Sholat Jum’at di hotel Preanger tadi agak terlambat dimulai. Sudah terdengar adzan dari tempat lain tetapi di sini belum mulai. Saya menduga … khatib/imam yang direncanakan mungkin belum datang (tidak bisa hadir). Maka mulai resahlah pengelola setempat.

Akhirnya ada yang maju untuk menjadi khatib, seorang tamu (yang saya kenal tapi tidak perlu saya sebutkan namanya kan? – gak tahu dia baca blog ini atau tidak – yang saya tahu sedang di hotel karena melakukan meeting). Alhamdulillah, ada orang yang mau maju pada kondisi seperti ini. Mengapa sulit menemukan khatib ya?

Saya? Saya sendiri belum siap karena belum menemukan panduan menjadi khatib yang mudah (idiot’s guide to khatib?). Kebanyakan buku yang saya temui mengasumsikan pembaca sudah tahu ini dan itu sehingga isinya hanya isi khutbah. Padahal saya membutuhkan ilmu tentang syarat-syarat, rukun khutbah Jum’at, kemudian bacaan yang harus diberikan ini dan itu. (Saya sudah menuliskan ini sebelumnya dan sudah ada beberapa jawaban, tetapi mungkin karena otak ini belum klik dengan jawaban yang ada sehingga saya masih mencari.)

Enaknya kalau ada panduan seperti ini.

  1. Baca ini “…”
  2. Baca itu “…”
  3. Duduk di antara dua khutbah, baca ini “…”
  4. [pokoknya step by step lah]

Nampaknya kita harus siap untuk jadi khatib jika kondisi seperti ini muncul kembali. Siapkah Anda?