Kualitas Makalah Adalah Fenomena Sosial

Dalam tulisan terdahulu, saya meminta opini pembaca mengenai penggunaan Wikipedia sebagai sumber referensi dalam karya ilmiah. Nampaknya sebagian besar masih belum setuju bahwa Wikipedia dapat dijadikan sumber rujukan utama. Kebanyakan masih beranggapan bahwa makalah di journal dan bahkan konferensi lebih layak digunakan.

Saya jadi teringat beberapa tahun yang lalu sempat membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa kualitas makalah (di journal sekalipun) sebetulnya tidak lepas dari fenomena sosial. Peer review adalah fenomena sosial. Bisa saja sebuah artikel muncul di jurnal (apalagi konferensi) dengan kualitas yang lebih rendah dari tulisan di Wikipedia 🙂

Banyak penulis yang menggunakan referensi dari karya ilmiah dia sendiri (self referencing?) yang pernah dia terbitkan sebelumnya. Kalau begini apa bisa dipastikan kualitasnya? Bagaimana juga keabsahan penggunaan referensi dari konferensi yang susah ditelusuri kembali?

Perlu diingat juga bahwa “kebenaran” yang diutarakan dalam sebuah makalah belum tentu bisa benar selamanya. Matahari mengelilingi bumi? 🙂 Jadi mestinya tidak mengapa jika ada ketidak-akuratan di Wikipedia. Bahkan ketidak-akuratan ini bisa diperbaiki dengan cepat. Mengapa kita terpaku kepada informasi yang statis? Mengapa kita tidak diperkenankan menggunakan referensi yang dinamis?

Jika memang makalah yang di jurnal dan konferensi tersebut adalah fenomena sosial, mengapa wikipedia (yang juga merupakan fenomena sosial) tidak boleh digunakan?

23 pemikiran pada “Kualitas Makalah Adalah Fenomena Sosial

  1. Misalkan di Wikipedia tentang elektron tertulis:
    “The electron is a subatomic particle that carries a negative electric charge. It has no known substructure and is believed to be a point particle.”

    Sementara dalam paragraf wikipedia itu sendiri mencantumkan makalah Eichten dkk. sebagai referensi.

    Manakah yang lebih layak, saya mencantumkan informasi tersebut berasal dari Wikipedia atau dari Eichten dkk?

  2. @dian nugraha: apakah Anda PUNYA makalah Eichten itu? dan apakah Anda TELAH membaca makalah Eichten itu? 😀
    Saya takut orang mencantumkan referensi dari sumber yang dia sendiri tidak pernah membaca (seolah-olah dia punya makalahnya dan sudah pernah membacanya).

    Kalau Anda belum pernah membaca makalah Eichten itu, dan yang Anda baca adalah versi yang di Wikipedia, mana yang Anda gunakan di kutipan? 🙂

  3. @pak Budi:

    Seandainya saya yang menjadi peneliti, saya akan menelusuri makalah Eichten itu di perpustakaan atau membelinya bila perlu. Itu satu contoh. Dalam banyak referensi lainnya, tersedia URL yang dapat diakses langsung dari internet.

    Membaca sumber primer sangat penting sebagai perbandingan apakah ‘tafsiran’ yang ada pada Wikipedia itu sesuai dengan konteks yang terdapat pada sumber primernya atau tidak.

    Tetapi kalau terpaksa, karena tidak dapat menemukan paper aslinya, yang paling layak dicantumkan sebagai referensi adalah permalink wikipedia untuk satu revisi artikel (‘Electron’ aktual hari ini):
    http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Electron&oldid=287877259

    Jangan sampai sebatas pada
    http://en.wikipedia.org/wiki/Electron saja karena accountabilitasnya rendah.

  4. @Dian
    Dengan mencantumkan permalink tersebut jadi lebih baik. Namun 1 masalah lagi, yaitu melacak siapa yang menulis kalimat ‘The electron is a subatomic particle that carries a negative electric charge. It has no known substructure and is believed to be a point particle.’ Bisa sih dilacak di history, namun seandainya ada cara yang lebih mudah .. Kalau di software revision control seperti mercurial/subversion, ada fitur yang namanya ‘annotation’

  5. @waskita: “siapa yang menulis kalimat…”
    Kalau jawabannya dalah “tim wikipedia” gimana? 🙂

    Kalau ada kalimat yang sama di ensiklopedia (britanica, misalnya), siapa yang mengatakan kalimat itu? Kan juga bukan perorangan melainkan tim juga. Gimana?

