14. Lagi ah…
    Menurut Sy baiknya begini
    Para Investor tidak perlu repot berfikir dan menemukan ide bisnis/usaha, tapi hanya perlu berfikir (bagaimana) untuk mencari atau menemukan cara mendapatkan Konseptor-Konseptor yang handal.
    Selanjutnya para Konseptor tidak perlu repot berfikir bagaimana cara menjalankan ide brillian mereka atu pusing mencari sumber modal usaha/investasi yang diperlukan, tapi hanya perlu melahirkan ide-ide/konsep-konsep yang baik-realistis-terpercaya kemudian berfikir (bagaimana) untuk mencari dan menemukan Eksekutor-eksekutor yang HardWorker.
    Nah para Eksekutor ini juga tidak perlu repot berfikir untuk menemukan ide Usaha/Bisnis apalagi sumber modalnya/Investasinya, tapi cukup berfikir dan bertindak untuk menjalankan Output Konseptor yang telah di ACC Investor

    Nah adakah wadah yang bisa menjembatani dan mempertemukan mereka ???

  15. bagi para investor yg mcr peluang invest, tu gampang, peluang usaha jelas , lapangan invest terbuka lebar, usaha jelas dan mantap, tinggal ker, tinggal mhit profit aja lg.

  16. Mas Budi…
    Nggal Usah binggung. Di dunia investasi ada pengertian sperti ini :
    1.Orang nggak punya nggak punyaduit tapi nggak punya ide
    2.Orang punya duit sedikit dan punya ide
    3.Orang punya duit tapi nggak punya ide
    4.Orang punya duit dan punya ide.
    Kalau nomor 4 itu namanya konglomerat. Kalau nomor satu namanya melarat. Nah kalau kolega mas adalah nomor 3, dan mas sendiri no 2 (saya nggak berani bilang mas nggak punya duit lho…..he…he…he….). Nah kalau bisa menggabungkan nomor 3 dan 2 itu namanya “coporate finance”. Orang-orang yang mempertemukan nomor 2 dan 3 adalah konsultan (mediator kali ). Saya setuju bahwa eksekutor di kita masih kurang. Sebetulnya kurangnya adalah bahwa banyak yang takut duluan sebelum jadi eksekutor.Jadi kalau boleh usul apabila mas mau melakukan investasi sebaiknya rangkap jabatan antara eksekutor dan konseptor, lalu adakan seleksi dan pembinaan eksekutor baru sambil buat konsep-konsep baru. Dan…. ini yang terpenting kalau boleh kenalin donk dengan investornya…saya punya konsep dan siap jadi eksekutor nich…..
    Thanks
    Jonathan

  17. Pak, klo ada investor yg mau invest di bidang TI bagus juga tuh, khususnya dalam hal infrastruktur fiber optic. Karena saya juga main dibidang yg sama. Calon pelanggan untuk link FO itu masih banyak sekali, apalagi kalau harga kita competitive. Saya juga sudah punya konsep dan denah jaringan FO yg bakal digelar tuh.Thanks

    Br,
    Anto

  18. Pak Budi Raharjo yth,

    Pak, BTW kalau ada yg mau jadi investor untuk menggelar Fiber optic saya punya ide dan konsep yg jelas. Saya juga sudah punya perhitungan yang matang dan bisa diprediksi kapan bisa BEP, karena hal ini yg pertama pasti ditanyakan oleh sang investor. Bisnis ini menurut pengalaman saya sangat menguntungkan, karena kita cukup investasi jaringan 1 x, keuntungan dapat kita raih sepanjang tahun. Masalah izin tentunya sudah menjadi perhitungan saya. Kita bisa mulai di Jakarta dulu untuk tahap awal. Ini sekedar penawaran, siapa tahu jodoh yah pak?Kebetulan saya memang sudah bergelut lama dibidang ini.Thanks

    Br,
    Anto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s