Email atau Surel?

Di beberapa tempat saya melihat istilah “surel“. Pertama kali, bingung juga. Apa sih surel itu? Ternyata surel adalah singkatan dari surat elektronik, atau istilah pengganti untuk email. Hadoh.

Terus terang saya sudah terbiasa menggunakan kata “email”. Jadi, canggung juga menggunakan kata surel.

Bagaimana menurut Anda? Tetap email, atau surel, atau …?

Iklan

177 pemikiran pada “Email atau Surel?

  1. Asal satu kata atau berwujud akronim, sebuah jargon tetap saya pakai sesuai bahasa asalnya.

    Karena “blog” bukan “caweb”, “laser” bukan “pecaderas”, maka “email” bukan “surel”. Mudah, sekadar untuk konsistensi saja πŸ™‚

  2. Yang saya tahu itu padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk email pak. Dan menurut saya sebaiknya ada padanan kata seperti itu pak

    Memang juga ngomong masalah kebiasaan pak. Tapi saya memang pribadi sehari-hari masih pakai kata email. Tapi ketika urusannya adalah harus menulis tulisan ilmiah saya pakai kata “surel”.

    Saya merasa aneh ketika menulis tulisan ilmiah bahasa Indonesia tapi bertebaran bahasa Inggris di dalamnya. Maksud saya, jika memang sudah ada padanannya, maka saya pakai kata tersebut. Kalo belum ada, saya biarkan dalam bentuk aslinya.

  3. Wajarlah “social networking site” menjadi “situs jejaring sosial”, karena aslinya-pun bukan singkatan. Begitu disingkat dan menjadi populer, bukankah singkatan tersebut sudah menjadi kata tersendiri?

    Kata “e-mail” mungkin bisa disingkat sebagai “sur-el”,

    … tapi saya ragu kita akan mencari dan memakai ‘padanan’ kata untuk “blog” (web log), “laser” (light amplification by stimulated emission of radiation), “radar” (radio detecting and ranging), atau “scuba” (self-contained underwater breathing apparatus). Belum lagi singkatan kapital macam SMS, LAN atau CPU.

    Saya risih jika istilah asing bertebaran di tulisan berbahasa Indonesia, tapi jauh lebih risih jika istilah asing tersebut dicarikan padanannya tanpa aturan yang jelas dan konsisten.

  4. Saya tahu tentang kata “surel” dari Pak Ivan Lanin melalui tulisannya : http://bit.ly/8IueQe

    Dan menurut saya beliau juga memikirkan masalah aturan dan konsistensi padanan. Untuk masalah istilah lain, saya setuju jika terkadang ada kata yang tidak bisa dipadankan. Karena malah terasa aneh dan tidak dikenali jika dipadankan.

    Tapi untuk permasalahan yang lebih luas seperti itu, bukankah karena itu ada ilmuwan bahasa ? πŸ˜€

  5. @Gyl: Terima kasih atas link-nya πŸ™‚ Saya coba baca artikel tersebut dengan seksama, tidak ada indikasi beliau merujuk sedikitpun pada satu aturan baku pencarian padanan lokal untuk istilah asing. Justifikasi beliau malah dengan membandingkannya dengan usaha pemadanan lain yang lebih meragukan (pos-el) dan mengungkit `mantan singkatan’ lainnya seperti “rudal” atau “tilang” yang asal-muasalnya jelas berbeda dari “email”. Argumentasi beliau lemah dan kurang persuasif, bagi saya (terbukti pula dari komentar2nya).

    Mungkin ini hanya karena sisi programmer* saya yang gerah setiap melihat ketidaklogisan dan ketidakkonsistenan 😦

    Bahasa kita, kita juga harus jaga. Tidak mengandalkan akademisi. Saaia prihatin dg minimx kesadaran brbhasa qta.

    *) jargon lagi! pemrogram komputer, bukan pemrogram acara TV.

  6. wah, hal ini baru saja saya posting di blog saya 2 hari yang lalu πŸ˜†

    Saya setuju dengan sebagian besar komentator di atas.

    Bagi saya, tidak masalah e-mail diterjemahkan menjadi “surat elektronik”. Tapi kalau menjadi “sur-el” atau “pos-el”, jangan! πŸ˜†

    Karena, kata “e-mail” itu, “e” nya yang disingkat, bukan “mail” nya.

    Jadi seharusnya kalau mau disingkatkan secara bahasa indonesia, menjadi “surat-el”, bukan “sur-el”. πŸ˜†

  7. Menurut KBBI, email berarti:
    1 massa berupa kaca tidak bening yg dipakai untuk melapisi benda dr logam, gelas, atau tembikar;

    2 barang-barang yg diberi salutan email;

    3 bahan padat berwarna putih dan keras yg melapisi dan melindungi bagian dentin mahkota gigi

    Hyahahahaha…
    Pakai kata surel saja, Pak. Lebih enak menulis ‘menyurel’ daripada ‘ngemail’ (nanti disangka ‘ngemil’ lagi.. πŸ˜€ ).

    PS: Iang benar, selain ‘surel’ masih ada istilah saingan ‘ratron’ yang digunakan oleh PT Pos Indonesia.