  6. Ujung-ujungnya, apakah kita menggunakan Wikipedia atau tidak, akan menjadi ukuran kualitas tulisan kita. Sama saja dengan mengambil jurnal orang lain yang tidak teruji kebenarannya. Tapi terlalu membatasi bahwa Wikipedia sama sekali tidak boleh digunakan juga bisa menghambat tulisan. Apa itu berarti kita tidak boleh menulis tentang topik baru yang belum ada jurnalnya? Atau malah lebih baik tidak mencantumkan bahwa itu adalah reproduksi dari Wikipedia (alias plagiat)?

  7. @Budi
    Bagi saya gak masalah kalau akhirnya ternyata suatu artikel menulis adalah tim XXX. Tahap berikutnya adalah mengecek kredibilitas tim XXX ini. Untuktim ensiklopedia, mustinya sih masing-masing sudah punya tim editor khusus. Jika ‘tim wikipedia’ bisa menunjukkan dirinya berkualitas, kenapa tidak ?

    Sebagai contoh, ini daftar editor ensiklopedia britanica : http://corporate.britannica.com/board/index.html. Tinggal kita putuskan, mau percaya gak dengan orang-orang ini.

  8. Mencatumkan sumber referensi pada sebuah karya tulis, merupakan upaya untuk menghargai si penulis yang kita ambil tulisannya sebagai salah sumber dari tulisan yang kita buat. Kalau kita mendapatkan sumber referensi yang lebih bagus berkat pencarian di Wikipedia, mengapa mesti malu mencantumkannya sebagai salah satu referensi dari karya tulis kita?. Bukankah suatu bahasan dalam karya tulis bisa kita ambil referensi dari beberapa sumber?. Mungkin kalau kita mencantumkan Wikipedia, takut tulisan kita jadi kelihatan tidak berbobot? hehehe kebenaran yang dibuat manusia itu tidak absolut… pisss 🙂

  9. saya suka dengan perkataan pak Budi bahwa apakah kita harus selalu berpedoman pada referensi yg sifatnya statis? yang telah baku? teks mati? angka mati? … dengan keadaan seperti bagaimana mungkin kita akan dapat menembus ketidak-mungkinan? … ilmuwan2 sebelum einstein mentertawakan teori2nya karena itu adalah hal yang baru … dan ilmuwan2 setelah einstein pun akan mentertawakannya pula karena teori2nya sudah usang …
    saya setelah berpikir mengenai artikel yg kemarin jadi manyun2 sendiri … benar juga, kita harus selalu terbuka dengan berbagai hal baru, kemungkinan2 baru … dan untuk itulah kita dapat berkembang dan mengembangkan budaya, teknologi, seni dan sebagainya …
    dan satu pertanyaan dari benak saya, kalau saja seseorang membuat penelitian tanpa melihat satu literatur manapun dan hasilnya pun ‘belum’ saatnya dapat diterima lingkungannya, apakah lalu hasil karyanya itu harus tersisihkan? mungkinkah suatu saat karyanya itu akan menjadi literatur untuk maha karya lainnya?

    /* hanya satu yang sudah pasti, bahwa selama itu hasil karya cipta manusia maka semuanya tidaklah pasti … hanya hukum dan peraturan dari Allah saja yang bersifat kekal dan pasti */

  10. Ya saya setuju dengan pak Budi. Masalah ini sebenarnya berangkat dari kekhawatiran akan ketidakakuratan informasi yang terkandung di dalam Wikipedia karena siapapun bisa mengakses dan sembarang orang bisa menggonta-ganti isinya, seperti komentar salah seorang pengkomentar pada postingan sebelumnya.

    Tetapi pendapat tersebut menurut saya sangat subyektif. Terlepas dari kemungkinan dalam perguruan tinggi ada peraturan2 tertentu tentang referensi namun menurut saya filosofi keilmuan yang paling tinggi adalah keakurasian informasi yang terkandung di dalamnya bukan terletak pada siapa yang menyampaikan informasi tersebut. Jadi dalam keilmuan kita harus lebih berfikir obyektif dan tidak berfikir subyektif.

    Nah, sekarang tinggal bagaimana memastikan agar informasi yang kita ambil dari Wikipedia itu benar-benar akurat atau tidak….

