Malu Jadi Warga Internet Indonesia

Dulu … ada satu hal yang saya banggakan, Internet Indonesia!

Biar kecepatan lelet, masih ada masalah teknis di sana sini, tetapi … bebas dengan teratur! Dengan membusungkan dada ke seluruh dunia, saya bisa mengatakan … lihatlah Internet Indonesia. Di sini kita tunjukkan bagaimana dewasanya orang Indonesia. (Kita agak payah di dunia nyata, tetapi di dunia maya cukup hebat.)

Ketika di negara lain (Singapura, Cina, dan lain-lain) ada sensor, di Indonesia TIDAK ADA. Perlu diingat bahwa kala itu adalah jamannya Order Baru yang dipimpin oleh pak Harto. Jaman itu pun, Internet tidak disensor.

Bukan tidak berarti ada konflik. Masih ingat milis APAKABAR yang sangat anti pemerintah Indonesia itu? Saya sangat yakin merah telinga pemerintah Indonesia. Masa itu saya sempat diteror oleh orang yang mengira bahwa saya pro kepada satu pihak. Misalnya, saya ditelepon dan dikatakan “Anda antek Suharto ya?” Saya tidak tanggapi karena saya tidak memihak. Saya netral saja. Pemerintah pun tidak melakukan pemblokiran atau sensor internet.

[Off the record. Sudah beberapa kali saya diminta pendapat oleh pemerintah tentang sensor Internet, selalu saya jawab: tidak usah. Warga Internet Indonesia adalah manusia yang dewasa (bukan dalam usia tapi dalam tingkah laku). Biarlah mereka tetap menjadi dewasa. Biarlah pendatang internet Indonesia yang baru juga belajar menjadi manusia yang dewasa. Jadi tidak ada sensor selama itu.]

Pengelolaan sumber daya internet Indonesia dikelola oleh komunitas! Oleh masyarakat. Saya orang yang senang dengan keteraturan. Nama domain, misalnya, bisa tertata dengan baik dengan melibatkan komunitas. Ini mungkin pendapat bias, karena saya dulu yang mengelola domain .ID. ha ha ha. Tetapi poin saya tetap valid, komunitas bisa bersilang pendapat dan berdemokrasi. Jangan salah, debat tentang pengelolaan domain bukannya tidak ada. Lihat juga pengelolaan internet exchange yang dilakukan oleh komunitas. Ah, masih banyak lainnya.

Kebayang tidak, betapa bangganya saya pada masa itu. Mau lihat demokrasinya Indonesia? Lihatlah Internetnya Indonesia.

Sampai … baru-baru ini. Ah, saya sekarang malu menjadi warga Internet Indonesia.

[ngumpet karena malu …]

bacaan lain: tak usah panik

btw, jangan komentar dengan makian ya. sabarlah kita.

129 pemikiran pada “Malu Jadi Warga Internet Indonesia

  1. Saya juga malu pak, sbg negara yg “sukses” berdemokrasi di dunia nyata (dgn keberhasilan pilpres dan berbagai pilkada), ternyata loyo di dunia maya. mungkin saatnya komunitas dunia maya bergerak kembali pak.

  2. Saya ikut malu karena pemerintah RI khususnya Menteri KomInfo dan jajarannya di DepKomInfo ternyata tidak tahu malu.

  3. @josh: Ada baiknya anda bercermin dulu sebelum berkomentar, sudah sebandingkah kapasitas anda dengan kapasitas Pak Menteri? Bahkan Pak Budi yang berbeda pendapat pun salut terhadap beliau: https://rahard.wordpress.com/2008/03/28/wawancara-tentang-sensor-internet/

    Sebelum ada ribut-ribut tentang UU ITE ini, yang lebih dulu saya lihat adalah cukup gencarnya Depkominfo mengupayakan supaya internet lebih mudah diakses masyarakat umum, termasuk hingga ke wilayah pelosok. Di kota kecil asal saya, Wonosobo, sekarang internet sudah dapat diakses dengan gratis melalui hotspot di alun-alun.

    Di satu sisi, dengan adanya upaya ini kita melihat bahwa pemerintah, dalam hal ini Depkominfo, merasa berkewajiban untuk mencerdaskan masyarakat, salah satunya melalui internet. Namun, di sisi lain, dengan meluasnya akses internet, potensi negatif yang juga terbawa oleh akses ini juga semakin meluas.

    Kita juga tidak dapat memungkiri, bahwa sangat mungkin, meskipun konten positif dari internet jauh lebih dominan, orang lebih tertarik dengan konten yang berpotensi negatif, misalnya pornografi. Betapa tidak, bukankah ketertarikan ini sebetulnya wajar, karena berasal dari naluri manusia? Ini tentu kurang konstruktif.

    Di sini kita perlu memahami niat baik pemerintah, yang ingin membuat internet dapat diakses oleh masyarakat luas, namun ingin menghindarkan masyarakat dari bahaya yang mungkin ditimbulkan. Mungkin, sebagai bagian dari masyarakat akademis, kita perlu juga keluar dari lingkungan kita dan melihat, bahwa di luar sana perlindungan semacam ini masih sangat diperlukan.

    Adapun caranya, kalaupun saat ini masih belum sempurna, adalah tugas kita, yang mungkin merasa lebih mengerti bagaimana seharusnya internet dipergunakan, untuk membantu pemerintah untuk mengimplementasikan perlindungan ini dengan lebih tepat.

    Ya, mungkin memang selama ini performa pemerintah belum memuaskan. Tapi saya rasa kita perlu juga membuka diri dan mencoba berpikiran positif. Let’s try to help, not to judge.

  4. Pemerintah sudah bertindak sangat-sangat-sangat gegabah soal sensor-sensoran internet ini. Udah gak tahu lagi mau comment apa…sekarang kerjaan saya cuma hilir-mudik nyariin proxy yang working 😦

    Malah ada yang nyaranin carding aja biar bisa beli dedicated server bikin proxy bersama…makin gila gara2 sensor2an ini 😦

  5. @gagahput3ra
    hehehe ngga usah terlalu ngeluh, biasanya dari kesulitan kita jadi kreatif. Ada yang lebih susah mas…, antri minyak tanah, minyak goreng, elpiji nyampe berjam-jam 🙂

  6. He-he-he, sorry pak Budi. Sebetulnya kita harus malu kepada siapa? Saya tidak malu pak, tapi kesel, mangkel, sedih dan prihatin kepada kita sendiri, kepada pemerintah kita….

    Negara ini jalan tanpa planning, tanpa manajemen yang jelas. Semua tindakan sifatnya responsif dan kebijakan yang diambilnya bersifat menyelesaikan persoalan secara lokal, tidak mendasar dan integrated!

    Kalau dalam main games, ibaratnya kita sudah mau kalah atau mati, kita sudah tidak berstrategi jangka panjang lagi, yang penting tidak mati dan masih bisa meneruskan permainan.

