Apakah Bahasa Harus Statis?

Entah kemana saja saya melihat, di beberapa milis, saat ini sedang dibahas tentang penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pembahasan kemudian beralih kepada sikap menyalahkan gaya bahasa anak sekarang, khususnya dengan adanya efek dari SMS dan Internet. Ada gaya penulisan yang menggunakan singkatan (efek dari SMS) dan ada juga gaya bahasa yang menggunakan kata “secara” secara berlebihan. ha ha ha…

Timbul pertanyaan dalam benak saya.

Apakah bahasa harus statis?

Pertanyaan dapat juga diperlebar

Apakah penggunaan bahasa (Indonesia) itu harus baik dan benar?

Bukankah jika kita ingin menyampaikan sebuah pesan, sebaiknya kita menggunakan bahasa yang bisa dimengerti dan diterima oleh sang pendengar (bukan oleh pembawa pesan). Jadi … secara … (wah, saya masih belum bisa menggunakan kata “secara” dengan “baik” ha ha ha) …

Bagaimana pendapat Anda?

Dalam blog ini saya mencoba tidak terlalu merusak Bahasa Indonesia, tetapi juga tidak terlalu kaku. Apakah saya salah?

Iklan

50 pemikiran pada “Apakah Bahasa Harus Statis?

  1. Menurut saya, tidak perlu kaku dalam pergaulan sehari-hari. Tetapi untuk penulisan karya ilmiah atau sejenisnya tentu saja harus ditulis secara baik dan benar.

  2. kalo saya sih,, yang penting maksud kita tersampaikan ya sudah..

    *mode gusdur :ON*

    gitu aja kok repot

    *mode gusdur :OFF*

    hhehehe

  3. Saya paling gak suka gaya abg melakukan sms, selain disingkat juga dicampur huruf besar dan kecil. Bikin pusing yang bacanya.

    Emangnya kalo pake bahasa Indonesia yang normal maksudnya gak akan nyampe kali ya.

  4. Sewaktu SMA, guru bhs. Indonesia pernah bilang, penggunaan bahasa itu harus “baik” dan/atau “benar”.
    Baik –> mudah dimengerti (tidak harus benar)
    Benar –> secara tata bahasanya saja yang benar (tidak harus baik)
    Baik + Benar –> tata bahasanya benar AND mudah dimengerti

  5. Setuju.. enak dan bisa dimengerti….

    Jadi ingat bukunya Remy Silado: 9 dari 10 kata dalam bahasa Indonesia adalah asing.

    Nusantara memang sangat dinamis karena posisinya, karena ke heterogenannya, dstnya..jadi bahasapun seharusnya juga dinamis… 🙂

  6. Apakah Pak Budi berusaha untuk menyimpulkan kalau bahasa yang baik dan benar = statis ?

  7. Pak BR, dalam bahasa indonesia, jika ditinjau dari gaya bahasa, ada dua jenis: yaitu bahasa baku dan tidak baku. Bahasa baku digunakan dalam forum resmi. Bahkan bahasa Indonesia sendiri tidak menganjurkan penggunaan bahasa baku dalam pergaulan sehari-hari karena akan terkesan kaku.

    Sayangnya, sulit sekali bisa berbicara baku sekaligus tidak baku. Jadi memang dinamisasi bahasa sebaiknya tetap ada di lingkup bahasa tidak baku, sedangkan untuk bahasa baku tidak boleh ditawar-tawar lagi harus sesuai dengan EYD. Bukankah dalam bahasa inggris juga ada bahasa inggris yang baku dan bahasa inggris prokem? secara gitu loh 😛

  8. Yang menarik justru mengapa banyak orang (muda?) menciptakan bahasa mereka sendiri. Mungkin inferensinya begeini:

    => (T1) manusia makhluk pelahap informasi
    => kejadian dengan peluang kecil mengandung informasi yang banyak I(E)=-log p(E) a.k.a unsur “kejutan”nya yang besar
    => obyek yang sering digunakan membuat orang terbiasa dan sudah tidak “terkejut” lagi, tidak aneh lagi. Jadi kandungan informasinya berkurang atau bosan.
    => berdasarkan (T1), para pelahap ini harus ingin I(E) yang lebih banyak lagi. Mereka menciptakan bahasa “gaul”, yang asing, yang jarang ditemui, atau yang kandungan informasinya besar
    => terciptalah istilah atau aturan penggunaan yang tdk baku, termasuk “… secara …”
    => SMS, sebenarnya HP, hanyalah media komunikasi. ini korban keadaan he..he..

    –Q.E.D.

  9. Bahasa Cuma Simbol, jadi dalam satu simbol pun orang boleh memaknai apa saja.
    Jadi yang penting mana? Simbol atau Makna? anda mau jadi orang awam dangan bahasa versi mereka? jadi pejabat dengan bahasa retorikanya? jadi filsuf dengan bahasa alien-Nya? terserah anda kan?

    Intinya jangan sepelekan bahasa! bukan berarti bahasa “baik&benar” itu saya setuju…wong “baik” saja saya belum paham..apalagi “benar” menurut siapa?

