Tag

Beberapa orang menanyakan kepada saya tentang apa yang saya mau dan dengan cepat saya jawab. Atau, ada orang yang menawarkan sebuah lowongan jabatan (jadi asisten menteri, jadi dirjen, jadi menteri, dan seterusnya – kok jadi inget lagu “jadi presiden” ha ha ha) dan tentu saja saya tolak. Kadang mereka terkejut kok berani-beraninya saya melewatkan tawaran atau kesempatan itu. Kenapa? Bagi saya, jawabannya mudah; karena itu tidak ada dalam peta rencana perjalanan saya.

Mencari jati diri. Sebuah topik yang menarik untuk dibahas dalam obrolan ngalor ngidul (ngetan ngulon). Saya tidak tahu apakah tepat disebut mencari jati diri, tetapi mengetahui apa yang dimaui oleh seseorang ternyata tidak mudah. Saya pernah bertemu dengan seseorang yang sudah cukup usianya (mendekati 60 tahun, sudah mau pensiun) dan masih belum mengetahui apa yang dia maui. Dia memang sudah bekerja pada sebuah instansi dengan gaji yang lumayan, tetapi dia kebingungan ketika akan pensiun.

Saya memiliki banyak mimpi dan mimpi-mimpi tersebut kemudian saya petakan dalam sebuah peta perjalanan. Saya memang tidak menggambarkan secara visual di atas kertas, tetapi saya bayangkan secara visual di kepala saya. (Katanya sebaiknya digambarkan secara visual. Itu untuk lebih memfokuskan dan mendorong tercapainya mimpi atau cita-cita tersebut.) Saya ingin (jadi) ini atau itu. Soal jalannya bagaimana? Itu urusan kedua. Nanti kita pikirkan.

Kemudian saya juga punya teori tambahan, bahwa pencarian jati diri harus sudah selesai pada usia 35. Ketika kita mencapai umur 40 tahun, kita sudah firm dengan apa yang kita mau. Rentang antara 35 dan 40 merupakan rentang yang kritikal. Tentu saja ini hanya sebuah rekaan saya saja. Mungkin memang ada teorinya di sana (dan saya malas mencarinya – itu tidak ada di peta perjalanan saya – ha ha ha).

Anda ingin menjadi apa? Apa mimpi Anda?