Generasi Terbodoh

Saya baru membaca majalah IEEE Spectrum edisi Februari 2009. Pada halaman 15 ada review singkat mengenai buku dengan judul “The Dumbest Generation: How the Digital Ages Stupefies Young Americans and Jeopardizes Our Future.” (Jadi ingat film “Dumb and Dumber” itu.)

Penulisnya berargumentasi bahwa e-mail, blogging, dan games menghasilkan generasi yang mudah beradaptasi dengan gambar tetapi sulit dalam melakukan critical thinking. Waduh. Itu di Amerika. Mudah-mudahan di Indonesia kita berbeda ya? …

Eh jangan selalu setuju aja. Berbeda juga belum tentu baik kan? Kadang memang harus ada perbedaan (kecil saja, kalau sudah besar malah repot untuk mendamaikannya kembali.)

Pikir-pikir, kalkulator juga bisa dianggap sebagai produk (hasil teknologi) yang membuat kita menjadi lebih bodoh. Rasanya saya sudah pernah menuliskan hal ini deh. Lupa lagi. Dasar pengguna teknologi (aka bodoh). hi hi hi.

Jadi harusnya bagaimana ya?

56 pemikiran pada “Generasi Terbodoh

  1. Menurut buku itu, apa alasan mengatakan bahwa e-mail, blogging, dan games menghasilkan generasi yang mudah beradaptasi dengan gambar tetapi sulit dalam melakukan critical thinking?

  2. Tambahan kutipan dari film Idiocracy (2006)
    “…Evolution does not necessarily reward intelligence….” 🙂

  3. Perasaan di tiap generasi selalu ada penulis yg bilang lost generation, dumbest generation etc yg intinya mengkritisi penggunaan teknologi modern , tapi bukunya diedit & di-proof read di Microsoft Word, dijual di Amazon, dibaca di Kindle & direview di blog. :mrgreen:

    Kalo bener2 mau kritik teknologi, bukunya jgn dicetak di kertas tp di batu. Kayaknya ini lebih ke bentuk ketakutan akan teknologi ya 😀

  4. semoga kalau memang hipotesa penulis mengenai hal tersebut benar dan bisa dibuktikan secara ilmiah, ceritanya tidak hanya berhenti di sana.

    mungkin suatu saat nanti akan dikembangkan email/blog/games yang bisa memberi stimulus critical thinking manusia.

    kita pasti juga senang kalau memang bisa dikembangkan seperti itu.

  5. Seharusnya “visual thinking” yg meningkat dipicu / dibantu oleh teknologi bisa melengkapi “analytical thinking” kita yg tetap harus diasah.

    Dari belajar berhitung lalu menjadi pengguna kalkulator tanpa berpikir konsep dan proses yg penting hasil. Lalu dari yg interface text-based seperti DOS dan Unix jaman dulu manjadi GUI dll.

    Mungkin perlu diciptakan teknologi yg tetap mengasah “analytical thinking” ? atau sudah ada ? atau pada dasarnya teknologi itu bisa digunakan untuk apa saja bergantung kepada penggunanya ?

    Diskusi yg menarik Pak Budi.

  6. hahaha… jadi inget org yg deket dihatiku :D. Tambah kangen,,,

    Merasa senang dimanja oleh HP, merasa bangga ketika bisa menjinjing laptop ke mana-mana…walaupun sebenarnya laptop hanya dipenuhi oleh games terbaru….

    Ada apa ini? kenapa pendidikan kita menjadi seperti ini? lupakah kita tujuan dan hakekat pendidikan sebenarnya? pendidikan tak lain tak bukan untuk pewarisan budaya dan kearifan berpikir…jika ada ilmu modern yang diajarkan itu adalah untuk mendukung agar kearifan yang ditanamkan dapat lebih optimal,,,,untuk membuat kita lebih bijaksana…

    Semua boleh beropini……. tetapi menjadi generasi yg visioner (mengerti akan hakikat manusia diciptakan) adalah generasi yg cerdas!
    Teriring salam hormat kami buat para pendakwah. Semoga Alloh membimbing kita dari jalan-jalan yg sesat.

  7. @agus triyanto

    Iya mas agus, rugi dong kalau hidup <100 tahun ini harus dikorbankan untuk kebahagiaan kehidupan akherat nanti.

    Kita memang perlu mewajibkan diri mengenal Firman Tuhan dalam setiap ayat-ayat Quran agar tidak menjadi manusia bodoh (jahiliyah).

