Creative City – Yokohama, Bandung

Hari Senin pagi saya harus sudah berjalan sementara orang masih lelap karena hari itu adalah hari libur imlek. Saya dan pak T. A. Sanny akan bertemu dengan tamu dari Jepang. Tadinya saya pikir tamunya rombongan, ternyata hanya satu orang. Kami bertemu di Common Room-nya Gustaf (di Jalan Kyai Gede Utama).

Topik pembicaraan kami adalah tentang creative city. Mitsuhiro (Mitch) Yoshimoto, sang tamu dari Jepang, sedang melakukan penelitian. Dia ditugaskan oleh kota Yokohama, Jepang, untuk meninjau kota-kota yang dianggap kreatif. Ada tiga kota yang dia kunjungi, Busan di Korea, Singapura, kemudian Bandung. Hore, Bandung masuk hitungan.

Alasan ketiga kota tersebut bervariasi. Busan dipilih karena di sana ada festival film-nya. Singapura dipilih karena pemerintahnya yang sangat mendukung (dan malah over? he he he). Bandung dipilih karena aneh, kurang didukung pemerintah, infrastruktur tidak terlalu bagus, tetapi kreativitas masih tetap muncul.

Yokohama sedang bebenah untuk menjadi creative city dengan topik art and culture. Dia ingin membandingkannya dengan Bandung. Nah, kalau Bandung ada dua komponen kreativitas yang dia lihat, yaitu art (seni) dan Information and Communication Technology (ICT/IT). Diskusi dimulai dari seputar itu.

Di Bandung memang banyak sekali art galery. Di kampus-kampus tentunya ada. Kemudian ada Selasar Sunaryo. Yang terakhir saya ketahui (dan belum ke sana) adalah Artsociates di Lawangwangi. Tentunya masih banyak lainnya lagi.

Creative city juga menjadi tema dari Bandung. Saya melihat ada beberapa upaya ke sana. Teman-teman di Arsitektur dan di Seni banyak memiliki kegiatan yang mengarah ke sana. Ada artepolis, ada acara-acara di C-59 yang belum sempat saya lihat. Ah. Pokoknya banyak deh.

Untuk IT di Bandung banyak perusahaan IT. Lucunya, hampir semua klien dari perusahaan ini berada di Jakarta. Sebetulnya ini tidak terlalu aneh. Klien perusahaan IT di India juga bukan di India πŸ™‚ Jadi normal-normal saja.

Diskusinya panjang lebar, tetapi lebih banyak ke saya dan pak Sanny menjelaskan ke Mitch mengenai situasi di Bandung. Selain itu kita juga berharap bisa belajar dari Yokohama mengenai peranan pemerintah. Sebelumnya telah ada simposium mengenai hal ini. Di tahun 2009 ini nampaknya akan ada lagi.

Begitu cerita singkatnya … Mari kita kreatif!

17 pemikiran pada “Creative City – Yokohama, Bandung

  1. bandung kota angkot, tidak ada publik transportasi dan kalo akhir pekan sangat tidak nyaman karena adanya trafik kendaraan pribadi dan polusi kiriman dari jakarta yang mengakibatkan kemacetan luar biasa yang bisa membuat orang frustasi. tidak ada pelebaran jalan baru di pusat kota sehingga akses ke pusat kota dan cbd/mall sangat sulit terutama akhir pekan. tata kotanya gak beda jauh sama jkt, walaupun udah dari taon jebot menelurkan insinyur2 planalogi

    art? i dont think so….setau gue juga cuma banyak pemusik underground an, gak keruan..gak jelas black metal, punker

    IT ? gak yakin, gimana mau jadi IT centre, lha company IT dari LN aja gak ada yang bikin branch di situ, sdm IT nya sibuk mengais sesuap nasi di ibukota

    blogger, ok lah

    holigans, yes

  2. Wah salut dengan Bandung..

    Pemerintah Yokohama saja melirik Bandung sebagai kota yang amat sangat kreatif but Negara kita sendiri malah belum bisa menghargai dan mendukung Bandung ini sebagai kota yang kreatif..

    Eh ngomong-ngomong ngobrolnya memakai bahasa apa Pak..???Nihongo or English…(he he he he pertanyaan iseng)

    Salam Hangat dari Bocahbancar Pak Raharjo..

  3. walau sendiri tapi dia (Mitch) berani ya ke Bandung untuk studi banding (salut), kalo Yokohama nanti nyontek dari Bandung… berarti kita harus lebih kreatif…

  4. walau sendiri tapi dia (Mitch) berani ya ke Bandung untuk studi banding (salut), kalo Yokohama nanti nyontek dari Bandung…
    berarti kita harus lebih kreatif…

  5. Banyak banget potensi di Bdg, dan terenyuh juga dengan kategori di atas : “Bandung dipilih karena aneh, kurang didukung pemerintah, infrastruktur tidak terlalu bagus, tetapi kreativitas masih tetap muncul” … sudah saatnya pemkot bandung punya visi yang berpihak pada program-program inkubasi industri kreatif, tidak hanya melulu ke pariwisata….yg larinya malah ke pembangunan mal-mal… πŸ˜€

  6. Pak Budi, Pipiet ni tutor dari SBM, bagus banget pak artikelnya, mohon izin me-link-kan blog bapak ke blog saya ya … Makasih sebelumnya … πŸ˜€

  7. Inilah beda Jepang dan Indonesia.

    Coba bandingkan dengan “rombongan” DPR kita yang melakukan studi banding ke luar negeri. Belum lagi sodara-sodara, family-family yang ikut-ikutan.

  8. angkot harus dilestarikan walaupun sistem transportasi jadul tidak terintegrasi dengan modul transsportasi lainnya…
    hidup pemda!!!! hidup kekacuan lalin!!!

  9. yang harus diawali dari kota bandung ialah membenahi jalur transportasi mulai dari trans publik yang lebih banyak dari pada memelihara angkot yang muatannya hanya 15 orang, itu juga klo lg mujur supirnya, seharusnya semua pengusaha, dan yang terlibat dengan angkot dilibatkan dalam perencanaan trans publik yang lebih terarah yang dikelola oleh dishub kota bandung. Smua ini butuh ketegasan dari bapak walikota jangan seperti TMB (trans metro bandung) baru didemo sudah berhenti. infrastruktur jalan seperti trotoar jg mesti dibenahi. jl. kepatihan sebaiknya tidak dipakai roda empat/dua khusus pejalan kaki dan diganti dengan batu andsit seperti di jl. braga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s