  11. yang saya permasalahkan sebetulnya konsistensinya Pak. referensi analoginya pijakan, nah kalau yang sudah dipublikasi pada umumnya sudah dibekukan (dikasi stempel waktu publikasi), jadi kalaupun benar atau salah publikasi itu akan konsisten benar atau konsisten salah. Dari timeline publiksi ilmiah bisa dianalisis perkembangan suatu bidang dan menjadi pelajaran dalam melakukan advancing.

    ibarat menumpuk bata.. kalau yang dibawah diambil (dianggap salah/tidak valid) yang di atasnya otomatis runtuh. Nah, kalau wikipedia lain. terlepas dari benar atau salah informasi yang tersedia di wikipedia, ensiklopedia, atau publikasi lainnya yang perubahannya bisa bertambah dan berkurang tidak bisa dijadikan pondasi yang solid untuk menaruh keping di atasnya.

    menurut saya wiki dapat dijadikan referensi untuk tulisan lepas yang bersifat lokal terhadap waktu (seperti berita) karena wiki berfungsi sebagai penyimpan current state yang merupakan fungsi terhadap waktu atau sensitif terhadap konteks waktu.

  12. Mau ikut nimbrung juga 🙂 sepengalaman saya selama ini membaca paper dari journal dan conference belum pernah menjumpai paper yang memakai wikipedia sebagai referensi.

    Menurut pemikiran saya, mungkin dari awal pembentukan wikipedia bukan wadah untuk publikasi ilmiah tapi hanya sebagai wadah sumber informasi yang mudah dan gratis.

    Dan saya belum mengerti apa betul ketika membuat suatu makalah referensi yang ada hanya terdapat di wikipedia? Kalau benar seperti itu, wah bisa kacau perkembangan riset 😀

    Jadi bagi yang ingin juga pakai wikipedia sebagai sumber referensi menurut saya belum layak saja jika sebagai sumber referensi tulisan ilmiah.

  13. Justru karena Wikipedia itu sifatnya dinamis, maka dikhawatirkan banyak orang-orang yang bukan ahlinya dengan mudah mengganti-ganti isinya. Jadi, informasi yang terkandung bakal tidak akurat alias plin-plan. Misalnya hari ini bilang A, beberapa menit kemudain sudah jadi B. Jadi, bagaimana bisa dijadikan acuan karya ilmiah? Inikan berbahaya, Pak! 😀

  14. Salam,
    saya lebih setuju pada Pak Budi, apapun bisa dijadikan referensi, bahkan yang salah sekalipun. Bahkan mimpi sekalipun (psikolog mungkin sering memakainya untuk mengungkap latar belakang dan problem seseorang). Apalagi wikipedia. Logikanya….
    1. Kebenaran bukan hal absolut/mutlak kecuali dari Tuhan (sampai ke Nabi pun) bisa disalah tafsir.
    2. Ingat kata Imam Al Ghozali:”mencari ilmu dari luar hati manusia, seperti mengisi kolam dengan air sungai, mencari ilmu dari dalam hati, seperti menggali sumur yang jernih” Maknanya? Mana yang lebih dekat pada kebenaran ?
    3. Ingat kata Einstin: “Tak terhingga fakta yang membenarkan hipotesaku, belum tentu hipotesaku benar. Tapi satu fakta yang membuktikan hipotesaku salah, sudah pasti bahwa hipotesaku salah”
    4. Ingat perbuatan anak lulusan kelas 2 SD (Thomas Alfa Edison), suatu saat anak buahnya berkata:”Tuan sudah dilakukan percobaan 80000 kali, tapi belum berhasil”. Dengan tenang Edison menjawab:”Mungkin pada percobaan yang ke 80001 kali akan berhasil”

    Dari empat logika diatas, apakah dijamin Disertasi yang didukung tak terhingga fakta pasti benar (apalagi disertasi/penelitian yang ada sponsornya, maybe kesimpulannya udah dipesen, itulah Indonesia….)
    Adakah penelitian yang mengambil sampel minimal sama dengan percobaan Edison ? 80000 kali?

    Dunia akademis selalu belepotan dalam menemukan kebenaran hahahaha, karena bingung sendiri kali sekian ribu disiplin ilmu, belum satupun yang mampu menguak THEORY OF EVERTHING, maaf kita hanya bayangan yang nempel pada layar dunia, jatidiri fakta bukan disini om, yang kalian cuil-cuil cuma layar, klisenya ada di SISINYA

  15. Pak Budi Maaf, berani gak tuh buka tema yang bisa mengubungkan semua disiplin Ilmu untuk menemukan SIAPA DIA, bukan kebenaran atas dasar dogma, bahkan dogma ilmiah sekalipun, apalagi dogma atas nama Agama

  16. @Al Jupri
    berati kebenaran statis dong…. gak maju-maju. Coba bayangkan pepatah yang salah “esuk dele sore tempe” untuk menunjukan orang plin-plan. Coba bayangkan kalau kedele konsiten dari pagi sampai sore. Kasian bakul tempe, bisa bangkrut pak…(aku tersinggung lho kalau pepatah itu untuk menunjukkan sesuatu yang jelek, sebab tempe itu banyak gizinya)

  17. @Emansa
    Wikipedia, pasti banyak yang baca, kali aja yang salah ada yang mengoreksi. Sudah berapa juta conference dan paper yang anda baca Mas? Dalam berapa bahasa? Apa mencapai angkanya Edison?

