Tag

,

Setelah menggunakan untuk beberapa waktu, sekarang saya mulai dapat menuliskan pengalaman saya dengan ultrabook HP Folio ini.

Batre
Yang pertama, janji bahwa ultrabook ini memiliki batre yang tahan lama. Untuk ultrabook ini janjinya adalah up to 9,5 jam. Saya tidak yakin bahwa dia akan sanggup selama itu untuk pekerjaan dan pola kerja saya.

Pola kerja saya saat ini adalah banyak melakukan presentasi (mengajar, laporan pekerjaan di klien, dan presentasi secara umum di depan publik). Jadi dari segi kebutuhan CPU seharusnya tidak terlalu berat. Hanya saja layar selalu hidup karena selain melakukan presentasi saya membuat materinya juga. Dengan kata lain, komputer dan layar harus selalu hidup. Screen saver hanya bekerja sebenar. Saya tidak tahu apakah ini berpengaruh besar terhadap penggunaan batre. Saya pikir iya.

Terkait dengan itu adalah pola saya bekerja. Ketika saya membuat dokumen, saya sering melakukan proses save. Maksudnya sering, satu paragraf, save dulu. Maklum saya khawatir sudah menulis panjang-panjang ternyata komputer mati atau notebook macet (hang). Kejadian seperti ini bukan satu dua kali, tetapi beberapa kali. Tidak sering memang, tetapi terjadi. Proses save ini berarti mengaktifkan harddisk, yang mana juga menghabiskan batre.

Khusus untuk ultrabook yang saya pakai ini, dia menggunakan solid state disk (SSD). Mestinya dari penggunaan batre dia lebih irit(?) dari harddisk. Hanya saja saya menduga usia SSD ini juga berkurang jika saya terlalu sering melakukan proses save. Saya tahu bahwa proses save yang saya lakukan tidak sampai ratusan ribu kali, but you’ll never know. I might have a habit that is not compatible with what it was designed for.

Kembali ke batre, saya belum berhasil menguji secara waktu. Maksudnya berapa jam secara umum batre ultrabook ini bisa bertahan dengan pola penggunaan saya. Yang sudah pernah saya coba adalah saya membawa Macbook (yang memang sudah 3 tahun usianya) dan ultrabook ini untuk kerja. Dua-duanya saya bawa ke kampus dan saya gunakan pada saat yang bersamaan untuk membuat slide presentasi dan menjalankan beberapa aplikasi (iTunes dan sejenisnya). Nyala terus. Pada waktu itu Macbook harus saya charge dua kali, sementara ultrabook ini baru satu kali.

Keyboard
Untuk keyboard HP Folio ini, saya suka sekali! Enak dan cocok bagi saya. Dibanding dengan Macbook, rasanya saya lebih menyukai keyboard ini. Empuk dan responsif.

Biasanya kalau tidak cocok, saya sering salah ngetik dan lambat. Yang ini enak banget. Saya bisa mengetik dengan cepat. (Review ini saya tulis dengan menggunakan HP Folio.) Mudah-mudahan keyboardnya tidak bermasalah.

Trackpad
Entah karena saya sudah terbiasa dengan trackpad dari Macbook sehingga saya merasa trackpad dari HP Folio ini tidak enak. Saya tanya kepada teman yang juga menggunakan HP Folio, ternyata sama, kurang suka.

Responnya tidak smooth. Jumpy. Kadang dia bereaksi dengan cepat kadang dia tidak. Misalnya kalau saya sedang browsing facebook, interaksi menjadi kacau balau. Kalau saya mau scroll, dia menunggu, tiba-tiba scrolling ngebut. Atau tiba-tiba dia seperti memilih sebuah item di layar. Pokoknya tidak intuitif. Ini yang membuat saya frustasi. Saya mengalami hal yang sama dengan notebook non-Mac lainnya. Mungkin ini karena saya sudah terbiasa dengan multi-touchnya trackpad Macbook.

Berdasarkan alasan inilah saya nyaman mengentik dokumen karena saya jarang menggunakan pointer. Saya hanya perlu mengetikkan dengan menggunakan keyboard dan saya menyukai keyboardnya. Nah, begitu saya harus berinteraksi secara interaktif maka mulai frustasi. Mosok saya harus pasang external mouse?

Ringan
Salah satu daya tarik lain dari ultrabook adalah beratnya yang ringan. Bagi saya yang sering bepergian, ini merupakan solusi. Ransel saya isinya sudah terlalu berat. Perangkat yang semakin ringan tentu saja saya terima dengan tangan terbuka. Dan memang ultrabook ini sangat ringan. Betul-betul sesuai dengan janjinya.

Sayangnya meskipun ultrabooknya sendiri ringan, charger tetap sama dengan yang lainnya. Saya pun masih belum dapat meninggalkan charger karena masih khawatir ultrabook kehabisan batre pada saat bekerja – meskipun itu di akhir waktu bekerja.

Ports
Salah satu kekurangan hp ultrabook ini adalah tidak adanya konektor VGA langsung. Bagi saya ini sangat penting karena salah satu aktivitas utama saya adalah memberikan presentasi. Yang ada adalah konektor HDMI. Artinya saya harus beli konverter dari HDMI ke VGA. Biasanya kalau yang seperti ini artinya menambah grintilan perangkat di tas. Saat ini Macbook saya juga harus menggunakan konverter untuk bisa disambungkan ke LCD projector.

Hasil akhir
Kesimpulan? Saya suka ultrabook ini. Dia sangat cocok dengan pola kerja saya.