    Dan salah satu kekurangan kita (maaf maksudnya saya, adalah….kita terlalu bangga dengan bahasa orang lain… bukan bahasa IBU…kalau disekolah boleh pakai bahasa lokal saya yakin materi lebih mudah disampaikan.. Maaf walaupun jawa, sy yakin org tegal akan sulit memahami kromo injil (hayoo yang merasa tegal…mantuk2 oooh) sehingga kenapa (harusnya “mengapa”) bahasa tegal tidak disejajarkan dengan BI, BING, dll? Iya kan?

    Wong pakai bahasa “baik&benar” saja kalau apa adanya pasti banyak orang marah2 hehehe iya khan?

  10. Hal ini selalu menjadi polemik. Bahkan di kalangan sastrawan. Bagaimana cerpen Putu Wijaya pernah dipersoalkan ketika dimuat di dalam majalah sastra “Horison”.

  11. Belajar bahasa itu seperti belajar masak. Bisa ditambah bisa juga dikurangi. Sesuai gaya dan selera. Don’t be mind, Sir!

    Tapi klo masakan kita mo “dijual”, lha…. itu lain urusannya
    😀

  12. sama pak!
    sampe hari ini saya masih bingung *menerapkan* kata *secara*..

    “secara saya bukan abg lagi…” 🙂

  13. Kalo saya masih ABG, eh ga tahu jg, kalo umur 19 tahun masih ABG ga? Masih kan ya?

    Penggunaan bahasa yang tidak baku saya pikir bukan masalah, tapi bila digunakan terlalu sering dan membuat lupa tata bahasa Indonesia yang baik dan benar itu sih sudah kurang baik. Karena pasti ada saat2 yang membutuhkan kemampuan berbahasa yang baik. Contohnya pada saat SPMB tahun lalu, atau sekarang namanya SNMPTN.

  14. statis=baku?

    saya koq jadi ingat CL yang ingin belajar bahasa indonesia ke australia
    ingat anak saya yang sudah ABG, sms nya khas 😛

    ya gpp lah pa, itu style. blog pa budi secara sudah khas, santai-santi saja.

    btw sama spt bobby, secara, saya juga kesulitan menerapkan kata secara dalam konteks tertentu..

  15. @ #5

    Kayanya guru kita sama deh…

    Tapi ada koreksi, menurut saya…

    Benar –> sesuai dengan tata bahasa dan kaidah

    Baik –> mudah dimengerti dan sesuai keadaan

    Jadi, kalau pake “secara” itu menurut saya, dia bahasa yang “baik” saja.. tidak “benar”… Tapi gapapalah. Inti dari komunikasi menurut saya adalah saling memengerti satu sama lain (asal ga bikin tersinggung aja).

  16. kalau ngobrol pakai “secara” sama orang yang nggak ngerti sama juga boong, pak <- nah lo “boong”

    kalau bicara tentang integral ke anak esde juga gak bakalan nyambung. Jadi yaa seperlunya, sesuai keadaan.

    Saya pernah mendengar, peradaban yang maju ditandai salah satunya oleh kemajuan dibidang tata bahasanya, artinya bahasa nya berkembang, tidak ajeg.

    Mau pake “secara”, “becheck”, “ojheck” yang penting lawan bicara mengerti

  17. sekarang lagi ngtren kalo bicara pake ” secara”
    kadang saya juga tidak ingin ikut-ikut tapi secara….
    *kata secara keluar lagi*

    Secara hari gini pake bahasa Indonesia yang baik dan benar hanya untuk menulis di skripsi, tesis, jurnal ilmiah.

  18. Saya awal awal juga bingung nerapin “secara” yang pas…

    Pas dah mulai menggunakan “secara”
    Sekarang malah kalau gak menggunakan “secara” bingung kata ganti yang pas apa…..

  19. bahasa bersifat subjektif. mau nulis bagaimana, itu hak masing-masing orang. selalu ada yang maunya serba teknis, tertib administrasi, taat aturan, hobinya menyeragamkan cara-cara, metode-metode, dll, yg intinya menginginkan homogenisasi, pembakuan dan standarisasi. karena bahasa merupakan sarana ekspresi dan aktualisasi diri, bagi saya yang penting, nulis dengan MERDEKA BUNG!! seragam? ogah ah…., memang kita anak SD…? hahahaha….

  20. asal tahu “tempat” nya saya kira tidak masalah. Kalau untuk penulisan ilmiah pakai bahasa resmi tapi kalau sehari-hari … yang penting pesan bisa tersampaikan dengan baik 🙂

  21. menurut saya sih bahasa itu harus statis. menyesuaikan dengan penggunanya. menyesuaikan zaman.

    tapi … ya harus mengikuti kaidah-kaidah tertentu.

    (^_^)v

  22. “Baik dan benar” bukan berarti “baku dan kaku” pak 🙂 Jadi bahasa singkatan itu baik dan benar digunakan di sms, tetapi jadi gak benar kalo di pakai di tulisan ilmiah, secara susah dimengerti gitchu. Tul gak?

