Tidak Mudah Menjadi Dosen (Guru)

Baru-baru ini saya membaca email yang mengajak banyak orang untuk menjadi dosen. Meskipun idenya bagus, saya agak ragu dalam eksekusinya. Beberapa waktu yang lalu ada kawan, seorang pengusaha, yang mengatakan ingin menjadi dosen. Hmm… Saya tidak keberatan dengan banyaknya orang yang ingin menjadi dosen atau guru, tetapi tahukah mereka betapa tidak mudahnya untuk menjadi dosen?

Bagi sebagian besar(?) orang, dosen seolah-olah hanya hadir, maju ke depan keras, dan bicara. Padahal di belakang itu semua banyak hal yang harus dipersiapkan. Bagi orang yang hanya pernah memberikan presentasi (di seminar, misalnya), pekerjaan dosen itu mirip seperti memberikan presentasi seminar saja. Lagi-lagi beda.

Pada kenyataannya ada banyak hal yang terjadi di belakang itu semua. Berikut ini kira-kira hal yang dilakukan.

Persiapan

Sebelum kuliah mulai, dosen harus melakukan banyak persiapan. Apa kuliah yang akan diajarkan? Apa tujuan dari kuliah ini? Mengapa ada kuliah ini? Apa yang diinginkan dihasilkan dari kuliah ini? Ini semua membutuhkan pemikiran – merenung. Kadang dosen hanya tinggal menerima perintah untuk mengajar ini dan itu, dengan materi kuliah yang sudah ditentukan oleh tim kurikulum.

Setelah itu sang dosen harus mengarang materinya. Ini juga tidak mudah. Salah satu kuliah saya sudah saya kembangkan materinya selama 10 tahun dan masih terus mengalami perubahan. Setiap tahun ternyata masih kerja keras juga.

Selain materi pelajaran(kuliah)nya, sang dosen harus memikirkan cara menyampaikannya. Sebagian besar dosenΒ  hanya maju ke depan tanpa rencana, tanpa skrip / scenario. Hasilnya? Membosankan. Sering Anda menemukan guru / dosen yang membosankan, bukan? Males mau kuliah. Akhirnya kita jadi antipati terhadap materinya.

Termasuk di dalam hal itu adalah menyiapkan materi latihan, percobaan, kuis, studi kasus, dan ujian. Tidak mudah untuk menyiapkan ini semua.

Pelaksanaan (delivery)

Setelah semuanya siap, atau kadang siap-tidak-siap, sang dosen memberikan kuliah. Salah satu masalah yang kemudian muncul adalah komitmen kehadiran. Hanya sekedar hadir secara konsisten saja sudah merupakan masalah besar. Cobalah hadir setiap Senin jam 10-11 selama 1 tahun, misalnya. Sanggupkah Anda? Kebanyak pembicara seminar hanya sanggup datang 2 atau 3 kali. Setelah itu mulailah membolos.

Masalah berikutnya adalah bagaimana cara mengajarnya sendiri. Ini cerita yang terpisah.

Penilaian

Hal yang paling menyebalkan dari mengajar adalah bagian penilaian. Dosen harus menyakinkan bahwa mahasiswa yang layak lulus diluluskan dan yang tidak layak, terpaksa mengambil ulang kuliah. Hal ini dilakukan dengan skala nilai yang berbeda; ada yang mendapat nilai A, B, C, dan seterusnya. Ternyata ini tidak mudah.

Saya sendiri sih inginnya semua mahasiswa saya lulus dengan nilai A, tetapi bagaimana dengan mahasiswa yang tidak layak lulus? Sudah tidak mengerti materinya, malas pula! Gimana?

Jadi masih mau jadi dosen (guru)?

29 pemikiran pada “Tidak Mudah Menjadi Dosen (Guru)

  1. saya kuliah lagi dengan tujuan kali ini untuk bisa jadi dosen hehehe .. kalo kuliah yang dulu telah berhasil menjadikan saya PNS ..

  2. Saya seorang profesional selama ~20 tahun dan sekarang menjadi guru/dosen karena panggilan hati.

    Sebgai guru/dosen, butuh “Morning Call” yang kuat utk menyatukan “Heart (Niat), Head (Pikiran) & Hand (Tindakan)” agar menikmati dan memberikan Simbiosis Mutualisma dalam proses pendidikan pada umumnya serta pembelajaran pada khususnya.

  3. Gampang-gampang susah kok pak. Waktu saya jadi dosen, pertemuan pertama itu yang agak susah. Pertemuan selanjutnya biasanya sudah menguasai keadaan. Kalau masalah persiapan, wah kadang saya cuman bawa pulpen aja ke kampus dan di kelas hanya bermodal spidol dan pengahapus buat nerangin programming. Hanya terakhir waktu udah punya laptop baru bawa laptop. Tapi intinya, waktu terima kelas udah kebayang selama satu semester mau ngapain ke mahasiswanya.