    Entahlah, rasanya saya tidak malu lagi pak, mungkin sudah terlalu banyak yang selama ini memalukan. Jadi, tambah satu ‘malu’, why not? Ha-ha-ha…

    salam,
    arry akhmad arman
    http://kupalima.wordpress.com

  7. Apa yang aku takutkan tentang UU ITE memang bukan soal pornografi. Tapi masalah ini, pemblokiran dan pembredelan informasi.

    Ah sudahlah…. Indonesia memang harus banyak belajar.

  8. Untuk Pak Budi, aku rasa sampeyan ngga perlu malu, itu terlalu berlebihan. Kalau masalah sensor media sampeyan jangan hanya melihat ke Cina atau Singapura, Amerika Serikat-pun yang katanya mbah-nya demokrasi, jika kepentingannya terancam akan melakukan hal yang sama. Ingat pada saat awal-awal perang Irak, ketika mereka merasa terganggu oleh pemberitaan Al-Jazeera yang cenderung merugikan Amerika Serikat. Mereka berusaha memberangus wartawan Al-Jazeera, dengan menembak secara langsung ke mereka, yang katanya salah sasaran.
    Mungkin jika ada konten di Youtube yang menyinggung salah satu kelompok etnis terkuat di Amerika Serikat (ngga aku sebutkan, pasti sampeyan sudah tahu) mereka akan melakukan sensor juga, bahkan menutup Youtube.
    Pemblokiran yg terjadi saat ini penyebabnya adalah video Fitna, yang melukai perasaan umat Muslim, apakah sampeyan ngga merasa terganggu? Mungkin ini adalah kasus pertama di Indonesia, sebaiknya sampeyan ngga usah merasa malu, sampeyan kan orang IT, cari solusi agar pemblokiran tidak berdampak ke kepentingan kita, misal buat situs sendiri semacam youtube, multiply, rapidshare , apakah kita ngga sanggup? Kalau jawabannya YA, Yo wis.
    😦

  9. Konservatif!
    Kayaknya, mau kita (yang anti pemblokiran) debat bagaimanapun, depkominfo tetap bersikap konservatif. Dan kenyataannya, masyarakat kita memang konservatif dan kita gak bisa mengharapkan depkominfo untuk bersikap bebas.

    Bagaimana bila kita mulai mencari solusi jalan tengah? Karena jujur saja, saya tidak menyukai pemblokiran untuk apapun alasannya atau apapun teknisnya (mau satu domain atau mau satu konten, tetap sama).

  10. Yah, ngerti lah pak, saya juga mulai sebel, udahlah saya butuh buat upload video, biaya internet mahal, eh,, youtube-nya diblokir pula 😦

  11. @rennypradina:
    Tahukah Anda bahwa Internet masuk ke seluruh Indonesia termasuk dalam perjanjian internasional dan Indonesia punya batas waktu sampe tahun 2015 untuk mewujudkannya. Jadi, memang siapa pun yang memimpin, Indonesia *wajib* menghubungkan dari Sabang sampai Merauke karena masuk dalam perjanjian tersebut.

    Memang seharusnya untuk Internet censorship adalah seharusnya didiskusikan bersama. Penutupan terhadap layanan umum yang bebas adalah tindakan hal yang tidak masuk akal. Apalagi, di dalam YouTube ada banyak “harta” terpendam.

  12. saya malu, saya marah dan saya jijik terhadap tindakan pemerintah yang sepihak dan bodoh!!!!

    ada yang bicara bahwa ini awal pembodohan masal di negara ini… saya bilang bukan… ini adalah bagian dari pelecehan HAM secara masal di negara ini yang akhirnya sekarang menyantuh internet…

    http://www.un.org/Overview/rights.html

    pak mentri, dibaca dulu sebelum bertindak…

  13. Maaf komen 2 kali, cuma mau menegaskan bahwa pendapat @josh memang terlalu keras. Tetapi, seperti yang kita ketahui bersama bahwa kebebasan adalah pedang bermata dua. Pagar dari kebebasan seseorang adalah kebebasan orang lain, setidaknya itu yang saya pelajari di PMP/PPKn dulu.

  14. @rennypradina:
    Weh nyong wong Wonosobo tp rodo kuper dadi ra reti nek ono hotspot ning alun2 :p

    Saya jadi ingat kejadian skandal seorang pejabat di suatu daerah.
    Ada peringatan dari pihak yg berwenang “Jika mempunya dokumennya baik dalam 3gp, image atau apalah akan dikenai sangsi”. Mungkin hal ini bisa memfilter dikiiitt….

    Pak BR semangat yaah…. 🙂

  15. Pak, saya tidak malu jadi warga Internet Indonesia tapi saya malu punya pemerintah seperti pemerintah Indonesia…

    Saya malah bangga jadi warga Internet Indonesia karena kita sangat dewasa dan bersuara keras (walaupun seperti saya tulis di blog saya – bersuara melawan angin) dalam menyikapi sikap pemerintah Indonesia yang memalukan… Tetapi pemerintah memang sepertinya sudah tuli dan kalap menghadapi kedewasaan warga Internet Indonesia dan terjadilah hal-hal memalukan seperti ini.

    Saya tidak ingin kembali ke retorika jaman Orba dulu, tapi sepertinya memang kita harus kembali berkata “Hanya ada satu kata… Lawan!”

  16. Kita perlu presiden baru, menteri-menteri baru, dan wakil rakyat baru.

    sepakat dengan Bung Avianto “Hanya ada satu kata… Lawan!”

  17. @rennypradina : Saya pengguna internet yang juga masyarakat biasa yang merasa sangat dirugikan pemerintah dengan Perintah ngeblok situs2 tersebut… saya tak ada urusan sama filem fitna yang dikatakan sebagai biangnya. Anda mungkin tidak dirugikan sama sekali, entah karena anda memang tidak pernah memanfaatkan dengan baik situs2 yang diblok tersebut,saya tidak tahu. Sebagai masyarakat biasa, kapasitas saya jelas tidak sebanding dengan bapak menteri (Pejabat Pembantu Presidan) atau pak budi rahardjo (Pakar TI). Yang saya ungkapkan itu jelas apa yang saya rasakan, bahwa saya ikut malu atas yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia seperti juga ungkapan pak Budi. Saya kira solusi atau pendapat Pak Budi sangat jelas, bahwa tidak perlu ada sensor-menyensor di internet yang dilakukan oleh pemerintah. Jadi tidak perlu lagi dibahas solusi teknis lain untuk ngeblok. Karena memang tidak mungkin bisa dilakukan.
    Beberapa waktu lalu sebelum banyak situs yang di blok, saya juga pernah di wawancara di TV Lokal soal sensor menyensor pornograpi, saya menyatakan menghargai usaha pemerintah untuk bertanggung jawab pada masa depan anak anak bangsa (tentu saja ini pikiran positif ). Tetapi efektifitasnya sangatlah dipertanyakan. Secara teknologi tidak mudah dilakukan secara ‘elegan’ (jika hanya memblok konten tertentu, tidak memblok situs keseluruhan), jika pun bisa akan membutuhkan resource, SDM, dana yang sangat besar. Pak Budi Rahardjo juga sudah pernah menjelaskan hal tersebut di dalam blog sebelumnya. Saya tidak menduga klo pemerintah secara membabi-buta meminta untuk memblok situs situs tersebut secara keseluruhan. Menurut saya ini sangat memalukan ? Karena satu content yang tidak bermutu, jutaan konten lainya tidak bisa saya akses seperti yang saya tulis di http://josh.staff.ugm.ac.id/blog/2008/04/05/kebijakan-pemerintah-menkominfo-yang-sangat-tidak-bijak/
    Sekarang bertambah situs yang di blok spt multiply,rapid dst… mungkin dalam waktu dekat google.com juga ikutan. Bisa gak anda bayangkan jika google.com ikut di sensor.. Atau jangan jangan anda memang juga tidak pernah menggunakannya?

  18. Strategi yg lebih baik adalah kita membuat film juga (atau buku atau media apapun) yg isinya membantah isi dari film fitna itu. Memblokir film fitna seolah2 kita kalah argumen dan bersembunyi. Manfaatnya lebih kecil dari mudaratnya dan akan menghabiskan energi. Siapapun dapat meng-upload film itu, kalau mau fair google pun harus di blokir. Ujung2nya blokir saja semua internet. Seandainya energi itu dicurahkan utk menambah referensi di internet yg sangat amat kurang sekali sebagai kampanye tandingan mencegah orang2 disesatkan oleh film fitna itu. Ditambah lagi cara yg dilakukan pemerintah utk memblokir film itu. Malas. Dengan sedikit usaha, seharusnya bisa dilakukan blokir yg selektif, bukannya memblokir keseluruhan youtube.

  19. @ rennypradina

    saya kira anda orang yang tidak mengerti betul dengan permasalahan yang sebenarrnya.
    anda hanya melihat dari persfektif
    perlindungan pornografi untuk masy awam
    anda tidak melihat dalam konteks yang lebih luas dan elegan
    yang lebih edukated secara konsep.
    kenapa ga di lihat jangka panjang?
    dulu pertama kenal internet saya suka buka situs2 porno,tapi itu dulu,sekarang tujuan saya berinternetan adalah nyari ilmu yang sebanyak- banyaknya,apakah ada yang salah dengan sitem kemaren?
    kenapa kita tidak punya pemimpin yang punya jiwa kebangsaan yang tinggi,dan satu lagi Gaul!!!!!
    gaul dalam iptek, dan wawasan teknologi.
    sehingga tercipta satu hubungan yang harmonis, antara budaya dan filterisasi yang lebih lugas.
    kalo mau blokir situs2 prono silahkan
    tapi jangan kebebasan kami yang esensial

    anarkis adalah satu cara untuk mengalahkan kalian!
    anarkis bukan dengan kekarasan tapi dengan semangat kami
    untuk mengalahkan tirani pengekang kebebasan i

  20. Boleh malu. Harus malah. Tapi pikiran harus tetap jernih agar kita bisa cari solusi cerdas. Yang susah kan yari solusi yang bisa diterima oleh sebagian besar (nggak mungkin semua kan ) orang, dan mengakomodir semua kepentingan. Gimana hayo.

  21. Bisa dimengerti kalau kita semua menjadi malu, tadi pagi ada pooling disalah satu radio “apakah masyarakat IT akan melawan pemerintah atau diam saja” dan 90% menjawab MELAWAN … tapi bentuknya spt apa saya kurang jelas, karena saya tidak mengerti IT.

  22. Iya pak saya juga ikut prihatin.

    UU ITE yang diharapkan menjadi dasar hukum untuk transaksi elektronik/digital transaction malah menjadi seperti UU pemberangusan.

  23. Medingan sekarang Indonesia udah gaya2an punya UU ITE. Paling tidak mendingan sekarang pemerintah sudah mulai peduli terhadap moral bangsa… supaya kita2 nggak tambah malu lagi..

  24. ah saya mah pesimistis dengan pemerintah,
    jangan kata ngurusin internet yang “hig tech”
    lawong ngurusin sembako aja kewalahan.

  25. Mau tanya, kalau jadi Warga Internet Indonesia itu pakai identitas nggak ya? semacam ID members atau KTP gitu loh….

    Saya sih selama ini belum mengalami masalah2 serius dgn internet, bandwithnya gede. Kita tidak boleh tenggelam karena diam. Internetkan perpus digital, kalau mau bypass juga ada ilmunya kok. Bisa pake free proxy dll.

  26. Tipikal orang Indonesia Pak, fondasi visi, idealisme, agama dan kebudayaannya rapuh. Seharusnya kalo kita punya itu semua, kita gak akan pernah takut untuk menghadapi serbuan sesuatu yang kontroversial model2 film fitna itu, pornografi ato budaya2 kapital yang tidak sesuai sama nilai2 kebudayaan kita

    Jadi kita lebih senang menghindar dari masalah daripada menghadapi, menyelesaikan dan menerima apapun faktanya. Ini cuma akan jadi bom waktu yang bakal meledak suatu hari nanti

    Apa ini gara2 pemimpinnya y ?

    Hmm .. jadi inget obrolan sama Laksamana Sukardi beberapa waktu lalu, dia bilang “Presidennya gak punya Visi !!”

    Heheheeee

    Salam Ganesha Pak

  27. Maaf yang ke Bold separuh tulisan, gak ada maksud Pak, cuma kesalahan tag aja .. hehehee

  28. kondisinya berbeda kan pak, saat ini pengguna internet sudah luas, internet bukan lagi barang mahal, makanya kemudian dianggap sebagai ranah publik

    [padahal ranah publik itu kan medium yang bisa diakses secara gratis]

    dampak negatifnya sudah terasa di mana-mana. kalau tidak setuju sensor, apa kira-kira yang lebih aplicable di indonesia ini?

  29. ya udah lah pak, mo gimana lagi. paling2 entar pemerintah ributin topik lain lagi, dan moga2 ISP diem2 buka blokirannya…

  30. bisa kacau dunia persilatan kalo begini terus. youtube diblok di thailand sampai 4 bulanan katanya. kalo di indonesia sampai kapan ya?

  31. Menurut saya kita tidak bisa membandingkan jaman suharto apalagi sukarno dengan zaman sekarang. Zaman Suharto, di ITS saja belum ada akses internet bagi mahasiswa. Kalau sekarang, kita bisa melkukan akses dari gadget kita. Bahkan anak SD pun bisa melakukan akses internet dari rumah.

