Mendidik Untuk Melanggar Aturan

Masih tentang seputar pemblokiran situs di Indonesia. Saya cukup sedih juga melihat ini, tetapi saya sudah lelah untuk terlibat ngurusi Internet Indonesia. Terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk sia-sia.

Ada beberapa kawan yang tidak terlalu peduli dengan semua ini. Mereka bilang, tenang aja mas banyak cara untuk membypass pemblokiran situs-situs itu. Ada banyak cara dan sudah muncul cara-caranya di Internet; mulai pakai tunneling sampai ke penggunaan proxy. (Contoh di sini.) FAQ & HOWTO anybody? Ah … ini membuat saya merenung.

Apakah kita memang membuat aturan agar dilanggar? (Lempar tanggung jawab kepada orang lain. “Itu bukan salah saya, dia yang melanggar.” Atau “Mereka yang salah interpretasi.” Padahal di lapangan akan sangat banyak penyimpangan yang terjadi. “Tugas saya kan membuat aturan yang ideal.” Kemudian sambil tidak memperdulikan praktiknya. Ah, sangat tidak bertangungjawab.)

Apakah kita memang sepatutnya mengajari atau mendidik orang untuk melanggar aturan? Kita ajari orang-orang (dan bahkan anak muda, anak-anak) untuk mencari celah, untuk tidak patuh kepada aturan. Bisa dibayangkan kultur yang dihasilkan.

Mengapa kita tidak membuat aturan yang dapat kita jalankan bersama? Kalau perlu bertahap. Hidup kan tidak hanya 1 atau 5 tahun. Satu keputusan semasa satu jabatan, menghancurkan satu generasi!

Makin sedih melihat Indonesia. Harapan (kemajuan) yang ada perlahan sirna … Thank you for killing my hope. I won’t forget it.

[lengser … duduk menikmati kopi dan pisang goreng saja. hidup yang lebih simpel. ah, jangan-jangan kopi dan pisang gorengnya juga impor.]

update: masih terkait dan dari kacamata lain … silahkan lihat tulisan mas yockie “Asap & Api“.

63 pemikiran pada “Mendidik Untuk Melanggar Aturan

  1. Iya juga ya? Satu keputusan yang tergesa-gesa, tanpa memikirkan akibat jangka panjang bisa mengakibatkan keterbelakangan peradaban….

    Di satu sisi, kita ingin generasi kita tidak terkotori oleh hal-hal yang negative, di sisi lain kita juga mau maju seiring jaman (bukan terbelakang dan mengejar-ngejar).

    Duh pusiiiiiiiiiing juga kalau ikut-ikutan mikir…..

  2. Agar sinar harapan tidak benar-benar sirna, tampaknya kita tetap harus bersemangat pak (sambil menasehati diri untuk tetap semangat juga). Jangan lupa bagi-bagi pisang gorengnya atuh …

  3. Bila sebuah aturan dibuat dan muncul banyak cara untuk melanggar tersebut, mungkin saja itu pertanda aturan tersebut tidak mewakili aspirasi sekelompok masyarakat tertentu. Artinya, adanya sebuah kebutuhan agar aturan tersebut dirubah.

    Saat semua orang tunduk pada peraturan yang ada, itu lah saatnya dunia menjadi stagnan. Saatnya progress menjadi negatif, tidak berniat berubah. Tanpa perubahan, artinya mati.

    Ah komen tidak jelas ini~ saya juga bingung nulisnya. ^^;

  4. Saya aja tadi malam musti pake proxy Thailand bwat buka2 koneksi ke Youtube+Myspace… πŸ˜€ jadi ya gak terlalu masalah sebenernya….yg jadi masalah itu ya kok pemerintah bener2 mau mengulang2 kesalahan yang sama seperti yg dilakuin orde baru sih????

    Gak abis pikir.

    Setengah Mateng!

  5. Pak BR, kalau dijeneralisasi, kasus ini memperlihatkan fenomena kesalahan umum di Indonesia, yaitu “tidak ada sinergi antar berbagai program pemerintah”. Satu usaha untuk memperbesar penetrasi internet tidak sinergi dengan program pendidikan dan program-program lainnya, termasuk usaha-usaha untuk menangkal efek negatifnya.

    Jadilah semua pihak jalan sendiri-sendiri. Kalaupun ada yang “tampak seperti sinergi”, sebagian besar karena faktor kebetulan.

