Menulis Referensi Yang Salah

Kalau kemarin saya membahas tentang kata “di”, kali ini saya ingin menunjukkan penulisan referensi yang salah.

Hayo … salahnya dimana?

Oh ya, ini merupakan bagian dari makalah yang ditulis oleh mahasiswa S2. Nangis nggak kita?

46 pemikiran pada “Menulis Referensi Yang Salah

  1. heheh karena cara membuat referensi ini gak mengacu ke sistem yang baku, misal model harvard atau Chicago…dan..yang kelihatan “tolol” adalah ..lha kok tahun di belakang tho?? Ini mah keterlaluan pak…jaman internet gioni kok nulis referensi aja masih salah…ngaku2 S2 pula dan ITB pula..bikin malu almamaternya aja.

  2. @atas
    IMO, ga ada yang salah dengan menuliskan tahun di belakang.

    IMHO, kesalahan yang paling fatal dari referensi yang ditulis di satu halaman khusus (biasanya di akhir makalah) seperti contoh di atas adalah untuk satu referensi yang sama cukup menggunakan indeks referensi yang sama.

    Untuk kasus di atas, kutipan-kutipan di dalam isi makalah yang menggunakan angka “[2]”, “[3]”, dan “[4]” seharusnya diganti menggunakan “[1]”. Begitu juga dengan referensi “[5]”, “[6]”, dan “[7]” yang seharusnya menggunakan angka yang sama (misalnya dalam hal ini [2]).

    CMIIW.

  3. di ITB kan ada pelajaran bahasa indonesia yg dikelola biro perkuliahan umum yang saya tau biasanya tugas akhir jaman dulu (25-30 th lalu…. he he tua juga ya) harus diperiksa oleh bpu tersebut, yaitu untuk mengoreksi yang begitu itu……. apa sekarang sudah tidak ada mas.

  4. Kalau liat TA atau tesis kayak gini biasanya saya langsung mules Pak …

    Lepas ada/tidaknya pelajaran tulis/menulis (biasanya pasti ada di tingkat I) atau kalaupun toh lupa, apa susahnya sih ngeliat pola penulisan referensi yg ada di paper/makalah yg standar di bidang yg relevan (karena biasanya ada sedikit perbedaan untuk bidang ilmu yg berbeda).

    Wah jadi kuliah nih, have a nice day aja Pak Budi, mudah2an nggak mules lagi …

  5. Pertama, liat dulu pak, tempat Bapak mengajar pake format penulisan referensi APA, MLA, atau yang mana.

    Dari tahunnya, sepertinya sang mahasiswa ingin memakai format MLA, yang umumnya dipakai bidang humaniora dan bukan bidang sains, tapi sudahlah. πŸ˜›

    Nama pengarang di no[1] maupun no [5] masih salah, dan tambahan [1], [2], dst di depan tiap entry seharusnya mencantumkan halaman, supaya bisa di-retrieve. Tujuan penulisan referensi kan supaya orang bisa me-retrieve kembali sumber penulisannya.

    Ngomong-ngomong, pak, ini salah loh:
    Hayo … salahnya dimana?

  6. Yang namanya Referensi itu sama artinya dengan Daftar Pustaka ga pak? Kalau sama, salahnya di idem. Daftar Pustaka/Referensi itu hanya mencantumkan satu kali saja. Tidak peduli dipakai berkali-kali bahkan bila 90% dikutip hanya satu kali saja dicantumkan di Referensi.

    Bedanya dengan footnote/endnote pakai yang namanya ibid., op.cit., dan sebagainya.

    Semoga betul. Lumayan buat nambah nilai. :mrgreen:

  7. Pelajaran menulis referensi yang benar itu ada di kuliah apa ya harusnya? ‘Bahasa Indonesia’ di kuliah PT? atau di SMA? atau dimana?

    Oya Saya kok juga tertarik baca komentar tulisan tangannya. Itu bacanya “Bunuh!!” atau “Buruh!!” atau apa ya…
    hehehe…. Kalau bener bunuh, kok saya juga ikutan nangis, soalnya rasa kurang etis ya.. apalagi untuk lingkungan akademik.

  8. @max:
    Tulisan tangan itu dibaca: “Buruk!!”
    *Bener ga ya, Pak Budi?*

    Em, yah gimana ya? Yah, mungkin penulisnya belum tahu cara menulis yang benar. Mungkin juga sudah tahu, tapi malas. Mungkin juga sudah tahu, tidak malas, tapi iseng πŸ˜€

    Diberi contoh yang baik aja deh, Pak.
    Ituuh.. yang nulis itu πŸ™‚

  9. kalo menurut bapak tulisan itu salah, bagaimana dengan dosennya, malah salah 2X dong. Saya lebih tertarik dengan tulisan tangannya. Pak, kalo boleh tau, yang nulis tulisan tangan itu siapa? mahasiswanya atau dosennya. sayang hanya satu kata. Kalo satu paragraf mungkin bisa di Grapho-Therapy he…he…

  10. Kalau ‘Buruk!!’ saya rasa komentarnya jadi kurang benar. Karena yang saya lihat aturan penulisan pustakanya bukan ‘buruk’ tapi ‘salah’. Iya gak sih?