  23. Kalau yang bapak maksud bahasa indonesia yang baik dan benar, kayaknya gak usah dikotak katik lagi apalagi dipertanyakan, ntar disangka pemberontak. Yang perlu dipertanyakan tuh bahasa indonesianya si Cinta Laura. Biar bahasa Indonesianya kacau balau, eh malah jadi peluang bisnis ( jadi NSP handphone )

  24. secara” itu apa sih, pak ? 😆

    Kalau dilihat dari penempatan kata dlm struktur kalimat, memang tidak lazim dan menyalahi aturan. Tapi kalau sekedar untuk pergaulan, lain lagi ceritanya… 🙂

  25. Bahasa Indonesia yang baik dan benar, adalah penggunaan bahasa yang komunikatif, informatif, dan mudah dipahami oleh penerima pesan.

    Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak kaku, justru efektif, dan terasa nyaman.

    Bahasa tidak statis, tetapi bahasa itu dinamis.

    😀

  26. Bahasa tidak statis, selalu ada peluang untuk berubah. Komunikatif atau tidaknya tergantung dari siapa penuturnya, siapa pendengarnya/pembacanya dan dalam wacana apa mereka berinteraksi satu sama lain. Kebetulan tadi sore baca jurnal, katanya bahasa itu menunjukkan gengsi, generasi/golongan serta seberapa mampu sang penutur menguasai teknologi.

  27. salam
    Ya Bapak, secara hari gini, masya ga gaul getoch mana bechek hujan ga ada ojek he…he.. *garing*
    Bahasa itu ga mungkin statis pasti mesti dinamis mengikuti perkembangan jaman, malahan bisanya saya ejawantahkan secara kinetis *halah apa sih* stuju kan Pak?? *naik2in alis*

  28. Bahasa itu terus berubah pak
    G mungkin statis
    Cnth dlu org make ‘kiranya’ skrg dah ganti ma ‘ternyata’
    Jd g mgkn la statis
    Wong org bule aj bhsany brbah jg

  29. (*Indonesia banget : ON)
    Jika ada orang yang beranggapan bahwa bahasa akan terus berubah mengikuti zaman, maka budaya ‘asli’ (mungkin) akan termakan zaman. Karena bahasa itu merupakan budaya.
    Penggunaan kata ‘Jadi’ harus memiliki keterkaitan dengan kondisi persyaratan. Jika untuk pengambilan kesimpulan; kata jadi harus diikuti dengan tanda koma (,).
    Orang yang bisa berbahasa bangsanya dengan baik; orang tersebut lebih mengenal bangsanya. Walaupun tidak dapat dibuktikan kebenarannya, saya rasa hipotesis saya bisa tolong dibuktikan.
    Mari berbahasa bangsa, khususnya indonesia, dengan baik.
    Walaupun tulisan (mungkin) baku, bukan berarti tulisan itu terlihat kaku. Kaku yang dimaksudkan adalah sebuah sifat tulisan yang terlihat membosankan.
    Padahal, dengan mempelajari bahasa yang baik dan benar. Anda bisa tertawa melihat penggunaan bahasa yang salah yang dapat merubah arti dari kalimat tersebut.
    (*Indonesia banget : Off)

    Ohya, ada kalimat yang mengganjal nih.

    Pertanyaan dapat juga diperlebar

    Mungkin sebaiknya bukan diperlebar, tapi diperluas. Tapi kok, gak ada hubungannya. Kalimat ke-2 bukan kalimat perluasan dari kalimat ke-1. Hehehe, udah ah ga usah dibahas.
    tanda titik koma (;) sebagi pengganti kata penghubung. Biar lebih hemat. 😀

  30. menurut saya sesuaikan aja dengan forum dan lawan bicara. yang penting kayak guru sy bilang dulu “clarity is the most important issue” (ngeles krn bhs inggris masih medok jawa hehehe)

  31. Kalau guru bahasa dan sastera indonesia saya bilang, kita itu harus menggunakan bahasa indonesia yang benar dan baik. Jadi benar dulu baru baik. Nah definisi benar ini, benar menurut siapa? Kalau definisi baik, asal pesan itu dapat ditangkap si penerima pesan, sudah cukup untuk memenuhi kriteria baik.

    Kalau kita mau repot, yang benar itu yah yang sesuai EYD dan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Repotnya, bahasa adalah struktur yang dinamis, tak statis. Interaksi antar pengguna bahasa yang berbeda akan saling memperngaruhi dan pada akhirnya, suara yang paling nyaringlah yang paling didengar.

  32. Beruntung Indonesia memiliki bahasa persatuan. Banyak negara di dunia tidak memilikinya. Menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar adalah sebuah proyeksi. Maka janganlah kaku, yang penting penggunaannya komunikatif.

  33. =>apakah bahasa harus statis?

    arrgh menulLuttz rha,gmn eaa,,..
    bahaca tuwh calL xtny nax n nymantz meunxgunaxand`aa,,.
    paentz uga xt ngagunaxeun bhca nuu statis V xt`aa gugz nymand muach…
    -Heeee…
    ,beutulL eunteu BARUDAK.,.,.,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s