    Oleh sebab itu, menurut saya masih perlu adanya pengaturan, kalau yang seperti sekarang ini tidak ideal mungkin pak Budi bisa mengusulkan mekanisme yang lebih realistis.

  32. sedih sekali sekarang moso sih karena nila setitik rusak susu sebelanga, karena profokator seorang saja dan bukan orang Indonesia lagi, kita yang ketiban sial

  33. bukan masalah kita dewasa ato tidak
    cuma kasihan masa depan anak-anak sekolah yang jadinya selalu ke warnet hanya untuk buka situs esek-esek
    apalagi anak SD juga ada

  34. Jikalau alasan pak mentri memblok youtube karena film fitna, yah kita tunggu saja apakah pihak google & youtube mengakui bangsa kita berdaulat atau tidak. Thailand sempat melakukan hal yang sama dengan memblok youtube karena terdapat video yang menghina rajanya, begitu juga cina dengan kasus yang lain…toh akhirnya mereka(google & yahoo) menyerah juga….mudah2an pak mentri kuat mempertahankan keputusannya dengan badai kritik semacam ini sampai mereka yang menyerah.

    Dari segi total populasi rakyat kita bs dijadikan target pasar, seharusnya mereka yang berpikir ulang untuk mengikuti kemauan kita…customer is a king 🙂

    Kalau dijadikan alasan pemblokan youtube menghambat aliran pengetahuan….coba liat iran, pemerintahan mereka melakukan pemblokiran youtube dan pengetatan content2 internet lainnya…lah kok mereka bisa mengembangkan teknologi nuklir yang canggih itu.

  35. hari ini istri saya bilang,”elpiji susah dicari, mas. piye?”
    sementara teman saya di kantor bilang, “cak, minta e-book pondasi dong. rapidsharenya ora iso dibuka”.

    jawabannya saya, “embuh lah….ojo takon karo aku. susah jawabannya.”

    gw yang jadi rakyat aja mumet. apalagi pemerintah.

    stop hujat pemerintah ! masalahnya uda banyak !

    cari solusi aja gimana biar semua keinginan positip tersalurkan dan semua yang negatip ditangkal.

    gw bukan pro-pemerintah (golput terus dari dulu)
    tapi gw juga bukan anti-pemerintah (kalo anti pemerintah susah… susah gawe KTP piye jal?)
    tapi mbok ya….jangan keterlaluan menghujat.
    sesuatu yang buruk itu belum tentu buruk loh…

    mari kita cari hikmahnya…
    (sambil duduk, minum aqua, mikir beli elpiji dimana)

  36. @rennypradana : kamu siapa sih, antek pemda ya, dulu masuk kerja nyogok ga, kok keknya lo bego banget

  37. Ikut malu mas, sama tambah malu gara2 “pakar” nya

    Kita sih mau aja ada peraturan asal masuk akal dan benar2 efektif

  38. Pengaturan pada yang ga baik sih setuju. Tapi jujur sekarang mau nulis apa aja dah agak bingung, takut dianggap merugikan dan ditutut. 😦

  39. to @dillah.

    Aduuh… kegeeran banget sih elo.
    Mimpi kali ya google mau nurut indonesia.

    Ama cina, iyalah, mereka mau nurut, lha wong:
    (1) pasar internat cina besar
    (2) sumber daya manusia cina besar
    so, mereka bakal rugi kalau gak tancap kuku alias nge-tap di cina.

    thailand, well, gw gak tau deh…. tapi rasanya pemerintahan mereka masih lebih respectable ketimbang pemerintahan indo. kita harus akui itu.

    Indonesia? Tauk deh.

  40. Memang miris sekali pak, Indonesia katanya sekarang sedang diacungi jempol oleh Amerika akan perkembangan Demokrasinya tapi ditengah pujian seperti itu malah demokrasi yang seharus juga kita dapatkan di dunia Internet malah di kekang. Sama pak saya juga ikut malu jadi warga Internet Indonesia. Sekarang untuk akses multiply aja mesti muter-muter dulu…

  41. mmmmm , Jika begitu …. Ayooo mulai berhitung blog mana sajakah yang akan di blok oleh pemerintahan Bapak yg di bilang memegang teguh demokrasi itu

  42. Numpng komen ya, Pak…
    Wah, saya lebih malu lagi kalo:
    – search di google trends dengan keyword “miyabi”, Indonesia peringkat 1 jauh di atas negara2 lain
    – ada warnet ketakutan kalo situs porno diblok soalnya katanya 70%pelanggannya buka itu
    – ada anak SD di negeri kita memperkosa karena pengen contoh film porno (ini bukan internet sih)
    – di negeri kita sempat beredar film “Bandung Lautan Asmara” beserta “sequel-sequel”-nya (ini juga bukan internet), dll
    artinya bahaya dari konten2 negatif yang mudah diakses sudah terlihat jelas dampaknya.

    Saya pikir adalah kewajiban pemerintah untuk menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pendidikan para pemudanya.

    Okelah, secara teknis upaya pemeritah belum optimal sehingga ada yang harus berkorban terlalu banyak, tapi kita kan harus support terhadap setiap upaya perbaikan di negeri ini. Justru inilah yang akan membuktikan kedewasaan kita sebagai bagian dari komunitas internet.

  43. Mmmmh, gemana klo para pakar IT Indonesia bikin situs-situs semacam You Tube atau Multiply atau Rapidshare atau situs-situs lain yang kenal blok? (Eits, tapi janagn bikin situs-situs porno ya….. :mrgreen: ) Kan bisa bagus tuh? 😀 (maaf klo komengnya ga nyambung… wakakakakakakak… 😀 )

  44. Mmmmh, gemana klo para pakar IT Indonesia bikin situs-situs semacam You Tube atau Multiply atau Rapidshare atau situs-situs lain yang kena blok? (Eits, tapi jangan bikin situs-situs porno ya….. :mrgreen: ) Kan bisa bagus tuh? 😀 (maaf klo komengnya ga nyambung… wakakakakakakak… 😀 )

  45. INTINYA memang sngt perlu ya dgn youtube?rapidshare?
    mungkin kebijakan pemerintah ad baiknya, kn dah mreka pikirkan matang2….
    tp sy ckup malu dgn Indonesia, ktika kita berada dnegara asing ato brat, bukn krna internetnya, tp kelakuannya. ga di pemerintahnya yg mudh skli tuk korup, ga jg rakyat biasa yg dkenal dgn huru haranya, bhkn kerusuhannya. mkanya ekonomi g prna membaik labil.
    ap pun it kita tetap rakyat Indonesia…..(g nymbun jg ya:d)

  46. @Aditya

    – ada warnet ketakutan kalo situs porno diblok soalnya katanya 70%pelanggannya buka itu

    Kalau gitu bikinlah peraturan buat warnetnya, masa pengguna pribadi yang jadi korban?

