Ketidakpedulian Negara dan Rakyat akan Jejak Sejarah

Hari ini, 28 Oktober, adalah Hari Sumpah Pemuda. Kemarin adalah Hari Blogger Nasional. Eh, yang ini tidak ada hubungannya ding. Kembali ke hari ini saja, Hari Sumpah Pemuda. Hampir saja saya melupakannya kalau tidak terlintas sekilas sebuah status di jejaring sosial.

Beberapa waktu yang lalu hari Kesaktian Pancasila juga lewat begitu saja. Tidak ada perayaan-perayaan, Jangankan harinya, Pancasila juga sudah mungkin dilupakan.

Saya tentunya tidak berkeinganan untuk ada perayaan-perayaan yang memaksa dan cenderung terlalu dibesar-besarkan seperti jaman Orde Baru dahulu, tetapi setidaknya perlu ada peringatanlah. Atau mungkin nilai-nilau (values) dari Sumpah Pemuda, Pancasila, dan seterusnya sudah tidak laku lagi?

Lucu juga, negara dan rakyat Indonesia ini nampaknya sudah tidak peduli dengan jejak sejarah. Mau jadi apa bangsa kita ini ya?

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

9 responses to “Ketidakpedulian Negara dan Rakyat akan Jejak Sejarah

  • wijaya kusumah

    Saya masih peduli kok, buktinya saya nulis. kebetulan hari ini pas ultah saya, hehehe

    salam
    Omjay

  • alrisblog

    Menurut saya juga perlulah diperingati, walau tidak semassal jaman orba. Diperingati untuk menamkan nilai kebersamaan dan perjuangan.

  • Gembrot

    Saya kira lebih penting dari merayakan adalah mencari arti. Merayakan itu harusnya sekedar entry point dan lebih penting adalah follow-up nya. Saya paling prihatin melihat kemampuan orang Indonesia dalam berbahasa Indonesia, barusan kemaren nonton acara TV, sang pembawa acara sedang mewawancarai seorang ayah yang memperkosa 3 anak perempuannya. Selain banyak tata bahasanya yang banyak salah, pertanyaannya kurang berbobot dan dia tampak kesulitan mencari kata-kata ‘yang pas’ untuk mendemonstrasikan bahwa yang dilakukan pelaku itu bener-bener biadab. Bahasa Indonesia dikembangkan dari bahasa Melayu, yang dulu digunakan secara luas di daerah Malaka, oleh orang Malaysia, Singapura, Sumatera di Riau, Palembang, dll, sehingga ‘Indonesia’ jaman dulu lebih dekat ke Selat Malaka daripada Jawa. Kita sering denger ‘pusing tujuh keliling’ yang awalnya menjelaskan berputer-puter sampai tujuh kali sampai kelenyer, berkembang menjadi berarti ‘headache’, Bahasa Melayu Malaysia masih mempertahankan arti orisinilnya. Dulu ada orang-orang spt JS Badudu yang meng-guide evolusi Bahasa Indonesia, sekarang arah Bahasa kita seperti amburadul gak tau juntrungan, ngeliat anak-anak muda skrg kesulitan untuk mencari kata yang lebih ekspresif menjelaskan fenomena tertentu, tidak bisa dipungkiri Bahasa Indonesia masih kurang ekspresif dibanding bahasa lain (terutama Inggris), kita harus banyak memasukkan unsur serapan dari bahasa asing daripada harus selalu cari padanan. Kemampuan berbahasa mempengaruhi kemampuan berpikir pada skala masyarakat, bukan lagi individu. Kalau ingin mewujudkan masyarakat yang cerdas dan komunikatif, wahana komunikasi yang digunakan harus ekspresif, mewadahi, dan ‘usability’-nya bagus. Lucu juga ngeliat wawancara spt: Q: “Gimana menurutmu penampilan Valentino Rossi?” A: “Mmm, wah dia hebat banget”, lucu bagi saya karena nilai informasinya rendah, dan stating the obvious. Orang belajar bahasa ada 3 aspek: vocabulary, grammar, dan usage. Ketiganya, bahasa Indonesia masih rendah, saya terkadang menggunakan Sunda atau Jawa untuk menjelaskan hal yg susah dieskpresikan di Bhs Ind. Salam.

  • tikays

    di jakarta konon rame malah nambahin isi sumpah utk membela uud45 pancasila. ada jokowi segala🙂

  • Ipras

    Kalo gak lagi peduli dengan sejarah, ya mungkin aja jadi negara yg jauh dari sejarahnya hehe…😛

  • Sandy57

    Yang jelas pemuda harus tetap semangat demi masa depan Bangsa!🙂

  • GO Outbound

    Memperingati hari kelahiran tidak harus dengan cara merayakannya.

  • Togap Tartius

    saya perhatikan di twitter masih banyak kok yang mengingatnya.
    banyak juga yang bikin joke tentang sumpah pemuda ini.
    menurut saya sah-sah aja sih, asal makna dari sumpah pemuda tsb terus diingat.

  • ace maxs

    iya mas tampaknya masyarakat sudah mulai acuh terhadap rasa nasionalisme dan melupakan jasa para pendahulu yang telah berjuang melawan penjajah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: