Tag

,

Peter Parker terbangun. Terduduk di tepi tempat tidurnya. Badan pegel-pegel. Dia baru ingat bahwa semalam mengejar penjahat dia kepeleset dan masuk got. Tak habis pikir, spiderman kok bisa kepeleset. Tapi ini terjadi lho. Yang menyebalkan bukan itu, tapi baju jadi kotor dan bau.

Peter jadi teringat bajunya yang bau got. Duh, males nyucinya. Tiba-tiba dia terpikir untuk membawa baju itu ke cuci kiloan. Ide brilian. Maka bangunlah Peter Parker, mandi, dan menuju tempat cuci kiloan.

Di tempat cuci kiloan, Peter meletakkan baju spiderman di baskom tempat timbangan. 2 kilo. Hmm…

Sementara itu si mbak yang menjaga counter mengerinyitkan dahi melihat baju spiderman. Dia memandangi Peter Parker. Curiga. Hmm… Sementara Peter Parker merasa tidak nyaman dilihat seperti itu. Wah, jangan-jangan …

Si mbak itu kemudian melihat ke sampingnya. Ada anak kecil yang mengenakan baju piyama spiderman.

“Piyama, mas?”
“Iya,” jawab Peter Parker
“Ohhh.” si mbak percaya. Habis apa lagi?
“Empat belas ribu, mas”
Peter Parker mengeluarkan uang dan langsung ngeloyor pergi setelah mendapatkan tanda bukti pembayarannya.

Keesokan harinya, di tengah-tengah kesibukannya berburu foto, Peter Parker mengambil baju cuciannya. Ada target foto hari ini. Cepat-cepat baju cucian tadi dimasukkan ke ranselnya. Menuju tempat kejadian. Urusan spiderman nanti malam.

Malam harinya Peter bersiap-siap untuk menjadi spiderman. Dia baru teringat bahwa bajunya ada di ransel. Diambil plastik yang berisi cucian baju spiderman. Hanya saja dia merasa aneh melihat komposisi warna bajunya.

Ketika dibuka, ternyata itu bukan baju spiderman! Hadoh! Baju apa ini? Di letakannya baju itu di atas tempat tidurnya. Ini kok … seperti baju superman! Hah? Wah ketuker piyama orang nih. Kaco tempat cuci kiloan ini.

Untuk memastikan, Peter mencoba baju superman itu.

Tiba-tiba dia merasa badannya ringan. Dia melayang! Wogh! Dia bisa terbang! Ini bukan baju piayama. Ini baju superman beneran. Peter Parker, eh … superman, melesat dari jendela. Terbang menjelajah angkasa dengan riang gembira.

Di suatu tempat lain. Clark Kent terburu-buru mencari telephone booth. Masuk ke dalam. Berganti kostum. Meloncat ke luar. Berusaha terbang. Terguling. What the …

Melihat dirinya. Kok bajunya beda. Kok tidak ada jubahnya. Hah? Kok ini malah pakai baju spider. Spiderman??? Jadi bagaimana ini.

Clark Kent, eh … spiderman, kebingungan. Spiderman kan mestinya bisa menempel di dinding. Mari kita coba. Dia akhirnya menjoba memanjat dinding gedung. Bisa!

“Horeee … saya seperti cicak”, dia berteriak!
“Hoi. Laba-laba! Bukan cicak!” teriak orang di sekitar itu
“Biarin. Saya lebih suka jadi cicak,” katanya sambil merayap-rayap dengan gaya cicak.

Orang-orang membuang muka sambil bergaya muntah-muntah. Spiderman direndahkan begini? Mosok spiderman malah jadi cicakman. he he he. Ini turun derajat, tapi “spiderman” tidak peduli. Dia masih ngesot-ngesot dengan gaya cicak.

[… bagaimana terusannya menurut Anda? …]

[Seri parodi superhero: 1, 2, 3]