    Bagaimana supaya sinergi? Tentunya harus ada benang merah yang menuju pada satu titik tujuan akhir, dan itu menjadi acuan bersama…. Dimana benang merah itu di Indonesia? Entahlah!!!

    Dulu, ketika saya SD/SMP ada PELITA, ada REPELITA yang bahkan harus kita hafalkan! Sekarang yang seperti itu entah ada dimana? Kalaupun ada, tidak tersosialisasikan dengan baik dan mungkin berubah-ubah setiap ganti presiden.

    salam,
    arry akhmad arman
    http://kupalima.wordpress.com

  6. capek degh….apalagi ada statement..banyak cara menuju ke roma, klo do blokirpun, pasti ada aja jalan utk ngindarin pemblokiran tersebut…
    *saya juga penikmatnya*

  7. Hehe sini Pak saya jamu pake kopi panas.

    Ya mungkin ini tantangan baru buat kita. Dulu Pak Budi punya tantangan untuk membangun infrastruktur dasarnya. Yang dihadapi keterbatasan teknologi, sementara pemerintah masih manut apa yang dibilang engineer-engineer kita (eh saya bener ga sih ngomongnya? Ga tau apa-apa soal IT)

    Sekarang infrastruktur udah ada, kita-kita ini menghadapi masalah Undang-Undang dan demokrasi. Pemerintah pengen bikin aturannya sendiri. Tentu kita ga mau kalah sama perjuangan Pak Budi dulu dong? Ujiannya sama, kunci jawaban saja yang beda πŸ˜€

    Pensiun dengan tenang, Pak. Ajak yang muda-muda biar mau ngelanjutin πŸ˜‰ (eh ini nadanya optimis, lho. Bukan mau menyerang)

  8. AKhirnya diblok hari ini di speedy. Selamat deh buat pemerintah. Eksposur film fitna nya makin gede. Makin terkenal. Itu kan harapannya. ZZZzzz dah.

  9. @Pak Budi Rahardjo

    mendingan buat cerpen aja ya math?

    Cerpen saya yg terakhir tak saya posting krn isinya nyenggol sana-sini ttg arsenic, artinya… buat cerpen juga berbahaya kok pak hehehe πŸ˜†

  10. Membangun dan memelihara hal yang positif memang lebih sulit Pak. Akan tetapi jauh lebih buruk jika hanya diam saja dan membiarkannya.. πŸ˜€

  11. Cocok… cocok. Itu pikiran saya ketika keluar perda larangan merokokok. Lah di Fukuoka dan di Tokyo aturannya malah ngga seketat perda Bandung πŸ˜€ .

  12. Satu keputusan semasa satu jabatan, menghancurkan satu generasi!

    — tambahan quote baru hihi…..

    Tunduk tertindas, atau bangkit melawan.

  13. Apa salahnya dengan melanggar aturan?
    Bukankah semua inovasi berawal dari melanggar aturan?
    Itu…tu…Si Jenius nomor wahid yang paling sering melanggar aturan: Einstein.

  14. dua postingan terakhir nada tulisannya kesal dan marah yah mas … mungkin hal-hal yang diluar kuasa kita, sebaiknya kita tenang dan minum teh serta pisang goreng itu mas.. make it simple gitu kata orang sana.

  15. Pak budi terima kasih atas sentilannya yang bermanfaat. Sejujurnya hati ini juga tidak menyukai pembatasan, dan kebetulan saya bukan seorang PNS, jd tidak bisa dikategorikan PNS gila.. (tapi asli orang gila)…

    Tapi saya senang dan terharu dapat sentilan langsung dari pak budi..

  16. Saya malah acung jempol sama yang mau berbagi ilmu untuk nembus blokir. Aturan konyol semacem ini emang sudah sepantasnya untuk dilanggar dan dilawan.

    Hebat benar yang buat film fitna, bisa membuat negara berpenduduk muslim terbesar jadi mundur ke jaman batu. Pasti dia udah ketawa dan minum bir atas keberhasilannya. Inilah yang sebenarnya diinginkannya. Perang jaman sekarang adalah perang informasi, dan pembuat fitna udah menang.
    Congrat deh. Udah hopeless juga kayak Pak Budi

