Kecewa Dengan Layanan Silver Bird

Dulu saya pernah memiliki situs web tentang Indonesia yang cukup terkenal (karena dulu belum banyak orang Indonesia yang punya web site – ha ha ha). Salah satu tulisan di sana adalah panduan mengenai pemilihan taksi di Jakarta. Saya sarankan agar para turis menggunakan Silver Bird saja karena terpercaya dan bisa diandalkan. Ternyata … saya malah yang kecewa.

Hari Rabu kemarin saya menjemput anak saya di bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Saya berangkat ke sana sore hari karena sekalian diskusi dengan kawan di sana. Pesawat mendarat pukul 8:30an malam. Setelah menunggu, sekitar jam 9-an anak saya keluar dan kami menuju tempat taksi.

Tentu saja banyak tawaran untuk taksi. Saya memastikan diri untuk menggunakan layanan Silver Bird saja. Kami menuju antrian (dekan dengan terminal 2E atau 2D?). Sesampainya di sana sudah ada banyak orang yang antri. Tidak apa, pikir saya. Mereka toh memiliki pangkalan di dekat sana.

Ternyata … silver bird datang satu satu dan lamaaa sekali. Hujan kemudian mulai turun. Saya sudah mulai khawatir. 30 menit masih terus menunggu. Sementara itu orang di depan saya sudah ada yang mulai mengambil layanan lain dan bahkan ada yang mengambil versi lain dari Blue Bird group (mobil charteran?). Saya lihat selain tempat antrian kami, Silver Bird juga memiliki antrian lain yang lebih dekat ke tempat mobil masuk. Mobil Silver Bird mungkin lebih dahulu ke sana sebelum ke antrian kami.

Saya bicara dengan petugas di sana, mengapa lambat. Alasannya macam-macam, mulai dari ramainya jalan sejak sore. Yang ini saya katakan bahwa saya datang sore hari (saya bukan penumpang yang baru turun dari pesawat) dan jalan lancar. Saya tahu ada pertandingan sepak bola tetapi selama pertandingan ini belum usai, jalan lancar. Kemudian juga ada alasan hujan. Lah, hujan kan baru saja turun. Yang saya permasalahkan adalah mengapa armada lain bisa tetapi Silver Bird tidak bisa. (Di sebelahnya ada tempat taksi Gamya yang lancar mendatangkan mobilnya.)

Saya katakan … Silver Bird adalah layanan eksekutif! Mereka harusnya bisa lebih baik dari layanan yang biasa. Orang mau membayar ekstra untuk layanan ini. Tak berkutik. Bagaimana kita bicara Visit Indonesia 2008 jika layanan kita buruk. Saya katakan kepada pelayanan di sana, this is not how to treat customer. You have to do extra milleage. You’re in service business. I don’t think they understood. Oh well.

Sudah hampir 1 jam menunggu. Akhirnya saya menyerah dan saya pindah ke jalur sebelahnya, taksi Gamya yang biasa. Langsung saya naik taksi itu. Tidak sampai 2 menit saya sudah meluncur menuju Jakarta. Saya sangat kecewa dengan layanan Silver Bird. Gamya yang biasa pun kok bisa lebih baik dari Silver Bird yang eksekutif? Heran saya.

Yang pasti … saya mencabut saran saya untuk menggunakan Silver Bird. Mereka tidak bisa diandalkan.

29 pemikiran pada “Kecewa Dengan Layanan Silver Bird

  1. Golden mas, Silver emang antri disana (mrk padahal pernah kasih tau kalo Silver antri bisa 1 jam), kalo Golden malah ready. Harga ga terpaut jauh kok. Kalo Silver mileage, kalo Golden paket.

  2. mmm..gamya gak kalah kelas dengan blue bird biasa kok…

    klo saya sih biasanya pake angkutan transairport or naik damri lbh murah dan cepaaaaat.

    K

  3. he he he … waktu di sana juga ditawarin naik “mercy kompresor”-nya. berapa saya tanya? 350 ribu pak.

    ha ha ha. what a rip off. tentu saja saya tolak.

    saya kan hanya butuh kendaraan yang membawa saya dari point-A to point-B. I don’t need the luxuries. what for? so that I could act like a million bucks? ho ho ho. fat chance. BTW, saya lebih suka crown mereka daripada mercy-nya (terlalu keras).

  4. kalau tujuannya point A to Point B dan ga mau luxuries.. bisa menggunakan taksi blue bird nya pak, atau yang lain, Gamya, express, dll.
    atau biasa juga naik Damri saja..
    kalau naik Damri pasti ga usah bayar 350rb..

  5. Perhaps that’s typical Indonesian Company. Kalo udah terkenal, tingkat layanannya menurun. No more Service Level…. Dulu orang selalu bilang layanan Blue Bird terbaik untuk taksi di Jakarta… But for now… Tanpa maksud menjelekkan.. Gaya nyetir sopirnya lebih parah dari Supir ANGKOt dan TRAVEL… 😦 BIKIN JANTUNGAN….

  6. Orang bisa berubah, layanan bisa berubah.
    Sayangnya kok berubah lebih buruk ya…
    Harusnya kan berubah lebih baik kata sensei dari Jepang yang ngajarin kaizen.

  7. Beware lagi, ini serius. Ada seorang kawan yang bilang begini: Silver Bird, Blue Bird Group itu “dijegal” oleh kumpulan pemilik taksi lain yang mangkal di bandara.