    Tapi saya setuju bahwa penilaian itu yang paling susah. Seringnya hati nurani yang bicara. Ditambah hasrat meramal bahwa mahasiswa yang ga lulus ini kemungkinan suatu saat akan jadi orang besar atau berhasil, jadi sebaiknya dibantu dikit supaya lulus. hahahahhaa

    Sayang sekarang saya tidak menjadi dosen lagi πŸ™‚

  4. Saya pernah jadi dosen beberapa tahun. Dan memang… ternyata berat. Selain persiapan, berbicara beberapa jam di kelas juga menguras tenaga. Terus terang, saat sudah beradaptasi, ternyata sayanya yang bosan jadi dosen. hehehe…

    Salam Pak. Teruskan mengabdi di dunia pendidikan. Itu mungkin sudah panggilan utk Bapak.

  5. dari dulu sampai sekarang, saya tidak pernah punya keinginan untuk menjadi guru, terutama karena saya tidak punya skill yang kuat berbicara di depan orang banyak.

    saya pernah jadi asisten lab dan rasanya memang mengerikan! lebih enak jadi praktikan.

  6. Benar Pak, saya kan kuliah lagi. Jadi saya sangat merasakan bagaimana sulitnya sebagai seorang dosen. Kalau dosennya ga siap, pasti mahasiswanya ga peduli,ada yang main sms-an, bb-an, atau fb-an yang membicarakan dosen ybs….

  7. sebaiknya jadi dosen memang inovatif dalam hal metode pak. bagian tersulitnya itu di situ, rasanya. waktu s1 seperti tidak usah masuk saja rasanya. slidenya sama dengan tahun lalu, fotokopi catatan dari senior sama dengan yg diomongkan sama dosen, semua yang diomongkan ternyata ada di buku πŸ˜€

    alhamdulillah dosen-dosen s2 saya lebih inovatif πŸ™‚

  8. tidak mudah memang, tapi itulah perjuangan. kalau mau lihat tingkat kesulitannya saja, semua pekerjaan juga tidak mudah.

    misi utamanya bukan sekadar ‘menjadi dosen’ tapi memelihara ilmu untuk disampaikan supaya ilmu itu tetap memberi manfaat bagi yang belajar dan tidak dilupakan.

  9. klo ditanya masih mau atau pengin?? jujur masih kang..
    based on pengalaman jaman jd asdos selama setahun dg segenap kesusahan bagi agenda ngajar, tugas, ngoreksi, dan kuliah ada satu hal yg menjadi kenikmatan ngajar.
    Sudah dipastikan setiap tahun menghadapi orang2 yg berbeda
    dinamis.
    muncul kebanggaan jika anak didik berhasil.
    sisi negatifnya>??? wah buanyakkkkkk…… :d
    tp msh tersemat kepenginan ngajar. πŸ˜€

  10. Pendapat subjektif sy sampai saat ini :
    Guru sangat direpotkan dg tgg jwb trhdp Administrasi dan pendidikan karakter/moral siswanya, pengkondisian kelas, mendetailkan konsep dari 0…Intervensi dari luar sgt besar(otoritas tdk penuh)

    Dosen brtggjwb thdp tingkat keilmuan yg lbh tinggi, kasarnya dosen memilki kualifikasi lbh baik+lbh tinggi drpd guru,otoritas penuh,krn yg dihadapi mhswa(sdh dianggap dewasa) mk nyaris pengkondisian kelas,pendidikan moral tdk ada, penyampaian materi sright to the point (kasarnya tidak prl susah payah menyuapi mhswa).

    Di mata sy dosen adalah figur ideal yg identik sebagai ilmuwan, oleh karenanya sgt disayangkan bila ada dosen yg berada di titik aman dlm arti tdk up date thd keilmuannya.

    Tp benang merah dosen atau guru adalah keberhasilannya dlm menjadikan sst yg sulit sbg sst yg dapat/mudah difahami oleh mahasiswa/siswanya.

    Salam Hormat Pak BR !!!

  11. Karena tidak mudah itulah maka yang bisa bertahan dan istiqomah menekuni profesi dosen adalah orang-orang pilihan.

    Saya hanya kuat bertahan bekerja di universitas selama dua tahun, setelah itu ciao,,, pindah ke entrepreneur.

  12. Ada amanah dan beban tanggung jawab moral dan pendidikan. Mau dibawa kemana nanti si Mahasiswa-mahasiswanya. Dosen turut ambil bagian dalam menentukan perjalanan hidup si Mahasiswa nantinya ke depan.

  13. Menurut saya, menjadi dosen itu ‘panggilan’. Seberat apapun, jika memang itu adalah panggilan jiwa, akan terasa menyenangkan. Dan saya melihat Pak Budi seperti itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s