Mengukur e-Leadership

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini saya menjadi salah satu juri dari e-Government award yang diselenggarakan oleh Warta Ekonomi.

Salah satu faktor yang digunakan untuk penilaian adalah e-Leadership dari peserta. Nah, bagaimana mengukur e-Leadership ini? Dalam bayangan kami, e-Leadership terkait dengan:

  1. visi dan misi pimpinan;
  2. komitmen terhadap teknologi informasi.

Itu pun masih sulit mengukurnya. Perlu diingat bahwa kondisi dan latar belakang peserta sangat bervariasi.

Apakah ada pengalaman atau saran tentang bagaimana mengukur kedua hal di atas, atau lebih tepatnya mengukur e-Leadership yang lebih obyektif?

16 pemikiran pada “Mengukur e-Leadership

  1. Pak BR .. saya cenderung sepakat dengan definisi yang diberikan di vision2lead :

    eLeadership means a balancing many roles and carrying them out via communications technologies:

    VISIONARY: To see the big picture and translate it for others.

    CONVENER: To bring diverse people and organizations together to find common ground and solve problems.

    TEAM SPONSOR: To form and guide on-site and virtual teams.

    MANAGER: To obtain and allocate resources with full accountability, and manage on site and virtual organizations.

    INNOVATOR: To discover new ways of doing the unexpected.

    MENTOR: To foster new leadership.

    Sesuai dengan definisi Pak BR di atas, maka komitmen bisa dijabarkan kepada convener, team sponsor, manager, innovator, serta mentor. Kata kunci di sini adalah VIRTUAL TEAMS dan membentuk VIRTUAL ORGANIZATION ..

    Ada lagi referensi di Harvard Business Review :

    [e-leadership] requires abandoning past business models and challenging current assumptions and beliefs.

    Kayaknya kata kuncinya adalah radical change in business model dengan menggunakan TI.

    Bentuk check list nya (in my humble opinion Pak) :

    – Apakah ada suatu kebijakan yang formal mengenai penggunaan teknologi informasi untuk memecahkan persoalan secara kolaboratif di dalam perusahaan dalam bentuk virtual teams ? (aspek convener dan team sponsor).

    – Apakah ada alokasi sumber daya khusus serta anggaran khusus untuk aktivitas teknologi informasi dalam upaya membentuk virtual teams ? (aspek manager dan mentor).

    – Apakah pernah terjadi diputuskannya sebuah inovasi di dalam perusahaan, baik inovasi proses maupun produk, di mana keputusan tersebut didikusikan dan dibuat melalui kolaborasi virtual teams ? (aspek innovator).

    – Apakah ada perubahan business model yang signifikan akibat penetrasi TI ke dalam perusahaan ? (aspek radical change).

    Begitu Pak, sekedar sharing opinion … good luck Pak BR …

  2. ops, tambahan Pak … contoh perubahan business model yg signifikan utk ini adalah konsep the long tail yang pernah kita diskusikan dulu … kind regards Pak ..

  3. Duh… kalo dua pakar ini diatas yg bicara, saya gak ikutan bicara dech. Saya nyembah2 ajah buat kalian berdua… Pak Riri (happy BD yah) dan Pak BR…

    **menjura dalam2**

    silly

  4. Tataran konsep pemahaman IT di e-government sebenarnya tidak terlalu diminati para pejabat eselon disana, pejabat disana sangat senang menyedakan dana2 besar utk proyek e-gov dari tahap development sampai maintenance,semua dibuat proyek saja dengan nilai mencapai Milyar.

    bagi kalangan IT berguna sekali membicarakan e-Leadership dkk tapi bagi mereka hanya masuk kanan keluar kiri, jadi sia-salah bicara e-Leadership karena di lapangan atau beberapa hari kemudian sudah lupa dan fasilitas IT di e-gov jadi bahan buang2 duit utk masuk ke kantong sebagian pejabat2.