  47. mas budi, saya ikutan pendapat ya

    32 tahun lebih selama masa pengekangan kebebasan berpendapat dan “penindasan Hak Azasi” oleh pemerintahan orba , telah melahirkan masayarakat yang “maaf” gagap dan kalang kabut saat harus menyongsong era globalisasi beserta perangkat2 demokrasinya .

    Saya sepaham dengan argumentasi pemerintah sekarang “yang katanya reformis” bahwa masyarakat perlu belajar dan diajarkan dengan baik , apa itu demokrasi dan kebebasan . Sebab “mata pelajaran kuliah” selama 32 tahunan yang sudah diberangus tadi .. inilah hasil dari sistim pendidikan orba , masyarakat yg relatif masih tertinggal di segala bidang (dibanding negara2 tetangga)

    Oke… berarti yang dibutuhkan sekarang adalah pendidikan bukan.?

    Koq sepertinya para pengambil kebijakan yang notabene orang2 akademis yang pintar itu sendiri yang harus mengejar ketertinggalan dibanding dengan users disini . User (elite) disini justru tulang punggung untuk memberdayakan dan meningkatkan sistim pendidikan (non formal) bagi masyarakat akar rumputnya . Itu yang tidak dilihat oleh pemerintah kita … (lhaa.. kemane’ aje’ elu…)

    Apalagi menggunakan “palu orba” untuk melegetimasi alasannya . Bukankah itu perilaku orang bodoh yang sedang ketakutan ..? hehee

    salam ah..

  48. Pak Budi, setahu saya sih sensor atau penghalang apapun yg dipasang oleh pemerintah utk warganya dalam mengakses Internet itu sudah wajar, bergantung dgn agenda setting masing2 pemerintah. Kalau dibilang Amerika itu demokratis, setahu saya seluruh peralatan Internet (router, switch) di US itu harus comply standar CALEA http://www.calea.org/ yang memungkinkan agen2 pemerintah (FBI, CIA, NSA) bisa mensniff seluruh trafik Internet yang dicurigai berbahaya menurut mereka.

    Jadi nasib orang yg ingin lepas dari sensor itu ya nasibnya memang musti kucing2an. Tapi berapa orang sih yg butuh seperti itu. Toh rakyat jelata kan butuhnya pipa kenceng, Internet kenceng, biaya murah. Kalau memang dirasa perlu, lebih baik pemerintah bikin Google sendiri (kayak di China ada Baidu), Yahoo! Mail dan Messenger sendiri, Youtube sendiri, Amazon sendiri, WordPress/Blogger sendiri. Toh kadang2 informasi yg kita publish itu utk orang2 di lokal kita. Asal listrik di seluruh Indonesia beres, ada datacenter di masing2 propinsi.

    Itu kan lebih enak daripada kita berwacana ini itu, yang saya kira dalam sebulan dua bulan isunya akan hilang.

  49. Ya….nimbrung lagi…langsung nerosol…duduk ditengah..

    Begitulah…yang saya rasakan…sangat sedih..tapi gak bisa mengeluarkan air mata….saya merasa mengajar disekolah yang pimpinannya hidup dijaman batu…anak anak sudah main internet dan mereka tahu efek negatifnya tapi dengan sadar mencari yang positif..

    Internet dibenci oleh atasan karena mereka gaptek….

    Tapi walau malu…saya tetap bangga untuk tetap menginternetkan siswa…bukan gurunya mereka udah pada kelewat waktunya…tapi masih dengan congkak mengatakan mereka lebih maju dari muridnya yang bisa internet apa tumon? lalu apa hubungannya dengan opini Pak BR…itu cerminan betapa TOLOLNYA PIMPINAN KITA !

  50. Mas, urun rembuk… Saya termasuk yang tidak setuju dengan model blokir situs, selain tidak efektif juga tidak efisien (kasihan trafik benwit jadi lamban)… kemarin ada ide .. tapi karena kurang faham secara detil mengenai trafik internet saya anggap ide ini “di awang-awang” tidak tahu apakah feasible secara teknis. Jadi begini: sementara ini yang timbul adalah ide agar isp/nap memblokir situs2 yang dianggap melanggar (pornografi, menimbulkan keresahan, dan sejenisnya) atau dengan kata lain pendekatan “negative list”, situs negatif dimasukkan ke dalam daftar blokir, dimana setahu saya sangat tidak efektif karena listnya akan selalu harus dipantau dan bertambah tiap detiknya… (nggak kebayang sulitnya seperti apa)… nah idenya bagaimana kalau dibalik… dibuat model “positive list” dimana ada isp yang khusus menyediakan/melewatkan trafik ke situs2 yang memang sudah di approved (ada institusinya model MUI misalnya). Memang berat membuat database konten/situs “halal” karena jumlahnya yang banyak… tapi in the long run lebih mudah karena lebih “stable”. Pangsa pasarnya adalah keluarga, sekolah, pesantren dan pelanggan lain yang menginginkan konten “halal”. Analoginya seperti di dunia perbankan, ada bank biasa dan ada perbankan syariah… jadi kalau begitu mungkin tidak ada “isp syariah”?
    Sekedar pendapat naif… salam.

  51. Hehuehuehue… jaman Orba, jaman Soeharto ngga ada sensor internet? Mungkin karena pejabatnya masih pada GAPTEK, Pak! Hehehe… just kidding.

    Tapi ya, saya rasa negara2 maju macam Singapura lebih cepat (atau mungkin tanggap) melakukan sensor karena mereka sudah lebih cepat sadar akan potensi kekuatan internet (apalagi Singapura yang sangat bergantung pada stabilitas).

    Pokoknya™ saya rasa ngga perlu cemas dengan sensor sih, toh kalo gak salah kan ga perlu takut. TAPI DENGAN CATATAN yang tukang sensornya juga harus ada yang ngawasin, ngga asal sensor dan mengekang kebebasan. Ini yang susah yah? Hehehe… ayo Pak Raharjo, pantang mundur!

    Salam kenal!

  52. @rennypradina
    Hmm… saya rasa anda tidak perlu bercermin seperti yg anda usulkan, tapi yg lebih perlu anda baca sampe habis isi UU ITE tersebut, baru cuap2 yeeee…. 😆

  53. sekarang ngenet jadi agak susah surfing, siapa yg berbuat siapa yg kena, uhhhh menjengkelkan..

  54. Kita selalu ketinggalan dan gampang terpengaruh. Ada isu apa lantas ikut kemana dan parahnya sifatnya sementara dan ada kesan jaim dan memuaskan pihak tertentu. Mau dibawa keman yah Indonesia ini. Sedih 😦

  55. UU yg bagi saya cuma ngabisin duit aja

    UU lama yg di aransemen baru

    UUITE kalo di telaah juga garis besarnya sama dengan UU HAKI dan Pornograpi. Trus UU yg dulu kemana? UU yg dulu pembuatannya udah memakai uang rakyat.