  8. setuju pakai surel. Tapi implementasinya sudah enak nyebut ‘imel’ ..
    kadang-kadang kalo lagi bikin surat-el, “Bentar, saya lagi ngimel dulu…”

  9. +1 buat surel
    canggung unt melakukan/menyebut sesuatu yg baru kan manusiawi pak πŸ™‚
    dulu jg waktu awal2 kenal istilah ‘unduh’ pro/kontranya rame banget, tapi skr sudah relatif diterima karena sering dipakai.

  10. kembalikan ke aslinya saja: electronic mail atau e-mail, daripada maksa seperti ATM menjadi Anjungan Tunai Mandiri.

  11. Tadinya saya juga bingung…apaan tuh surel??cari2 malah ketemu blog ini…baru tau kalo ternyata surat elektronik…

  12. enak pake email?,, pake surel ruwet jg,, tdnya aku jg bingung surel apa siiich/. eh trnyta email toh.

  13. wah ternyata aku katrok banget ya, SUREL ja gak tahu, harus cari-cari di googling, dan aku dapat jawaban di blog ini. terima kasih bapak pemilik blog ini, inilah manfaat internet saling berbagi/share kepada sesama.

  14. Tidak hanya surel, Pak. Masih ada teman-temannya yang lain, lho… seperti papan ketik, tetikus, layar sentuh… Yah, mungkin hanya masalah pembiasaan saja, Pak. Siapa lagi yang harus bangga terhadap Bahasa Indonesia kalau bukan kita… Bahasa Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri…

  15. Ass.pak budi yg baik, sy mau minta saran dr bpk bagaimana strategi market album cd sy(genre pop alternative 10 lagu ciptaan sy sendiri) krn baru pertama kali ini sy coba bikin album sendiri,cd sdh siap jual(sy pake label lokal/bandung dan sdh ada ijin legal/ppn),tapi sy terbatas dana utk promosi,skrg baru cb masukin iklan ke slh satu radio di bandung utk jangka wkt satu bulan.Mohon sarannya pak dan bantuan dr bpk sangat sy harapkan bila msh bisa ada peluang kerjasama penjualan album cd sy.Terima kasih sebelum dan sesudahnya.

  16. saya putus asaaaaa..kerjaan kontrak teroosss….tabungan gada wat ongkos cr krjaaa,,sekali nganggur bisa 2bulan lebih hufffh..toloooongggg ni nomr hp saya : 083892045676/09812171574,pin bb: 750453A7,tolong bantu aku ya kiiii…..pengen jadi pedagaang kapaaaan ya bisanyaaa hufhh….toloongngng

  17. kalau bikin singkatan, yang sudah jelas dan umum saja. Tdk apa kita ikuti istilah asing daripada kita bikin sendiri2 tp lokal. enakan email daripada surel. karena surel di luar negeri tidak ada. maaf ya, jangan dikaitkan dengan nasionalisme segala.

  18. Kalau menurutku sih kita ga masalah pakai istilah apapun, surel atau e-mail.

    yang penting sebagai bangsa Indonesia kita tahu apa bahasa indonesia dari berbagai istilah di darling.

    Email udah lumrah.

  19. Makasih infonya Gan. Saya jg sempat bingung dgn istilah surel hingga ketemu blog ini. Tp ada yg bikin saya lebih bingung berhubungan dgn istilah bahasa kita. Beberapa tahun lalu saya terkejut dgn istilah “peserta didik”. Bukan lg siswa atau murid. Apakah istilah siswa atau murid sudah tdk ada lagi? Atau istilah peserta didik hanya untuk calon siswa saja? Karena kata2 itu terdapat dlm kalimat Selamat Datang Calon Peserta Didik Baru. Mohon pencerahannya!

  20. Untuk penulisan resmi saya akan menggunakan istilah surel namun untuk penggunaan sehari-hari akan dibiasakan. Ini semacam menyebut online menjadi daring dan gadget menjadi gawai. Omong-omong Saya lebih suka indonesia memiliki padanan kata. Lagi pula, dengan segenap pengetahuan yang pernah saya dapatkan, selama sudah ada padanan katanya, kita sebaiknya menggunakannya sebagai acuan EYD.

  21. Kalau saya pribadi lebih sering menggunakan istilah email Pak.
    Pertama kali melihat istilah “surel” pada kolom komentar wordpress πŸ˜€
    Salam kenal dari saya Pak, mahasiswa UPI.

  22. Heran baca blog otomotif sana sini pabrikan motor indonesia saling berlomba soal power, emg mau dibawa lari kmn power segitu gede. Jalanan indonesia gmn se kualitasnya, tanah yg ga stabil di injak kendaraan berat, sana sini lobang, masuk jln kampung dikit2 polisi-molor, padetnya pengguna jalan,dll. Power segede itu pantesnya di arena balap, toh paling kenceng 140kpj buat di jln raya itupun klo sepi,mlm hari,jln mulus,lurus itu aja udh deg2an krn safety yg dipakai seadanya. dg power2 motor sebesar itu takutnya anak muda semakin sulit kontrol diri sehingga justru smakin byk balap-liar, drag-race liar, knalpot suara besar smakin menjamur. Buat gw yg penting nyaman dikendarai harian dan juga jarak jauh, qualitas bahan yg dipake jd tahan lama,irit bbm power sekalas naked vixion,cb150 juga udh cukup lah di jln raya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s