  5. Saran saya utk mengukur nilai itu jangan “mentah-mentah” mengambil attribute dari luar. Coba model dengan pendekatan atribut lokal (contoh simple seperti researcher Microsoft India, utk usability evaluation mereka menggunakan konsep “rasa” yang berakar dari theater/seni India kuno). Utk organisasai dan TI sekarang banyak cara pengukuran yg melihat ke local wisdom terlebih dahulu.

    Model organisasi relatif tumbuh dan memiliki nilai pengharapan yang kental dengan warna lokal. BTW ukt point 1,2 perlu ditambahkan point 3, yaitu sustainability-nya.

    Begitu juga nanti pada proses pengukurannya metoda inteview, survei dsb memiliki keterbatasna pada kultur tertentu sehingga sekarang berkembang metoda yang sangat “local”. Misal ada yang menerapkan metoda “emotion ticket” utk mengukur kepuasan terhadap sesuatu…dsb… ah jadi ngejunk di sini lagi deh.

  6. eLeadership:
    mgkin leadership adalah jiwa kepemimpinan.
    sedangkan mendapat imbuhan ‘e’ yg kata om google berhubungan dgn dunia elektronik, alias dunia tidak nyata atau sering disebut dunia lain. jadi coba pesertanya ditanya saja: siapa yang sudah pernah memimpin dunia lain?
    😆

  7. kalo yang ini nggak bisa komen… ilmu saya belum cukup dan maqom saya belum sampe di sana 🙂

    salam ajah dari malang 🙂

    http://hmc.web.id (belajar Inggris Lewat nasyid)

  8. wadaw….belum sampai ke sana Pak, tapi itu di Petisi online kenapa ada yang minta keluarin Pak Budi dari Planet Terasi ? orang yang iri aja itu mah Pak Budi

  9. Mengukur e-Leadership yah? Hmmm….
    Belajar ngasih ide dech…gpp yah om kalo bener 😀

    Visi Misi, penting bgt…kenapa?
    visi seorang pemimpin kudu “perpandangan jaaaaaauuuuuh ke depan”, bisa menggambarkan FUTUTISTIK kayak apa, eh jadi inget main catur, yah bisa ngebaca 1000 langkah kedepan, kalo gini yah gitu kalo gitu yah gino ….kurang lebih gitu. Adu catur?? Ayooo….

    Misi, ini dia eksekusi yg kudu digulirkan….usaha “statrategi teknis brilian” apa yg bisa mentargetkan Visi tsb….suit…suitttt. bicara target, kok marketing gue gak kesampean yach? hiihii yg penting berhasil….berhasil ditolak calon konsumen. walahhhh! kan kata om, gagal teh dah biasa yah????

    Trusss, komitmen ke IT, wow so pasti….sempurna!
    Ini dia, pemingpin nu alus pasti gak gaptek! Tanpa komitmen terhadap IT bak tak punya “niat dlm berbisnis”. Karena hidup penuh dgn persaingan dan kepercayaan! gimana mo dipercaya, kalo komitmen nikah azah gak punya…haaa..haa…gak nyambung. Jadi inget temen yg kemarin nikah, mo komitmen sehidup semati sampe akhir hayat….suit…suiiitt….

    Sekali lagi….Gubraaaak dech.

    satu lagi yg nyaris ketinggalan…..team! yah teamwork!
    yg namanya leadership pasti punya anak buah. so…pemingpin nu alus pasti punya team yg segede gaban….haa..haa…gaban saripan, pelem jaman purba! kayaknya kudu aya penjurian e-team juga.

    kesimpulannya : e-leadersip kudu bisa :
    1. simpulin diri ajah dech..
    2. hii..hii…ini konsultasi geratis juga loh…:D
    3. ini semua ngaraaaaaaaaaaang doang.

  10. Pak mohon ijin pakai beberapa tulisan Bapak dan dari Pak Riri di komen postingan ini untuk saya ulas ya di Blog saya. Saya merasakan pimpinan saya (Walikota Surabaya) kuat di eLeadership tapi saya masih belum pelajari betul definisi operasionalnya apa.
    Matur nuwun Pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s