Mudah Dipelajari Mudah Dilupakan

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel yang intinya mengatakan bahwa pelajaran yang diberikan melalui media elektronik, seperti dengan menggunakan video, ternyata tidak membuat seseorang belajar. Yang bersangkutan merasa telah mengerti tetapi pada kenyataannya tidak. Apakah ini dapat digeneralisir bahwa sesuatu yang mudah dipelajar ternyata menjadi mudah dilupakan?

Dulu saya sering mendengar dari kakak kelas saya di kampus betapa susahnya mereka harus lulus dari sebuah mata kuliah. Dosen-nya galak. Atau cerita sejenisnya. (Mau bilang dosennya gila, gak enak juga. Saya kan juga dosen. he he he.) Akhirnya sih pada lulus juga. Setelah melalui penderitaan tentunya. Apa yang dipelajari menjadi membekas. Susah dulu akhirnya tidak mudah lupa.

Apakah memang harus demikian cara belajar? Maksudnya apakah memang pelajaran harus dibuat susah agar melekat? Padahal selama ini saya mencoba membuat materi pelajaran menjadi lebih mudah dipelajari. Salah kali ya?

Mungkin itu juga yang menyebabkan saya tidak melakukan kultwit. Saya memang khawatir ini akan membuat seseorang merasa telah mengerti sebuah topik, padahal belum.

Bagaimana pendapat Anda?

Iklan

16 pemikiran pada “Mudah Dipelajari Mudah Dilupakan

  1. kalau menurut saya ^^
    kalau dengan media elektronik kebanyakan informasi yang sampai ke seseorang akan datang dari mata (saja..mungkin).
    sedangkan, kalau masih harus mencatat, paling tidak selain mata ada bagian tubuh lain (dalam hal ini tangan) yang ikut mengingat pengetahuan tsb
    jadi, lebih meresap (mungkin) πŸ˜›

    di kampus sy, kadang ada dosen yang sengaja nulis materi di papan tulis spy siswanya ikut tersemangati mencatat

  2. Kalau menurut saya, Pak, penyampaian lewat media eletronik nggak identik dengan menjadi lebih mudah dipelajari. Bisa meretensi informasi sampai waktu tertentu juga menurut saya tidak sama dengan memiliki pemahaman. Jadi kalau pelajaran dibuat susah, boleh jadi mahasiswanya lebih ingat (karena traumatis kali.. hehe), tapi apa jadi lebih mengerti ya?

  3. hemm bener juga sih pak.. kadang pelajaran yang disajikan secara menarik belum tentu terserap dengan baik. Kalau menurutku sih, sesuatu yang dengan susah payah kita mempelajarinya, maka akan sangat susah pula keluar dari pikiran kita πŸ™‚

  4. menurut saya, paham itu kalo sudah baca banyak referensi pak. klo referensi kultwit doang, berarti cuma satu referensi-nya dan ga dalam pemahamannya :d

  5. wah bener banget tuh pak, saya kuliah 3 semester di sini ada fasilitas rekam audio + video di ruang kelas, tujuannya biar mahasiswa bs dengarkan lagi kuliah meski ga bisa hadir. kenyataannya sih rekaman itu ga terlalu membantu, karna malah jadi ga “masuk” pelajarannya. interaksi di kelas yang melibatkan ekspresi dosen, gerak tangan, dan tulisan2 di papan tulis ngefek juga ternyata, bikin lebih masuk. πŸ˜€

    satu hal yg pasti, membuat kuliah susah2 ga berguna kl mahasiswa ga ngerti. mata kuliah yg susah bisa dibikin “gampang” kalo dosennya menguasai dan siap ngasi feedback ke mahasiswa sampe mereka bener2 ngerti. πŸ™‚

  6. Menurut saya tidak perlu pelajaran dibuat susah. Lha wong orang mau mengerti, kok malah dipersulit? :mrgreen:

    Lebih baik jika dosen menggunakan cara-cara yang kreatif dalam menyampaikan materi, sehingga berkesan bagi para mahasiswa, dan alhasil mereka tidak cepat lupa.

  7. kalo pelajaran yang diterima melalui media memang banyak sekali, tapi kemungkinan penerimaan nya tidak maksimal . Apalagi penalaran/daya tangkap setiap orang berbeda-beda, sehingga tidak semua orang bisa memahami dan mengingatnya (mengerti sepenuhnya) lebih lama.
    Dibandingkan dengan penyampaian pelajaran oleh guru/dosen/tutor atau seorang lainnya yang menggunakan gerak tubuh dan media tertentu mungkin lebih maksimal, apabila belum paham kan bisa di jelaskan lagi πŸ™‚

  8. *komen lagi ah πŸ˜›
    ngomong2, saya nemu video menari dari TED

    pembicaranya mencoba cara belajar baru yg membuat kita serasa diajari oleh teman kita sendiri.. dan interaksi antar yg diajari (siswa) jg ternyata sangat membantu pemahaman
    berikut quote bagus di dalam videonya:
    “Peers can be the best teachers, because they’re the ones that remember what it’s like to not understand.”

  9. kalau pendapat saya, seseorang akan me-retain (mengingat sesuatu) dalam jangka panjang bila orang tersebut sudah memahami intisarinya. Agar seseorang mempunyai willingness untuk memahami sesuatu/suatu topik, hal tersebut harus menarik dan memorable.
    Sayangnya zaman dulu, pendidik hanya terpikir cara negatif (sulit lulus, killer, kejam, stressfull di dlm kelas) agar diingat/memorable. Padahal menurut saya masih banyak cara positif dan jauh lebih menyenangkan agar sesuatu bisa memorable/berkesan. Saya belajar dari anak saya bahwa memberi kesan yang mendalam bisa dari hal yang sangat simple yang mungkin bagi kita yang sudah paham, hal tersebut merupakan sesuatu yang biasa. Anak saya (usia 2th3bln) sangat terkesan saat saya suruh dia tidur tapi sambil menjelaskan bahwa hari sudah jam 10 (walaupun masih terang benderang karena summer). Saya jelaskan bahwa hari sudah jam 10 sebab jarum pendek mengarah ke angka 10 dan jarum panjang ke angka 12. esoknya, jam setengah sepuluh, saya ingatkan dia bahwa 30 mnt lagi, jam 10 dia harus tidur dan saya tunjukkan jam dengan menjelaskan ttg jarum pdk dan pjg sekali lg. ternyata selanjutnya setiap kali saya bilang sdh hampir waktunya tdr, dia lgs minta digendong untuk menunjuk2 jarum pdk ke 10 dan jarum jg ke 12 lalu tanpa susah payah dia ke kamar mandi melakukan rutinitas sblm tdr (pipis, sikat gigi) terus cium mama papanya, baca doa tidur lalu naik ke tempat tidur. Jadi sy belajar bahwa memberi kesan itu bisa dari hal yang sederhana dan dibuat tdk membosankan. padahal saat baru pindah ke luar negeri, sulit sekali membuat dia tidur karena waktu di Indonesia saya ajarkan bahwa karena ada bulan, bintang dan hari gelap, makan hari sudah malam dan waktunya tidur. those reasons dont work when it is summer..
    Sorry panjang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s