  8. fungsi tehnologi adalah untuk membantu manusia termasuk dalam belajar dan bekerja jadi kalau udah ada tehnologi ngapain masih manual, emangnya mau kembali kejaman batu?

  9. Soalan teknologi pd dasarnya utk membantu si pengguna berinter-aksi dg lingkunganya. Seorg anak gk bisa or malas panjat pohon mangga dpt jg pke ketepel.
    Hasilnya bisa sepadan or beda jauh dg cara memetik itu wajar.
    Yg trlnjur gk bisa manjat, tentu gk ngerti “asyiknya” telan mangga di ats pohon.
    Mk penelitian itu tentu sangat bermanfaat.

  10. Soalan teknologi pd dasarnya utk membantu si pengguna berinter-aksi dg lingkunganya. Seorg anak gk bisa or malas panjat pohon mangga dpt jg pke ketepel.
    Hasilnya bisa sepadan or beda jauh dg cara memetik itu wajar.
    Yg trlnjur gk bisa manjat, tentu gk ngerti “asyiknya” telan mangga di ats pohon.
    Namanya penelitian tentu sangat bermanfaat bg bangsa yg dinamis. Beda dg kita -Indonesia-, malahan lebih sering jd korban dari teknologi itu sendiri. Klop jg karena dasar bodoh, kita menganggapnya karena takdir. Hehe …

  11. tapi bener, disana anak umur 10 tahun bisa dah demen banget ngenet sampe menghabiskan seumur harinya.. 7 hari seminggu.. what kind of generation would that be?

    kita memang ga sama dengan disana tapi biasanya kita ngekor, setelah disana mulai dirasakan jadi masalah disini malah baru ‘happening’

    saya pribadi mengaku khawatir dengan fenomena ini…

  12. a coin always has two sides..

    teknologi digital yang canggih juga ada plus dan minusnya…

    tinggal bagaimana pemakai teknologi itu, bijaksana atau tidak..

    author buku tersebut berani menjadi minoritas, karena mayoritas yah itu.. generasi yang maunya serba instan karena ada teknologi.

  13. dengan blog lebih hemat, ga pakai kertas ama bolpoin. salah tinggal nge-del, ga perlu tip ex…. apa lagi ya? o iya yang jelas publikasinya bisa lebih luas tanpa kita harus pinjamkan ke sana dan kemari….

    kalau jaman dulu ga ada blog maka sosialita (bahasana…) lebih terdukung, minjem temen tip ex, minta sangu ortu buat beli buku, pinjam diktat temen, minjem tip ex temen dkk….

  14. ga juga ah. justru yg ga kenal email, blogging, browsing,surfing, dan seputar dunia maya…itulah yang bagai katak dalm tempurung. krn hanya punya satu point of view..
    salam kenal ya pak, sy satu dari banyak orang yg lagi belajar ngeblog. sy lg nimba ilmu di padepokan bapak yg baguuuusss banget. salut.

  15. @gagahput3ra
    Kita diuntungkan karena banyak bahan referensi buku, dan paper — ‘paper’ tapi medianya bukan ‘kertas’:) yang berbentuk PDF, kalau dengan cara konvensional agak sulit juga minta dikirim batu berisi ilmu-ilmu yang berguna:)

    @agus triyanto
    “Amiin”
    Terima kasih, untuk para pendakwah.

    @dobelden
    jarimatika… dengan keyboard dan kalkulator:)

    @hawe69
    jadi inget jaman dulu, waktu dimulainya abad Industri, awalnya banyak ditentang tapi malah dianjurkan. Contoh: mesin-mesin memperbanyak pengangguran baru, tapi tidak mempunyai mesin-mesin yang bagus bisa jadi penyebab suatu negara tertinggal jauh dari negara lain.

    E-mail, blogging, dan game bukan penyebab langsung, tapi dosisnya saja yang berlebihan.

    Rumusnya 8 jam bekerja, 8 jam istirahat, dan 8 jam bersosialiasi, yang terakhir dibagi dua deh: 4 jam di internet, 4 jam dengan orang-orang yang bukan artificial:)

    Paling tidak, buku tersebut bisa mengingatkan kita untuk secara sehat mengalokasikan waktu selama berinternet.

  16. gak usah beli kalkulator, gak usah punya hape, gak usah beli laptop, gak usah ada internet…

    balik lagi ke zaman rimba deh…

    (btw, zaman rimba juga bodoh kan?)