    DIsinilah letak kebodohan pemerintah kita, Mengeluarkan UU tapi gak pernah ada kontrol pelaksanaan UU itu sendiri. Hangat-hangat taik ayam. UU yg ini juga rasanya bakal bernasib sama dgn UU yg lalu, MENGUAP dan BASI

    Kenapa gak UU yg lama di kembangkan trus di kontrol pelaksanaan nya, di lihat asas keadilannya, dilihat dari berbagai aspek bukan cuma menggunakan kacamata kuda

    Basi pak pemerintah, kalian teriak-teriak soal Moral di sini, noh di glodok DVD bokep bejibun…. mana yg memberangus? jelas-jelas di depan mata tuh pedagang perusak moral, tapi kalian permerintah seakan-akan buta dan tutup mata.

  56. Kasihan komunitas IT Indonesia, berapa energi yang terbuang gara gara hal ini. Harusnya kita bisa mampu bersaing dengan India ….

  57. Ikut menyimak..saya juga turut malu dengan blokir membabi buta semacam ini. Heran, pembuat kebijakan berasal dari akademis, tapi kok kagak tahu di youtube banyak sekali konten video kuliah dari universitas ternama, misalnya MIT dll. Diblok cuman gara2 Fitna?? Bener2 deh. Saya juga sangat malu dengan para pembuat kebijakan seperti ini. Benar benar heran. Saya gak tahu mau jadi apa Indonesia ini nanti. Prihatin 😦

  58. Inilah kalau kita tidak pernah belajar menerima kritik sejak kecil. Tidak mau instrospeksi, tapi justru selalu menimpakan kesalahan pada orang/pihak lain. Kalau kebetulan sedang punya kuasa, ya itulah yang terjadi, blokir sana blokir sini.

  59. Aneh…aneh…aneh. Dunia sudah mulai terbalik. Kalau dulu orang malu kalau ‘kemaluannya’ terbuka. Sekarang orang malu kalau ‘kemaluannya’ kalau ditutup. Dunia semakin aneh. Aneh benar-benar aneh.

    Note: Kemaluan= segala sesuatu yang bisa bikin malu.

    Baca-baca komentar di atas jadi ketawa sendiri.

  60. masa sih cuma karena 1 file aja musti ngblokir situs ini itu?
    dibilang bego ya bego…
    dibilang pinter, sebelah mananya?
    trus ntar kalo di wordpress pada ngomongin film fitna, trus wordpressnya juga mau diblokir?
    indonesia sekarang udah miskin, mau beli ini itu aja musti ngantri, tapi jangan sampe miskin informasi dong, kalo situs ini itu diblokir, trus kita bakal dapet info yang cepet dari mana?
    apa mau balik lagi ke jaman dulu yang info info didapet cuma dari koran ama tv?
    kita dari dulu udah dimiskinkan, sekarang dunia informasi mau dimiskinkan lagi?
    kenapa sih pejabat-pejabat indonesia makin sini makin kolot aja pola pikirnya
    emang aku gak bisa jadi menteri yang terhormat kayak bapak-bapak disana, tapi seenggaknya aku gak ngambil keputusan instan yang terkesan bego kayak gini
    nasib orang indonesia… dimiskinkan…

  61. Motto kerja pemerintah negara kita :

    Gajah dipelupuk mata gak kelihatan, tapi semut di seberang lautan malah dipelototin.

    Benar2 memalukan….

    ihik..ihik…

  62. Pak Budi ngumpetnya jangan jauh-jauh ya, ntar “anak-anaknya” pada susah nyariin…

  63. yah emank nasib kita sebagai raktyat yang selalu ditindas oleh pemerintah…

    udah semua barang mahal sekarang internet di sensor…

    penderitaan apalagi yang akan kita terima

  64. Intinya maen petak umpet saja pak.. 😀 atau yang pernah Bapak buat.. GBT (gerakan bawah tanah)…
    inget…Panglima Besar Jendral Sudirman (pahlawan nasional) berhasil mengalahkan penjajah melalui gerakan gerilya…
    Sudah saatnya kah kita gerilya..??

  65. Lucunya, saya tidak mengira bahkan pemerintahan Indonesia sendiri sampai bisa menutup mulut YouTube, yang kabarnya telah menyayat – nyayat urat demokrasi internet Indonesia. Hebat.

    Hebat kepalamu.

    Apapun itu, saya kira pemblokiran situs Internet menandakan dua hal :

    1. Pemerintah sudah melek Internet, sudah tahu yang nama Internet.
    2. Pemerintah sudah tahu “Bahaya” Internet. Terutama bagi yang kebetulan belum tahan akan kripik pedas ataupun racauan menyindir.

  66. buat saya, rasanya yang lebih perlu di – malu – i itu ya… tindakan membabi buta memblok youtube dll itu.

    pem – blok – an situs2 itu bikin saya merasa kena musibah. musibah besar yang tidak bisa dijabarkan lagi, kecuali dengan kata musibah itu sendiri.

    saya pikir, udah waktunya nih, dilakukan tindakan tindakan persuasif terhadap pemerintah biar pemblokan gini dibuka lagih.

    salam kenal Pak!

  67. mas Budi ikut nimbrung…
    sebenernya saya sabar…
    tapi, apa yang di depkominfo semua orang tua2 yah…???yang khawatir anak2nya liat hal2 yang g bener di internet…jadi aja, g mikirin yang muda2 yang berkarya lewat internet.yang bisa hidup g dari korupsi tapi dari usaha sendiri…dan itu dilakukan lewat internet.
    malu…?ya malu wong pemerintahnya telah mengkuperkan rakyatnya, MEMISKINKAN tepatnya, di mata dunia maya…tapi wong malu-malu mau….ya LAWAN…!!!!

  68. youtube diblokir, rapidshare diblokir, untung aja situs pak Budi ini gak ikut2-an di blokir 😀
    Sensor masih perlu koq, asal2 gak semua2 di sensor aja, sampe rapidshare segala 😦

  69. saya jg ga tau nich,Indonesia segala-galanya berdasarkan anak dibawah umur,orang dewasa jadi warga negara kelas dua..pemblokiran diperuntukan bagi anak dibawah itu wajar tapi seharusnya orang dewasa punya hak menentukan pilihan tentang informasi apa yang ingin didapatkan donk…

  70. kenapa ya pak, kita ngga bisa bikin semacam petisi gitu, yang didukung juga oleh pemerintah, untuk encourage peyedia layanan di internet agar menghapus konten2 yang dianggap tidak layak ditayangkan.

    petisi itu sendiri sudah menunjukkan efek penolakan terhadap konten yang dianggap tidak layak itu kan?

    ya setidaknya ada usaha untuk ‘membidik’ sasaran. bukan memberangus seluruhnya.

    btw, bukannya layanan2 konten di internet rata2 menyediakan fitur ‘flag’, untuk memberitahu provider bahwa kontennya tidak bisa diterima pengunjung? tapi sepertinya nggak terlalu efektif ya?

    padahal fitur seperti itu seharusnya bisa digunakan untuk selective cencorship dan menghindarkan terjadinya blokade massal seperti ini.