  18. @Mas pebbie
    Tentu anda sudah pernah baca keluarnya terori mekanika kuantum? paradok schrodinger? Keluarnya Rumus E=M kali C dikuadratkan? Kelengkungan Ruang Waktu? Bukankah einstins pernah salah dengan menambahkan suatu konstanta?
    Jangan takut salah mas, justru setelah berbuat salah kita akan tahu mana yang benar. Lebih baik salah berkali-kali karena berbuat, daripada benar karena tak pernah berbuat. Gitu khan?

  19. @Dian Nugraha
    Coba anda bandingkan dengan masalah perawi hadist, dalam Islam. Misal sebelum tahun 1300 M perawi yang jujur adalah A,B,C,D. Tahun 1300-1400 M, karena ABCD sudah meninggal saya percaya E,F (maaf kualitas kejujuran merosot, menurut teori ENTROPI), setelah E,F mati hadist mana yang njenengan percaya, apa harus baca sejarah semua perawi hadist dulu untuk mempercayai kebenarannya?
    “Tuhan menciptakan semua benar, tak ada yang salah. Manusia yang menafsirkan salah. Tuhan meciptakan dengan sempurna, manusia yang meragukan dan merusak kesempurnaa ciptaan bukan?”

    Masih beruntung orang Islam yang mempunyai Referensi Ilmiah yang dijaga keasliannya, walau untuk membuktikan kebenarannya dibutuhkan tujuh lautan ditambah tujuh lautan lagi tetap tak terungkap kebenaranNya

  20. setuju dengan pak Budi, dan komentator terakhir. jurnal dan makalah ilmiah banyak referensi yg asal2an juga.

  21. @rochmatsalim: ya, kita bisa tahu einstein salah lewat publikasinya yang tahun X karena publikasi yang itu isinya tidak berubah. yang berubah adalah status bahwa hipotesa yang ada di publikasi X tersebut menjadi salah.

    coba kalau waktu ada publikasi yang menunjukkan bahwa hipotesisnya salah lalu einstein bilang “yang sekarang udah dibenerin kok..”, apa jadinya dunia sains?

    penarikan kesimpulan menggunakan induksi memang hanya bisa digunakan untuk membuktikan bahwa sesuatu itu salah dan pengembangan dunia sains dimulai dengan hipotesis nol (yang akan dibuktikan akan ditolak). kalau ternyata lewat eksperimen atau pembuktian lain tidak terbukti, maka bisa diasumsikan bahwa hipotesis tersebut ‘benar’ (hingga ada yang membuktikan sebaliknya).

    silakan pahami lagi tulisan saya sebelumnya.. saya tidak mempersoalkan kebenaran dari isi wiki atau saya takut salah.

  22. Nambah lagi ya…
    Allahu Nur Samawati wal Ardhi, saya ambil dari terjemahan Pak Damarjati (Benar/Salah? Saya tidak tahu) artinya tidak sekedar “Allah itu cahaya langit dan bumi” Kok seperti matahari? (Maaf)
    Nah.. ada logika dalam Al-Qur’an yang tidak dikembangkan didunia akademis, yang bisa menerjemahkan ayat itu manjadi derajat hirarki dari atas ke bawah adalah sbb:
    1. Allah
    2. Cahaya
    3. Langit
    4. Bumi
    artinya apa? Kebenaran itu jelas bertingkat. Jadi ilmu juga bertingkat dan semua benar tergantung tingkatannya (saya kurang setuju kalau ilmu hanya dibaratkan rumah, seperti dalam buku filsafat ilmunya jujun suria sumantri). Ilmu itu bertingkat kebenarannya. Sehingga setiap peneletian dalam bidang apapun akan menemukan “kebenaran” sesuai dengan tingkat pemahaman penemunya.
    Contoh:
    1. Tukang Batu, mengukur kebenaran dari tumpukan batanya.
    2. Tukang Cat, dari warna yang digoreskannya tak peduli urusan tumpukan bata.
    3. Arsitek , mengukur kebenaran dari desain rumah rancangannya.
    4. Pemborong dari ketepatan harga dan kualitas pekerjaan.
    5. Yang punya rumah (proyek) mengukur kebenaran dari dana yang tersedia dan kebutuhannya.

    Yang jelas alat ukur tukang batu, tak bisa dipakai untuk mengukur hasil pekerjaan tukang cat, dst, semakin meningkat kebenaran. Dimensinya bukan fisik lagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s