  17. menurut saya ngeblog, fordis dsb kayaknya bisa develop critical thinking deh…
    kecuali internetan cuma buat search gambar2 aja…
    kalo udah punya mindset begitu maka ya bisa aja lama-kelamaan jadi bodoh… hehehe

  18. kayanya kalo di indonesia masih jauh deh fenomena yang beginian. Soalnya untuk mendapat bandwidth layak pake aja masih dianggap muahaaaaaaaaaaaaaaaaaaallll

  19. senjata, tergantung siapa yang pegang to? kalau perampok pegang senjata, BERBAHAYA. Kalau ABRI bersenjata, ya semetinya, wong namanya juga ABRI. Kalo kita pakai LAPTOP, kan buat hiburan dan cari duit he he he. Namanya juga PENGUSAHA, apapun polahnya ya USAHA. Iya kan mas RAHARJO. Salam

  20. iya nii dipermudah jd bkin males..
    skrg klo di kelas sama2 ngitung dgn dosen,ga ada kalkulator jd males ngitung manual, biar tmen yg bawa aja..hehe..kalah cepet sii..
    bknny terpacu menciptakan kmudahan tp malah terlena..
    teknologi yg global itu memang harus seiring sejalan dgn pembentukan pola pikir global jg spertinya..

  21. saya ga setuju kalo email dan blogging bikin bodoh. mungkin kalo main game bener.
    saya jadi inget perkataan si Roy Suryo itu, dia bilang “blogger itu adalah hacker” what the fu**…!

  22. Donald E. Knuth, seorang embah guru pemrograman sudah tidak membaca email sejak tahun 1980, padahal dia punya email sejak 1975. Udah 5 tahun baca e-mail, udah bosen. Apalagi kalau dia buat prgram bertahun-tahun, mulai baca udah tua (maaf) + 5 tahun yaa lebih tua lagi. Udah bosan, mending banyak beramal soleh.
    maaf, mohon dibaca ya…
    Pakailah pupuk organik, aku kan membuat pupuk organik. Siapa tahu ada yang ketarik. Hubungi aku di damarharjotirto@yahoo.com. Namanya juga USAHA. Trims. mas Waskita

  23. Mungkin harus lebih sering belajar pemrograman, itu khan bagus banget buat logika . Kemarin ketemu anak sma yg ada yang sudah menguasai Ruby on Rails , hebat yah
    memang ngga banyak tapi khan setidaknya masih lebih mungkin dari pada jaman dulu yang belum ada teknologinya.

    daripada mengeluhkan kita tambah bodoh gimana kalau kita mamanfaatkan apa yang ada untuk belajar ?

  24. Betul Bapak Pernah menulis tentang Kalkulator, btw masalahnya sama juga kok. Di Amrik sana mungkin sudah bosan dengan kecerdasan yang “begituan”, padahal kita masih meniru terus dari Amrik.
    Indonesia berpotensi sebagai negara yang punya “kecerdasan” lain, tinggal kita mau menggalinya atau tidak.
    Menurut Pak Damarjati Supajar (filsafat UGM), beda Jawa dengan Yahudi adalah Jawa punya tanah, Yahudi tidak. Tapi soal kecerdasannya sama.
    Maaf bukan bermaksud SARA.

  25. saya justru berpendapat 180% bertentangan dengan analisis penulis yang disebutkan.
    internet dengan segala isinya telah menjadi bagian organ virtual dari individu pemakainya (yang getol). ia telah menjadi kepanjangan otak, sekaligus mengakselerasi proses akses ke informasi yang sebelumnya membutuhkan waktu untuk membuka buku, atau bahkan musti ke perpustakaan atau lebih parah lagi musti menunggu/mencari sampai bulanan sebelum mendapatkan informasi yang sesuai.

    kalau ia menulis tentang televisi ataupun film hollywood, saya setuju sekali.
    nah, yang ajaibnya, internet justru akan mengembalikan nilai televisi dan film sebagai sumber informasi yang berbobot dengan menambahkan fungsi interativitas serta augmentative pada materi-materi yang disiarkan oleh produser. jadi si penonton tidak akan lagi duduk passive, melahap hanya materi yang disuapkan penerbit materi.

  26. tapi hari gene sulit kalo ga konek inet,,, udah addict sama inet dan udah jadi kebutuhan primer disamping makan,minum dan pup, hehe

  27. tenologi seeh bole2 saja untuk mempermudah hidup kita, tapi diharapkan kita juga terpacu untuk mempelajari dan mengembangkannya, bahkan menciptakan(kalo bisa..) 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s