    Aturan main di sana, otoritas bandara yang atur khusus “pooling” taksi, kalau Blue Bird atau Silver Bird tidak dipanggil janganlah maju ke lobi. Denda kalau melanggar aturan main otoritas bandara itu lumayan tidak enak (bisa dicoret dari daftar yang boleh mangkal). Masalah kompetisi tidak sehat saja (baca: mafioso).

    Blue Bird adalah taksi yang sudah ngetop dengan layanan dan keamanan. Logikanya, kalau Blue Bird mangkal tanpa henti di lobi, tentulah taksi lain tak kebagian rejeki. Orang lokal macam kita tentu mau naik dengan alasan keamanan, argo bisa dipertanggunjawabkan, dan keramahan supirnya. Orang tidak lokal macam Pak Rahard (hehehe karena milih Silver Bird daripada Blue Bird) tentulah harus tahu trik murah meriah (naik Damri ke Blok M atau Gambir, cari Blue Bird yang pastinya lebih mudah ditemui di dua terminal ini). Welcome to Jakarta… to the left is banjir setumit, to the right is sampah, ahead of you eternal macet!

  8. Wah.. kalo saya udah lama gak naik taksi pak :mrgreen:

    Tapi kalo di Surabaya adanya blue bird. Silver Bird kok belum pernah tau ya ?

    Disini yang kesannya bagus itu orange taxi… belum pernah nyoba sich tapi

  9. Dulu di Bandara Suta memang mudah mendapatkan Silver Bird, tetapi saat ini sepertinya memang rada-rada sukar mendapatkannya.

    moga-moga, jalur kereta api bandara cepet rampung.

  10. hmm…. kalo saya pikir sih, mending pake blue bird, bukan yg silver bird…

    kalo service nya semacam ini, tentu kitanya yang rugi….. dan lagi tarif silver bird lebih mahal dari tarif taksi lainnya……

  11. @ rahard and semua

    sebagai seorang yang kadang2 πŸ˜€ main mobkas hi-end
    sempet BT sama silver bird pas dia ngumumin mau make C240 sebagai armadanya kenapa ?

    (soale harga pasaran second C-240) yang dikisaran 350-450) tergantung tahun langsung nyungsep. Yang jadi korban waktu itu klien saia (tante sendiri sih) waktu itu dia mau jual C240 Sport, 05 sebelumnya minta harga 380 tetapi berhubung silverbird udah make mobil sejenis akhirnya itu mobil turun harganya dipasarkan tinggal 280-300.

    kebetulan ada orang yg nggak tau pasaran harga mobkas jadi dia mau beli tu mobil 340 (dia sempet bingung baru nawar sekali udah di OK in, he he he)

    Tapi silverbird ok kok. Cukup nyaman palagi dengan armadanya yang top argonya cuma beda 1000 rupiah sih…

  12. Pak, malah saya pernah lebih parah lagi; silver bird yang saya tumpangi pernah mogok ditengah jalan !!

    Untung ketika itu udah deket dari rumah … sehingga bisa jalan kaki …

    Tepatnya terjadi di 2004 … di tanah kusir …

    Malah bluebird yang biru pelayanannya slalu memuaskan …

  13. @ Mihael

    Kalo saya liat sih bukan itu masalahnya, tetapi emang dasar management silver bird yang culun … kliatannya management silver bird malah yang terculun dibanding sodara-sodaranya di blue bird.

    Saya juga pernah nyewa limo-nya blue bird yang kelasnya di atas silver, dan kualitasnya emang ok banged.

    Atau bisnya blue bird juga ok.

    Ato Gamya dan keluarga blue bird yang lain emang ok pula.

    Yang masalah emang cuma di silver doang.

  14. Kang Boing milihnya Silver Bird yang eksekutif sih, ..sekarang kan jamannya Silver Bird yang Legislatif…dan yang lebih spesial lagi yang Yudikatif ditanggung lancar deh…(iki opo tho, pelajaran kewarganegaraan kali ..)

  15. Kalo di Yogya masih ada becak sama andong. Turis-turis di sana kayaknya lebih suka naik becak atau andong ketimbang naik taxi. Mungkin karena supir becak atau andong jauh lebih ramah dan bersahabat daripada taxi yang paling eksekutif sekalipun.

  16. Silver Bird juga pakai merci pada beberapa armadanya dan harganya ternyata tidak berubah. Kalau dibilang sama petugas berbagai alasan karena jalan macetlah atau tidak ada armada kadang-kadang alasan itu dibuat agar kita mau menggunakan Golden Bird karena pasarnya lagi sepi…
    Seperti yang mereka bilang bahwa harganya tidak beda jauh…

  17. Menurut saya, karena Silver Bird itu layanan eksekutif maka jumlahnya terbatas, Pak. Iya to? Masak eksekutif jumlahnya sama dengan yang biasa….

    Oleh karena jumlahnya sedikit, nunggunya jadi lama.

  18. Kalau turun dari pesawat, sebelum ambil barang dan keluar pintu, saya langsung pesan di counter Blue Bird…ada bermacam-macam jenis taksi yang disediakan…dari Avanza (Rp.130.000,- sampai Jakarta), Soluna, bahkan sampai kelas Mercy yang harganya sekitar Rp.300.ooo,- sampai tempat.

    Saya biasanya ambil yang termurah…antara Rp.130 ribu s/d Rp.160.000,-…kalau nunggu diluar (naik Silver Bird), suka diserobot sama orang lain, dan taksinya suka lama datang, terjebak kemacetan.

  19. wah parah nih.giliran di hotel hyatt,nongkrong banyak banget,nganggur,di airport malah nunggu 1 jam?ckckkc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s