  71. padahal di iklan televisi bilangnya
    “Internet sudah dateng! Internet sudah dateng!”
    “berkat internet, sekolah di desa-desa “melek”dunia”
    kalau diblok gini, mau “melek” liatnya apa?? hahahaha 😆

  72. Maaf OT sebentar,

    @dilla:

    Kalau dijadikan alasan pemblokan youtube menghambat aliran pengetahuan….coba liat iran, pemerintahan mereka melakukan pemblokiran youtube dan pengetatan content2 internet lainnya…lah kok mereka bisa mengembangkan teknologi nuklir yang canggih itu.

    ‘Mengembangkan teknologi nuklir yang canggih’? Jangan berlebihan deh; mereka ‘cuma’ mau bikin PLTN (dengan dibantu Rusia) kok. Indonesia sebenernya juga bisa (lihat reaktor BATAN di Serpong, Bandung, dan Yogya), tapi… kemarin rencana pemerintah untuk bikin PLTN Muria malah diprotes abis2an kok sama rakyatnya sendiri. Oh Indonesiaku… 😦

  73. Mungkin semuanya tergantung siapa yang berkepentingan, bagaimana jika rasa “malu” di ubah menjadi suatu act hingga kemudian tak ada lagi malu 🙂 *sok tahu ya daku*

  74. seperti komentar ijke dulu …. ini mah ujung-ujungnya akhirannya OT, ….. bukan makian tapi realitas yang akhirnya mengerjar BALLOT 2009 …. , sekarang pada berlomba carmuk …. curi start …. kalau gini caranya siapa mau coblos …. kita dimple aje tuh ballot …

  75. Apa bikin Negara Kesatuan Republik Internet aja ya…
    wilayahnya pasti luas, karena mencakup seluruh dunia.
    Tentu saja kecuali indonesia, sebab pasti di blokir,hehe.
    Lha pemerintah slogannya “mari mengejar ketinggalan!!”..
    makanya jadi ketinggalan terus.Harusnya kan mengejar kemajuan.
    pantesan ga maju-maju..sama internet aja takut

  76. wah, ada korban deface lagi rupanya pak.
    kali ini giliran situs Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia.

    makin banyak konflik yang ditimbulkan dari kebijakan yang kurang bijak ini.

  77. Lagi-lagi tipikal kebijakan di negeri ini, menangkap tikus dengan cara membakar rumah. Jangan-jangan ke depannya WordPress pun akan diblokir juga! Maka habislah riwayat kita!

  78. Pak Budi,
    Nampaknya kita harus kembali “Turun gunung”
    Baru ditinggal setahun saja sudah kacau balau seperti ini. Memang sih, yang dulu janji ga bakal sensor orang yang berbeda, tapi namanya lembaga kan suatu janji itu atas nama kapasitas, bukan nama pribadi.
    Yuk, atur waktu kumpul-kumpul untuk “meluruskan” masalah sensor ini

  79. @irwan … saya sudah capek “turun gunung”. bukankah seharusnya ini giliran anak muda? mestinya justru saya harus menepi. bukankah begitu? mosok harus turun gunung lagi …
    [sigh…]

  80. nah.
    jadi warga dunia nyata malu.
    jadi warga dunia maya pun kita (kita…??!!) alias om rahardjo dan sayah malu..
    lalu enaknya kita lari kemana?
    timbuktu?

  81. Setuju kita harus prihatin dengan tindakan membabi buta yang dilakukan pemerintah. Tapi kita tidak perlu malu. ‘Malu’ adalah penggunaan kata yang terlalu berlebihan di sini.

    Saya yakin kebanyakkan orang Indonesia baik muslim dan non-muslim setuju kalau film Fitna itu harus dihambat peredarannya. Hanya cara yang dilakukan pemerintah sangat keterlaluan dan memberi domino efek yang kurang menguntungkan praktisi internet. Tapi kita nggak perlu malu.

    Kurangilah mengkritik tanpa solusi. Mengkritik lebih baik disertai solusi konkrit.

    Saran buat Pak BR, mulailah Bapak mengeluarkan ide-ide brilliant Bapak agar pemblokiran yang dilakukan pemerintah tidak menimbulkan dampak kerusakkan yang terlalu luas. Nasi sudah jadi bubur, UU ITE sudah disahkan. Cobalah Bapak bantu biar bubur ini jadi enak dimakan seperti bubur ayam misalnya. Kami orang awam di bidang TI sangat menantikan buah fikiran para pakar TI di negeri ini. Mohon maaf pak kalau terkesan menggurui.

  82. pro dan kontra sudah biasa ..
    ok next.. siapa lagi..

    baik lah kalo tidak ada kita lanjutkan..

    ” saya rasa ini hanya tertutup untuk orang yang kurang mengerti komputer nantinya, tapi tidak bagi orang yang sudah sering bermain, juga nanti banyak cara untuk membuka lagi semua situs yang ditutup itu. tenang aja soal bajak membajak kita ahlinya”

  83. sensor2 itu sebenarnya gk usah ja..malah semakin disendor semakin penasaran orang2 n semakin pengen tahu n semakin mencari cara2 ntuk memperolehnya….nach itulah indonesia….

    suka…ngegedein yg kecil2….

  84. ah sial
    apalagi kerjaan saya harus butuh internet…youtube terutama..
    seperti temenku udah langganan rapidshare setahun, baru make sebulan eh udah diblok.padahal untungnya juga g seberapa…..
    trus kompensasi negara ke temen dan saya apa ya, sudah mematikan lahan hidup…

    NEGARA MISKIN, BODOH dan MISKIN

  85. Komentar Saya:

    “Saya tunggu tanggapan Internasional tentang Internet di Indonesia.”

    Baik?
    Buruk?
    Sempurna?
    Terburuk?

    Anything else…

  86. Yg terjadi sekarang seperti membunuh nyamuk dengan bazooka 🙂 Tapi saya tak malu jadi bangsa Indonesia, apa pun ini bangsa kita. Setahu saya orang postel itu sadar langkah sekarang itu tak tepat betul, mrk butuh masukan juga bagaimana bisa selektif tidak asal blokir.

