Kultum: Persepsi Dalam Menghadapi Masalah

Setiap orang memiliki masalah. Seringkali kita merasa masalah kitalah yang paling sulit di seluruh dunia. Akibatnya sering orang melarikan diri dari masalah, bukan menghadapi dan menyelesaikannya. Memang melarikan diri adalah cara yang paling mudah.

Ada satu teknik yang dapat dicoba untuk menghadapi masalah kita, yaitu mengubah cara pandang kita terhadap masalah tersebut. Langkah pertama adalah kita anggap atau persepsikan masalah kita sebagai tantangan (challenge) bukan masalah. Kemudian kita cari tantangan yang lebih besar dari tantangan itu. Bisa jadi tantangan yang lebih besar itu ada pada diri kita sendiri atau malah pada orang lain (yang ini malah lebih baik – hi hi hi). Setelah melihat tantangan yang lebih besar, maka tantangan awal kita terlihat lebih mudah dipecahkan dan bahkan kita hadapi tanpa perlu  melarikan diri. Mari kita ambil contoh.

Kadang kita merasa berat dalam melaksanakan shalat Isya. Di kepala kita ada tantangan untuk melakukan shalat yang hanya 4 rakaat ini. Ngantuklah, nantilah, dan ada segudang alasan lainnya. Nah, sekarang di bulan Ramadhan ada shalat tarawih yang jumlah rakaatnya lebih banyak (termasuk witir, 11 rakaat atau 23 rakaat tergantung pilihan Anda). Setelah melihat shalat tarawih yang lebih berat ini maka shalat Isya terlihat tidak terlalu sulit. Kita lakukan shalat Isya dengan lebih mudah. Tanpa mengeluh. (Tapi timbul tantangan baru, bagaimana menghadapi shalat tarawih ya? hi hi hi.)

Contoh lain, seperti yang sempat saya sitir, adalah dengan melihat masalah orang lain yang lebih besar. Begitu kita tahu bahwa dia / mereka menghadapi masalah yang lebih sulit, maka masalah kita jadi lebih enteng. Atau, bahkan ada orang yang kemudian ikut menyelesaikan masalah orang lain tersebut – dengan kata lain memberi bantuan untuk memecahkan masalah – sehingga masalah kita sendiri dihadapi dengan cepat karena harus membantu orang lain. Itulah sebabnya orang yang sering menolong orang lain terlihat lebih tidak memiliki masalah sendiri.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah menghadapi masalah itu hanya soal persepsi saja. Kita posisikan masalah yang kita hadapi itu sebagai masalah yang kecil sehingga tidak perlu kita takuti.

Bulan Ramadhan ini memberikan tantangan beribadah yang lebih banyak kepada kita. Kita ditantang untuk melakukan puasa (bulan biasa kita jarang berpuasa), shalat tarawih (biasanya jarang shalat malam), membaca Al Qur’an (hari-hari biasa sering terlupakan), dan melakukan amalan lainnya (biasanya jarang terpikirkan). Semoga dengan mengalami tantangan yang lebih berat ini di bulan-bulan selanjutnya kita lebih mudah melakukan ibadah-ibadah tersebut. Amin.

11 pemikiran pada “Kultum: Persepsi Dalam Menghadapi Masalah

  1. Masalah yang datang merupakan suatu ujian bagi kita, jika lulus ujian maka kita akan naik satu level, dan masalah yang akan kita hadapi juga naik satu level…

  2. numpang tips untuk tarawih, pak.

    anggap aja dua rakaat pertama itu tahap ke-0 kita. jadi, kita sebenarnya sudah mulai, tetapi baru di tahap awal. harus dilanjut lagi.
    nah tarawih yang sudah setengah jalan (4 rakaat), sudah mencapai tahap pertama. jadi tinggal dua tahap lagi. tahap 2 dan 3. jadi, total cuma ada 0-1-2-3 tahap. maka, tarawih tidak akan terasa lama, karena ketika dua rakaat yang sudah beres masih terasa tahap nol bagi kita.

    selamat mencoba, semoga sukses 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s