Terakhir meninggalkan kapal

Tadi pagi kami ada sedikit diskusi mengenai “business continuity management” (BCM). Topik ini terkait dengan bagaimana menyiapkan diri dan mengurangi impak bencana (dan gangguan) terhadap bisnis. Salah satu hal yang dibahas adalah perlu ditentukannya orang dan tanggung jawab ketika terjadi bencana. Ada layanan perusahaan yang harus tetap berjalan. Artinya ada orang yang “terakhir meninggalkan kapal”, begitulah kira-kiranya.

Masalahnya adalah bagaimana menentukan “reward & punishment” bagi orang-orang ini? Seringkali orang hanya diberikan tugas tetapi tidak jelas reward & punishment-nya. Bagaimana kalau ternyata orang yang diberi tanggungjawab malah menghilang kala terjadi bencana? Haruskah ada hukuman? Di sisi lain, akan tidak adil jika ada tanggung jawab (dan bahkan hukuman) tetapi tidak ada reward. Apakah tanggungjawab ini sudah melekat menjadi bagian dari pekerjaan (job description)? Bagaimana menentukan hal ini dari kacamata pengelolaan SDM?

9 pemikiran pada “Terakhir meninggalkan kapal

  1. harus ada kejelasan dan perjanjian di depan… hitam di atas putih… kalau ada yang mangkir bagaimana dan kalau bertanggung jawab juga harus dibagaimanain… hehehe… bahasa saya agak aneh

  2. Opini Bang Budi sangat mendalam sekali dari sudut kacamata filsafat. Saya tersentuh, hakekat manusia yg hidup dan berkehidupan di alam fana ini yg berpijak langkah serta berjejak di permukaan bumi dan planet lainnya masih banyak ketidaksempurnaannya, di kala bencana menerpa siapa yg tau bahkan di deteksi dan di analisa dgn teknologi tercanggihpun yg notabenenya buatan manusia juga tetap ada aja kekurangannya dan selalu di upgrade trus, ini semua kuasa yang Maha Pencipta. Tidak ada manusia bahkan robotpun yg bisa analisa 100% utk suatu bencana, itu semua rahasia yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta. Reward & Punishment dari sudut kacamata SDM mestinya tidak diterapkan secara stagnan ttp fleksible, kuncinya “KEBERSAMAAN DALAM KEBAJIKAN”. Kalau maksud bencana yg bersumber dari human error hingga terganggunya bisnis, bukankah ditiap-tiap unit bisnis ada SOP yg jelas. SOP itu akan selalu berubah seiring dgn waktu, situasi dan keadaan. Naif kalau seseorang dipaksa meninggalkan kapal krn suatu bencana dari alam yg diluar batas kekuasaannya, saya rasa SDM di sini mesti kembali ke konsep gotong royong dan kebersamaan, bukan konsep liberal monopoli.
    Terima kasih Bang Budi, ini hanya sekedar komentar biasa ala warung kopi kampus…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s