    Atau itu ‘Bumh!!’ .. yang kira-kira menggambarkan expresi ‘sebel’ atau semacam ‘gotcha’ gitu ….hehee.. πŸ™‚

  11. Hem.. iya.. ya max..

    Kalo buruk.. bisa jadi berarti.. ga salah.. cuma buruk penyajiannya.
    Beda dengan.. salah.. dunk πŸ˜€

    Hayoo, Pak Budi, gimana itu??

  12. Mau ikutan kuis Pak Budi.

    1. Kalau ini catatan kaki, harusnya ada garis sepanjang 14 karakter sebelum bikin catatan kaki.
    2. Harusnya ibid., bukan idem.
    3. Nda perlu ada kurung kotak.
    4. Nda lengkap. Nda bisa ditelusuri sumber referensinya. Minimal ada nama pengarang, nama buku, penerbit, dan tahun terbit.
    5.Kalau ini daftar pustaka, harusnya nama dibalik dengan dipisah koma. Harusnya Hadian, Dadi. Bukan Dadi Hadian.
    6. Referensi terlalu sedikit. Itu mah sama aja nyalin/nyontek!

    Ayo bunuh, Pak… Bunuhhhh…! Saya aja yang belum tamat S1 ngeh kok di mana kesalahan terdakwa. HEuahueahu

  13. yang buruknya ini, dia menuliskan idem “terlalu banyak” atau..itu merupakan bagian dari self censored dari Pa Budi sendiri? hmm mungkin disaat mata kuliah Metodologi Penelitian dia sedang izin, jadinya salah copy paste dari yang sudah ada..kyk di jurnal-jurnal internet.

  14. itu ref [1] nama pengarangnya kosong ya? krn gak tau? ato rahasia sih? hehe klo ini kerjaan mhs s2.. waktu s1 TA-nya kok bisa lolos?!?

  15. terus terang pak, saya juga bingung, karena beberapa dosen juga menggunakan sistem yang berbeda dalam penulisan, satu dosen ngomong ini benar, tap bagi dosen lain ngomong ini bukan ejaan baru.
    Kalo bapak sendiri pake referensi apa yah pak?

  16. heran, nulis aja belum bener kok bisa lulus masuk S2 yah…???
    lebih parah lagi, kok bisa lulus S1 yah…???
    hehehehehehehehe….

  17. Numpang komentar…

    Setuju dengan #28,
    sepertinya kuliah penulisan makalah di ITB (Tata Tulis Karya Ilmiah dan Komposisi) sudah harus menerapkan penggunaan LaTeX dan BibTeX.
    Sebagai mahasiswa, saya mengalami kesulitan memahami aturan penulisan referensi yang berbeda-beda dari setiap dosen bahasa Indonesia. Mungkin itu pula yang menyebabkan masih banyak mahasiswa yang salah dalam penulisannya. Tapi urusan itu gak jadi masalah lagi begitu pake BibTeX karena bisa pilih “style” sesuka kita, yang tentunya sesuai dengan aturan baku internasional.

    Ngomong2, memang konyol juga melihat kerjaan mahasiswa S2 bisa seperti itu :mrgreen:

  18. kenapa hanya bisa menegur dan tidak memperbaikinya (minimal di blog ini) siapa tau yang anda tahu jg SALAH!!! ya kan pak πŸ˜‰

  19. Saya menunggu-nunggu agar ada yang memberikan referensi, ternyata nggak ada ya. Saya agak kecewa juga. Ya sudahlah. 😦 Google is your friend.

    Ada beberapa style penulisan referensi. Salah satunya, misalnya, yang ini:

    http://www.ece.uiuc.edu/pubs/ref_guides/ieee.html

    Tentunya itu bukan satu-satunya style yang bisa digunakan. Masih ada style yang lain. Yang lebih penting adalah konsisten.

    Semoga bermanfaat.

  20. Saya mau tanya apakah ada aturan untuk tidak boleh menggunakan referensi yang out-of-date(referensi yang terbitannya lebih dari 5 th yg lalu) misal, saya sedang menulis skripsi di tahun 2008 ini dan menggunakan referensi tahun 1999 , padahal referensi itu bagus misal buku Refactoring: Improving The Desing Of Existing Code, karangan Martin Fowler. ?

    Mohon bantuannya

    –eriq
    Mhs Elektro Unibraw

  21. Mahasiswa S2 ITB???

    yaah sekarang masuk ITB cuman butuh duit kali yee??
    ga butuh otak!!

    atoo dosennya yang ga layak jadi dosen?

    Human are helping others bro. elo kali bukan manusia biasa bro. tapi masih mencoba jadi manusia kali yeee???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s