Tag

, ,

Kadang saya bertanya-tanya mengapa seseorang menyukai jenis musik tertentu, sementara orang lain jenis yang lain. Pertanyaan ini hadir karena saya merasa memiliki selera musik yang termasuk golongan minoritas. Saya menggemari musik jenis progressive rock atau classic rock, yang mana tidak begitu banyak penggemarnya di Indonesia. Jangankan di Indonesia, di dunia pun penggemar musik jenis ini sangat terbatas.

Setelah menelusuri ke sana ke mari, akhirnya saya berkesimpulan bahwa musik terkait dengan perjalanan hidup seseorang. Musik yang dia dengarkan ketika dia kecil atau ketika menderita ikut membekas dalam diri. Itulah sebabnya seseorang yang terekspos ke satu jenis musik tertentu akan menyenangi musik jenis itu.

“… music exists as a form of communication between people of a certain time, place, and culture…” (Pleasants & Small)

Saya mencoba mengingat-ingat perjalnan hidup saya. Ketika muda dahulu saya sering mendengarkan lagu-lagu American Top 40 dari radio Australia atau radio yang ditemukan melalui channel SW. Wah, ini jadul sekali. Kemudian di rumah kami tinggal banyak saudara yang notabene adalah mahasiswa. Pada tahun 70-an para mahasiswa ini menggemari musik jenis classic rock. Saya mulai terekspos musik-musik dari Yes, Genesis, Gentle Giant, dan yang lebih aneh-aneh lagi.

Bandung. Ini lagi. Di Indonesia ada dua kota yang nampaknya secara musik membekas bagi warganya, Bandung dan Malang. Di Bandung ada tempat membuat kaset dengan label “Yess”. Jangan bayangkan ini label yang legal menurut HaKI jaman sekarang tentunya. Lihat konteksnya ya. Yess ini memproduksi album-album band yang progressive / classic rock itu. Saya pun mulai mengoleksi kaset-kaset keluaran Yess ini.

Bahasa Inggris dan Kultur. Ini yang agak sedikit twisted. Musik jenis progressive rock bukanlah musik dari jenis yang bisa digunakan untuk menari, bergoyang. Kalau berlirik, liriknya menggunakan bahasa Inggris yang kental dengan cerita kultur orang Barat. Saya sendiri kursus bahasa Inggris sejak masih kecil (SD) sehingga bahasa Inggris bukan masalah bagi saya. Nah soal kultur Barat, itu yang tidak saya mengerti. Bagaimana saya dapat mengerti apa yang diceritakan dalam lagu-lagu progressive rock itu ya? Ini masih pertanyaan.

Ketika kawan-kawan saya di SMA mendengarkan lagu-lagu disko, saya asyik mendengarkan Rush. Bahkan lagu “subdivision” merupakan lagu anthem bagi saya. Ternyata di belahan dunia yang lain, anak-anak seumuran saya juga mengambil lagu ini sebagai anthem mereka. Maka tidak heran ketika di kemudian hari saya pindah ke Kanada dan menemui rekan-rekan seumuran yang memiliki interest yang sama. Ini sebetulnya bertentangan dengan pendapat Pleasants & Small di atas. Mungkin saya termasuk anomali untuk kebanyakan orang Indonesia. Heh?

Tapi saya tetap meyakini bahwa musik adalah perjalanan hidup.