  17. Aturan Bahasa Internasional sebetulnya sudah mirip Bahasa Indonesia yaitu :
    yang namanya semangat yang meluap-luap, atau katakanlah keterlaluan biasanya diakhiri dengan OT contohnya,
    Rasa Kebangsaan yang meluap-luap namanya PATRIOT ( bangsa)
    Ide atau Ideologi yang meluap-luap itu maksudnya IDEAL tapi arti sebenarnya IDEOT
    Namun Bahasa Indonesia/Bahasa Daerah juga lebih sempurna dengan adanya kata ini
    kolot
    bolot
    kotot
    melotot
    semprot
    mlorot
    peot
    mungkin ada kata yang lain …..mohon diteruskan …
    karena sudah diblokir berarti tanpa yuotube, tanpa multiply, tanpa MySpace,tanpaMetacafe,tanpaRapid-Share oleh sebab itu kunjungilah
    website saya tanpatupo.com

  18. Selamat Siang…Selamat menikmati yang anget-anget (ini budaya jelek apa tidak ya…maaf).
    Mungkin Pak BR sesekali negokin Blog saya (maaf tidak ngemis lho), cuma ada sedikit ujaran yang mirip dengan ujarannya Pak BR, yaitu “kebijaksanaan” itu lebih pada “menawar” (baca:melanggar peraturan), apa ini juga seiring dengan budaya jawa yaitu tepo seliro?
    Demikian pula yang terjadi di sekolah kita kan? setiap siswa dipaksa untuk belajar sesuatu yang bukan minatnya hanya karena kurikulum dianggap segala-galanya. Saya yakin yang membuat kurikiulum tidaklah lebih cerdas dari saya juga, mereka juga masih sama-sama makan nasi,…apalagi yang buat peraturan.

    Adanya KTSP yang menuntut setiap sekolah untuk mengembangkan kurikulum sendiri terganjal oleh pesta negara yang bernama UAN. Sehingga lahirlah cerita Istighozah vs Kutukan di blog saya (kalau sudi mohon di tengok di http://guruiler.wordpress.com

    Apalagi cita-cita pembangunan manusia seutuhnya itu juga ngambang. Manusia super ingin kita hasilkan. Kalau Tuhan mau kenapa Dia tidak menghasilkan manusia yang super semua? Maaf membawa nama Tuhan. Sekian….Leher saya pegel…habis jaga try out UAN tingkat kabupaten Tegal katanya waktunya 2 jam eeee baru 1,5 jam udah pada ngacir gak tahan ngerjain soal…Tole-tole arepa dadi apa kowe mengko yen wis gede…?

  19. pernah saya ke seminar UU ITE…

    kata bapak depkominfonya, bilang, peraturan itu mesti dijaga dan ditaati bersama oleh orang2 indonesia itu sendiri…

    ini kan negara kita juga, masak kita hancurin??

    mari sama sama ngebangun indonesia, bukan malah ngancurin…

    kalo misal gatel, bikin aja komunitas system security, yang bertugas mengamankan sistem, bukan malah menghancurkannya…

    gitu tuh katanya..hehe

  20. Salam kenal pak Budhi,

    Mudah mudahan pemerintah tahu prinsip internet.

    Kita bisa blok ip, url atau domain tapi bagaiamana caranya mengeblok sebuah informasi.

    Kasus youtube disini hanya untuk mengurangi akses ke informasi tersebut. Yang menurut saya juga gagal. Coba klik aja ke googke, disitu banyak tersedia Fitna. Nah kalau gini masa Google mau diblok juga, gimana dong nanti orang nggak pada bisa kerja.

    Sepertinya kok ini seperti program cari muka, pingin nunjukin ke sekelompok orang. Ini lho pemerintah Indonesia, negara dengan mayoritas muslim terbesar Indonesia, kami peduli lho, buktinya ….

    Yang disayangkan, berapa banyak energi yang dihabiskan untuk ini semua ???

  21. klau pun pemblokiran situs itu masih bisa dibobol, berarti pemerintah menghamburkan uang untuk digunakan oleh orang yg salah. klau bisa sih sekarang pemerintah jangan hanya asal tunjuk, mendengar. tp harus mulai melihat, dan membuktikan bahwa orang yg dipilih tersebut berkompeten

  22. Mengenaskan bener.. kita ini serasa dipaksa secara halus untuk meniggalkan dunia maya ini.. dan di paksa secara halus untuk tidak berkembang dan tetap menjadi bodoh.

    salam

  23. kayaknya perlu mengubah cara pandang yang selama ini dominan…
    kenapa hanya pandangan-pandangan negatif saja yang didahulukan..padahal masih banyak (malah lebih banyak) sisi positif yang harusnya dimanfaatkan..