    Sebenarnya saya mempertanyakan pendapat pak budi tentang demokrasi. Konteks fitna dengan pembredelan situs/blog/milis/apa pun yg secara politik berlawanan dengan pemerintah adalah beda. Kalau pemerintah melakukan yang kedua, itu bertentangan dengan demokrasi. Tapi kalau yang pertama, tak bisa ditembak itu bertentangan dengan demokrasi. Ini juga berlaku ketika pemerintah melakukan sensor terhadap pornografi, menurut saya itu konteksnya beda kalau pemerintah melakukan pembredelan informasi ideologi/aliran politik yang berbeda. Melakukan sensor karena ideologi/aliran politik berbeda, itu yg tak demokratis. Tapi sensor pornografi dengan dalih untuk menyelamatkan generasi bangsa, apa itu bertentangan dengan demokrasi? Rasanya itu dua domain berbeda.

  87. Rafki RS#76 Masa nutup ‘kemaluan’ sendiri harus pemerintah yg lakukan? Kalo emang punya ‘kemaluan’ ya tutuplah sendiri, gak perlu org lain yg menutupi, karena kita sendiri yg bisa menilai mana yg menjadi ‘kemaluan’ kita.

  88. @Catshade #96

    Setahu saya rusia itu hanya memasok bahan bakunya, teknologi pertamanya mereka pelajari dari pakistan…tapi itu tentunya yang mereka kembangkan sekarang melebihi dari yang diajarkan pertama dulu oleh sang guru. Dalam per-IT an mereka juga lumayan kok, silahkan search sendiri di google(mumpung belon di blok :p ).

    Maaf pak budi jadi makin menyimpang nih 😀
    saya cuma mau meluruskan pernyataan catshade sesuai dengan pengetahuan saya.

    Dengan keterbatasan ini dipacu dong mahasiswanya untuk membuat alternatif website2 yang diblok pak 😀
    konsep google, youtube dan lainnya kan sudah jelas tinggal implementasi nya saja, kita galakkan swasembada informasi 🙂 …secara anak itb gitu lohhh, apa sih yang ga bisa 😉

  89. uppsss…boleh yah pak sekali lagi, ada yang ketinggalan..dikit kok dikit 😀

    kalo seandainya iran mengembangkan teknologi hanya pada level “cuma”, ngapain bush CS khawatir…mereka punya teknologi intelijen yang canggih, so kalo seandainya yang mereka kembangkan baru kayak yang di SERPONG, yahhh cape2in ajah neror2nya 😀
    [sok2an teori konspirasi nih]

    Tuh kan pak bener dikit…thanks yak 😉

  90. Pemerintah kita sekarang urusannya kok cuma sensor-menyensor yaa. Mang nggak ada pekerjaan yang lebih penting. Padahal rakyat desa (maaf saya orang ndeso pelosok di jawa tengah) masih harus ngantri minyak tanah, mau nanam padi pupuk mahal, irigasi pertanian kena pajak… Lah kok diurusi ya. Belum yang jauh dari saya, katanya (dari koran dan teve) ada bencana lapindo. Rakyatnya disuruh berjuang hiduyp sendiri sementara sang penanam modal tenang2 aja. Kaya’ gitu malah didiemin. Kasihan ya jadi rakyat jelata.

  91. Ah, Endonesa. Kapan engkau bisa dibanggakan di mata internasional kalau wargamu sendiri tidak bangga? 😐
    *meratapi nasib Rapidshare yang ditutup*
    *nyari tempat laen buat donlot apdetan anti-virus*

  92. Wah ini kebanyakan yang comment disini bukan orang IT kali,
    kayanya pusing banget dengan sensor. Mang Internet itu hanya sebatas rapidshare, youtube dll.
    Masa cuma di blok gitu aja udah kaya kebakaran genjot, eh jenggot..
    Saya setuju dengan pemblokiran situ porno, karena lebih banyak dampak negatif, anak masih SD kok bukannya situs porno.
    Masyarakat kita ini terlalu banyak protes, omdo, tapi ga tau juga dia bisa kasih apa buat negara.
    Saya setuju dengan salah satu comment, kenapa ga kita buat rapidshare indonesia, youtube indonesia, googlenya indonesia.
    Saya salut dengan Bung Anton Raharja yang buat server voiprakyat, dan ketika link international down, voiprakyat sangat membantuk sekali.
    Kawan, jangan terlalu banyak complain, mari buat dunia IT indonesia maju.jangan kalah dengan india.
    Biasanya dalam dunia IT, perkemabangan didorong dengan keterpaksaan yang dipicu oleh keterbatasan.
    Sering buka sourceforge.org donk, trus bikin aplikasi, sistem atau apapun yang bermanfaat.
    Jangan bisanya cuma download video doankkkkkk…

    Peace,

    Don’t make any decisions when u angry
    Dont’ make any promises when u happy

  93. Hmmm… kok komentarnya hampir semua negatif yah…
    Kalo menurut saya… upaya pemerintah itu (untuk kasus ini) sungguh mulia tuh…
    Ambil yang Positif, Buang yang Negatif!!!
    Yo… Ayo… Kita Bangun Indonesia yang Positif!!!
    (Gimana nih Pak BR?)

  94. Seperti kata Agus, komentar di sini emang banyak yg negatif.

    Hmm…. bisa jadi, nanti akan ada virus anti pornografi, yang kerjanya cuma blokir2 situs porno & nge-kill file2 dlm komp yg ada karakter porno-nya, tapi tidak ngerusak komputer && lebih kreatif dari brontok dkk….

    Pasti asyik tuh, apalagi klo bisa mbunuh virus2 lain 🙂
    Ada yg berminat bikin?

  95. he he he saya setuju sensor… tapi buat nyang porn2 aja… dengan syarat :

    1. internet jadi lebih murah
    2. Dibuatkan website pendidikan untuk anak2…
    3. Pemerintah mendorong berkembangnya content edukasi..
    4. pengawasan oleh komunitas tentang apa aja yang disensor.. situs yang di blok berhak mengajukan keberatan.
    5. Censorship on pornographic content only……. not politic

    kalo ga percuma juga disensor…….

  96. Tuk Pak Budi
    Sekali-kali bahas donk JARDIKNAS yang sudah R.I.P Bandwidthnya, semangatnya dan rohnya.. kasihan anak-anak sekolah indonesia.. khususnya kami di Manokwari Papua barat, beberap bulan kami baru menikmati cerahnya dunia maya, sudah dapt koneksinya bersusah payah, dibangun dengan komunitas.. eh alih2 dipindahkan ke PUSTEKKOM Malah dipangkas 75% bandwidthnya oh.. nasib, dengan Jargon Konten lokal, Batasi dan kurangi serta Blokir Akses Internet disekolah kalo bisa dienyahkan..
    Apa kami yg ditimur ini berteriak “MErdeka” baru didengarkan saudara kami di barat mungkin banyak pilihan akses tapi kami..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s