    Keputusan yang benar-benar menghambat perkembangan dunia IT di indonesia..

    matikan saja internetnya kalo gitu.. biar rame
    biar semuanya mengaduh…
    *dian sastro mode on*

    apa internet hanya untuk kalangan-kalangan tertentu saja.?? apa internet identik dengan pandangan-pandangan negatif.??

  24. Sediih..banyak yg bisnisnya kelabakan gara2 yg berkuasa.
    kenapa ga sekalian aja semua mesin pencari di blok?!
    Khan gara2 mesin pencari jadi tahu macem2 situs termasuk yg di blokir!???
    wuaa..haa..haa..haa…!

  25. Dari dulu sampai sekarang juga begitu, mengapa baru sedih sekarang 😦 ? Dan kita akan selalu menjadi bangsa yang tertinggal, ketika selalu melihat segala sesuatu dari sisi jeleknya. Harusnya pemerintah belajar dari kreativitas iklan Rinso ya? 😦

  26. Herannya ada begitu banyak suara sumbang, tapi tetap tak bergeming. Apa memang ‘pemegang kuasa’ itu selalu punya dorongan seperti itu ya?

  27. Mas Budi saya mau nyumbang lagu aja :
    “Padamu negeri kami berbakti….*stop mikir*…”
    Tolong bantu mereka yang bingung mas… sebab negerinya memang semakin nggak jelas bentuk pendidikannya ..
    Dan jangan lupa .. itu tugas dan kodrat anda lho.. hehe

    salam pitakumpli.

  28. @mas yockie … aduh, kok tugas dan kodrat saya? sebel deh. apa boleh buat ya mas? jadi saya harus banyak berkontribusi ke pendidikan? … [keluh kesah] …

  29. Keponakan saya yang baru saja selesai membaca ‘Persepolis’ (yg kisahnya terjadi pada masa revolusi Islam di Iran) tiba2 terserang ketakutan jika kondisi pemblokiran ini menjadi berlanjut mirip yang terjadi di Iran pada masa itu ……….. 😦

  30. *Pak menteri lagi browsing internet*

    sekretaris: “lagi cari apa pak??”
    pak menteri: “ini nih lagi cari… cari… CARIMUKA!!!!”

    heheheheh

    garing ya???
    maap deh, tapi mendingan bikin joke garing daripada bikin surat edaran buat blokir youtube….

    ^^

  31. Pak BR,

    Menurut pendapat pribadi saya, dalam kasus ini bukan aturan yang dilanggar, tetapi pembatasan “konyol” yang diberlakukan pemerintah. Yang seharusnya cukup dengan penyaringan (filter) malah diberlakukan “pemberangusan” (blocking) menyeluruh terhadap beberapa penyedia servis di internet.

    Jangan membakar lumbung untuk menangkap tikusnya, kecuali kalo isi lumbungnya memang cuma tikus saja.

    Kita bisa kok mendukung pemerintah mengurangi dampak negatif dari content negatif yang ada di internet, dengan cara memperbanyak materi positif yang di-upload ke internet.

    Saya beranalogi kalo internet itu seperti hutan rimba. Orang bisa sesat ke kebun buah-buahan liar ataupun ke sarang ular berbisa. Harus hati-hati menjelajahinya.

  32. tapi bukanya dalam kondisi kepepet semua orang jadi kreatif? ga tau kalao orang indonesia, ada yang kratif ada juga yang nrimo aja, mana yang benar? tergantung konteksnyaa…

  33. apakah pemblokiran == pelarangan pak?

    saya membuat artikel cara membypass pemblokiran, saya tidak pernah bermaksud untuk mengajarin “melanggar aturan”. saya prihatin dengan cara pemerintah seperti yang disebutkan pak Moses, bakar satu lumbung hanya untuk tangkap satu tikus. banyak sekali rekan saya yang memanfaatkan youtube. dari situlah saya berniat membantu mereka agar bisa mengakses youtube kembali.

    *nelen ludah kebayang pisang goreng & kopi*

  34. aaaah…koq saya jadi merasa munafik dengan berpura-pura menyikapinya dengan bijaksana (….gerutu).

  35. kalo warga – warga disini sih gua yakin, ada jalan lain buat hal yang satu ini, tapi gimana dengan anak-anak sekolah yang ada tugas langkah-langkah membuat blog, terutama yang memanfaatkan multiply.com, lagian gua pikir ngapain kita mikirin negara, kan udah ada orang – orangnya yang kerja nya itu buat mikirin negara, terserah deh mau maju atau mundurnya negara ini, lah kita tetap antri kok kalo mau beli beras, minyak goreng…. bruakakakakakakakakakak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s